NovelToon NovelToon
Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Orang Disabilitas
Popularitas:796
Nilai: 5
Nama Author: ELIYONA_5758

Melati, gadis miskin dan buta, yang dijual oleh bibinya. Demi utang. Tak pernah mengira, pelariannya dari kejaran anak buah Juragan Herwanto akan menuntunnya pada dekapan masa lalu.

Di sebuah gang sempit, ia dipertemukan kembali dengan Satya, sahabat karibnya saat tumbuh bersama di panti.

Lima tahun berpisah, takdir kembali mempertemukan keduanya, dalam balutan nestapa yang berbeda.

Melati tidak pernah tahu bahwa Satya hidup dalam bayang-bayang wajah yang cacat, akibat kebakaran hebat masa lalu. Tragedi maut yang menewaskan orang tuanya. Satya sengaja didepak dan dianggap mati oleh pamannya yang picik demi menguasai harta warisan keluarga Utama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELIYONA_5758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4. Bongkar

"Wajar kamu lelaki." Melati menimpali lembut, melangkah mendekat dengan perlahan.

"Oh iya. Ini aku bawakan kamu nasi goreng." Satya menyerahkan bungkusan ke Melati. Jemarinya sempat bersentuhan dengan kulit tangan Melati, memicu debaran tegang di dada sang pemuda.

"Terimakasih." Melati menerima bingkisan, mengendusnya. "Baunya enak. Ayo makan bareng." Ia memeluk bungkusan hangat itu dengan binar bahagia yang terpancar dari wajahnya yang ayu.

"Ayo. Aku sengaja beli nasi goreng dan mie. Nanti bisa barter sebagian. Biar sama-sama merasakan." Satya sigap mengambil piring. Membagi Sebagian nasi, sebagian lagi mie.

Tangannya bergerak cepat ke dapur kecilnya, mencoba menutupi kecemasan tentang pergolakan batinnya, yang tidak sesuai ucapannya di awal.

Keduanya makan dalam suasana canggung. Hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan piring kaca. Menciptakan ketegangan halus yang merayap di antara mereka. Hingga usai makan, Satya memberanikan diri, memecah sunyi. "Mel, maaf."

"Ya." Melati meletakkan sendok, wajahnya mendadak serius, bersiap mendengar kalimat yang sudah ia duga.

"Bukan bermaksud mengusir tapi ... aku tadi izin tidur di bengkel. Sayangnya bosku tidak memberi izin." Satya menunduk bingung. Menelan ludah gugup. Bayangan teguran Pak To tentang norma dan bahaya fitnah tetangga berputar di kepalanya.

"Aku bisa mengerti kok." Melati tertawa. Namun, tawa itu terdengar getir di telinga Satya. Gadis itu meremas ujung roknya erat.

"Ya kali, aku tidur di rumah milikmu, tanpa ikatan. Memang aku siapa-mu?"

"Eh ...." Satya tercekat, dadanya bergemuruh hebat mendengar pertanyaan sarkas yang membuatnya menelan ludah.

Melati melanjutkan, "Kamu antar aku pulang ya? Sekalian bantu aku memberi penjelasan sama Bibi. Kalau bisa ...."

Kalimat Melati tergantung lama. Suasana di dalam rumah sederhana itu mendadak terasa mencekam, seolah waktu berhenti berputar.

"Kalau bisa apa, Mel?" Satya tak sabar. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap lekat kelopak mata Melati yang tertutup rapat.

"Kalau bisa. Apa kamu bisa bantu aku cari pekerjaan?" sambung Melati , "jujur aku butuh kerja, Sat. Aku tahu aku buta. Tapi aku tak mau menjadi beban Bibi." Air mata Melati akhirnya luruh, setitik demi setitik membasahi pipinya yang mulus.

"Aku mengerti." Satya mengangguk. Ia mengulurkan sapu tangan yang sempat dibawanya, menaruhnya dengan lembut di telapak tangan Melati, berjanji dalam hati akan membantu masa depan gadis itu. “Kita lanjut makan. Setelah itu aku akan mengantarmu.”

Usai malam. Satya izin ke Melati. "Aku ambil motor dulu. Kamu tunggu di depan ya. Gak apa kan?”

Ketegangan mulai terasa menyengat pori-pori. Seiring bayang-bayang anak buah Juragan Herwanto yang bisa saja masih mengintai di sekitar area kontrakannya.

Melati menjawab, "Baiklah. Aku tunggu kamu di ruang tamu saja." Ia mulai meraba udara, mencari pegangan. Langkah kakinya tersendat, menyiratkan keraguan yang mendalam untuk kembali ke rumah sang bibi yang kejam.

