Prolog
Gadis itu berjalan dengan tatapan kosong tidak mempedulikan guyuran hujan yang menimpa tubuh mungilnya. Ia berjalan tanpa alas kaki melewati jalanan penuh kendaraan yang berlalu-lalang.
Gadis malang itu berjalan tanpa arah. Bahkan ia tidak bisa merasakan dirinya sendiri, tubuhnya seperti melayang tanpa beban.
"Sayang.. jangan takut, kau tidak akan sendiri, aku akan menyusulmu." Gumamnya dalam hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirna Samsiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Hari ini Gysta sedikit berbeda karena tidak ada Arkan di kelas. Tadi pagi Arkan memberitahu Gysta bahwa dirinya tidak enak badan sehingga harus absen. Untung saja ujian sudah berakhir jadi Arkan tidak perlu khawatir ketinggalan ujian.
Rencana Arkan untuk memberikan kejutan pada Gysta gagal karena tubuh nya tidak bisa diajak kompromi. Gysta tidak mengetahui apapun rencana Arkan yang sudah dirancang lelaki itu sejak semalam karena yang Gysta tahu Arkan langsung pulang ke rumah setelah mengantarnya.
"Eh jangan-jangan Arkan sakit karena kamu kiss dia semalem." Noura berbisik pada dua sahabatnya Gysta dan Nindy. Mereka berada di taman belakang sekolah sambil menikmati telur gulung dan boba minuman yang sedang hitz terutama di kalangan remaja.
"Enak aja." Gysta mengerucutkan mulutnya, tadi ia bercerita pada Noura dan Nindy bahwa semalam ia memberi Arkan ciuman tiba-tiba.
"Siapa tahu dalam tubuh kamu ada virus." Tambah Nindy semakin melancarkan aksi menjahili Gysta.
"Kalian apa sih!" Jerit Gysta kesal. "Kayak kamu nggak pernah ciuman aja sama Alan." Semprot nya.
"Dih emang nggak pernah." Nindy mengedikkan bahu sambil meminum boba melalui sedotan.
"Aku dong masih fresh luar dan dalam." Seru Noura bangga.
"Yang punya pacar belum tentu nggak fresh!" Nindy meraup wajah Noura dengan tangannya.
"Jomblo membela diri." Gysta nyengir-nyengir jahil.
"Kenapa ya sampai sekarang belum laku padahal udah pakai innisfree x bt21, aku berharap salah satu member BTS tuh nyantol dan jatuh cinta gitu sama aku." Noura mulai melantur, memejamkan mata dan menghayal.
"Karena kamu nggak beli sendiri, coba beli sendiri pasti lebih mempan deh." Sahut Nindy.
"Apa hubungannya cobak." Noura melihat Nindy malas. "Bilang aja minta dibeliin juga kan kamu."
"Eh liburan mau kemana?" Tanya Gysta tiba-tiba, menghentikan perdebatan antara Nindy dan Noura.
"Di rumah, bobo." Jawab Noura.
"Nggak tahu deh, nggak ada rencana." Nindy pasrah, lagi pula ini bukan libur panjang, hanya satu minggu. Gysta mengembuskan napas keras, ia juga tidak merencanakan apapun dengan Arkan. Mungkin liburan kali ini Gysta harus pasrah berada di rumah sepanjang hari selama seminggu.
Bel jam pelajaran sekolah berakhir berdering keras ke seluruh penjuru sekolah membuat para murid menghambur keluar kelas membawa tas masing-masing. Walaupun sepanjang hari tidak ada pelajaran apapun, tetap saja mereka paling semangat jika mendengar bel pulang.
"Bareng aku aja ayo." Ajak Nindy pada Gysta yang tengah membuka aplikasi taxi online. Gysta ingin langsung pergi ke rumah Arkan, melihat keadaan kekasih nya itu.
"Rumah Arkan kan nggak searah sama rumah mu." Gysta mendongak melihat Nindy.
"Nggak apa-apa aku anter, Noura juga mau bareng kita."
"Ya udah." Gysta mengangguk, ia mematikan layar ponsel dan memasukkannya ke dalam saku.
Mereka pulang bersama menggunakan mobil Nindy. Biasanya memang mereka pulang bersama, kadang menggunakan mobil Gysta atau Nindy.
"Nggak ada jadwal apel kamu sama Alan?" Tanya Noura saat mereka sudah berada di dalam mobil. Gysta duduk di jok samping kemudi sedangkan Noura di belakang.
"Apel kok pakai jadwal." Dengus Nindy kesal, dibalas dengusan juga oleh Noura. Nindy mulai menjalankan mobil nya dengan kecepatan rendah saat keluar dari area parkir sekolah,berdesakan dengan motor dan mobil murid lain.
