Bagaimana jika pasangan suami-istri memiliki sifat yang sama-sama dingin dan kuat? Akankah mereka saling menyukai atau justru saling melukai?
Penggabungan kerjasama antara perusahaan besar yang di prediksi akan saling menguntungkan, telah menyatukan 2 petinggi perusahaan tersebut menjadi suami istri.
Latar belakang mereka yang berasal dari keluarga yang sama-sama kuat menjadi alasan mengapa pernikahan itu di gelar, alasannya pun sama, semata-mata untuk mengokohkan perusahaan mereka.
Alaris Dwyne harus menelan pil pahit serta merasakan sakit dan getir nya menjalani kehidupan terjal sejak ia masih kecil, dia berjanji akan mencari siapa dalang kecelakaan yang menimpa orang tuanya hingga membuat mereka meninggal dunia, dan ia ingin membalas dendam padanya.
Ternyata, Harry Mac Linford adalah satu-satunya kunci yang mengetahui itu semua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KERESAHAN DAN KEGUNDAHAN ALARIS
Hati Alaris masih mengganjal dan merasa sesak, pikirannya masih belum bisa lepas dari William dan Axella, dia bahkan sangat terhina dengan kalimat William yang menyamakannya dengan Axella.
'Sesungguhnya apakah William tahu atau tidak tahu siapa Axella sebenarnya?'
"Brida atur ulang pertemuan dengan perusahaan berlian yang pernah aku tolak itu."
"Apakah yang anda maksud adalah perusahaan Diamond Emperor milik Emperor Grup nyonya?"
"Ya, pesaing terberat perusahaan Liam Grup."
Sembari berjalan menuju ruangan rapat Alaris tiba-tiba memikirkan sesuatu, ia berkali-kali memikirkan remcana untuk dirinya.
Namun, selama rapat dengan para dewan petinggi pun, sama sekali tidak ada yang masuk di kepala Alaris. Pandangan nya kosong dan sesekali ia hanya mengetuk-ngetuk ujung penanya di atas meja.
Hingga pada jadwal-jadwal berikutnya di hari yang sama, Alaris harus benar-benar memusatkan otaknya agar pertemuannya dengan para pebisnis tidak menjadi bahan tertawaan jika ia bersikap seperti manusia tanpa jiwa.
'Otak ku hampir membusuk dengan pikiran-pikiran yang selalu mengusikku.'
Ketika sore hari, Alaris sudah sampai di mansion ia langsung mengambil tempat untuk mandi, ia masuk ke dalam bathup dan meluruskan kakinya yang terasa pegal.
'Aku ingin berendam sebentar, semua sudah seperti ini maka kita akan lihat apa yang akan terjadi ke depannya, mungkin William akan bosan pada Axella dan kembali padaku.'
'Aku memang menutup mata dan tidak terlalu peduli ketika William sedang bermain dengan beberapa wanita berbeda, meski hatiku sakit tapi aku selalu bersikap tenang, yang tidak pernah aku tahu entah mereka tidur bersama atau tidak aku tak pernah ingin tahu, tapi yang aku tahu dia tidak pernah serius dengan mereka, dan hubungan itu tidak akan lebih dari 3 hari, tapi sekarang adalah pertama kalinya William akan benar-benar membawa gundikknya ke mansion, bahkan terang-terangan berbicara padaku.'
Alaris menghempaskan nafas beratnya, ia menenggelamkan seluruh tubuhnya hingga air hangat mencapai ujung hidungnya, dan pada akhirnya Alaris menenggelamkan seluruh tubuh serta kepalanya ke dalam bathup.
*****
Beberapa hari kemudian~
Namun ternyata prediksi Alaris salah. Beberapa hari ini William semakin menggila dan tergila-gila dengan Axella, bahkan William sudah berani terang-terangan membawa Axella untuk keluar masuk di taman mansion.
Hari ini Alaris memilih untuk beristirahat karena tubuhnya terasa sedikit lelah, sebenarnya tubuhnya masih kuat untuk bekerja namun akhir-akhir ini pikirannya terlalu berat dan mempengaruhi suasana hati serta tubuhnya menjadi cukup kelelahan.
"Aku hanya berharap tidak ada gosip dan berita di media, karena itu akan mempengaruhi saham perusahaan." Kata Alaris
Sedangkan Lily saat itu memijat bahu Alaris.
"Saya tidak menyangka Tuan William akan sejauh ini." Kata Samantha menyesal dan sedih.
Ucapan dan kalimat Samantha lolos begitu saja dari mulutnya, seketika dia terkejut dan menampar mulutnya sendiri.
"Maafkan saya Nyonya." Kata Samantha menunduk.
"Sudahlah, tidak perlu minta maaf, toh seisi mansion juga tahu karena akhirnya William dengan terang-terangan membawa wanita itu pulang, mereka tidak berbicara karena takut pada kami."
"Wanita itu benar-benar berhati jahat! Sudah anda tolong tapi sekarang justru memikat tuan!" Kata Lily kesal.
"Tapi, Nyonya, saya rasa wanita itu tidak terlalu pintar." Sambung Lily lagi.
"Hm? Kenapa?" Tanya Alaris.
"Karena, dia tidak bisa membedakan mana kuda dan mana keledai, saya jadi membayangkan wajahnya deperti keledai." Kata Lily menahan tawanya.
