"Kamu bisu!! Karena itulah Malik lebih sempurna darimu!!"kalimat menusuk dari Anggeline pada Yoka. Seorang pemuda yang mencintainya.
Pemuda yang tidak dapat bicara sama sekali. Kaya? Tentu saja, memiliki banyak kepandaian. Namun, bagaikan duyung yang tidak dapat mengeluarkan suara, kala berada di daratan. Menyaksikan wanita yang dicintainya menikah dengan saudara tirinya yang lebih sempurna.
Plak
Satu tamparan mendarat di pipi Dora, wanita yang memiliki rupa mirip dengan Anggeline. Dirinya meraba pipinya yang kebas, menangis terisak.
Hingga bertemu dengan Yoka yang membawa spidol dan papan putih. Menuliskan sesuatu dengan cepat.'Tetaplah berada di sampingku! Aku akan membantu membalas perbuatan mereka!'
Hanya menjadikan Dora sebagai pengganti Anggeline?Itulah yang terjadi pada awalnya. Namun, hal berbeda yang terjadi kala Yoka mulai dapat bicara. Pemuda mengerikan yang melindungi Dora sebagai wanita yang dicintainya. Bahkan melempar sahabat yang mengkhianati Dora ke meja perjudian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yoka Dan Dora
Beberapa hari telah berlalu, ini hanya seperti liburan bagi Dora. Bedanya selalu ada pemuda ini di tempat tidurnya. Entah apa maksud dari kedatangan Yoka.
Pemuda yang kini tengah berada diantara banyaknya undangan di acara pernikahan Dora. Lamaran yang sulit untuk ditolak olehnya, memakai gaun putih yang indah. Sebagai calon istri ke empat pak Sutoyo, orang terkaya di desa itu.
Acara akan segera dimulai, hidangan prasmanan juga sudah siap. Semua berjalan begitu sempurna.
Pengantin wanita kabur di hari pernikahannya? Itu akan terjadi hari ini. Yoka beberapa kali mengirimkan pesan melalui phonecellnya entah pada siapa, sekitar tiga jam sebelum acara dimulai.
Hingga tepat pada saat pengantin wanita keluar, Yoka tertegun matanya tidak berkedip sama sekali. Kecantikan yang hakiki? Sejatinya bukan itu yang membuatnya tertegun.
Namun make up aneh baginya, merah pipi yang terlalu merah terlihat bagaikan bekas tamparan, bulu mata palsu panjang cetar membahana, kontur yang terlalu tebal benar-benar terlihat bagaikan alien dengan bentuk wajah aneh.
"Ppph..." suara tawa tertahan terdengar dari mulutnya. Tapi satu hal diperhatikannya, semua warga desa memuji riasan wajah pengantin wanita. Riasan wajah yang berasal dari salon terbaik di tempat itu.
Yoka berusaha menetralkan dirinya. Menghela napas kasar akan menjadi pria yang membawa Dora melarikan diri di hari pernikahannya. Dua orang yang penuh rencana.
Sutoyo menatap gadis yang mungkin seusia dengan putra sulungnya. Malam ini dirinya harus kuat untuk membobol gawang istri keempatnya yang baru.
Tapi tiba-tiba seorang pemuda bisu terlihat. Benar-benar rupawan, pemuda tengil yang tiba-tiba memeluk Dora.
"Kamu hadir?" Dora menitikkan air matanya, membalas dekapan tubuh itu erat, bagaikan tidak ingin berpisah dengan sang pemuda. Pertanyaan yang dijawab dengan anggukan oleh Yoka.
"Dora! Dia siapa?!" Vera mencoba memisahkan mereka. Tapi Dora malah kembali memeluk lengan Yoka. Pasangan yang tidak terpisahkan, bahkan mautpun tidak akan tega memisahkan mereka.
"Ibu, dia pacarku, namanya Yoka, dia bisu. Tapi walaupun begitu, aku tetap mencintainya," jawaban dari Dora penuh drama dan air mata.
Mata sang pemuda terlihat memerah, air mata tertahan di pelupuk matanya. Terlihat mengangkat jemari tangannya, menghapus air mata Dora dalam diam. Seakan mengaguminya betapa cantiknya kekasihnya hari ini. Tapi, seorang kekasih yang dipaksa harus bersanding di pelaminan dengan pria lain.
Satu kecupan mendarat di pipi Dora, gadis yang memejamkan matanya sejenak, meresapi segala rasa yang ada. Seakan Yoka tidak ingin wanita itu menitikkan air matanya lagi.
"Aku hanya mencintaimu..." teriak Dora dalam tangisannya, memeluk erat sang pemuda bisu. Pemuda yang melepaskan pelukan Dora, kemudian menulis.
'Aku hanya seorang pria bisu, dia lebih baik untukmu. Datanglah saat pemakamanku nanti. Karena saat kamu bersamanya, tidak akan ada tempat bagiku di dunia ini,' beberapa kalimat yang tertulis membuat beberapa warga desa menitikkan air matanya.
Yoka kembali menghapus tulisannya, membuat tulisan yang baru.
'Bahagialah bersamanya. Aku akan menyimpan perasaan ini dalam hatiku, diumurku yang entah kapan akan berakhir aku hanya mencintaimu hingga napas terakhir,'
Dora kembali memeluk tubuh Yoka, bagaikan tidak ingin kehilangannya. Menangis terisak, dengan dagu berada di bahunya.
"Kamu pasti sering merayu wanita dengan papan putihmu. Dasar br*ngesek!" bisik Dora di telinga Yoka. Wanita yang tetap berpura-pura menangis terisak.
