" Aku mencintaimu, Adibah." Reza.
" Stop mengatakan cinta padaku, Reza. Kamu itu adalah suami adikku!" Adiba.
Aisyah tanpa sengaja mendengar pernyataan yang sangat begitu amat menyakitkan hatinya mendengar suaminya menyatakan cinta kepada kakaknya sendiri.
lalu bagaimana dengan perasaan Aisyah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rizal sinte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Pagi harinya Aisyah dikejutkan. Saat membuka mata tiba-tiba iya disajikan pandangan yang sangat sedap di mata. Seorang malaikat berwajah tampan ada di sampingnya memeluknya sangat erat sekali seakan takut kehilangan. Aisyah sungguh sangat senang dan bahagia akhirnya impiannya terwujud dan tidurnya terasa sangat nyenyak mungkin karena sang suami tetap disampingnya dan memeluk dirinya.
Aisyah berharap semuanya bukanlah mimpi, jika benar itu adalah mimpi ia tidak ingin terbangun dari mimpi indahnya tersebut.
" Tolong cintai aku, sebagaimana aku mencintaimu. Tolong bukalah hatimu selebar mungkin untukku. Ukirlah namaku di hatimu dan menjadikan aku wanita kedua yang kau cintai selain ibumu."
Aisyah pandang terus wajah tampan itu seakan tidak bosan sama sekali. Bulu alis yang tebal hidung mancung bibir merah yang tipis bahkan ada bulu-bulu halus yang tumbuh di rahangnya membuat ketampanan Mbak Yunani itu semakin kian menjadi jadi. Apa boleh saya cinta itu kepada suaminya sendiri?
" Rasanya aku mau gila, bagaimana mungkin ada manusia setempat ini sungguh indah ciptaan Tuhan yang tidak diragukan lagi." Perlahan tangan Aisyah mengusap wajahnya.
" Ya Allah tolong jangan membuat aku mencintainya begitu dalam, aku tidak ingin menjadi gila jika dia tidak mencintaiku."
Aisyah ingin menjadi manusia normal yang tidak tergila-gila akan cinta dari suaminya tersebut. Tidak ingin terlalu besar cintanya melebihi cintanya kepada Allah. Ditambah lagi mengetahui fakta bahwa suaminya tidaklah begitu besar mencintai dirinya. Aisyah hanya ingin hatinya tidak ingin terluka jadi iya hanya ingin mencintai seadanya saja.
Aisyah buru-buru menarik tangannya dari wajah suaminya melihat ada pergerakan. Aisyah tidak ingin mengganggu tidur suaminya tersebut ia pun memutuskan bangkit dari rebahan sangat pelan sekali saat menyingkirkan tangan suaminya yang masih melingkar di perutnya.
" Kamu mau ke mana?" Suara serak khas bangun tidur membuat Aisyah meleleh. Sungguh seksi sekali.
" Mau ke kamar mandi, sudah hampir subuh. Kita harus bangun salat," kata Aisyah gugup jantungnya kembali berdebar hanya mendengar suara yang serak itu.
Reza mengusap matanya kemudian dia menatap jam di dinding lalu kemudian beralih menatap Aisyah. Reza tersenyum menatapnya.
Duuh manis sekali, ingin rasanya menjadi semut agar bisa menggerogotinya. Tidak apa deh diabetes, kalau manisnya seperti suaminya tersebut.
" Aku mau ke kamar mandi dulu." Tidak ingin berlama-lama menetapnya takut khilaf, kan bisa berabe.
Aisyah buru-buru pergi ke kamar mandi membuat Reza terkekeh melihatnya sangat lucu. Bangun tidur hatinya menjadi sangat lega sekali, biasanya begitu berat seola memiliki beban yang banyak.
Setelah usai salat subuh berjamaah, Reza melanjutkan dengan mengaji sementara Aisyah pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Pagi ini terasa begitu indah sekali.
Aisyah terus mengembangkan senyumnya, senyum kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan selama menikah dengan Reza. Mungkin karena sudah mendapatkan cintanya sehingga suasana pun berubah.
" Semoga Mas Reza suka."
Aisyah menyiapkan makanan penuh semangat, iya membuatnya dari hati dan yang pasti dengan bumbu cinta. Aaah, kebahagiaan ini rasanya tidak ingin berakhir. Aisyah terus berdoa dalam hati semoga terus bertahan sampai akhir hayat.
Setelah selesai membuat sarapan yang penuh cinta kini Aisyah kembali ke kamar untuk memanggil suaminya dan sarapan bersama. Sesampai di depan pintu langkah Aisyah terhenti saat mendengar lantunan ayat kursi yang sangat indah dibacakan oleh suaminya. Suaranya begitu merdu membuat hati begitu tenang dan damai saat mendengarnya.
" Subhanallah, meleleh hati adek, Bang," puji Aisyah kemudian ia perlahan membuka pintu dan berdiri Sejenak disana untuk mendengarkan sampai selesai.
