Season 1
Di sebuah Kota yang dimana banyak para penjudi, pemabuk, bahkan prostitusi bertebaran, hidup seorang gadis bernama Bian Almeta yang harus menjaga dirinya dan juga kehormatannya dengan menutupi seluruh tubuhnya menggunakan arang hitam supaya Pamannya tidak menjadikan wanita bayaran.
Season 2
Mengisahkan sahabatnya Bian yang juga di jadikan jaminan atas kekalahan judi oleh ayahnya dengan menjadikannya wanita pelayan pria hidung belang.
Apakah gadis itu mampu menjaga kehormatannya? atau, dia akan melakukan apapun demi orang yang mereka sayangi?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini.
Ig : @ai.sah562
FB : Mmah Abidah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
"Nathan..."
Merasa ada yang memanggil, Nathan menoleh ke asal suara. "Eliza."
Bian memperhatikan wanita yang di cintai suaminya. Cantik, sexy, dan juga bertubuh ideal. Hatinya merasa panas, pikirannya kacau. ( Aku yakin Nathan masih mencintai Eliza. ) Bian melihat raut wajah suaminya dan berganti melihat tatapan Eliza.
Eliza pun memperhatikan wajah cantik Bian. ( Sial, dia sangat cantik. )
"Siapa wanita ini, Nathan?"
(Ayo Nathan, jawab! Aku ini istrimu. ) batin Bian berharap Nathan mengakui dirinya.
"Bukan urusanmu." Jawab Nathan dingin dan kembali mendorong kursi rodanya. Bian menghelakan nafas lesu, hatinya kecewa kala suami tak mengakuinya.
Eliza mencegah tangan kekar Nathan. "Apa dia selingkuhanmu? apa dia mainan barumu untuk membuat ku cemburu? apa dia hanya sebatas pelarian karena kau belum mampu melupakanku?" cerca Eliza begitu penasaran dengan sosok wanita yang ada di kursi roda.
Elisa tidak mengenali siapa dia karena tidak memakai warna hitam.
Deg...
Dada Bian bergemuruh tak karuan, wajahnya menunduk risau, matanya terasa perih ingin mengeluarkan air mata jika itu benar apa adanya. ( Apa benar kalau aku hanya di jadikan pelarian saja? seharusnya ku sadar jika Nathan tidak mungkin mudah berpaling dari Eliza. )
"Dia bukan mainanku, bukan sebatas pelarian ataupun selingkuhan. Dia istriku, istri sahku, masa depanku, dan juga calon ibu dari anak-anakku!" jawab Nathan begitu tegas penuh penekanan jika wanita yang sedang duduk di kursi roda bukanlah sekedar mainannya. Karena Nathan sudah memutuskan untuk memulai hubungan baru dan meninggalkan hubungan lama. Sebab, pantang bagi Nathan kembali ke masa lalu.
Deg...
Bian sontak mendongak menatap Nathan. Dia tidak percaya jika Nathan akan mengakuinya di depan Eliza dan juga di depan banyak orang.
Eliza terkejut tak percaya wanita cantik blasteran Amerika-Korea itu adalah istrinya Nathan. Dia kalah cantik dengan wanita itu sehingga membuatnya iri. ( Sial, aku kira Nathan akan memohon-mohon tak ingin ku pergi. )
"Hahaha kau lucu Nathan. Kau tidak mungkin tertarik kepadanya apalagi menyentuhnya karena kau impoten." Sindir Eliza di karenakan Nathan pernah cerita jika dia tidak memiliki nafsu dan senjatanya mati meski Eliza polospun tidak membuatnya bangun.
"Kau salah, Eliza. Aku tertarik pada istriku sendiri. Jantungku berdebar kencang saat menatapnya, mataku tak ingin berpaling saat ku tatap wajahnya, dan nafsuku ada, bahkan senjataku bangun walau hanya mengucup keningnya." ucap Nathan jujur sambil menatap mata Bian yang juga mendongak menatapnya. "Kami sudah bersatu," sambungnya mengecup bibir Bian dari atas.
Eliza membelalakkan mata tak percaya Nathan berciuman di depan umum. Dengannya saja tidak pernah tapi ini, semua terjadi begitu saja. Bahkan Nathan terlihat menikmatinya menunjukan jika dia menginginkan wanita itu.
Nathan melepaskan tautannya tersenyum manis penuh pesona. "Kita balik ke hotel. Aku menginginkanmu, kita buat Nathan junior untuk orang tua kita." Ucapnya sambil mendorong kursi roda meninggalkan Eliza yang mematung tak percaya.
