Cerita ini hanya karangan author buat menghibur. jangan dianggap serius...
......
Cinta yang di kira membawa kebahagiaan ternyata menghadirkan petaka yang besar didalam hidupnya.
Janji manis seorang pria telah menghancurkan seluruh harapan dan martabat keluarganya sekaligus.
"A..aku hamil!" lirihan bergetar keluar dari bibir mungilnya. ia menatap nanar wajah seorang pria yang telah membuatnya terjebak didalam nuansa cinta ini.
"Kau gila! aku tak merasa menghamilimu."
Bagi petir menyambar di langit sana, Ia sungguh terkejut dengan pandangan lemahnya. Malam itu ia tak tahu apa yang terjadi tapi akhir-akhir ini ia merasakan gejalanya.
Sakit dan rasa malu yang ia tanggung setelah itu tak lagi membuatnya hidup dalam ketenagan. Ia benci benih yang ada didalam kandungannya serta keluarganya tak lagi menerimanya.
"Aku memang menyedihkan. karna bualannya aku sampai mengandung benih menjijikan-ini."
Ia harus menerima di kucilkan disuatu tempat yang jau
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
keputusan Rusel!
Perkataan Rusel barusan seakan jadi sambaran bagi Tetua Herdan yang mematung diam. Simob juga berdiri kaku menatap wajah tampan datar yang serius bahkan tak ada raut candaan sekalipun di sana.
"Ketua!"
"Cepat atau lambat perut Sandra juga akan membesar. kebutuhannya akan meningkat begitu juga bahayanya. aku tak ingin membuatnya semakin tersulitkan." tegas Rusel seakan tak memikirkan soal konsekuensi besar nantinya.
"Ketua Rusel! jangan sampai anda menyesali ini semua." Tetua Herdan berucap penuh hormat tak berniat apapun. Rusel memandang mereka dengan tatapan tajam seperti biasa disertai kharisma yang kuat.
"Aku tahu. Sandra tak akan di terima tapi, aku bukan seorang pecundang yang membiarkannya begitu saja."
"Aku mendukung keputusanmu. Ketua!" jawab Simob lalu menghela nafas.
"Namun, aku yakin kau juga telah memikirkan tentang posisi dan keadaanmu. jangan sampai karna satu wanita kau di hukum berat oleh Yang Mulia!"
Rusel hanya diam dan paham. walau ia tak tahu apa yang akan terjadi kedepannya tapi ia tak akan membiarkan Sandra sendirian. bisa saja di saat terburuknya Sandra mencoba menyakiti dirinya sendiri.
"Terimakasih sudah mencemaskan-ku. tapi, ini tanggung jawabku. mereka juga harus mempertimbangkannya." jawab Rusel lalu melangkah pergi kembali menyusul Sandra.
Simob dan Tetua Herdan saling pandang rumit tapi mereka mengangguk saling percaya kalau ini akan jadi badai sekaligus ujian bagi keduanya.
"Biarkan Ketua mencoba. dia bukan orang yang mudah di goyahkan." Simob menatap kepergian Rusel dengan senyuman bangga memiliki sosok pemimpin seperti itu.
"Hm. aku tak begitu mengenalnya tapi yang kami tahu hanya sosok misterius datang tanpa banyak janji tapi langsung melakukan penumpasan." gumam Tetua Herdan mengingat kembali bagaimana awal kedatangan Rusel dulu yang seperti mahluk asing datang tanpa di undang tapi langsung menyelesaikan masalah.
........
Sekarang. semua Ibu-Ibu di Kebun Teh luas milik desa itu tampak beristirahat di bawah pohon rindang nan teduh menatap anak-anak gadis mereka yang begitu giat dan ceria bekerja.
Sudah banyak keranjang yang di masukan ke Gudang pemasokan dengan beberapa lelaki dewasa yang mengangkut hasil panen ke Pabrik Tradisional disini.
"Biar ku bantu!" Sandra beralih ingin mengangkat keranjang di samping Anya yang sedang memetik pucuk teh yang tampak segar.
