Siapa sangka, kedatangan Mona di kediaman Risa adalah awal kehancuran rumah tangga yang baru beberapa tahun dibangun oleh Risa dan Arga.
Hampir setiap malam Risa mendengar suara derit ranjang dari dalam kamar yang ditempati oleh Mona.
Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Mona di dalam kamarnya?
Penasaran? Yukkk, ikuti kisah mereka 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aysha Siti Akmal Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan Mona
Arga melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah mereka. Ia mengemudikan benda tersebut hingga ke depan komplek. Setibanya di sana ia pun segera menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Setelah memastikan semuanya aman, Arga pun meraih benda pipih kesayangannya dan mencoba menghubungi Mona.
"Ya, Mas? Mas di mana?" Terdengar suara lirih Mona di ujung telepon.
"Mas menunggu kamu di depan komplek. Malam ini Mas akan mengajakmu ke hotel X dan kita akan bermain sepuasnya di sana. Biar gak ada yang ganggu kesenangan kita. Mas juga sudah siapkan berbagai alat favoritmu agar permainan kita bisa lebih hot dari biasanya," jawab Arga dengan begitu semangat.
Mona menghembuskan napas berat. "Baiklah, Mas tunggu di sana biar aku bersiap-siap."
Mona memutuskan panggilan dari Arga lalu bergegas mengganti pakaiannya dengan yang lebih bagus.
Beberapa menit kemudian.
Mona berjalan dengan mengendap-endap keluar dari kamarnya menuju halaman depan. Ia tidak ingin Risa maupun Bi Surti melihatnya. Setelah berhasil melewati pagar depan rumah, Mona pun mempercepat langkahnya keluar dari komplek perumahan tersebut.
Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Arga dan membicarakan masalah kehamilannya kepada lelaki itu.
"Semoga saja Mas Arga mengerti dan bersedia bertanggung jawab atas bayi ini. Kalau tidak, maka habislah riwayatku," gumam Mona sambil meremass-remass tangannya secara bergantian.
Setibanya di depan komplek, mata Mona langsung tertuju pada mobil Arga yang terparkir di pinggir jalan. Ia bergegas menghampiri mobil tersebut kemudian masuk ke dalam.
"Sayang, kamu cantik sekali!" ucap Arga sembari melabuhkan ciuman hangatnya di bibir seksi milik Mona.
"Mas, aku ingin bicara. Ini penting sekali!" balas Mona dengan wajah serius menatap Arga.
"Baiklah, tapi tidak di sini. Sebaiknya kita jalan, aku takut ada seseorang yang lihat kita di sini."
Arga menoleh ke kanan dan ke kiri. Setelah itu ia pun segera melajukan mobilnya menjauh dari tempat itu.
"Kamu mau ngomongin apa, Mona? Ah ya, hampir saja aku lupa. Coba lihat ini!"
Arga mengeluarkan berbagai macam alat dari dalam tas jinjing yang sengaja ia sembunyikan di dalam mobilnya agar ketahuan oleh Risa. Ada cambuk kecil, rantai leher serta benda lainnya yang akan ia gunakan untuk pertempuran panasnya bersama Mona malam ini.
Mona hanya diam tak bereaksi melihat benda-benda konyol itu. Ekspresi Mona yang datar, membuat Arga bingung. Biasanya Mona paling semangat melihat benda-benda baru yang bisa ia gunakan untuk menambah gairah panas mereka.
"Kamu kenapa, Sayang? Kamu tidak suka sama barang-barang ini? Padahal aku belinya mahal-mahal, loh!" ucap Arga dengan alis yang saling bertaut.
"Sebenarnya bukan itu, Mas. Hanya saja aku ...." Mona menghentikan ucapannya.
"Baiklah, aku akan berikan kepuasan untuk Mas Arga terlebih dahulu. Baru setelah itu aku ceritakan soal kehamilanku. Siapa tahu dengan begitu, Mas Arga bisa menerima kehadiran bayi ini dengan ikhlas."
Arga tertawa pelan sembari mengelus paha mulus Mona yang terekspos dengan sempurna. "Apa kubilang, pasti tidak terlalu penting."
Di sepanjang perjalanan, Mona hanya diam. Bibirnya seakan terkunci rapat. Tak ada perbincangan yang membuat Mona bergairah kali ini. Walaupun heran, tetapi Arga tidak terlalu mempermasalahkannya. Yang penting, hari ini hasratnya akan kembali terpuaskan oleh gadis bertubuh molek tersebut.
