NovelToon NovelToon
Rintik Di Barisan Belakang

Rintik Di Barisan Belakang

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Aruna selalu memilih duduk di barisan paling belakang.
Di sana, dia merasa aman, terlindung dari keramaian, dari tatapan, dari hal-hal yang membuat dadanya sesak.
Hujan adalah teman terbaiknya, satu-satunya suara yang mengerti diamnya.

Sampai suatu pagi, di tengah gerimis dan jendela berkabut, Bu Maita menyebut dua nama yang tak pernah Aruna bayangkan akan berdampingan.

“Aruna Pratama dan Dhira Aksana.”

Dhira, cowok yang selalu jadi pusat perhatian, yang langkahnya tenang tapi meninggalkan riak kecil di mana pun dia lewat.
Sejak saat itu, barisan belakang bukan lagi tempat untuk bersembunyi.
Perlahan, tanpa sadar, Aruna mulai membuka ruang yang sudah lama dia kunci rapat-rapat.

Di antara rintik hujan, catatan pelajaran, dan detik-detik canggung yang tak terduga, Aruna belajar bahwa beberapa pertemuan datang seperti gerimis.
pelan, jujur, dan sulit dilupakan.

Karena kadang, seseorang masuk ke dalan hidupmu setenang hujan, tanpa suara, tapi kamu ingat selalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelukan di Bawah Hujan

Sore itu hujan turun deres banget.

Bukan deres biasa. Deres yang... gila. Kayak langit lagi marah. Kayak ada yang nyiram air dari atas pake drum raksasa.

Aruna berdiri di halte bus, sendirian, memeluk tasnya erat di depan dada. Dingin. Dingin banget. Angin kenceng bawa percikan air hujan sampai ke dalem halte, bikin jilbabnya basah di bagian depan, bikin sepatunya basah.

Dia bersin. Sekali. Dua kali.

*Astafirullah... aku pasti sakit nanti...*

Semua temen udah pulang. Kayla dijemput ayahnya lebih awal—ada urusan keluarga katanya. Jadi Aruna... sendirian.

Dia ngeliat jalan raya yang udah mulai banjir dikit. Air menggenang di mana-mana. Nggak ada angkot yang lewat—mungkin pada takut mogok kalau nekat lewat genangan.

Aruna ngeliat langit. Mendung tebal. Gelap. Nggak ada tanda-tanda mau reda.

*Gimana ini... kalau aku pulang jalan kaki... pasti sakit...*

Tapi dia nggak punya pilihan lain.

Aruna udah siap-siap turun dari halte, mau nekat jalan kaki, pas...

Brum.

Suara motor.

Motor sport. Suaranya khas—ngebas-ngebas kayak motor balap—berhenti tepat di depan halte.

Aruna menengadah.

Dan...

Jantungnya berhenti sedetik.

Dhira.

Cowok itu turun dari motor, buka helm, rambut berantakan—basah kena hujan—wajahnya... keliatan lebih... lebih ganteng entah kenapa kalau basah gitu.

*Astafirullah, jangan mikir yang aneh-aneh.*

Dhira jalan ke halte, bawa helm cadangan di tangan. "Aruna. Naik. Gue anter."

Deg.

Aruna... bengong.

"A-apa...?"

"Gue anter pulang. Hujan kayak gini nggak bakal reda sampe malem." Dhira nyodorin helm cadangan. "Lu mau sakit?"

"T-tapi... aku... aku nggak enak, Dhir... motormu basah nanti—"

"Udah basah dari tadi. Naik." Nada suara Dhira... tegas tapi nggak kasar. "Gue nggak gigit kok."

Aruna... ragu.

Tubuhnya udah menggigil. Dingin nyiksa banget. Dan hujan... makin deres.

Akhirnya... dia ambil helm itu pelan. Pake. Kancing di dagu dengan tangan gemetar.

Dhira udah naik ke motor duluan, nyalain mesin. "Naik."

Aruna... jalan pelan. Naik ke belakang motor dengan canggung banget—kakinya nyaris kesandung karena gugup—terus duduk. Kaku.

Tangannya... nggak tau harus pegang apa.

Pegang boncengan? Tapi rasanya... nggak aman.