"San! kau istirahatlah, kulitmu merah terkena ranting Teh!" tegur Anya yang tampak masih melakukan pekerjaannya.
"Tak apa. aku senang melakukannya."
"San! ayolah, kau itu sudah berkeringat."
Sandra menggeleng tetap meletakan keranjang itu ke tempat pemasokan sampai ia terus di lirik beberapa lelaki yang bertugas mengayuh sepeda mengangkat barang.
"Nona Sandra!" sapa pemuda berpakaian sederhana dan usam itu. Ia tampak lebih muda dari Sandra yang hanya tersenyum lalu menata keranjangnya. sepertinya dia masih sekolah.
"Nona! kau begitu cantik dan kulitmu bersih. aku sangat ingin memiliki istri seperti kau. Nona!" ucap pemuda itu tersenyum sopan dan malu-malu membuat para Ibu-ibu yang ada di bawah pohon sana terbahak keras.
"Heyy.. Azrul!! bandingkan kulit susu milik Nona Sandra dengan kulit biji salak punyamu!!" ucap mereka menertawakan Pemuda bernama Azrul itu. memang kulitnya coklat karna terik matahari setiap hari.
Azrul diam merasa malu dengan Sandra yang hanya mengulum senyum lalu mengambil botol air di atas meja.
"Ini!"
"N..Nona.." gumam Azrul syok. matanya seakan mau keluar.
"Hm. rajinlah belajar di sekolah. bekerja memang perlu tapi jangan sampai putus sekolah. paham?"
Azrul mengangguk cepat segera mengambil botol yang di berikan Sandra. ia memeluk benda itu segan meminumnya membuat Sandra menggeleng kembali mendekati Anya.
"Ada apa?" tanya Anya saat mendengar suara tawa ibu-ibu sana.
"Ada bintang jatuh tadi."
"Mana??" Anya melihat ke atas langit cerah sana tapi ia sadar saat mentari tersenyum begitu lebar menarik otaknya.
"Saaan!!! kau ini selalu saja begitu." pekik Anya melempar Sandra dengan dedaunan teh yang tua tapi Sandra malah terkekeh kecil melangkah ke tempat yang lain.
Disaat tangan Sandra mulai ingin meraih satu pucuk daun yang segar. namun, ada tangan lain yang memetiknya duluan membuat Sandra segera menolah.
"Kau?" gumam Sandra heran melihat Ikana yang berdiri di dekatnya. Wajah wanita asli jepang ini terlihat menatapnya datar dan seakan tak berniat apapun.
"Akan ku bantu!"
"Bantu? kau tak ada pekerjaan lain?" tanya Sandra tak suka tapi Ikana tersenyum melihat gadis muda ini begitu kasar dan sangat berani.
"Kau sangat pandai mengambil hati semua orang." ucap Ikana memasukan daun-daun teh yang ia petik ke keranjang di bawah sana.
"Maksudmu?"
"Seperti daun teh ini!" Ikana mengambil yang lebih segar dan hijau lalu menatap Sandra.
"Yang terbaik tetap mendapatkan yang terbaik!"
"Aku tak mengerti bahasa anehmu." ketus Sandra malas meladeni.
"Lihatlah. dalam beberapa hari saja seluruh wilayah ini sudah mengenal namamu. Si cantik anak kota."
Sandra hanya diam melihat ke sekelilingnya yang tampak menatapnya penuh hormat tak seperti biasa. Ia tak tahu kenapa bisa terjadi begini padahal niatnya berbeda.
"Aku tak ada maksud lain selain membantu warga disini, sama seperti yang kau lakukan."
"Jangan menyamakan aku denganmu!" tekan Ikana meremas pucuk teh yang ia peggang sampai remuk membuat Sandra diam benar- benar tak mengerti jalan pikiran semua orang yang membencinya.
"Aku tak mengerti maksudmu!" Sandra ingin melangkah pergi tapi Ikana menyeringai meliriknya dari ekor mata tajam itu.
"Kau hanya ingin menggoda lelaki disini."
Langkah Sandra langsung terhenti. seketika kepalan wanita itu benar-benar menguat bahkan wajah berkeringat Sandra tampak menahan kegeraman.
