Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.
Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.
Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 19
Buku itu disembunyikan Rowena di dalam lemari, di bagian paling bawah laci terdalam. Itu berarti mereka sudah mengacak-acak kamarnya. Mereka telah merusak ruang pribadinya.
Baiklah.
Ia berharap mereka membaca bagian tentang betapa bencinya ia pada mereka. Mungkin ia seharusnya menyobek halaman itu dan menempelkannya di kulkas agar mereka benar-benar melihatnya.
“Apa saja yang kamu tulis di sana?” kata pamannya dengan jijik. Tatapan pria itu menghindar, seolah tidak sanggup menatapnya.
Tantenya hanya memandang tanpa ekspresi.
“Iya, aku mesum. Kaget?” ucap Rowena.
“Hidupmu cuma bakal berakhir kayak lintah,” balas sang tante dingin.
“Apa maksudnya ini?” Jari-jari Rowena mengusap sisi buku hariannya dengan gelisah.
“Polisi mau nangkap kamu, tapi Dr. Darcel ngotot. Dia tidak mau mengajukan tuntutan,” kata pamannya.
“Kamu bakal dirawat di rumah sakit jiwa, Rowena,” seru tantenya tiba-tiba dengan nada lega.
Rahang Rowena ternganga.
“Kalian mau masukin aku ke rumah sakit jiwa? Kalian tidak bisa melakukan ini tanpa persetujuanku!”
Darcel?
Apa dia mencoba memasukkan Rowena ke rumah sakit jiwa?
Ia tidak mengerti. Ini tidak masuk akal.
“Oh, bisa,” kata sang tante sambil menyeringai puas.
“Dalam kasus ini, kamu akan dimasukkan ke rumah sakit jiwa tanpa persetujuanmu.”
Dada Rowena langsung terasa nyeri.
Darcel pernah bilang bahwa Rowena adalah miliknya selamanya. Apa itu hanya kebohongan?
Saat kebebasannya perlahan terlepas dari genggaman, Rowena akhirnya berhenti menahan diri. Keputusasaan menguasainya. Jika mereka ingin bermain, ia juga bisa bermain. Belahan jiwa tidak harus baik. Cinta mereka tidak harus indah.
“Dia pembunuh!” teriak Rowena tiba-tiba. “Dr. Darcel. Aku lihat sendiri. Di bawah, di ruang bawah tanahnya, dia punya mayat dan ember-ember penuh darah!”
“Berhenti. Sudah, berhenti,” kata pamannya sambil menggeleng.
Rowena menatap mereka berdua dengan bingung. Tidak sedikit pun terlintas di wajah mereka bahwa ucapannya mungkin benar.
“Aku serius!” teriaknya lebih keras sampai mata mereka melebar. Mereka memandangnya seolah ia tidak waras, seolah ia berlebihan.
“Aku ketemu dia, dan dia... aku tidak tahu. Dia bilang aku akan jadi miliknya dan dia memaksaku!” Rowena terdiam, keningnya berkerut saat mengingat momen paling aneh malam itu. Otaknya belum sanggup mencerna semuanya. Terlalu berat.
“Memaksa kamu?” tanya pamannya.
“Dia memaksaku minum darahnya,” jawab Rowena pelan.
Ia kembali menggertakkan gigi. Gusinya terasa gatal. Mulut pamannya mengeras menjadi garis tegang. Pria itu menggeleng, kecewa.
“Rowena,” desah sang tante sambil memutar mata.
“Aku serius!” teriak Rowena lagi. Mata biru cerah tantenya melebar.
“Berhenti omong kosong di depanku,” desisnya. “Tahu tidak? Aku sudah muak dengan sikapmu.”
Sebelum Rowena sempat membuka mulut dan melontarkan komentar jahat, bel pintu berbunyi. Kepalanya langsung menoleh. Pamannya menghela napas dan berdiri.
“Siapa itu?” tanya Rowena sambil menelan ludah gugup.
“Tolong jangan bikin ini makin ribet. Kita sudah cukup menderita,” gumam pria itu.
Rahang Rowena ternganga.
Cukup menderita?
Oh, ini sungguh lucu.
“Maaf kalau keberadaanku menyusahkan hidup kalian,” katanya sambil menggertakkan gigi ketika pamannya berjalan menuju pintu.
Langit di luar semakin gelap. Di depan pintu berdiri seorang polisi berseragam lengkap dan seorang pria botak usia tiga puluhan dengan seragam putih. Di belakang mereka, sebuah van putih besar tanpa jendela terparkir di depan rumah.
Ya Tuhan.
“Halo, Pak. Kami di sini untuk menjemput Rowena Scarlett?” kata polisi itu.