"Kamu menguntit tuan William dan wanita itu lagi?" Samantha menyela ketika menuang teh untuk Alaris sembari melirik sinis.
"Sedikit..." Emily menyipitkan mata dengan sejumput jari dan jempolnya memberikan ekspresi yang imut.
"Dasar anak nakal." Samantha memukul punggung Emily membuat Emily meringis kesakitan.
"Maafkan Lily nyonya Alaris." Kata Lily menyesal.
Alaris hanya tersenyum getir.
"Lalu apa lagi yang kamu dengar Lily?"
Di bandingkan marah, Alaris justru penasaran apa saja yang Emily dengar saat itu. Meski raut wajahnya masih tenang dan terlihat dingin.
"Jika tidak salah dengar, tuan William mengatakan akan memberikan hadiah yang paling cantik untuk merayakan sesuatu nyonya, tapi saya tidak mendengar dengan jelas perayaan apa itu, dan untuk merayakan apa. Maafkan saya nyonya, lain kali saya akan lebih memastikannya."
"Yang terpenting jangan sampai kamu tertangkap, itu akan menjadi masalah, bukan cuma untuk dirimu tapi juga untuk diriku, karena William akan murka jika dia tahu pelayan pribadiku sedang menguping dan menguntitnya." Kata Alaris.
Para pelayan menundukkan kepala dengan hormat dan mengerti mereka harus berhati-hati.
"Ayo kita jalan-jalan, di bagian taman wilayah utara mansion. Aku sudah katakan pada William, wanita itu tidak boleh menginjak di tempat-tempat yang akan sering aku lalui dan kunjungi."
"Ayo nyonya, bunga-bunga yang anda tanam juga sudah siap untuk di petik, karena jadwal nyonya sangat padat kemarin saya memetiknya beberapa." Kata Emily.
Alaris pun berjalan dan mengelilingi taman bersama Emily serta Samantha yang berdiri di belakang Alaris.
Saat itu Alaris berhenti melihat bunga-bunga yang sudah ia tanam saat pertama kali ia datang di mansion.
Tak berapa lama Brida pun tiba, dan menyapa dengan menundukkan kepala.
"Nyonya, tuan Harry sudah mengonfirmasi, jika ia akan datang untuk membahas bisnis dengan anda, tapi masih belum di pastikan kapan hari nya."
"Baiklah."
"Tapi nyonya kenapa tiba-tiba anda menginginkan pertemuan ini, bukankah anda menolak bekerja sama dengan mereka?"
Alaris kemudian duduk di kursi taman, di bawah atap yang rimbun di penuhi tumbuhan merambat yang melindunginya dari sengatan sinar matahari sore.
"Aku ingin meminta bantuannya." Kata Alaris.
"Meminta bantuan?"
"Sejujurnya hanya berjaga-jaga, jika sesuatu terjadi pasti akan berpengaruh pada perusahaan milikku, dan perusahaan sebesar Emperor Grup pasti tidak akan kesulitan untuk menopang perusahaanku."
"Apakah tuan William berniat menggulingkan perusahaan Aldawn milik anda, setelah dia bisa mendirikan Diamond Emperial?"
"Aku hanya berjaga-jaga, karena firasatku tidak baik akhir-akhir ini."
"Tapi perusahaan anda adalah penopang terbesar Diamond Imperial nyonya, bisa dikatakan perusahaan Aldawn dan Liam Grup sudah menjadi pohon yang besar dengan akar yang kokoh sehingga bisa membuat perusahaan Diamond Imperial yang awalnya hanya anak perusahaan bahkan bisa melejit melebihi Aldawn dan Liam. Diamond Emperial menjadi perusahaan besar hingga bisa menandingi yang lain, perusahaan itu sudah menjadi raksasa. Bukankah itu tujuan kalian menikah? Anda dan tuan William, perusahaan Aldawn juga dengan perusahaan Liam Grup."
Alaris diam, ia hanya memikirkan sesuatu yang paling buruk.Tapi, terkadang Alaris merasa apakah pikirannya terlalu berlebihan.
"Tidak ada yang bisa memprediksi, apalagi William semakin tergila-gila dengan Axella." Kata Alaris dan memetik satu bunga.
"Ya, wanita ular itu, dia wanita rubah, seharusnya dulu anda tidak menolongnya Nyonya." Kata Brida.
"Mungkin ini semua sudah menjadi takdir." Kata Alaris.
"Tapi nyonya, anda harus bersikap tegas!" Sanggah Lily.
GEDEBUK!! "Aduh!" Pekik wanita itu.
Terdengar seseorang terjatuh di dekat mereka yang sedang mengobrol.
Alaris menoleh dan semua orang terkejut begitu pula Alaris, ini adalah pertemuannya lagi dengan seorang wanita yang sudah lama tidak bertatap muka.
"Kenapa wanita ini ada di sini!" Lily berteriak kesal.
"Axella..." Brida berbicara lirih dan melihat pada wajah dan sikap Alaris yang nampak terkejut juga.
bersambung~
chia bukan berontak pak presiden cmn dia malu & takut 😂
akankah stelah ni harry dan kaka² chia bakal kena omel alaris 🤣🤣🤣