Bagaimana jadinya jika seorang keponakan diam-diam mencintai tantenya sendiri? Sementara sang tante selalu membuat ulah dengan menerima semua laki-laki yang menyatakan cinta padanya.
Ini adalah kisah Dalziel Lawrance, anak yang diangkat di keluarga Tan dan adik dari ayahnya—Gloria Rusell Taneta.
Bagaimana kisah cinta mereka akan berujung? Cus kepoin ceritanya.
Jangan lupa follow Ig @nitamelia05
Salam anu 👑
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Terbengkalai
Warning!
Jangan jadikan larangan sebagai perintah, awas lu, awas! 🙄🙄🙄
***
Satu keluarga itu makan malam dengan tenang. Selama itu Gloria dan Ziel diam-diam saling memandang.
Akan tetapi tak ada satu pun orang yang mencurigai gerak-gerik keduanya, hingga saat malam telah selesai, Gloria kembali berinisiatif untuk mencuci piring.
Akan tetapi niat baiknya langsung ditolak oleh Mira. Karena wanita itu yakin, Gloria hanya akan mengacau. Bisa-bisa stok piring di dapur habis, karena dipecahkan oleh gadis cantik itu.
"Jangan biarkan tangan Nona yang mulus ini menjadi kasar," tolak Mira secara halus. Namun, Gloria langsung paham, bahwa tenaganya memang tidak dibutuhkan.
"Ya sudah kalau Bi Mira tidak ingin dibantu, aku akan pergi ke kamar," ujar Gloria.
Setelah menjadi kekasih Ziel, entah kenapa dia jadi sering melakukan pencitraan. Agar terlihat seperti gadis yang bisa diandalkan, padahal nol besar.
Kemampuannya sebagai nona muda sangat dominan, jadi dia jauh lebih baik ketika sedang diam.
Beberapa menit telah berlalu, dia menghubungi Ziel menggunakan telepon yang ada di kamarnya, menanyakan keberadaan pria tampan itu. Dan ternyata Ziel sudah ada di ruang kerjanya. Sebuah ruangan yang diisi oleh buku dan berkas-berkas perusahaan.
Gloria langsung tersenyum sumringah, dia keluar dari kamar dan melihat keadaan sekitar dengan tatapan penuh kewaspadaan.
"Sepertinya aman," gumam gadis itu sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.
Dengan hati-hati dia menapaki anak tangga, karena ruang kerja berada di bawah semua. Tidak ada satu pun orang yang berpapasan dengan Gloria, membuat gadis itu menghela nafas lega.
Tanpa mengetuk pintu, Gloria langsung membuka benda persegi panjang itu. Dia menguncinya, agar tidak ada orang yang masuk dengan sembarangan.
"Cepat sekali kamu datang," kata Ziel saat melihat sang kekasih sudah ada di depan matanya.
"Aku kan tidak ingin membuatmu menunggu," jawab Gloria, lalu dengan cepat dia duduk di atas meja kerja Ziel.
"Pekerjaanku masih cukup banyak, jadi kamu harus sabar. Ke mari, duduk di pangkuanku!" titah Ziel sambil menepuk pahanya. Dia meraih pergelangan tangan Gloria, dan menuntun gadis itu agar menuruti perintahnya.
Kini mereka sama-sama menghadap ke arah laptop. Kepala Ziel bersandar pada bahu Gloria, membuat nafasnya beberapa kali menerpa leher gadis cantik itu.
"Apakah kamu tidak kesulitan?" tanya Gloria, dia sama sekali tak paham dengan apa yang sedang dikerjakan oleh Ziel, jadi yang bisa dia lakukan hanyalah mengganggu pria tampan itu.
Setiap detik yang terlewat, Gloria menoleh ke arah kiri dan langsung mengecup pipi Ziel yang berbulu, membuat pria itu terkekeh.
"Aku akan kesulitan kalau kamu terus melakukan hal tadi," jawabnya jujur, karena dia merasakan geleyar aneh setiap bersentuhan dengan Gloria.
"Kalau begitu aku akan terus melakukannya."
Bukannya berhenti menggoda Ziel, Gloria malah semakin melancarkan aksinya. Dia mengusap-usap bibir Ziel menggunakan jari jemarinya.
Ziel melirik Gloria dengan ekor matanya. Merasa tertantang dia pun menarik tangan dari papan keyboard, lalu menelusupkannya ke dalam kaos yang dikenakan gadis itu.
"Mau bermain-main denganku?" tanya Ziel dengan suara yang nyaris berbisik. Sementara Gloria hanya bisa menggigit bibir bawahnya.
Akhirnya pekerjaan Ziel terbengkalai, karena ada satu hal yang lebih menarik dari sebuah proyek perusahaan.
Ada kekehan kecil yang keluar dari mulut Ziel dan Gloria saat mereka saling tatap. Lalu detik selanjutnya bahasa tubuh mereka mulai berbicara.
Jari jemari Ziel menari-nari hingga menyisakan rasa yang menggelitik. Bahkan tubuh mereka mulai terasa panas, padahal suhu ruangan menyala tanpa kendala.
"Sejak kapan kamu menyukaiku?" tanya Ziel tiba-tiba, sementara permainan di pucuk dada Gloria tidak berhenti sama sekali, membuat wajah gadis itu memerah seketika.
Gloria tak menjawab, karena dia malah fokus dengan rasa aneh yang terus menggerogoti dirinya. Rasa nikmat dan tak biasa.
"Kenapa tidak menjawab, hem?"
"Bagaimana aku bisa menjawab, kalau tanganmu nakal seperti ini. Keluar!" cetus Gloria, tetapi sebuah interupsi itu tidak membuat Ziel patuh.
Dia malah memegangi rahang Gloria, dan melabuhkan ciuman brutal. Gairah dalam dirinya memberontak, meminta sebuah kepuasan.
Hingga Gloria merasakan pusat tubuh Ziel berubah menjadi ikan buntal. Menggelembung dan terasa mengganjal.
Kali ini Ziel terus berusaha untuk mengajak Gloria menemui pintu gerbang nirwana. Ya, meski tidak menyatu, tapi mereka masih bisa melakukan hal lain yang membuat hasrat mereka tuntas.
"Ziel, ini aneh!" kata Gloria saat Ziel menggerakkan pinggulnya. Namun, pria itu tak mengindahkan ucapan Gloria, dia terus berpusat pada rasa yang memenuhi dadanya, hingga akhirnya gelombang itu dia dapatkan.
Bersamaan dengan ketukan pintu di luar sana.
Tok Tok Tok ....
"Ziel, ini Daddy!"
***
Hayo lu hayo lu🤣🤣🤣