"Pegang gue, nggak apa-apa," kata Dhira sambil noleh dikit. "Gue nggak mau lu jatuh."

Pegang... Dhira?

Aruna... wajahnya merah padam di dalem helm.

Tapi... Dhira udah gas motornya. Kenceng. Langsung maju.

Dan Aruna—refleks—langsung melingkarkan tangannya di pinggang Dhira.

Erat.

Deg.

Jantungnya... mau meledak.

Hangat.

Tubuh Dhira... hangat. Meskipun bajunya basah dikit, tapi hangatnya... kerasa. Aruna bisa nyium aroma parfum—Bulgari Aqua, wangi yang... seger, kayak laut tapi elegan—campur sedikit keringat yang... entah kenapa nggak bikin jijik, malah bikin... bikin dia makin deg-degan.

Detak jantung Dhira... kerasa dari punggungnya.

Tenang. Stabil.

Beda banget sama jantung Aruna yang dag dig dug nggak karuan.

Mereka melaju pelan di tengah hujan. Jalanan basah. Genangan di mana-mana. Tapi Dhira bawa motornya hati-hati. Nggak ngebut. Pelan tapi... aman.

Nggak ada yang ngomong.

Cuma suara hujan. Suara mesin motor. Suara ban yang nginjek air—byur byur—pelan.

Tapi... keheningan itu nggak awkward.

Malah... nyaman.

Aruna... peluk pinggang Dhira makin erat. Nggak sadar. Cuma... pengen deket.

Pengen... ngerasain kehangatan ini lebih lama.

*Ya Allah... kenapa rasanya... tenang banget...*

---

Yang mereka nggak tau...

Ada yang ngeliat.

Elang.

Berdiri di seberang jalan, di bawah pohon besar yang daunnya lebat tapi tetep nggak cukup buat melindungi dari hujan.

Cowok itu... basah kuyup.

Baju seragamnya nempel di badan. Rambut basah nempel di dahi. Kacamatanya penuh tetesan air. Sepatunya basah, kaos kakinya basah, semuanya... basah.

Dia lagi jalan kaki pulang. Dari sekolah. Nggak ada yang jemput. Nggak punya motor. Nggak punya duit buat naik angkot.

Jadi... jalan kaki.

Dan sekarang...

Sekarang dia ngeliat...

Ngeliat Dhira berhenti di halte.

Ngeliat Dhira ngasih helm ke Aruna.

Ngeliat Aruna naik ke motor.

Ngeliat... ngeliat Aruna melingkarkan tangannya di pinggang Dhira.

Ngeliat mereka... cocok.

Kayak... kayak pasangan yang... sempurna.

Elang... berdiri di situ.

Diem.

Nggak gerak.

Hujan deres banget. Menyembur ke wajahnya. Dingin. Tapi dia nggak peduli.

Karena dingin di luar...

Nggak sedingin... dingin di dalem dadanya.

Matanya... panas.

Air mata keluar. Campur sama air hujan. Jadi satu. Nggak bisa dibedain.

Tangannya... mengepal. Erat. Sampai kuku-kukunya menancap ke telapak tangan lagi. Sakit. Tapi dia nggak peduli.

"Kenapa... kenapa bukan aku..." bisiknya pelan, suaranya nyaris nggak kedengeran karena ketelan suara hujan.

Motor Dhira lewat. Pelan. Di depan Elang.

Aruna... masih peluk pinggang Dhira. Kepalanya hampir bersandar di punggung cowok itu.

Dan Elang... ngeliat itu semua.

Ngeliat dari jarak yang... terlalu deket tapi terlalu jauh.

"Harusnya aku yang di sana..." lanjut Elang, suaranya mulai bergetar. "Memboncengmu... dan bukan sahabatku..."

Air mata makin deres.

Nggak berhenti.

"Harusnya aku yang kau cinta... dan bukan sahabatku..."

Napasnya sesak.

Dadanya sakit.

"Harusnya kau tahu... bahwa cintaku... cintaku lebih dari Dhira..."

Tangannya gemetar.

"Harusnya aku yang kau pilih... bukan dia..."

Motor Dhira udah jauh sekarang. Hilang di tikungan.

