Aqila Mahendra, seorang gadis cantik berusia 21 tahun. Dia merupakan seorang mahasiswi disebuah universitas swasta di kota Jakarta. Ia bisa dibilang sebagai mahasiswi yang berprestasi di kampusnya, hal ini bisa di buktikan dengan beasiswa yang ia dapatkan dari tahun ke tahun hingga ia sampai di semester akhirnya.
Kemulusan hidupnya di dunia pendidikan tak sama dengan kemulusan hidupnya di dunia nyata. Hidup menjadi korban broken home bukanlah keinginannya, namun takdir sudah menuliskan kisah hidupnya sebagai seorang korban dari keegoisan sepasang suami istri yang sudah tak lagi sejalan, apalagi ada orang ketiga yang hadir di pernikahan mereka.
Selepas perceraian sang ayah dengan bundanya, Aqila tinggal bersama sang bunda dan keluarga barunya. Disaat tinggal bersama sang bunda malapetaka pun terjadi di dalam hidup Aqila.
Mau tau malapetaka apa yang terjadi di hidup Aqila?
Yuk simak ceritanya sampai selesai ya. Happy reading guys..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saputri90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Pagi ini lagi-lagi kedua anak manusia ini menikmati penyatuan mereka. Mereka terus melakukan penyatuan seakan tak ada puasnya. Mereka berhenti ketika perut mereka merasa lapar dan tak lagi bertenaga.
Selepas membersihkan tubuh mereka. Aqilla dan Dito keluar dari unit apartemen Dito. Mereka saling bergandengan tangan, seolah melupakan status mereka masing-masing.
Tania dan Dwi yang juga baru keluar dari unit apartemen mereka. Mereka memandang tak biasa dengan kedekatan keduanya. Sedangkan Dito dan Aqilla, mereka berdua terlihat cuek dan tak perduli dengan pandangan aneh yang mereka dapatkan dari sepasang pengantin baru itu.
"Apa kau baru menyadari perasaan mu pada sepupu Qilla? Apa kau tak lagi menampik rasa yang terdalam di hati mu untuknya Qilla? Atau saat ini kau hanya meluapkan hasrat terpendam mu saja pada sepupu ku Dito?" Tania bermonolog di dalam hatinya.
Ia masih tak bisa memahami apa yang diinginkan dari Aqilla yang sudah menjadi sahabatnya selama tiga tahun ini. Selama tinggal di luar negri Aqilla tak pernah berhenti menanyakan tentang kabar Dito pada Tania ataupun Dwi.
Dia seakan tak bisa melewati satu hari pun tanpa mendengar suara atau pun kabar dari Dito. Namun jika Tania dan Dwi bertanya perihal perasaannya dengan Dito. Aqilla selalu menghindar dan terus menjawab,"Aku hanya seorang mantan patner ranjangnya dan sekarang aku tinggal di luar negri, bergantung hidup dari kebaikannya. Tak ada salahnya jika aku ingin mengetahui kabarnya. Sebagai balas budi ku atas kebaikannya pada ku."
"Apa kalian bermalam bersama?" Tanya Tania dengan tatapan anehnya.
"Jika ia, apa ada masalah dengan mu? Apa kau istri ku?" Jawab Dito dengan pertanyaan yang menyudutkan Tania.
"Tidak ada masalahnya dengan ku, dan aku bukanlah istri mu,Dito. Hanya saja aku heran dengan kalian. Saling mencintai tapi masih saja menampik rasa itu. Aku rasa tinggalkan mereka yang membuat langkah kaki kalian terseret-terseret. Melangkahlah bersama menggapai kebahagian kalian tanpa lagi memandang kebelakang." Balas Tania dengan pendapatnya.
"Lidah mu begitu gampang untuk mengemukakan pendapat mu tentang hidup ku Nia, coba saja kau ada di posisiku. Pasti akan sulit bagi mu untuk bicara seperti tadi. Melupakan sesuatu yang menyakitkan itu sangat sulit." Sahut Aqilla dengan senyum sinisnya.
