Terlahir dengan nama Ulyana Zahra Fitriangsih, orang tuanya berharap anak mereka tumbuh elok seperti namanya.
Namun, itu semua hanyalah angan semata. Masa lalu mengantarkannya untuk menapaki dunia hitam yang tak seharusnya ia jamah. Bahkan, ia yang memegang kendali atas semuanya.
Satu nama yang tersamarkan di publik, nama yang memuat banyak rahasia. Tidak ada yang tahu apa yang ada di balik punggungnya, tapi ketidaktahuan itu lebih baik dari pada membawa petaka.
Darel Ario Kusuma, seorang kakak yang sangat menyayangi Zahra. Gadis itu segalanya, hidupnya.
Lantas, bagaimana cara Rio menjaga Zahra tanpa kehadiran kedua orangtuanya?
****
Simak terus cerita ini, jangan lupa dukungannya dengan vote, like dan komen.
Terimakasih 🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Pasangan Kompak
"Gimana? Masih mau naik?" Alis Putra terangkat terkesan meremehkan.
"Gue ga akan kalah sama lo," ucap Zahra ketus. Gadis itu memandang salah satu wahana berbentuk seperti perahu yang menggantung di udara. Mereka yang naik akan dibawa berayun lalu diputar-putar hingga perahu itu terbalik selama 1 menit.
Mereka menaiki kembali wahana ekstrim itu. Zahra dan Putra terlihat senang dan begitu menikmati. Untuk sebagian orang, mencoba wahana tersebut akan membuat momok tersendiri, efek yang dikeluarkan pun juga beragam. Seperti mual-mual, pingsan dan trauma.
Mereka mencoba semua wahana ekstrim di taman bermain tersebut dan terakhir memasuki glass house.
Sebelum pulang Zahra dan Putra sempat mampir ke restoran Jepang untuk isi perut. Setelah makan, mereka baru melanjutkan perjalanan, karena mereka harus sampai rumah sebelum malam. Hari yang melelahkan.
Zahra menatap pemuda di balik kemudi tersebut, ia tersenyum tulus. "Thanks udah meluangkan waktu, hari ini benar-benar seru!"
Putra menoleh, sebelah tangannya melepas kemudi kemudian mengacak rambut Zahra pelan. "Sama-sama, kapan-kapan gue mau ngajak lo ke tempat yang lebih seru."
Di tengah perjalanan Zahra dan Putra asik berbincang-bincang. Mereka melalui perjalanan pulang ini dengan tawa.
Srettttttt.
Mobil tiba-tiba oleng—Putra banting stir, mobil mereka beberapa kali berputar ke tengah jalan. Untungnya, jalanan agak sepi karena hujan baru saja reda. Setelah berputar cukup lama, akhirnya mobil itu diam. Zahra menatap Putra bingung.
"Ada yang sabotase kita," ucap Putra sambil menatap lurus ke depan.
Setelah sama-sama mengangguk, Zahra dan Putra turun dari mobil. Awalnya sepi, tapi setelah mereka mau kembali masuk, sebuah peluru muncul dan menghantam kaca depan mobil. Bukan hanya satu, tapi empat peluru sekaligus. Kaca mobil langsung habis, untung mereka tidak jadi masuk.
Zahra dan Putra menghadap depan, di sana sudah ada orang-orang dengan pakaian hitam. Memandang dengan ekspresi serius milik masing-masing. Mereka mengacungkan senjatanya pada Zahra dan Putra, mereka mulai bersiap di tempatnya. Musuh mereka berjumlah enam orang dan terus berjalan mendekat.
Putra mengeluarkan revolver dari balik jaket yang baru ia kenakan sejak hujan turun tadi. Zahra di sebelahnya terkejut mendapati Putra mengeluarkan senjata tersebut, tak lama kemudian gadis itu juga mengeluarkan glock dari balik blazernya.
Salah satu dari mereka maju, sepertinya pemimpinnya.
"Mau melawan ya? Pasti kalah kalian," ucapnya sombong.
Putra tersenyum licik kemudian melepaskan pelatuknya. Tiga orang yang mengelilingi orang itu tumbang.
Dari arah berlawanan muncul segerombolan orang.
"Sial! Kita terkepung," gumam Zahra.
"Kita bisa selesaikan ini, mereka yang bawa senjata api cuma beberapa. Ayo berpencar!"
Zahra mengangguk, gadis itu melesat ke bahu jalan, menembaki setiap musuh yang mendekati dirinya.
Dor!
Dor!
Dor!
Dor!
Dor!
"Shit! Mereka tambah banyak, dari mana mereka berasal?" gumamnya pelan.
Zahra terus menembak setiap musuh yang mendekat hingga tak terasa pelurunya sudah habis. Gadis itu melihat kekasihnya yang akan tertembak. Musuhnya sudah akan melepaskan pelatuk. Zahra berlari menghindari tembakan yang ditujukan untuknya.
Zahra menendang orang yang akan melukai Putra, peluru itu menembak di udara. Gadis itu memasukkan glock-nya dan mengeluarkan pisau lipat yang telah berlapis racun. Dalam sekejap orang dihadapannya tumbang.
Putra mendekati Zahra dan mengajak pacarannya menghindar.
"Peluru gue habis, sialan!" umpat Zahra kesal.
Dor!!
