Dira, Luna dan Nisa adalah tiga gadis yang bersahabat, mereka berteman sejak SMA.
Dira adalah seorang gadis yang bar-bar sering berantem dengan teman kampusnya. Tetapi dia gadis yang cukup mandiri walaupun terbilang dari keluarga yang berada.
Luna sejak kecil adalah anak yang paling memprihatinkan, dia tinggal bersama ibunya di rumah yang sangat sederhana, bahkan untuk mencukupi kebutuhannya ibunya harus berjualan makanan. Luna gadis yang pintar bisa masuk kampus terbaik di kota itu dengan bantuan beasiswa.
Nisa adalah gadis yang ceroboh, tukang makan, kalau bicara asal benar.
Buat Nisa yang penting ada makanan semua beres.
Arkan dan Elang siapa ya mereka????
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Halo semua 🤗
Saya ucapkan banyak terimakasih buat yang sudah dukung dan membaca karya saya, semoga selalu di beri kesehatan di manapun berada. Aamiin🤲
Lanjut ya 😄 bagaimana dengan Dira?
Happy Reading 📖
Sopir angkot itu membawa Dira ke sebuah hutan, dia menurunkan Dira di pinggir hutan.
"Turun!" bentak sopir itu.
"Pak, tolong saya! jangan turunkan di sini!" teriak Dira.
Dira tetap tidak mau turun, sopir angkot itu menyeret Dira keluar lalu mendorongnya sampai terjatuh. Sopir angkot melajukan angkotnya dengan cepat dan meninggalkan Dira.
"Tolong...tolong...!" teriak Dira.
Percuma dia berteriak hanya menghabiskan tenaga, Dira mengambil ponselnya tetapi tidak ada jaringan yang terhubung. Dia perlahan bangkit dan berdiri mencoba melangkahkan kaki dengan perlahan-lahan mencari jalan keluar hutan itu.
***
Hari semakin gelap tetapi Dira tak kunjung pulang ke rumah, mamah Meri panik menghubungi Dira tetapi kata operator "Nomor yang anda tuju di luar jangkauan." membuatnya semakin panik.
"Vio, kakak sudah pulang belum?" tanya mamah Meri.
"Belum, mah," jawab Vio.
"Kamu di rumah sebentar, ya! mamah cari kakak dulu," pamit mamah Meri.
"Iya, mah," jawab Vio.
Mamah Meri pergi ke rumah Luna terlebih dahulu, kebetulan Luna dan Nisa tidak bareng dengan Dira.
Mamah Meri lalu menghubungi bunda Sinta, untuk meminta tolong agar di tanyakan pada Elang dan Arkan. Bunda Sinta lalu datang ke rumah mamah Meri, bersama Elang.
"Jeng, Dira sudah pulang belum?" tanya bunda Sinta.
"Belum, teman-temanya juga bilang kalau Dira sudah pulang dulu," jelas mamah Meri.
"Tadi Elang juga sempat lihat Dira menunggu angkot, tetapi, saat Elang mau samperin udah gak ada, tante," sahut Elang.
Malam hari pun tiba, Dira juga belum pulang. Mereka semua sangat khawatir dengan Dira. Arkan sudah menghubungi pihak kampus juga, di lihat dari cctv Dira sudah meninggalkan kampus dengan naik angkutan umum. Arkan juga pergi ke panti untuk bertanya, tetapi Dira tidak ke sana.
***
Dira dengan susah payah berjalan dalam kegelapan, dia sudah merasa kelelahan. Tapi dia membuang rasa takut yang ada pada dirinya, tetap berusaha mencari jalan keluar. Hingga menemukan sebuah gubuk, Dira istirahat di gubuk itu. Sepertinya gubuk itu di tinggalkan oleh pemiliknya, masih ada air minum dan bekas makanan. Dira terpaksa meminum air itu, karena sudah merasa kehausan. Tanpa mempedulikan rasa jijik dan bekas siapa air tadi.
Karena tidak tau arah, Dira melanjutkan jalan kakinya melewati jalan satu tapak. Dira sangat bersyukur saat melihat cahaya lampu yang banyak. Semakin semangat Dira melanjutkan jalannya, akhirnya setelah berjuang Dira berhasil sampai di jalan yang ramai kendaraan. Tetapi yang dia bingung saat ini dirinya ada di daerah mana.
Lalu dia bertanya kepada seorang penjual makanan, yang berada di dekat jalan itu.
"Bu, ini di daerah mana, ya?" tanya Dira.
"Kota A, adik mau kemana? kenapa bisa tidak tau ada dimana," ucap penjual itu, melihat Dira dari atas sampai bawah.
"Jauh dari kota saya, tadi saya tersesat di hutan sebelah sana, bu," ucap Dira, sembari menunjukkan arah hutan yang dia lewati tadi.