Satya sigap. Membantu si gadis melangkah. Sampai di ruang tamu. "Kamu duduk di sini. Jangan ke mana-mana sampai aku kembali."

Ia memastikan posisi duduk Melati aman di atas kursi kayu, menatap wajah ayu itu dengan rasa cemas yang tak bisa disembunyikan.

Melati mengangguk. Satya berjalan cepat. Menuju rumah salah satu tetangganya, yang tak jauh dari rumah kontraknya. Langkah kakinya bergegas, membelah kabut tipis pagi hari demi efisiensi waktu yang kian memburu.

"Eh, Satya." Seorang pria tua tersenyum, begitu melihatnya. "Mau pinjam sepeda ya?” Menyapa ramah dari teras rumahnya yang asri, memecah kecemasan yang bergelayut di wajah sang pemuda.

"Maaf, Wak Kaji, saya merepotkan lagi." Satya menunduk kikuk. Ia meraba luka parut di wajahnya sekilas, merasa tidak enak hati karena selalu meminta bantuan di saat genting seperti ini.

"Bawa saja. Toh si Deri sudah nggak pakai tuh motor." Wak Kaji melambaikan tangan dengan santai, meredakan ketegangan batin Satya.

"Saya cuma mau pinjam sebentar. Buat ngantar teman pulang." Satya menjelaskan, suaranya sedikit bergetar memikirkan kemungkinan yang akan ia hadapi di rumah bibi Melati nanti.

"Santai bae. Ini kuncinya." Pria tua itu dengan gampangnya menyerahkan kunci motornya. Seakan Satya adalah orang yang sudah ia percaya. Logam kunci itu berdenting halus saat berpindah tangan, membawa secercah harapan bagi perjalanan mereka.

Satya menerima dengan senyum kecil. "Makasih, Wak Kaji." Ia membungkuk hormat, mengantongi kunci itu erat-erat seolah menggenggam nyawa.

Ia membawa motor dengan tergesa.

Semenjak keluar panti. Satya merasa beruntung, selain karena Pak To yang baik padanya. Juga ada keluarga Wak Kaji, yang mengizinkannya tinggal gratis, saat awal nyari rumah tinggal.

Barulah saat Pak To memberi pekerjaan, bengkel. Ia yang tak enak hati, mulai rutin bayar kontrak. Meski awalnya Wak Kaji menolak, dengan alasan daripada rumahnya ‘suwung’. Padahal Satya tahu, Wak Kaji kasihan padanya yang yatim piatu.

Satya menyalakan mesin motor yang menderu nyaring, lalu memacu kendaraannya membelah jalanan dengan dada yang bergemuruh hebat, bersiap menjemput Melati.

Suara dengung motor. Membuat Melati sigap bangkit dari kursi. Mulai meraba udara. Jantungnya berdegup lebih kencang, antara rasa lega karena Satya telah kembali, serta ketakutan akan kepulangannya ke rumah sang bibi.

"Assalamualaikum, Mel." Satya masuk. Melihat sang gadis buta meraba pintu.

"Kenapa tak pakai tongkat pancing?" Ia buru-buru menghampiri membantu menuntun. Tangannya dengan sigap menggenggam jemari Melati yang dingin dan gemetar, menstabilkan langkah gadis itu yang limbung.

"Pancing itu kan milikmu," jawab Melati, tersenyum. Tatapan kosongnya terarah lurus ke depan, mencoba menyembunyikan keraguan yang berkecamuk.

"Milikku sama dengan milikmu. Jadi kamu boleh memakainya." Satya berbisik lirih, menatap lekat wajah ayu Melati dengan perasaan tak karuan, yang ia berjanji untuk menyembunyikan selamanya.

Melati tercekat. Batinnya mencelos. 'Kamu selalu mengatakan punyamu adalah punyaku. Tapi kenapa kau malah diam?' desisnya dalam hati, merasakan ketegangan yang mendadak merayap di antara kedekatan fisik mereka yang begitu intim.

"Mel, kamu melamun?" suara Satya menyentak. Ia sedikit menggoyangkan pundak Melati, membuyarkan kejujuran hati sang sang gadis.

"Nggak. Siapa yang melamun?” Melati menggeleng cepat. Ia memaksakan sebuah senyuman tipis untuk menutupi rasa terpendamnya. "Ayo bantu aku naik."

Satya mengangguk. Membantu Melati naik motor. Ia menuntun kaki Melati dengan hati-hati agar tidak terbentur knalpot yang mulai memanas, memastikan gadis itu duduk dengan nyaman di boncengan belakang sebelum ia menyalakan mesin.