"Eh, liat deh!" Noura berseru sembari menunjukkan ponsel nya yang menampilkan sebuah foto cowok bermata sipit mirip Alan, sama-sama seperti cowok korea.
"Kenapa?" Tanya Gysta sedangkan Nindy hanya melihat dari spion atas.
"Akhirnya setelah menghabiskan waktu bertahun-tahun lamanya, aku menemukan sang pujaan hati." Ucap Noura dramatis.
"Ternyata tipe kalian sama ya, oppa-oppa korea." Gysta melihat Nindy dan Noura bergantian.
"Eh sorry ya, aku nggak ada tipe begituan, kebetulan Alan aja mirip orang korea." Protes Nindy yang tidak terima dengan ucapan Gysta.
"Anak mana tuh cowok?" Gysta menghadap ke belakang mengabaikan kalimat Nindy.
"Anak sebelas IPS dua." Noura kembali melihat ponsel nya.
"Berondong?" Seru Nindy dan Noura bersamaan.
"Ya udah sih, dari pada nggak ada sama sekali." Noura mengedikkan bahu, Gysta geleng-geleng melihat tingkah Noura.
15 menit perjalanan mereka sampai di kawasan perumahan elit dimana rumah Arkan berada. Perumahan yang dikenal sebagai tempat tinggal kaum menengah ke atas dan sosialita.
"Udah." Ucap Gysta ketika mereka sampai di depan rumah bercat putih dengan pagar hitam tinggi menjulang.
"Wah, nggak nyangka rumah Arkan segede ini, nggak heran Papa nya berdonasi ratusan juta buat sekolah kita." Noura melongokkan kepala lewat jendela yang terbuka.
"Ini mah empat kali lebih besar dari rumah aku." Nindy ikut melihat keluar.
"Gys, ajakin masuk kek." Noura menarik-narik baju Gysta yang hendak turun dari mobil.
"Nggak-nggak." Nindy menggeleng tanda tidak setuju.
"Aaa Nindy, sekali aja." Rengek Noura.
"Nggak ada ya kayak gitu." Sinis Nindy sambil menatap tajam ke arah Noura dari spion.
"Ya udah, iya!" Noura sebal. "Dasar ibu tiri." Ketus nya.
Gysta hanya tertawa pelan melihat tingkah dua sahabatnya yang sudah seperti Tom and Jerry.
"Makasih ya." Kata Gysta sebelum keluar dari mobil.
Setelah mobil Nindy melaju meninggalkan depan rumah Arkan, baru lah Gysta menekan bel rumah.
Gysta menunggu cukup lama sebelum akhirnya gerbang terbuka lalu muncul Mama Arkan, menyambut Gysta dengan ramah seperti biasa.
"Arkan demam dari semalem, mungkin masuk angin, pulang nya jam sebelas tadi malam." Ujar Mama Gysta sembari merangkul lengan Gysta membawa nya masuk ke rumah. "Kalian dari mana memang nya?" Tanya Mama Arkan tidak bermaksud menyinggung perasaan Gysta.
"Loh semalem saya langsung pulang kok Tante." Gysta mengerutkan kening, padahal ia sudah meminta Arkan langsung pulang ke rumah.
"Oh ya?" Mama Arkan mengangkat kedua alisnya, menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal. "Ya udah kamu langsung naik aja, pasti di nunggu kamu." Katanya. "Bawa ini juga." Mama Arkan meraih termos kecil di meja ruang tamu lalu memberikannya pada Gysta. "Dari pagi dia cuma makan bubur satu suapan, kalau bisa paksa makan juga, itu susu hangat biar perut nya keisi."
"Iya Tante." Gysta manggut-manggut patuh dan mengingat setiap ucapan yang Mama Arkan katakan.
Gysta mendorong pintu kamar Arkan yang tidak terkunci. Aroma citrus menyambut Gysta yang mulai melangkah masuk. Gysta memejamkan mata demi menghirup aroma yang sangat disukainya.
"Eh!" Gysta sedikit memekik saat kaki nya tidak sengaja menginjak buku tebal di atas lantai. Gysta berjongkok untuk mengambil buku tersebut, Melawan Diri Dari Kecanduan Narkoba, gadis itu membaca judul nya dalam hati. Sepertinya Arkan baru saja selesai membaca buku tersebut.