"Begini saja, bagaimana kalau menginap di rumah saya?" tanya ibu itu.
"Apa tidak merepotkan, bu? Dira takut merepotkan, Ibu," ucap Dira.
"Tidak, Nak," kata Ibu itu.
Setelah selesai membereskan dagangannya, Ibu itu mengajak Dira pulang ke rumah, karena sudah tengah malam juga. Dira juga di pinjami baju untuk ganti, Ibu tadi juga menceritakan jika sering ada orang yang tersesat di dalam hutan. Hutan itu bisa di bilang angker, kalau menemukan minuman atau makanan pasti orang itu akan selamat.
Keesokan harinya Dira berpamitan pulang pada Ibu yang menolongnya, Dira sangat berterimakasih pada Ibu itu.
####
Di kampus di hebohkan dengan berita kehilangan Dira, Luna dan Nisa sangat sedih.
"Nisa, aku menyesal kenapa kemarin pulang duluan," ucap Luna.
"Mana tau kalau Dira akan hilang karena naik angkot," kata Nisa.
"Tetap saja kita juga salah, tidak bareng Dira," ucap Luna lagi.
"Kita cari tukang angkot yang biasanya, yuk!" ajak Nisa.
"Buat apa, Nisa?" tanya Luna.
"Kita lapor polisi saja," kata Nisa.
Saat Nisa dan Luna sedang berbicara Keke mendengar semua, lalu bergegas untuk mencari Sisil.
"Sisil!" teriak Keke.
"Ada apa? berisik jadi orang!" ucap Sisil. Keke menyeret Sisil ke tempat yang sepi.
"Gawat, Dira di buang di mana?" tanya Keke.
"Mana aku tau, yang membawa orang suruhan kamu juga," jawab Sisil.
Sisil dan Keke berdebat, mereka saling menyalahkan satu sama lain.
**
Dira akhirnya sampai juga di rumah, dia langsung memeluk mamahnya.
"Dira, kamu kemana saja?" tanya mamah Meri.
"Mah, Dira mandi dulu," ucap Dira, bergegas menuju ke kamar untuk membersihkan diri.
Setelah selesai mandi Dira menemui mamahnya lagi, dan menceritakan apa yang di alami.
Mamah Meri kembali memeluk Dira, dia sangat bersyukur karena anak perempuannya masih ada yang menolong.
"Lain kali kalau pulang jangan sendiri," ucap mamah Meri.
"Namanya juga lagi apes, mah," ucap Dira.
"Mamah harus melaporkan hal ini pada polisi, biar sopir angkot di larang beroperasi lagi," ucap mamah Meri.
"Jangan, mah! mereka juga mencari nafkah," jelas Dira.
"Mamah tau, tetapi ini tidak bisa dibiarkan, Dira," ucap mamah Meri.
"Mungkin yang bawa Dira kemarin bukan tukang angkot beneran, mah," jelas Dira.
"Maksudnya?" tanya mamah Meri.
"Dira tidak pernah melihat orang itu sebelumnya," jawab Dira.
Mamah Meri memberitahu Arkan dan Elang kalau Dira sudah pulang dalam keadaan selamat.
**
Elang memberi tahu Luna dan Nisa, karena dari tadi mereka juga menanyakan keadaan Dira.
"Luna, Nisa, Dira sudah pulang," ucap Elang.
"Alhamdulillah, terus bagaimana keadaannya?" tanya Luna.
"Kebiasaan Dira main ilang," sahut Nisa.
"Dia baik-baik aja, kalian tidak usah khawatir," ucap Elang.
"Ayo kita ke rumah Dira!" ajak Nisa.
"Nanti saja setelah selesai kuliah," kata Elang.
"Iya, aku khawatir dengan Dira," ucap Luna.
Selesai kuliah mereka bertiga datang ke rumah Dira, untuk memastikan keadaan Dira. Sebagai sahabat dan teman mereka sangat peduli satu sama lain. Terutama Luna, dia paling tidak tega jika salah satu temannya ada yang kesusahan.
Di saat salah satu dari mereka ada yang kesusahan, mereka selalu ada dan siap menolong. Begitu juga dengan Elang yang sudah menganggap mereka bertiga teman, semoga tidak ada perasaan antara mereka bertiga dengan Elang. Karena rasa itu bisa menghancurkan pertemanan dan merenggangkan persahabatan. Jangan sampai persahabatan yang telah mereka pupuk hancur begitu saja karena suatu keegoisan, salah satu dari mereka. Karena mempertahankan sesuatu memanglah tidak mudah butuh perjuangan, kesabaran dan keikhlasan.
Bersambung.....
...❤❤❤❤❤❤❤...
baik benar jadi teman❣️❣️❣️❣️
masih z suka menyalahkan orang lain 🙄🙄🙄🙄