Dalam perjalanan. Melati kembali menceletuk, "Selama aku hidup. Aku baru sekali ini dibonceng naik motor." Suaranya agak meninggi, bersaing dengan deru angin malam yang menerpa wajah di sepanjang jalanan.

"Eh, benarkah?" Satya kaget. Ia mencengkeram stang motor lebih erat, merasakan ketegangan baru merayap di punggungnya saat Melati sedikit memajukan tubuh. "Apa Bibi, mungkin pacarmu ... tidak pernah memboncengmu?" tanyanya, tahu kalau Melati yatim piatu sejak lahir. Jadi tak berani membawa kata 'Ayah'.

"Bibiku itu nggak bisa naik motor. Kalau sepupuku bisa. Tapi dia tak pernah mengajakku keluar. Usai dari panti. Aku hanya diam di rumah. Tak pernah keluar, meski hanya di teras rumah."

Melati bercerita dengan nada getir yang menyayat hati, perlahan memegang samping kaos Satya, erat. Tak berani menyentuh apalagi memeluk.

Hening sejenak. Hingga Satya bertanya, "Rumah bibimu … di daerah mana?" Suaranya sedikit meninggi, membelah deru angin malam yang menerpa wajah mereka sepanjang perjalanan.

"Kelurahan Latsari, gang Puspa. Nanti ada rumah kayu paling ujung." Melati menjawab sembari mempererat pegangannya pada jaket Satya, seolah enggan menghadapi kenyataan pahit yang menantinya di ujung gang itu.

"Oh rumah itu." Satya mengangguk. Matanya menyipit, memindai jalanan sepi yang mendadak terasa mencekam dan penuh intrik tersembunyi.

"Kamu tahu?" tanya Melati penasaran, mendekatkan wajahnya ke bahu Satya demi mendengar jawaban di tengah bisingnya mesin motor.

"Iya. Aku pernah mengantar mobil di daerah situ. Cuma lewat." Satya berbohong kecil, menyembunyikan fakta bahwa wilayah itu sebenarnya berada di bawah pengaruh kekuasaan pamannya yang picik.

"Oh." Melati bergumam lirih. Ia menundukkan kepala, membiarkan keheningan kembali menguasai sisa perjalanan mereka yang kian menegangkan.

Perjalanan berlangsung singkat. Motor Satya berhenti di rumah yang ditunjuk Melati. Pagar kayu yang lapuk dan halaman yang gersang menyambut kedatangan mereka dengan atmosfer yang dingin.

"Hati-hati." Satya membantu Malati turun. Menuntunnya berjalan.

Ia mencengkeram lembut jemari Melati, memastikan langkah gadis buta itu mantap di atas tanah yang tidak rata.

"Melati?" Suara menyentak wanita, membuat Melati pucat. Tubuh gadis itu seketika menegang, gemetar hebat di balik rengkuhan tangan Satya.

"Malam begini baru pulang! Dari mana saja kamu!" Seorang gadis yang baru memarkirkan motor, melirik Satya sekilas. Rautnya langsung berubah sinis dan jijik.

Ia menghentakkan kakinya kasar ke tanah, menatap mereka berdua dengan pandangan penuh permusuhan.

"Iya." Malati tersenyum tipis. Menarik Satya maju. "Kenalkan ini Satya temanku. Satya ini Mawar, sepupuku." Suara Melati bergetar, mencoba bersikap ramah di tengah intimidasi yang mulai merayap tebal.

"Ish, stop ngenalin aku sama teman burikmu ini!" Mawar mendesis, tetap menatap Satya dengan jijik. Ia melangkah mundur selangkah, seolah-olah cacat rupa di wajah Satya adalah penyakit menular yang menjijikkan.

Suara keributan mengundang sang bibi keluar. Matanya mendelik saat melihat Melati pulang, dengan seorang pria cacat wajah. "Kurang ajar kamu ya! Pantas tadi Juragan telepon aku, ngamuk-ngamuk. Ternyata kamu malah lari sama pria ...." Ia melirik jijik ke Satya. "Iiih, wajahmu kenapa? Buruk sekali!"

Turi berkacak pinggang di ambang pintu, memuntahkan makian yang seketika membuat dada Satya bergemuruh hebat.

Satya menelan ludah gugup. Dia yang selama ini, telah berusaha menyembunyikan wajah buruknya dari Melati, bertahun-tahun.

Namun dalam sekejap, dua orang di depannya malah membongkar semuanya. Jantungnya terasa berhenti berdetak, ketakutan melanda batinnya jikalau Melati akan merasa jijik dan menjauhinya setelah mengetahui kebenaran tentang dirinya.

1
Harsoemi Akm
lanjutksn
Hesty Gemini
lanjut, jangan lupa mampir ya di karya aku. 🙏
ELIYONA: makasih.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!