Tak berselang lama, mereka pun tiba di depan hotel X. Di mana Arga pernah beberapa kali menyewa kamar di tempat itu untuk menikmati percintaan panas mereka. Setelah selesai check-in, Arga segera menuntun Mona menuju sebuah kamar.
Ceklek! Pintu terbuka.
Arga mempersilakan Mona untuk masuk ke dalam kamar itu terlebih dahulu, baru kemudian menyusulnya. Ia mengunci pintu tersebut dan berjalan ke arah tempat tidur.
Tanpa berbasa-basi, Mona segera menanggalkan seluruh pakaiannya. Ia tahu yang diinginkan Arga hanyalah tubuhnya. Untuk memuaskan hasratnya sebagai lelaki tangguh. Sementara Mona sibuk melepaskan pakaiannya, Arga tengah asik mengikatkan rantai ke sisi kiri dan kanan ranjang.
"Kamu sudah siap, Sayang?" tanya Arga sambil tersenyum lebar menatap Mona yang tengah terdiam.
Mona mengangguk pelan dan Arga pun segera menghampirinya. Ia menarik tangan Mona kemudian mengikatkan sebuah rantai aksesoris ke leher jenjang gadis itu. Tidak cukup sampai di situ, Arga pun meminta Mona untuk menungging di atas kasur kemudian mengikat kedua kakinya dengan rantai yang sudah ia persiapkan.
Melihat posisi Mona yang seperti itu, seketika gairahnya langsung memuncak. Juniornya menegang dan sudah tidak sabar ingin masuk ke lorong sempit milik Mona. Arga melepaskan pakaiannya dengan tergesa-gesa dan melemparkannya ke sisi tempat tidur.
"Malam ini aku akan menggempurmu habis-habisan, Mona! Bersiaplah," bisik Arga penuh napsu di telinga adik iparnya itu.
Mona tetap diam dan tak bereaksi apa pun. Belum lagi Mona bersiap melakukan pertempuran panas mereka, tiba-tiba sebuah cambukan yang cukup keras mendarat di bokong padat milik Mona.
Plak!
"Akh!" pekik Mona sambil meringis kesakitan.
Bukannya menghentikan aksinya, Arga malah semakin semangat melakukannya.
Plak!
"Aw! Sakit, Mas!"
"Memekik lah, Mona Sayang. Karena aku suka mendengarnya," bisik Arga sambil menjilati daun telinga Mona.
Kali ini Mona benar-benar merasa kesakitan. Sebab ini pertama kalinya ia harus bercinta bersama Arga tanpa adanya hasrat, sama seperti biasanya. Masalah pelik yang ia hadapi kali ini membuat gairahnya benar-benar sirna entah ke mana.
Melihat bokong seksi Mona yang memerah, membuat Arga semakin bersemangat. Ia bergegas memasang pengaman kemudian memulai permainan panas mereka di atas kasur empuk tersebut.
Mona yang tadinya sama sekali tidak bergairah, setelah merasakan hujaman kuat dari Arga, ia pun ikut bersemangat. Mengerang dan mendesis penuh kenikmatan.
"Eummmhh! Enak sekali, Mas," racaunya.
Setelah berjam-jam bergulat, mencoba berbagai gaya baru bersama gadis itu, akhirnya Arga mengerang. Ia berhasil mencapai puncak kepuasannya. Setelah mengeluarkan cairan kental itu ke dalam pengamannya, Arga terkulai lemah di samping tubuh Mona dengan napas terengah-engah.
Begitu pula dengan Mona. Entah berapa kali ia mengerang dan mencapai puncak kenikmatan ketika Arga memompa tubuhnya.
"Haahhhh! Aku puas, Mona! Benar-benar puas! Aku akui pelayananmu dalam memuaskan hasratku, memang benar-benar joss!" ucap Arga di sela deru napasnya.
Mona tersenyum tipis. "Mas, ada yang ingin aku sampaikan padamu."
Arga menoleh. "Apa?"
Mona meraih tangan Arga kemudian meletakkannya ke atas perut langsingnya sambil tersenyum menatap Arga. "Mas, apa kamu bisa merasakan kehadiran sosok mungil di dalam rahimku ini?"
"Apa maksudmu?" Arga tampak heran.
"Aku hamil, Mas," ucap Mona sambil tersenyum semringah.
"Apa?!" pekik Arga dengan mata membulat sempurna.
...***...