Gysta meletakkan buku tersebut di rak dinding dekat pintu. Arkan tengkurap di atas tempat tidur dengan mata terpejam. Gysta melangkah hati-hati agar tidak menimbulkan suara, meletakkan susu di atas nakas dan duduk di pinggiran ranjang. Mengusap lembut kepala Arkan, Gysta menatap kekasih nya lekat, mengagumi ciptaan Tuhan yang begitu indah.
"Gysta...." Arkan menangkap tangan Gysta yang dari tadi mengusap kepalanya. Arkan menarik Gysta, menggeser tubuh hingga gadis itu berbaring di samping nya. "Dingin." Katanya. Arkan memeluk tubuh mungil Gysta erat membuat gadis itu tidak dapat berkutik. Gysta dapat merasakan tubuh Arkan yang panas.
"Badan kamu panas, nggak minum obat?" Tanya Gysta, mengabaikan rasa tegang yang tiba-tiba menjulur cepat ke seluruh tubuhnya seperi sengatan listrik. Arkan tidak menjawab, masih memejamkan mata, masih memenjara Gysta dengan lengannya yang kekar. "Kok bisa masuk angin, aku bilang semalem kan langsung pulang, Tante bilang kamu pulang nya jam sebelas, dari mana aja?"
"Ssshhhh...." Arkan meminta Gysta diam, tidak banyak bicara sementara berada di pelukannya.
Gysta diam, memperhatikan wajah Arkan yang putih pucat. Pipi Arkan bersemu merah seperti anak kecil yang sedang demam. Pembuluh darah kebiruan di balik kulit Arkan terlihat jelas dari jarak sedekat ini.
Cool ya? Gysta bergumam dalam hati. Ternyata bukan cuma cool gaya nya, undertone nya juga cool. Gysta mengagumi ketampanan sang kekasih.
"Jangan marah-marah dulu." Ujar Arkan susah payah, tubuh nya lemas karena belum makan apapun sejak pagi, hanya bubur satu suap. Arkan membuka matanya, membalas tatapan Gysta.
Gysta mengerjapkan mata, walaupun mata Arkan sayu tapi tetap saja mampu membuat Gysta berdebar.
"Ada sesuatu di dalam laci nakas, kamu ambil." Arkan terpaksa melepas pelukannya agar Gysta bisa mengambil paspor dan tiket ke Australia yang sudah diurus nya sejak lama. Arkan memang merencanakan liburan ke luar negeri bersama Gysta bahkan sebelum gadis itu bercanda soal liburan.
Gysta membuka laci, matanya membelalak melihat dua buah paspor dan tiket. Dengan gerakan cepat Gysta mengeluarkan dua jenis benda tersebut dan melihat Arkan.
"Ini buat kita?" Tanya Gysta berbunga-bunga penuh semangat.
"Iya." Jawab Arkan pelan, tersenyum tipis melihat Gysta kegirangan.
"Makasih!" Gysta melompat menjatuhkan diri di atas tubuh Arkan.
"Aduh sakit!" Arkan mengaduh ketika siku Gysta mengenai perut nya cukup keras.
"Maaf." Gysta hendak beranjak dari sana agar tidak menyakiti tubuh besar itu.
"Nggak apa-apa." Arkan kembali tersenyum sembari merangkul Gysta, menahan sakit di perut nya. Tak apa sakit sedikit asal itu membuat Gysta senang, begitu pikir Arkan. Walaupun lambung nya meronta karena benturan siku Gysta, sudah kosong kena siku pula tapi Arkan bisa menahannya.
"Mana yang sakit?" Gysta bersikukuh ingin melepaskan diri dari pelukan Arkan.
"Udah enggak." Arkan enggan melepaskan pelukan nya. "Besok kita berangkat jam lima pagi."
"Kita beneran ke Australia?" Gysta hendak mengangkat kepalanya dari dada Arkan tapi ditahan oleh cowok itu. Mata Arkan berair akibat tekanan siku Gysta tadi dan ia tidak mau Gysta melihatnya.
"Iya." Arkan mengusap air matanya. "Kita ke Victoria, ada danau indah disana, kita bisa menghabiskan waktu berdua dengan penuh ketenangan." Mata Arkan terpejam membayangkan suasana sejuk kaki pengunungan Great Dividing Range serta danau nya yang indah.
Gysta ikut memejamkan mata, merasakan kehangatan tubuh Arkan dan aroma citrus bercampur mint. Ada musik favorit Gysta juga yakni irama detang jantung Arkan yang selalu berhasil menenangkannya.
tiap bca psti nyesek
di episode trkhr ini lbh nyesek lg coz sad ending 😭😭😥😥
aku pkr arkan msh hidup smpe sneng aku thor...😥😔
roman2nya ni nnti sad ending deh...🥺🥺🥺