Gibran Tanuwijaya Gilbert, duda anak satu yang harus merelakan kepergian istrinya disaat lagi sayang-sayangnya, cinta Gibran sangat besar terhadap almarhum istrinya sehingga membuat Gibran menutup hatinya rapat-rapat untuk wanita manapun.
Kehadiran Livia yang merupakan guru sang anak mampu memporak-porandakan hatinya. Livia yang merupakan seorang janda tanpa anak itu sangat menyayangi anak Gibran begitu pun sebaliknya.
Akankah Gibran tetap menutup rapat hatinya atau akan menuruti keinginan anaknya yang sangat menginginkan seorang Ibu?
Supaya nyambung dan kalian tahu siapa Gibran, kalian baca dulu CINTA DOSEN GENIUS...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28
💔
💔
💔
💔
💔
Demir sangat bahagia, selama dalam perjalanan Demir tidak mau lepas dari pelukan Livia bahkan Demir terlihat riang dan bernyanyi-nyanyi membuat Damar mengembangkan senyumannya.
Berbeda dengan Livia yang terpaksa harus tersenyum karena tidak mau membuat Demir sedih.
Tidak lama kemudian, mobil Damar pun sampai di area parkiran Mall. Livia dan Demir turun begitupun dengan Damar, Demir terus saja menempel kepada Livia membuat Damar merasa tidak enak.
"Maaf ya Liv, atas kelakuan Demir mungkin karena tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari Mamanya, Demir menjadi bersikap manja kepadamu," seru Damar.
"Tidak apa-apa yang penting asalkan kamu jangan mengajari Demir untuk bersikap manja kepadaku."
"Maksud kamu apa, Liv?"
"Jangan memanfaatkan anak kecil untuk kepentinganmu sendiri, cukup hari ini aku ikut jalan-jalan dengan kalian jangan sampai ada kata lain kali kamu melakukan hal seperti ini lagi," sahut Livia.
"Kenapa kamu menjauhiku Livia? tapi sepertinya aku merasa kamu baik-baik saja kalau dengan Pak Gibran."
"Kamu sudah tahu alasan aku menjauhimu jadi kamu tidak perlu bertanya lagi, masalah Mas Gibran jangan pernah kamu menyangkut-nyangkutkan masalah kita kepada dia, karena memang pada dasarnya dia tidak tahu apa-apa."
Demir menarik tangan Livia dan mengajaknya bermain mandi bola, Demir tertawa dengan riangnya begitu pun dengan Livia. Berbeda dengan Damar yang hanya bisa menyesali perbuatannya dulu kepada Livia.
"Sepertinya niat untuk kembali rujuk sangat tidak mungkin karena Livia sudah sangat membenciku, tapi aku tidak akan menyerah aku akan merebut hati Livia kembali walaupun harus memanfaatkan Demir. Maafkan Papa Demir, Papa harus memanfaatkan kamu supaya Livia bisa dekat lagi dengan Papa," batin Damar.
Setelah puas bermain, Demir pun mengajak Livia dan Papanya untuk makan es krim. Demir begitu sangat manja kepada Livia bahkan Demir meminta Livia untuk menyuapinya, dengan telaten Livia menyuapi Demir membuat Damar lagi-lagi harus meratapi kesalahannya dulu karena sudah meninggalkan wanita selembut Livia.
Sementara itu, Monica saat ini sedang belanja di Mall dimana Damar dan Livia berada. Monica terlihat celingukan ke kiri dan ke kanan mencari baju dan sepatu yang saat ini sedang trend.
Hingga akhirnya tidak sengaja Monica melihat Damar dan Demir beserta Livia sedang makan es krim bersama.
"Sial, kenapa mereka bisa bersama seperti itu? jangan-jangan mereka mau rujuk," gumam Monica.
Dengan kesalnya Monica segera menghampiri mereka dan langsung menarik Livia sehingga es krim yang pegangnya jatuh ke lantai.
"Apa-apaan ini? kamu mau rujuk lagi dengan Damar dan memanfaatkan anakku!" bentak Monica.
"Monica, jangan pernah bersikap kasar kepada Livia!" bentak Damar.
"Kamu selalu saja membela Livia, Damar. Kalau kamu memang mau rujuk dengan Livia aku tidak akan melarangnya, tapi aku akan mengambil Demir," seru Monica dengan menarik tangang Demir.
"Papa...."
Demir terlihat ketakutan, dia memang tidak mengenal Monica karena Monica meninggalkan Demir semenjak dia melahirkan Demir dan Damar pun tidak pernah memberitahukan siapa Mama Demir.
"Jangan sembarangan kamu Monica, tidak ingat kalau kamu sudah meninggalkan Demir sejak dia dilahirkan jadi aku sudah menganggap Mamanya Demir sudah mati dan kamu tidak berhak mengambil Demir dariku!" bentak Damar.