" Merdu sekali suaranya. Bagaimana aku tidak bisa tidak mencintaimu mas. Selain tampan fisik, kamu juga memiliki tampan hati dan suara juga Sholeh. Sungguh beruntung bisa dicintai olehmu." Aisyah masih terus memperhatikan.
" Shadaqallahul adzim ..." Reza menutup Alquran yang ia baca lalu yang menoleh ke arah pintu.
" Hey, sedang apa kamu berdiri di sana?"
Aisyah tersenyum lalu berjalan menghampiri suaminya, Aisyah duduk berhadapan kemudian meraih tangannya lalu menciumnya dengan takzim.
" Tadinya mau ngajak Mas sarapan, karena Mas nya masih mengaji yaudah tak dengerin aja dulu, merdu banget bikin hati adem," puji Aisyah dengan mata binar. Reza tersenyum lalu mengusap pucuk kepala Aisyah dengan lembut.
" Aku ganti baju dulu ya," ujarnya. " Emmm ..." Aisyah mengangguk lalu ia membereskan sajadah suaminya. Sementara Reza berganti pakaian kerja yang sudah disiapkan oleh Aisyah selesai salat subuh tadi.
***
" Nanti siang mau aku bawakan makanan gak, Mas?" tanya Aisyah ragu. Iya ingin suaminya terus memakan dari masakannya sendiri dan lebih sehat tentunya.
" Boleh, nanti kamu telepon aja kalau sudah di depan kantor ya."
Aisyah tersenyum lebar ia merasa sangat senang sekali. " Oke." Iya kembali melanjutkan sarapannya dengan lahap.
" Menambah lagi?" Tawar Aisyah.
" Udah kenyang, ntar nggak bisa bergerak lagi karena kekenyangan." lalu keduanya pun tertawa.
Setelah selesai sarapan bersama, kini Reza berpamitan bekerja.
" Aku berangkat dulu ya."
" Iya Mas, hati -hati dijalan ya. Hubungi aku jika sudah sampai," hujan Anisa sambil meraih tangan suaminya lalu menciumnya dengan takzim.
Reza tersenyum lalu ia mengecup lembut kening Aisyah.
" Kamu juga hati-hati di rumah ya," ujarnya.
" Tapi aku hari ini mau ke rumah umi, mau jenguk kakak Adiba, nggak papa kan?" Sebagai istri yang Sholehah, sebelum keluar rumah tentu harus berpamitan terlebih dahulu. Bahkan jika harus berkunjung ke rumah orang tua sendiri sekalipun.
" Iya nggak apa-apa asal hati-hati di jalan." Reza tentu saja memberi izin. Aisyah cuma mampir sebentar bukan kabur. Lagi pula mana ada kabur berpamitan sebab itulah Reza pun mengizinkan.
" Daaah..." Aisyah terus melambaikan tangan sampai mobil suaminya hilang dari pandangannya barulah ia masuk dan menutup pintu.
Sebelum pergi ke rumah orang tua Aisyah membereskan sisa kanan di meja ya tadi dan juga membersihkan kotoran piring juga membereskan rumah seperti menyapu mengepel dan sebagai lainnya. Walaupun rumah Reza terbilang cukup besar namun Aisyah tidak ingin menggunakan pembantu rumah tangga karena ingin mandiri, atau lebih tepatnya apa-apa dikerjakan sendiri. Aisyah sudah terbiasa melakukan hal pekerjaan rumah tersebut sebab itulah mengapa ia tidak pernah mengeluh karena ibunya juga melakukan hal yang sama dan selalu mengajarkan hal baik kepada anak-anaknya.
" Duh manis nya." Aisyah tersenyum lebar saat membaca pesan yang bikin oleh Reza. Walaupun sangat singkat mengatakan bahwa suaminya setelah sampai dengan selamat di kantor namun begitu bermakna bagi Anisa karena sebelum-sebelumnya Reza tidak pernah melakukan hal sekecil macam itu.
Bukan musim semi, atau sedang berada di taman. Tapi entah mengapa hatinya dipenuhi oleh ribuan bunga yang bermekaran. Harum sekali.
Aisyah pergi kerumah orangtuanya sebentar, ia tidak sabar ingin bertemu dengan sang kakak dan bercerita padanya. Aisyah tahu mungkin saja adibah sudah merelakan Reza untuk dirinya sebab itulah ia ingin bercerita bahwa sekarang hubungan mereka semakin dekat bahkan sudah saling mengungkapkan cinta satu sama lain. Aisyah memang selalu bercerita apapun kepada kakaknya termasuk privasi rumah tangga nya yang menurutnya masih wajar untuk diceritakan.
" Umi, assalamualaikum." Aisyah datang dengan riang gembira.
" Waalaikumsalam."
" Umiiii, Ais sangat rindu." Aisyah berlari dan langsung memeluk ibunya erat.
" Loh, kan baru minggu lalu ketemu. Kangen dari mana?" heran Umi Jaanah.
Hehehe, Aisyah men nyengir kuda. " Kakak mana?"
" Ada di kamar." Aisyah langsung berlari ke kamar sang kakak.