( Tidak mungkin! ) Eliza menggelengkan kepala tidak percaya. Selama mereka pacaran, tidak pernah sedikitpun Nathan ingin menyentuhnya walau hanya mengecup bibir saja tidak. Alasannya, Nathan mati rasa. Tidak memiliki nafsu dan miliknya tidak bangun. Tapi nyatanya? di luar dugaan Eliza.
********
"Kenapa kau melakukan itu di hadapan mereka? bagaimana jika mereka berpikiran yang tidak-tidak dengan kita?"
"Ingin menunjukan kepada para pria yang menatapmu penuh kagum bahwa kau adalah milikku!"
Penuturan Nathan membuat Bian menunduk tersipu malu.
"Lagian, ini itu New York. Bagi mereka, berciuman di tempat umum sudah menjadi hal yang lumrah." Nathan membawa istrinya jalan-jalan menikmati kota New York.
Nathan mengajak Bian ke NYC Times Square, perempatan jalan utama di Manhattan, New York City. Tempat ini adalah spot turis yang sangat populer dan pusat hiburan Kota New York.
Tempat ini akan sangat ramai dan terlihat indah jika mulai memasuki waktu malam.
"Apa kau mau membeli sesuatu?" tanya Nathan.
"Emangnya boleh?"
"Boleh, asal jangan banyak-banyak. Takutnya kau mengantuk saking kekenyangannya."
"Hmmm aku beli ice cream saja. Tapi, yang ukuran jumbo." Pinta Bian setelah mencari makanan yang ia inginkan dan matanya menemukan penjual ice cream.
"Ok, kita kesana sekarang." Nathan pun membawa Bian ke penjualnya. Tak sedikitpun dia malu mendorong kursi roda padahal Bian tidak sakit parah. Namun, Nathan sendiri yang kekeh istrinya untuk duduk di kursi.
Kedua insan itu mengantri membeli ice cream. Setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan, keduanya duduk di salah satu meja menikmati ice cream nya.
Lelehan ice cream di taburi meses ceres warna warni serta kue kering di pinggirannya membuat Bian ingin segera melahapnya. Dia men*ji*lat Ice cream itu penuh perasaan seolah menikmatinya. Bahkan matanya sesekali ikut terpejam menikmati rasa yang ada di dalam ice cream itu.
Nathan yang melihat cara Bian menikmati ice cream nya membuat dia menelan ludah secara kasar. Sungguh terlihat menggoda dengan lidah yang menjulur men*ji*lati ice membuat pikirannya melanglang buana kesana kemari.
( Andai yang di jilat Bian senjataku, pasti rasanya... aahhh... jadi ingin merasakannya. Bian, kau membuatku panas dingin. )
Bian melirik ke arah Nathan, "kenapa kau bengong? apa kau juga mau?" Nathan mengangguk sedangkan pikirannya tertuju pada hal lain.
"Nih.." Bian menyodorkan Ice cream miliknya.
Eh..
"Bukan ini, hmmm maksudku..." Nathan celingukan dulu kemudian mencondongkan wajahnya ke telinga Bian. "Ku ingin kau men*ji*lati milikku," bisiknya sensual.
Ukhuuk... ukhuuk...
Bian sampai tersedak ice cream saking terkejutnya dengan permintaan Nathan. "Ka-kau.. mesum."
Nathan tersenyum menyeringai seraya mengerlingkan mata. "Siapa yang mesum? aku ingin kau men*ji*lati milikku ya, ini, Ice cream yang ku pegang. Memangnya pikiranmu lagi berpikiran kemana?" goda Nathan tersenyum usil.
Eh...
Bian gelagapan menghindari tatapan nakal dari Nathan. Entah dia yang berpikiran mesum atau memang Nathan yang mesum. ( Iisshh... apa yang ku pikirkan? )
"Hmmm, kau ingin milikmu aku jilati seperti ini?" Bian kembali menyantap ice cream nya dengan sensual. Kali ini pikiran Nathan kembali ke pikiran kotornya.
"E-emangnya kau mau?" belum apa-apa juga sudah di buat merinding panas dingin atas bawah.
Nathan memang belum berpengalaman cuman, ia sering menonton film ataupun video 21+ sehingga ia ingin merasakan dan juga mempraktekan setiap gerakan yang ada di video itu.
"Hmmm gimana ya?" Bian pura-pura berpikir, padahal dia hanya iseng namun, respon Nathan di luar dugaannya. "Boleh deh, nanti ku coba."
Nathan langsung berdiri, dia mendorong kursi roda Bian sampai wanita itu memekik terkejut.
"Nathan..! Kau mau bawa aku kemana?"
"Kita praktekan yang tadi kamu bicarakan!"
Glek...
Bian mematung melotot sampai matanya seperti ingin copot. ( Mati aku. )
Bersambung....