Yoka menghela napas kasar, wanita memang harus selalu benar kan? Dirinya mencoba merayu Dora untuk mendapatkan ciuman. Apa tidak boleh?
"Aku hanya mencintaimu. Kalau kamu mati aku juga akan mati!" teriak Dora kembali dalam tangisannya.
Sedangkan Vera hanya diam tertegun, bagaimana dapat seperti ini? Putrinya mempunyai pacar yang tidak dapat bicara. Bahkan datang di hari pernikahannya?
Yoka melerai pelukannya, menulis di papan putihnya dengan cepat.
'Aku mencintai Dora, tolong ijinkan kami bersama. Walaupun aku tidak dapat bicara, aku akan menjaganya,' kata-kata yang tertulis, membuat Vera benar-benar bingung saat ini.
Pak Sutoyo berjalan mendekat, penuh amarah. Menarik kerah pakaian Yoka.
"Kamu! Berani-beraninya ingin merebut Dora di hari pernikahanku!" bentaknya, kini berada tepat di hadapan Yoka.
"Pak tua ini pengantin prianya? Aku fikir ayah dari mempelai prianya. Arsen bahkan lebih tampan darinya," batin Yoka menipiskan bibir menahan tawanya.
"Kenapa tersenyum?! Kamu punya apa untuk menghidupi Dora! Jangan fikir saya tidak tahu, kamu cuma mengaku-ngaku memiliki villa besar di desa seberang!" bentak Sutoyo, hendak melayangkan pukulannya pada bagian perut Yoka.
Menerimanya? Hanya itu yang dilakukan Yoka. Mengapa? Untuk memunculkan rasa iba dan tidak berdaya di hadapan warga desa seperti harapan Dora.
"Hentikan!" Dora melerai, menjadikan tubuhnya sebagai perisai agar Yoka tidak dipukuli Sutoyo lagi.
"Walaupun dia bisu, aku mencintainya. Tolong jangan bunuh dia," kata-kata dari mulut Dora, membuat semua orang mulai memandang buruk pada Sutoyo.
"Dora! Ibumu sudah menerima seserahan jadi..." kata-kata Sutoyo dipotong.
"Ibu berjanji akan mengembalikannya, jika Yoka sudah datang. Yoka sudah datang! Dia bisu, karena itu merasa tidak mampu untuk melamarku..." ucap Dora kembali.
Benar-benar drama romantis Romeo dan Juliet. Tinggal ambil racun lalu mati bersama seperti dalam drama. Tapi ini bukan Romeo dan Juliet, ini adalah drama Yoka dan Dora.
"Ibu..." kata-kata Vera terhenti, dirinya ragu. Pemuda bisu yang tidak jelas asal-usulnya, atau Sutoyo yang sudah pasti dapat memberikan jaminan finansial pada putrinya.
"Ibu tidak akan ingkar janji kan? Jika ibu ingkar janji, aku akan mencari kesempatan, melarikan diri setelah menikah. Kemudian bunuh diri jatuh dari jembatan bersama Yoka!" gertakan nekat dari Dora, membuat Yoka membulatkan matanya, menatap heran pada gadis itu. Gadis yang sejatinya benar-benar takut akan kematian.
"Ibu akan mengembalikannya, kamu jangan nekat ya..." Vera menggenggam jemari tangan putrinya erat, tidak ingin kehilangan Dora.
"Vera! Kamu mau buat saya malu?!" bentak Sutoyo tidak terima.
"Tidak, bukan begitu tapi Dora..." kata-kata Vera lagi-lagi di sela.
"Tetap saja! Biaya pernikahan hari ini saya anggap hutang! Lunasi nanti malam! Jika tidak bisa, saya akan membawa Dora secara paksa ke rumah saya!" tegas Sutoyo meninggalkan tempat pesta diadakan.
Pria yang berpapasan dengan seorang pemuda. Pemuda memakai setelan jas rapi, yang tersenyum ramah. Tapi apa benar? Pemuda itu terus melangkah, menatap ke arah pesta yang akan bubar.
"Samy?" Dora mengenyitkan keningnya. Sedangkan Yoka kembali menunjukkan papan putihnya.
'Kamu sudah pastikan Arsen tidak datang?!' tulisan yang ditunjukkannya.
"Sudah, tapi lihat riasannya?! Entah dia seperti alien dari planet mana..." suara tawa Samy terdengar memegangi perutnya, menunjuk ke arah Dora.
"Aku jelek?! Bahkan Yoka mengatakan aku cantik! Dasar!" teriak Dora, melepaskan sandalnya. Memukul Samy beberapa kali menggunakan sandal.
"Sakit bodoh! Kamu tidak lihat dari ekspresi wajah Yoka?! Dia berpura-pura menyukai riasanmu. Aslinya dia ingin muntah!" Samy kembali tertawa, melarikan diri dari Dora yang mengejarnya.
Sedangkan Yoka terdiam sejenak, jemari tangannya mengepal. Ini sungguh bukan perasaan cemburu, tapi dua orang itu benar-benar kekanak-kanakan. Membuat dirinya seakan memiliki jarak yang jauh dengan Dora. Bagaikan hanya si br*ngesek Samy yang dapat membuatnya tertawa. Benar-benar perasaan menyakitkan yang menghujam dadanya.
"Cemburulah, keluarkan suaramu!" pinta Samy dalam hatinya dengan senyuman menyeringai.
Sedangkan Vera yang menjelaskan pada tamu yang datang. Serta meminta maaf, hanya dapat menghela napas kasar, melihat kelakuan putrinya.
Tapi sifat posesif aneh, tiba-tiba dilihatnya dalam tatapan si bisu. Mungkin sesuatu yang mengerikan entah kenapa.