" Kakak." Membuka pintu begitu saja tanpa mengetuk. Bahkan Aisyah langsung menjatuhkan diri di tempat tidur seenaknya saja.
" Wah, wah. Kayaknya bunga-bunga sedang bermekaran nie, bahagia banget," tebak Adiba benar adanya.
" Hihihi, kakak memang yang paling mengerti aku."
" Oya, memangnya apa yang sudah aku lewatkan?" tanya Adiba, dia juga merebahkan diri di samping Aisyah.
Aisyah tersenyum malu-malu, lalu dia mengubah posisinya menjadi duduk. " Coba lihat." Aisyah menunjukkan jari jemarinya pada Adiba.
Akan tetapi bukan jari-jarinya yang lentik itu yang ingin ia tunjukkan, melainkan benda bulat yang melingkar di jari manisnya.
" Wah, cantik sekali. Apa ini dari Reza?" tanyanya menatap cincin tersebut dengan binar, sungguh indah sekali membuat hati menjadi iri ingin memiliki nya juga.
" Emmm, tadi malam Mas Reza memberikan aku cincin dan juga bunga. Dia juga mengatakan bahwa dia mencintai ku. Aku bahagia sekali," cerita Aisyah, wajah bahagia tidak bisa di tutupi lagi.
" Wah sungguh romantis sekali, aku tidak menyangka jika Reza adalah laki-laki yang sangat romantis." kata Adiba turut senang.
" Bener, kan..."
" Kalau begitu selamat ya, kakak doa kan semoga kalian langgeng hingga akhir hayat dan selalu bahagia." Adiba hanya bisa mendoakan yang terbaik saja.
" Oh jangan lupa dengan keponakan yang lucu dan imut. Aku jadi tidak sabar menantinya." Membayangkan memiliki keponakan membuat Adiba gemes sendiri. Pasti anak mereka sangat cantik dan ganteng.
" Emmm, soal itu..." Aisyah nampak ragu. Adiba menaikan sebelah alisnya.
" Ada apa? Ada masalah apa?" tanyanya khawatir.
" Anu, sebenarnya kami belum melakukan itu. Kami berdua bingung harus memulai dari mana dulu. Kalau menurut kakak apa aku harus memulai duluan atau menunggu mas Reza inisiatif aja?"
" Aisyah, kamu tahu kan kalau masalah pribadi apalagi urusan ranjang tidak boleh di umbar dengan siapapun. Itu aib, dek. Tidak baik," tegur Adiba mengingat.
" Maaf, aku lupa. Habisnya bingung," cicit Aisyah pelan dengan kepala tertunduk.
Adiba menghela nafasnya mengerti, ia menggenggam tangan adik kesayangannya itu dengan lembut. " Bicarakan masalah ini berdua, aku yakin kalian pasti mendapatkan solusi jika sudah saling terbuka." Adiba memberi saran.
" Kakak benar, mungkin masalah ini sebaiknya aku bicarakan langsung dengan mas Reza agar tidak merasa canggung lagi, terima kasih saran nya ya. Kamu memang kakakku yang terbaik." Aisyah memeluk nya tanda terima kasih.
" Kakak senang jika kamu senang." Demi kebahagiaan sang adik, Adiba ikhlas, bahkan sudah sangat ikhlas dari awal. Luka di hati ia akan kubur dalam-dalam sehingga tidak ada yang satu orang pun yang tahu. Biarlah dirinya sendiri yang merasakan.
" Oh iya, aku harus ke pasar." Aisyah baru ingat, ia langsung melepaskan pelukannya. " Aku pergi dulu."
" Secepat itu?" heran Adiba karena tak biasanya Aisyah buru-buru pergi.
" Aku baru ingat kalau nanti mau membawakan makan siang untuk mas Reza. Hehehehe, jadi aku harus ke pasar buat belanja masakan."
Adiba geleng-geleng kepala, adiknya itu memang selalu begitu, ceroboh dan pelupa.
" Assalamualaikum." Aisyah berlari dengan buru-buru.
" Waalaikumsalam, hati-hati Aisyah." Adiba mengejarnya.
" Assalamualaikum Umi, Ais pamit dulu." Buru-buru Asiyah berpamitan.
" Waalaikumsalam, tapi kok cepet banget. Apa ada sesuatu?"
" Mau belanja di pasar Umi, Aisyah pergi dulu ya, dah." Aisyah bergegas pergi.
" Hati-ha ... "
" Aduh ..." Belum sempat sang ibu berucap, Aisyah sudah menjerit kesakitan.
" Hahahaha, itulah kalau jalan buru-buru lagi. Kan sudah jatuh," ejek Adiba tertawa.
" Hati-hati Aisyah, jangan ceroboh," tegur umi Jannah.
" Hehehe, maaf Umi. Lain kali hati-hati. Kalau begitu Aisyah jalan dulu, assalamualaikum.
Ibu dan anak itu hanya menghela nafas saja. " Waalaikumsalam."
Assalammu'alaykum