Queen adalah anak seorang pengusaha kaya, tapi kehidupannya tidaklah bahagia saat kedua orangtuanya lebih sayang kepada adiknya dikarenakan sang adik menderita penyakit.
Queen pun memilih tinggal di desa bersama Neneknya, dan di sanalah awal Queen bertemu dengan seorang polisi tampan yang sederhana.
Akankah cinta tumbuh diantara mereka dengan kehidupan sosial yang sangat jauh berbeda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Kegilaan Alfa
Queen perlahan masuk ke dalam rumah dan langsung menaiki anak tangga untuk ke kamarnya tapi Queen tampak mengerutkan keningnya karena tidak biasanya semua lampu rumah mati.
"Astaga, kenapa semuanya mati?" batin Queen.
Queen pun menyalakan senter dari ponselnya, lalu dia pun masuk ke dalam kamarnya. Hari ini Daddy Darwis dan Mommy Vivian nginap di rumah sakit karena harus menjaga Putri, sedangkan Nenek Arini pulang dan biasanya jam segitu ia sudah tidur.
Queen masuk ke dalam kamarnya dan menekan sakelar lampu, betapa terkejutnya Queen saat melihat Alfa sudah ada di dalam kamarnya duduk di atas sofa sembari menatap tajam ke arah Queen.
"Alfa, ngapain kamu ada di dalam kamarku?" sentak Queen kaget.
Mata Alfa memerah, perlahan Alfa menghampiri Queen dan Queen memundurkan langkahnya. Queen hendak berlari untuk kabur, tapi sayang langkah Alfa lebih cepat.
Alfa menarik tangan Queen dan menghempaskan tubuh Queen sampai Queen terhuyung ke belakang. Alfa dengan cepat mengunci pintu kamar Queen membuat Queen panik.
"Kamu mau ngapain Alfa? jangan macam-macam!" teriak Queen panik.
Alfa kembali menghampiri Queen dan Queen memundurkan langkahnya. "Jangan mendekat, pergi kamu Alfa!" teriak Queen.
Tubuh Queen sudah terbentur dinding, Queen tidak bisa kabur lagi. Perlahan Alfa mendekat dan saat ini jarak mereka hanya beberapa senti saja.
Queen mencium bau alkohol, dan Queen bisa menyimpulkan kalau saat ini Alfa sedang mabuk.
"Queen, aku sangat mencintaimu, kenapa kamu dengan mudahnya bisa berpaling dariku? padahal saat ini aku tersiksa karena harus menjauh darimu."
"Stop Alfa, sekarang kamu sudah menikah dengan Putri jadi kamu jalani saja hidup kamu dengan Putri jangan ganggu aku lagi. Biarkan aku hidup bahagia, aku sudah capek hidup terus-terusan tersiksa seperti itu," sahut Queen.
"Memangnya kamu pikir, hanya kamu saja yang tersiksa? aku juga tersiksa Queen, kenapa kamu jadi egois seperti ini?" bentak Alfa.
Mata Queen sudah mulai berkaca-kaca, sungguh dia sangat takut dengan Alfa.
"Apa kamu lupa, selama ini siapa yang selalu ada untukmu? bahkan aku selalu setia menunggumu selama 7 tahun, itu karena rasa cintaku terhadapmu begitu sangat besar," sentak Alfa dengan mencengkram kedua bahu Queen membuat Queen semakin ketakutan.
"Sadar Alfa, sadar. Mungkin kita ditakdirkan memang tidak berjodoh, jadi kamu harus bisa menerimanya," seru Queen yang mulai meneteskan airmatanya.
Alfa melayangkan pukulannya ke dinding membuat Queen memejamkan matanya saking takutnya.
"Jangan menangis Queen, aku paling tidak suka melihat kamu menangis!" bentak Alfa.
"Kalau kamu tidak suka melihatku menangis, maka hentikanlah dan kamu keluar dari kamarku."
"Queen, kamu benar-benar sudah melupakanku, aku tidak bisa menerimanya pokoknya kamu harus menjadi milikku."
Alfa berusaha untuk mencium Queen tapi Queen terus saja memberontak.
"Hentikan Alfa!" teriak Queen dengan terus memberontak.
Sementara itu, Rifki melihat kamar Queen dan ternyata lampunya masih menyala.
"Astaga wanita itu, katanya ngantuk dan capek tapi lampunya masih menyala," gumam Rifki.
Rifki mulai memperhatikan setiap sudut rumah Nenek Arini yang gelap itu.
"Pak Darna ke mana? kok tumben tidak kelihatan, biasanya Pak Darna suka ada di sini," gumam Rifki mulai aneh.
Perasaan Rifki mulai gelisah, Rifki pun memilih turun dari atas motornya dan celingukan mencari keberadaan Pak Darna dengan menyorotkan senter dari ponselnya.