"Aku masih belum tahu alasanmu datang kesini. tapi, yang pasti. kau hanya ingin di sanjung, bukan?"
"Kau sepertinya memang perlu di ajari!"
Sandra berbalik menatap tajam Ikana yang masih asik dengan ketenagannya.
"Kau pikir aku tak tahu kalau kau memikat Ketua dengan parasmu yang kotor ini. hm?"
"Kau cemburu?" tanya Sandra menaikan alisnya sinis. ia tak menyangka wanita ini ternyata juga memiliki hati yang busuk.
"Tidak! aku hanya kasihan padamu." Ikana berbalik berhadapan dengan Sandra yang sudah mengepal kuat. Anya yang melihat itu dari jauh sana seketika terkejut.
"Kau pasti di buang oleh seseorang hingga.."
"Kauu!!!"
Sandra ingin menjambak rambut Ikana tapi Anya dengan cepat menarik bahu Sandra mundur berdiri di belakangnya.
"San!"
"Mulut busuk wanita ini memang ingin di remas. Anya!" geram Sandra tak terima dengan perkataan merendahkan itu.
"Aku benar. bukan? kalau tak dibuang. kau tak akan ada disini." sambung Ikana tenang menunggu para warga melihat Sandra menyakitinya. maka dari itu citra wanita ini akan hancur detik ini juga.
"Guru Ikana! maafkan temanku." ucap Anya segan membuat Sandra naik darah. Anya belum tahu siapa lintah ini.
"Kau jangan minta maaf pada si buruk rupa ini!"
Ikana syok mendengar makian Sandra yang bergidik jijik melihatnya. Anya juga terpukul kaku akan cacian pedih itu.
"Kau sangat lancang!"
"Kenapa? marah? sayangnya aku tak perduli! yang sedari tadi kau bicarakan itu hanya tentang parasku. kau iri atau bagaimana? butuh uang untuk Operasi. hm?" tanya Sandra membuat Ikana bungkam. Sandra terlihat sangat geram sampai tak bisa mengontrol kata-katanya.
Namun. Ikana melihat Rusel yang datang dari arah belakang sana. Ia mulai merubah wajahnya setenang mungkin dengan gestur yang lembut.
"Kau diam? atau bisu. tadi mulutmu sangat pandai berkata-kata. DASAR BURUK RUPA!!!" maki Sandra habis-habisan membuat Rusel diam berdiri di belakangnya.
"Nona Sandra! aku tahu aku tak secantik parasmu tapi setidaknya aku tak menghina seperih itu." sendu Ikana merasa sakit hati di hadapan Rusel yang hanya menatapnya datar.
"San! kau ini jangan begitu." lirih Anya merasa bersalah pada Guru Ikana.
"Memangnya kenapa? mulutnya itu memang harus di jahit supaya tak bisa bicara omong kosong lagi, bisanya hanya mencela tapi.."
"Kemana sopan santunmu!"
Sandra tersentak mendengar suara Rusel di belakangnya. Ikana tersenyum samar saat menduga jika Sandra akan terkena hukuman yang lebih pantas lagi.
"Kau bicara di hadapan siapa?"
"Kau membelanya?" tanya Sandra emosi dengan mata melotot dan hidung mancung kembang-kempis menahan luapan kekesalan.
"Tidak!"
"Lalu?" tanya Sandra kembali memandang Ikana yang hanya diam dengan penuh ketenagan.
"Tak diperbolehkan siapapun mendekatimu sampai seharian ini!"
"Apa???" pekik Sandra syok tapi Rusel sudah melangkah pergi membuat Ikana menyeringai. pasti Sandra akan di asingkan lagi karna ini.
.....
Vote and Like Sayang..
maaf ya say author up nya sekarang
soalnya tadi kurang enak badan 🙃😓
alur ceritanya seakan2 kira ikut di sana
kren habis
dia dapat lelaki sempurna, andai di dunia ini ada lelaki sempurna seperti rusel pasti pasangannya begitu bahagian, karena begitu di ratukan di mata rusel