"Damar, bagaimana pun aku tetap Mamanya Demir. Wanita yang sudah mengandung dan melahirkan Demir jadi kamu tidak bisa menyangkalnya."
Damar kembali menarik Demir dan mendekapnya dengan erat.
"Jangan mimpi, lima tahun kamu kemana saja menghilang tanpa jejak meninggalkan Demir dan tidak pernah sekali pun mengingat Demir, tapi sekarang tiba-tiba kamu datang dan ingin mengambil Demir dariku, dasar gila."
"Demir sayang, ini Mama. Sini kita pulang," bujuk Monica.
"Kamu bukan Mama Demir, Mama Demir sudah pergi meninggalkan Demir dia tidak menyayangi Demir," seru Demir sembari menangis.
Demir pun beralih memeluk Livia, Livia tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa diam dan membalas pelukan Demir.
"Sayang, ini Mama. Maafkan Mama karena sudah meninggalkanmu."
Demir malah semakin mengeratkan pelukannya kepada Livia, Demir seperti ketakutan melihat Monica.
"Livia, ini semua gara-gara kamu! kamu dari dulu hanya bisa merebut kebahagiaanku, awas kamu Livia."
Monica hendak menyerang Livia tapi dengan sigap Damar menghalanginya. "Jangan coba-coba menyentuh Livia lagi, aku tidak akan membiarkan kamu menyakiti Livia."
Damar pun menarik tangan Livia dan Demir kemudian membawa mereka pergi meninggalkan Monica.
"Awas kamu Livia, aku tidak akan membuatmu bahagia," kesal Monica.
Livia menghempaskan tangan Damar yang dari tadi menariknya. "Selesaikan masalahmu dengan Monica, jangan bawa-bawa aku lagi."
Livia sangat kesal, hingga dia pun pergi meninggalkan Damar dan Demir.
"Tunggu Livia!" teriak Damar.
Damar menggendong Demir dan segera menyusul Livia. "Tunggu Livia!"
Damar kembali menahan lengan Livia. "Ada apa lagi Damar, sudah cukup aku tidak mau masuk dalam masalah kamu lagi dan jangan libatkan aku lagi dalam masalah kalian. Aku sudah capek Damar, biarkan aku hidup tenang dan bahagia."
"Livia please maafkan aku, aku sungguh menyesal dan aku ingin kita rujuk."
"Tidak Damar, aku tidak bisa rujuk lagi denganmu."
"Kenapa? apa karena Pak Gibran?"
"Dia lagi-dia lagi, aku sudah bilang jangan bawa-bawa Mas Damar dalam masalah ini karena dia tidak tahu apa-apa. Aku tidak mau rujuk lagi denganmu itu karena kesalahanmu sendiri."
"Tapi Livia, selama lima tahun ini aku berusaha mencari keberadaanmu tapi aku tidak menemukanmu, aku sudah mengakui kesalahanku dan selama lima tahun ini aku sudah mendapatkan karmanya hati aku tersiksa dihantui perasaan bersalah kepada kamu."
"Sudah cukup Damar!" bentak Livia.
Mata Livia memerah menahan tangisannya, Livia pun kembali melangkahkan kakinya tapi lagi-lagi langkah Livia harus terhenti karena Demir tiba-tiba turun dari pangkuan Damar dan mengejar Livia kemudian memeluk Livia dari belakang.
"Bu Livia, Demir mohon jangan marah sama Papa Demir, Demir ingin Bu Livia menjadi Mama Demir."
Livia hanya diam membeku, Livia paling tidak bisa melihat anak kecil menangis. Sementara itu dari kejauhan, Gibran dan Gilsya melihat semuanya membuat Gilsya mengeratkan genggaman tangannya kepada Gibran.
Gibran pun menoleh ke arah Gilsya. "Kenapa sayang?"
"Papi kita pulang."
"Kenapa pulang? bukannya kamu mau es krim?"
"Tidak Papi, Gilsya mau pulang," sahut Gilsya dengan mata yang berkaca-kaca.
Gibran tahu saat ini Gilsya sedang menahan tangisannya, Gibran pun menggendong Gilsya dan pergi meninggalkan Mall itu. Pulang dari makan bersama dengan para sahabatnya, Gilsya merengek ingin membeli es krim tapi tanpa disengaja Gibran dan Gilsya justru melihat pemandangan yang membuat puterinya lagi-lagi bersedih.
"Apa Livia akan rujuk dengan Damar?" batin Gibran.
Entah kenapa dada Gibran pun merasa sesak, Gibran tidak tahu perasaan apa yang sedang dia rasakan tapi yang jelas Gibran merasa tidak rela kalau Livia rujuk lagi dengan Damar.
💔
💔
💔
💔
💔
Jangan lupa
like
gift
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
Monica emang ga waras mau membunuh bapak angkat nya.
ga waras, Gila