Mawar adalah anak ke 2 yang di paksa harus selalu mengalah dengan adik nya, Mawar di bedakan oleh ibu nya.
Mawar harus selalu mengalah demi sang adik, Mawar di perlakukan seperti anak tiri. Penderitaan Mawar semakin pedih saat ayah nya meninggal dunia, sikap ibu nya semakin menjadi terhadap diri nya.
Untung saja kakak laki - laki Mawar bisa melindungi diri nya, sebagai sang kakak dia tidak rela melihat penderitaan sang adik.
Sang kakak bahkan rela menolak beasiswa nya di sebuah universitas ternama karena dia tidak ingin meninggal kan Mawar sendirian.
Ikuti kisah Mawar dalam mengarungi kehidupan di bawah tekanan sang ibu dab juga adik nya, bisa kah ibu nya Mawar menyayangi Mawar seperti dia menyayangi putri bungsu nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
09
Malam ini Mawar sengaja tidak keluar untuk makan malam, hati nya begitu terluka mendengar kata - kata yang keluar dari mulut ibu nya. Mawar memilih untuk tetap berada di dalam kamar, dia tidak merasa lapar sama sekali.
"Farhan, Mawar mana? Dia tidak ikut makan malam?" Tanya pak Harto pada putri sulung nya.
"Farhan gak tahu pak, coba Farhan lihat di kamar nya dulu!" Pemuda itu bergegas meninggal kan meja makan untuk melihat keadaan adik pertama nya.
"Ngapain harus disusul segala, dia akan keluar sendiri ketika dia lapar nanti!" Bu Munah tampak tidak suka melihat perhatian suami nya untuk Mawar.
"Cukup bu, aku sudah berulang kali mengatakan pada mu jangan pernah membedakan anak. Jika kau masih terus seperti ini maka suatu hari kau pasti akan menyesal!" Pak Harto membentak istri nya.
Bu Munah memilih untuk diam, dia tahu saat ini Pak Harto sedang marah. Jika dia terus memojok kan Mawar, maka sudah pasti akan terjadi keributan.
Sementara itu di dalam kamar nya Mawar.
"Dek, kenapa kamu tidak ikut makan malam?" Tanya Farhan dengan lembut pada adik nya.
"Aku belum lapar kak, nanti aku akan makan jika aku lapar!" Jawab Mawar sambil terus memaksakan senyum pada kakak nya.
"Ada apa Mawar? Apakah Indah berulah lagi dan ibu menghukum mu lagi?" Tanya Farhan dengan tatapan penuh selidik.
"Tidak kak, aku hanya sedang tidak enak badan saja!" Mawar memberikan alasan pada kakak nya.
"Kamu makan lah dulu, nanti baru beristirahat!" Farhan berkata sambil duduk di pinggir ranjang Mawar yang sudah reot.
"Tadi aku udah makan kok kak, setelah aku selesai masak!" Jawab Mawar berbohong.
"Ya udah, keluar begitu kamu langsung istirahat saja. Kakak keluar dulu!" Farhan meninggal kan adik nya sendirian di dalam kamar nya.
"Bagai mana dengan Mawar? Apakah dia baik - baik saja?" Tanya pak Harto pada Farhan.
"Mawar sedang tidak enak badan pak, biarkan Mawar beristirahat!" Farhan menjawab pertanyaan dari bapak nya.
"Alah, pasti Mawar cuma pura -pura karena dia tidak mau mencuci piring bekas makan malam ini!" Dengan cepat bu Munah menyambar ucapan Farhan.
"Ibu,!!!" Pak Harto membentak istri nya dengan memelotot kan mata nya.
"Memang benar kan pak, Mawar pasti cuma pura - pura biar bisa bebas dan tidak mengerjakan tugas nya di rumah ini!" Bu Munah berkata dengan ketus nya.
Panggil
Sebuah piring yang di pakai oleh Farhan untuk makan dia banting di lantai, hingga hancur berkeping- keping.
"Ibu tidak ada bosan - bosan nya selalu menyalahkan Mawar!" Ujar Farhan sambil berlalu meninggal kan meja makan.
"Lihat kelakuan mu bu, Farhan jadi marah! Semoga kau tidak menyesal nanti nya bu. Dan kau Indah, kau terus - terusan cari gara - gara dengan Mawar!" Pak Harto memarahi Indah.
Indah hanya diam dan menunduk kan kepala nya, dia memang takut dengan bapak serta kakak laki - laki nya. Jika mereka berdua ada di rumah, maka Indah tidak berani cari masalah dengan Mawar.
Pak Harto meninggal kan meja makan di mana istri dan anak bungsu nya berada, dia bergegas ke kamar Mawar. Pak Harto khawatir dengan keadaan Mawar, dia ingin tahu keadaan putri nya.