"Heh, jika aku jadi kau, aku akan pilih Dito bukan suami mu yang jelas-jelas kau tahu bagimana kelakuannya di luar sana, saat kau pergi dan menghilang. Seharusnya dia tetap berusaha mencari mu bukan bermain gila dengan wanita malam setiap hari. Tak terbayangkan oleh ku, jika ia terkena virus mengerikan itu. Berhati-hatilah Qilla, sayangi masa depan mu." Timpal Tania yang kembali mengingatkan rasa sakit hati Aqilla terhadap Bram.
Ya. Aqilla mengetahui semua hal buruk yang dilakukan Bram selama ia pergi dan menghilang. Bukan dari Dito ataupun Tania tapi dari Dwi yang memang kenal dekat dengan Jhopan, assiten pribadi Bram.
Ia tak sengaja mendengar pembicaraan Jhopan yang mengeluhkan kelakuan bosnya pada Dwi di sambungan teleponnya saat itu. Jhopan merasa takut karena di perintah Bram untuk menjatuhkan perusahaan milik keluarganya sendiri dan membangun perusahaan lain dengan dana milik perusahaan keluarganya.
Jhopan takut aksinya ini diketahui oleh Tuan Yohannes. Bisa hilang nyawanya jika Tuan Yohannes mengetahui semua yang ia lakukan pada perusahaannya. Namun berkat bimbingan dan arahan dari Dwi. Semua yang dilakukan Jhopan sama sekali tak terendus oleh Tuan Yohannes.
Malah Jhopan dan Dwi mendapatkan keuntungan dari apa yang diinginkan oleh Bram. Menjatuhkan perusahaan milik sang Daddy dan membiarkan Jhopan dan Dwi menggerogoti badan usahanya. Hampir lima puluh persen asset perusahaan Tuan Yohannes sudah beralih ke pihak ketiga tanpa di sadari oleh dirinya.
"Sudah jangan bahas nama pria itu, kau bisa membuat suasana tenang Aqilla jadi tegang sayang," ucap Dwi.
Dwi menatap manik mata istrinya, ia meminta istrinya untuk diam dan tak lagi banyak bicara.
"Apa kalian mau pergi makan? Jika iya, bolehkah kami bergabung?" Tanya Dwi yang menatap Aqilla dan juga Dito secara bergantian.
"Aku hanya ingin makan di restoran bawah saja, tidak kemana-mana. Aku harus membereskan barang-barang ku sebelum hari esok. Karena hari esok aku sudah aktif bekerja di rumah sakit." Jawab Aqilla.
"Sama aku juga." Jawab Tania dalam mode ngambeknya.
"Ya sudah kalau mau bareng, barenglah." Jawab Dito yang memandang sinis sepupunya yang mudah sekali ngambek dan marah.
Dito menggandeng Aqilla berjalan terlebih dahulu melewati Tania dan juga Dwi. Saat melewati Tania. Dito dengan sengaja menabrak bahu Tania dengan lengannya.
"Sakit Dito," pekik Tania yang merasakan sakit di bahunya karena perbuatan Dito.
Mendengar Tania berteriak, Dito malah tersenyum senang karena berhasil membuat sepupunya itu kesal.
"Kamu iseng sekali sama dia Mas," ucap Aqilla yang juga tersenyum geli mendengarkan suara cempreng Tania yang tak ada merdu-merdunya sama sekali jika berteriak seperti tadi.
"Biarlah, sekali-kali burung pipit itu harus diberi pelajaran." Balas Dito yang tetap berjalan menuju lift sambil bergandengan tangan dengan Aqilla.
tp dia sadar hanya Bram yg di cintai qila
kok kaya aneh gitu ya aq bacanya
bram kaya gitu masih mau saja
diminta untuk ninggalin wanitanya aja Masih pikir² ee masih mau aja sama bram
egois ingin memiliki tanpa mau berusaha dengan cara yg benar
mungkinkah dunia para bangsawan seperti itu di dunia nyata