Rifki menyasar setiap sudut rumah itu, hingga senternya memperlihatkan sepasang kaki yang selonjoran di dalam pos sekuriti.
"Itu sepertinya Pak Darna."
Rifki pun mulai membuka gerbang rumah Nenek Arini dan menghampiri pos sekuriti, dan betapa terkejutnya Rifki saat melihat Pak Darna sudah tergeletak tak sadarkan diri.
"Astagfirullah, Pak, Pak Darna, bangun Pak!" seru Rifki dengan menepuk-nepuk pipi Pak Darna.
Rifki segera berlari mencari air minum dan kebetulan di atas meja ada air mineral, Rifki mencipratkan airnya ke wajah Pak Darna sehingga tidak lama kemudian Pak Darna pun mulai membuka matanya.
"Alhamdulillah, akhirnya Pak Darna sadar juga. Bapak kenapa sampai pingsan di sini?" tanya Rifki.
"Saya juga tidak tahu Mas Rifki, tadi saya minum kopi itu tapi tiba-tiba kepala saya pusing dan jatuh tak sadarkan diri," sahut Pak Darna.
Pak Darna melihat sekelilingnya. "Loh, kok lampunya mati."
"Justru itu, kenapa lampunya sampai mati? biasanya kan, gak gelap seperti ini," seru Rifki.
Pak Darna pun segera bangkit dan menyalakan lampu rumah Nenek Arini.
"Pak, keluarga Queen masih ada di sini kan?" tanya Rifki.
"Masih Mas, tapi Tuan Darwis sama Nyonya Vivian ada di rumah sakit menjaga Non Putri."
"Terus, pria yang muda itu siapa?" tanya Rifki kembali.
"Oh, itu Mas Alfa suaminya Non Putri."
"Apa?"
Rifki tampak kaget, ternyata pria itu suami adiknya Queen tapi kenapa kemarin-kemarin dia ngaku pacarnya Queen dan sempat memaksa Queen juga.
"Wah, gawat terus sekarang dia ada di mana?"
"Ada di dalam Mas."
"Sial."
Rifki pun segera berlari masuk ke dalam rumah diikuti oleh Pak Darna. Sementara itu, di dalam kamar Queen, Alfa sudah berusaha memaksa Queen. Pengaruh alkohol membuat otak Alfa tidak berfungsi dengan baik sehingga dia melakukan hal yang diluar batas kesadarannya.
"Lepaskan Alfa, aku mohon jangan seperti ini," seru Queen dengan deraian airmatanya.
Alfa bahkan sudah merobek semua baju Queen, saat ini Queen hanya tinggal pakaian da*am saja.
"Aku harus mendapatkanmu Queen, karena aku tidak rela kalau kamu harus bersanding dengan pria lain."
Queen terus saja berontak...
"Queen! Queen!" teriak Rifki dengan menggedor pintu kamar Queen.
"Rifki, tolong!" teriak Queen.
Rifki kaget mendengar teriakan Queen. "Pak Darna tolong ambilkan kunci cadangan."
"Baik Mas."
Pak Darna segera berlari dan mengambil kunci cadangan, dan beberapa saat kemudian Pak Darna kembali.
"Ini Mas."
Rifki segera membuka pintu kamar Queen, dan betapa terkejutnya Rifki saat melihat keadaan Queen yang sedang mendapatkan pelecehan dari Alfa.
"Kurang ajar."
Bug..bug..bug..
"Berani sekali kamu melakukan itu kepada Queen!" bentak Rifki.
Queen langsung duduk di pojokan kamar dengan memeluk lututnya sendiri, bahkan tubuhnya sudah bergetar hebat.
Rifki memukul Alfa membabi buta, sehingga Alfa dengan sekejap sudah babak belur.
"Sudah Mas, dia biar menjadi urusan saya," seru Pak Darna.
Pak Darna pun langsung menyeret Alfa keluar dari kamar Queen, napas Rifki masih terengah-engah menahan emosi. Rifki pun menoleh ke arah Queen, tapi dengan cepat Rifki kembali memalingkan wajahnya.
"Astagfirullah."
Rifki dengan cepat mengambil selimut dan segera menutup tubuh Queen yang sudah hampir bugil itu.
"Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Rifki dengan menangkup wajah Queen.
Queen hanya bisa melihat Rifki dengan deraian airmata, membuat Rifki merasa sakit melihat keadaan Queen seperti itu. Rifki pun akhirnya memeluk Queen, dan tangisan Queen kembali pecah.
"Sudah jangan menangis, ada aku di sini."
"A-ku ta-kut, Rif."
Rifki semakin mengeratkan pelukannya, Rifki bisa merasakan kalau tubuh Queen begitu bergetar hebat dan itu tandanya Queen memang benar-benar merasa ketakutan.
"Aku akan selalu ada untukmu, Queen. Jadi, kamu tidak usah takut."