"Mawar, kenapa kau tidak ikut makan malam nak?" Tanya Pak Harto pada Mawar.
"Mawar udah makan pada masak tadi pak, jadi Mawar masih kenyang!" Jawab Mawar memberikan alasan pada bapak nya, padahal dia memang tidak berselera untuk makan.
"Makan lah nak, sedikit saja. Biar bapak temani ya!" Bujuk Pak Harto pada anak nya.
"Mawar beneran udah makan pak tadi, Mawar masih kenyang kok!" Mawar menolak dengan lembut.
"Ya udah, nanti kalau kamu lapar jangan lupa makan. Bapak ada di luar!" Pak Harto meninggal kan kamar anak nya.
Pak Harto duduk di sofa yang ada di ruang tamu, tidak jauh dari kamar Mawar. Dia sengaja duduk di sana karena dia takut istri dan anak nya akan masuk ke kamar Mawar dan memarahi nya.
*****
Hari ini hari minggu, Mawar tetap bangun pagi seperti biasanya. Dia memasak untuk sarapan sekaligus untuk makan siang nanti. Tidak ada hari libur bagi Mawar, semua hari tetap sama. Setiap pekerjaan yang ada di dalam rumah sudah menanti nya.
Pagi ini Bu Munah sengaja tidak memarahi Mawar, biasanya pagi - pagi seperti ini suara nya akan terdengar oleh tetangga kiri kanan karena memarahi Mawar.
Bu Munah takut nanti kedengaran oleh Farhan, saat ini hari minggu dan Farhan tentu saja libur sekolah. Bu Munah langsung berangkat ke ladang, sementara Indah masih tertidur dengan nyenyak di kamar nya.
"Ah, beruntung sekali jadi Indah, bisa tidur nyenyak tanpa ada yang mengganggu!" Guman Mawar ketika dia melewati kamar adik nya tersebut.
Sejujur nya Mawar merasa iri dengan kehidupan sang adik, usianya sudah 12 tahun tapi dia belum pernah sekalipun di minta untuk mengerjakan pekerjaan rumah seperti diri nya.
Berbeda dengan Mawar yang sudah harus bangun bahkan jauh sebelum adzan subuh berkumandang. Berkutat dengan seluruh pekerjaan rumah tangga, dari mulai membereskan rumah, memasak, mencuci dan yang lain nya.
"Mawar, mandi di sungai yuk!" Teriak Hesti dari depan rumah nya.
"Gak deh ti, kamu aja. Pekerjaan rumah ku belum selesai kok!" Mawar menolak ajakan Hesti.
"Udah lama kita gak berenang di sungai, ayo lah mumpung lagi libur!" Hesti membujuk Mawar agar mau ikut dengan nya ke sungai.
"Lain kali aja ya ti!" Tolak Mawar dengan lembut.
"Ya udah, sore nanti kita berenang di sungai ya!" Bujuk Hesti lagi.
"Iya, nanti sore aja" Mawar pun setuju dengan usulan sahabat nya.
Hesti segera pergi dari rumah nya Mawar dan Mawar pun bergegas melanjutkan pekerjaan nya di rumah. Mawar hari ini harus mencuci sepatu sekolah milik nya, sepatu Indah dan juga sepatu Farhan. Biasanya Farhan selalu mencuci sendiri semua peralatan sekolah nya, tapi karena sekarang di belum bangun dari tidur nya Mawar pun sekalian mencuci sepatu milik kakak nya.
"Loh dek, kamu udah cuciin sepatu milik kakak ya?" Tanya Farhan ketika dia bangun tidur dan melihat Mawar sedang menjemur sepatu nya yang sudah Mawar cuci.
"Iya kak, tadi aku nyuci sepatu ku dan Indah, jadi sekalian aja aku cuci punya kakak juga!" Jawab Mawar sambil tersenyum.
"Kamu udah capek ngerjain pekerjaan lain nya, jadi biarin aja sepatu kakak biar kakak yang cuci sendiri!" Farhan berkata pada adik nya.
"Gak papa kak!" Jawab Mawar lagi.
"Oh ya, Indah kemana?" Tanya Farhan karena dia belum melihat keberadan Indah pagi ini.
"Indah belum bangun tidur kak!" Jawab Mawar sambil menyelesaikan tugas nya menjemur pakaian.
"Dasar anak manja, udah siang gini masih saja ngorok!" Umpat Farhan dengan kesal.
Bagai mana Farhan tidak kesal, Mawar yang sejak pagi buta sudah berkutat mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Sementara Indah masih tertidur dengan nyenyak, padahal hari sudah cukup siang.