Tapi Elang... masih berdiri di situ.

Basah. Dingin. Gemetar.

Nangis di tengah hujan yang... nggak peduli sama rasa sakitnya.

*Hari ini... hari ini hancur...*

*Semuanya... hancur...*

---

Beberapa menit kemudian.

Motor Dhira berhenti di depan pagar rumah Aruna.

Aruna turun. Pelan. Lepas helm. Rambutnya—jilbabnya—berantakan dikit tapi dia nggak peduli.

Dhira turun juga. Lepas jaket yang dia pake—jaket hitam tebal—terus nyodorin ke Aruna.

"Pake ini. Jangan sampe sakit."

Aruna... kedip-kedip. "T-tapi... ini jaket kamu, Dhir..."

"Gue nggak apa-apa. Lu yang kedingin tadi." Dhira senyum. Senyum yang... tulus. Hangat. Senyum yang bikin dunia Aruna terasa... berhenti sejenak.

Aruna terima jaket itu dengan tangan gemetar. Peluk jaket itu di dada. Hangat. Masih hangat karena abis dipake Dhira.

"T-terima kasih, Dhir... jaketnya... aku cuci dulu baru kukembalikan—"

"Santai aja." Dhira ngangkat tangan, kayak bilang nggak masalah. "Lain kali bawa payung ya, Run."

Run.

Itu... itu pertama kalinya Aruna dipanggil kayak gitu sama Dhira.

Nama panggilan.

Bukan "Aruna". Tapi "Run".

Kayak... kayak temen deket.

Kayak... orang yang... penting.

Aruna... senyum kecil. Senyum yang nggak bisa ditahan.

"Iya... terima kasih..." bisiknya pelan.

Dhira... diem sebentar. Ngeliat senyum Aruna itu.

Senyum yang langka. Senyum yang... manis.

Dan dadanya... hangat.

Dia senyum balik. Lebih lebar. "Oke. Hati-hati ya."

Dhira naik ke motornya lagi. Nyalain mesin. Tapi... sebelum pergi, dia noleh lagi.

Ngeliat Aruna yang masih berdiri di depan pagar, peluk jaketnya.

Dhira melambaikan tangan kecil.

Aruna balas lambaian—canggung—tapi... seneng.

Motor Dhira jalan pelan. Dhira noleh lagi. Lagi. Lagi.

Sampai Aruna masuk ke dalam rumah.

Baru dia ngebut.

---

Malam itu.

Aruna di kamarnya.

Jaket Dhira digantung di kursi meja belajar. Aruna ngeliatin jaket itu lama.

Jurnalnya terbuka. Halaman baru.

Pulpen di tangan.

Tangannya... gemetar.

Tapi kali ini bukan gemetar sedih.

Gemetar... seneng.

Dia mulai nulis.

---

*Aku pikir cinta itu mustahil.*

*Tapi hari ini, untuk sesaat, aku merasa boleh berharap.*

*Dhira... kamu terlalu hangat untuk dunia dinginku.*

*Tapi aku ingin percaya, meski hanya sesaat.*

*Aku ingin percaya... kalau mungkin... kamu juga ngerasa sesuatu.*

*Ya Allah... bolehkah aku berharap?*

---

Aruna tutup jurnalnya pelan.

Peluk jurnal itu di dada.

Senyum.

Senyum yang... lebar.

Senyum pertama yang beneran... bahagia.

---

Sementara itu.

Di rumah kecil dengan dinding retak.

Elang rebahan di kasurnya.

Basah. Dia nggak ganti baju. Cuma... rebahan aja. Biarkan dinginnya nyiksa.

Demam mulai menyerang. Kepalanya pusing. Badannya panas dingin.

Tapi yang lebih sakit...

Dadanya.

Dadanya terasa... diremas-remas. Pelan. Tapi terus-terusan. Nggak berhenti.

Dia ambil buku harian—buku lusuh dengan sampul cokelat tua, beda dari jurnal Aruna tapi... mirip—dari bawah bantal.

Buka halaman baru.

Pulpen di tangan yang gemetar parah.

Dia nulis.

Dengan tangan yang... hampir nggak kuat.