Dor!!
Keduanya teriak bersamaan dengan diiringi Putra yang terjatuh. Sedangkan tangan Zahra lemas dan pegal.
"Bangs*t!" desis Putra.
Dengan peluru yang tersisa, Putra berhasil menyingkirkan setengah dari musuhnya. Dengan langkah tertatih ia membantu Zahra yang dikepung oleh beberapa orang.
Sebelum ia sempat melangkah, orang yang tadi mengelilingi Zahra tiba-tiba ambruk. Gadis itu menggunakan pisau lipatnya yang dapat membunuh orang dalam hitungan detik.
Dengan senyum angkuh khas Ulyana Zahra, gadis itu memunguti sniper yang kira-kira pelurunya masih tersisa banyak.
"Simpan revolver punya lo, kita pakai ini!" Zahra melemparkan salah satu sniper yang dipegangnya ke arah Putra. Laki-laki itu menerimanya dengan baik.
Mereka kembali beraksi menembaki beberapa musuh sampai Zahra menyadari sesuatu yang janggal.
Kenapa sepertinya musuh mereka menjauh dengan sendirinya?
Zahra mengedarkan pandangan, maniknya terjatuh pada seseorang di ujung jalan yang melemparkan sebuah bola dengan senyum misterius. Perlahan, dari bola itu mengeluarkan asap berwarna merah.
Wajah Zahra memucat, gadis itu menghampiri Putra yang masih disibukkan dengan empat orang.
Zahra membantu Putra mengakhiri empat orang tersebut. "Kita harus lari sekarang! Lo masih kuat?"
Putra mengangguk. Zahra segera meraih tangan Putra dan melingkarkan di lehernya, gadis itu mengajak Putra menjauh dari tempat mereka berdiri.
"Kenapa lo kelihatan panik gitu?" tanya Putra saat Zahra terus mendorongnya untuk berlari.
"Ga ada waktu buat jelasin, kita harus lari. Dia semakin dekat!"
Gadis itu terus menarik Putra menjauh, mengabaikan dua luka tembak yang berada di kaki kekasihnya.
"Gu-gue capek, Ra. Kaki gue ...."
"Ga ada waktu, Put. Ga ada. Lima detik dari sekarang, tahan napas selama 30 detik."
"Kenap—"
"Tahan aja!"
Asap itu menembus melewati mereka, Putra mulai mengerti kenapa Zahra menyuruhnya menahan napas. Satu menit berlalu, asap itu menjauh total dari mereka. Terbawa dinginnya angin malam, hujan kembali turun dengan derasnya—membasahi mereka yang terduduk di tepi jalan.
"Pendarahan lo?" Zahra menatap prihatin pada kaki kekasihnya.
"Gue ga papa. Darah lo yang paling banyak terbuang, seingat gue trombosit lo rendah."
Gadis itu mengangguk, Zahra menatap lengan kirinya miris. Rasanya tangannya tambah pegal dan sedikit kebas.
"Apa mereka memasukkan sesuatu?"
Zahra menatap kekasihnya sendu. "Sepertinya begitu. Lo juga ngerasain?"
Putra mengangguk, kemudian melingkarkan tangannya pada pinggang Zahra. Menarik kekasihnya mendekat. "Sorry, gue ga bisa lindungin lo!"
"Enggak kok, kita sama-sama melindungi. Dari tadi lo tamengin gue sampai ga peduli sama keadaan lo sendiri. Lo tadi nekat banget, nyaris aja. Bisa jadi janda muda gue."
Keduanya terkekeh, kenapa mereka sial sekali hari ini?
"Oh ya, di mobil kayaknya ada obat pembeku darah."
Putra menahan lengan Zahra, pemuda itu menggeleng. "Mobilnya udah diledakkan sama mereka."
Zahra menggeram tertahan. Gadis itu melepaskan blazer yang dipakainya kemudian merobeknya dalam sekejap mata. Mengikatkan kain itu pada dua luka di kaki kiri Putra, bahu dan lengannya. Setelah selesai, Putra juga mengikatkan kain itu pada lengan Zahra. Semoga darahnya tidak keluar lebih banyak dari ini.
Putra melepaskan boomber yang melekat di tubuhnya, kemudian memakaikannya pada Zahra. "Biar ga dingin, lo gampang masuk angin."
Zahra mengangguk kemudian membenarkan resleting jaketnya. "Jadi kita terjebak di sini?" Gadis itu tersenyum sinis, "hubungi seseorang atau minta tolong aja ke warga sini?"
"Minta tolong aja, ponsel gue lowbet."
"Yehh, pakai sama lagi," keluh Zahra.
Zahra membantu Putra berdiri, kembali memapah Putra menuju beberapa titik cahaya di kegelapan malam. Di tengah hujan mereka bersama, saling merangkul dan melindungi.
Zahra menyesali perbuatannya karena menyuruh invisible bodyguard-nya untuk berlibur hari ini dan memaksa Thamrin untuk tidak mengikutinya. Sungguh sial!
"Harusnya gue tadi bawa orang dari markasnya Om Deva, Damn!" gumam Putra yang tidak bisa didengar Zahra, lantaran hujan yang mengguyur mereka semakin lebat.
****
TBC!!
JANGAN LUPA LIKE SAMA KOMEN YAA
SEE YOU ❤️