---

*Hari ini aku melihat cinta pertamaku dalam pelukan orang lain.*

*Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa.*

*Karena aku terlalu pengecut.*

*Aku pecundang cinta.*

*Karena aku... tidak pernah cukup.*

*Aku berharap dia menyadari bahwa aku lebih mencintainya.*

*Lebih dari Dhira.*

*Lebih dari siapapun.*

*Tapi harapan itu... sia-sia.*

*Karena dia... tidak pernah melihatku.*

*Dan mungkin... tidak akan pernah.*

---

Elang berhenti nulis.

Pulpennya jatuh dari tangan.

Dia tutup bukunya. Taruh di samping bantal.

Terus... nangis.

Nangis sambil peluk bantal.

Nangis sambil demam mulai naik.

Nangis sambil... nyerah.

Nyerah sama perasaan yang... nggak akan pernah terbalas.

Nyerah sama cinta yang... terlalu sakit buat diterusin.

Tapi tetep... nggak bisa berhenti.

Karena cinta...

Nggak peduli sama logika.

Cinta... cuma tau sakit.

Dan Elang...

Udah terlalu sakit.

Tapi tetep... tetep cinta.

Sampai nafas terakhir.

1
checangel_
Tak ada lagi kata terucap 👍🙏 Aruna kamu kuat ada Author dan Reader yang stay with you 😇
Mentari_Senja: mkasih, kak🙏
total 1 replies
checangel_
Ghibah itu ............... ya seperti itu🤧, terkadang kita suka nggak sadar bahwa apa yang kita bahas itu termasuk dalam rumpun ghibah 🤧
checangel_: No comment🤭/Silent/
total 2 replies
checangel_
Rasanya gimana sih, nangis tanpa air mata /Sob/, pasti berat banget 🤧
checangel_: Waduh, beneran nangis bawang itu🤧/Hey/
total 6 replies
checangel_
Singgah hanya untuk mampir dan nitip salam 'Assalamu'alaikum' gitu ya🤭/Facepalm/🤧
Mentari_Senja: waalaikumsalam🤭
total 1 replies
checangel_
Karena cintamu hanya lewat 🤧
checangel_
Aruna/Facepalm/
checangel_
Bahkan sampai sekolah dong berita anginnya 🤧
checangel_
Wah, stalker kah /Facepalm/
checangel_: Begitulah kehidupan sekarang, banyak yang kepo /Facepalm/
total 2 replies
checangel_
Nah, benar itu kata Ibu 🤧, jangan dipendam jika menyimpan perasaan pada seseorang 😇, tapi tetap ingat ya, imanmu tetap yang paling utama
Mentari_Senja: kata2 seorang ibu emang gk pernah salah😌
total 1 replies
Risa Sangat Happy
Dhira jangan sedih ya karena bapak kamu suatu saat akan menyesal selalu membenci kamu
Yayang Risa Always Together
Dhira ngga usah patah semangat biarkan saja ayahmu mau ngomong apa
Risa Yayang Married
Dhira semangat tunjukkan bahwa kamu bisa membanggakan ayah kamu
Yayang Risa 💏👨‍👩‍👧‍👦
Dhira hidup kamu menyedihkan banget kamu di salahkan sama ayah kamu terus
Risa Imuet
Dhira kamu ngga usah pikirkan omongan ayah kandungmu
Risa Selalu Beautiful
Dhira ngga usah sedih masih ada teman kamu yang menyayangi kamu
Risa Happy With Yayang
Dhira kasihan ngga pernah dapat kasih sayang dari orang tuanya
Risa Selalu Teristimewa
Kasihan Dhira ngga pernah dapat kasih sayang dari ayahnya
Yaris Cinta Sampai Selamanya
Ternyata hidupnya Dhira menyedihkan banget ya
Risa Yayang Selamanya Bahagia
Dhira abaikan saja ayah kandungmu suatu saat ayahmu menyesal karena menghina kamu dan menuduh kamu pembawa sial
Suamiku Paling Sempurna
Dhira biarkan saja ayah kandung kamu menuduh kamu apa tapi kamu tunjukkan ke dia bahwa kamu bisa jadi orang hebat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!