Warning 21+ guys ... harap cek umur dulu sebelum baca.
***
Arya seorang Presdir di sebuah perusahaan terjebak pesona sekretaris pribadinya sendiri yang setiap hari sering berinteraksi dengannya.
Suatu hari mereka terpaksa tinggal satu kamar dan tidur satu ranjang. Bisakah Arya bertahan dengan godaan ranjang dari sekretaris mudanya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Obat Itu Mulai Bereaksi
"Belum, Mas," jawab Alin dengan tersipu malu. "Mungkin sebentar lagi, soalnya Bu Nisa belum terlalu lama meminum obat p*rangsang itu."
"Dosisnya gimana?" tanya Andre.
"Kayaknya cukup kuat, Mas. Saya nggak terlalu paham karena hanya menjalankan perintah dari Tuan Arya saja," jelas Alin.
"Baiklah." angguk Andre mengerti.
Sembari menunggu obatnya benar-benar bereaksi, mereka terus memperhatikan Nisa yang belum menunjukkan gejala atau efek dari obat yang diminum olehnya.
Alin dan Nurul mulai menggoda Andre tipis-tipis seolah sedang melempar pancingan di kolam yang ikannya sudah pada kenyang. Siapa tahu Andre khilaf dan kecantol salah satu dari ART ganjen itu.
"Mas, sudah punya istri belum sih?" tanya Alin malu-malu kepiting.
Andre hanya diam dan terkesan cuek dengan keberadaan kedua ART itu.
"Hahaha," tawa Alin kaku dan juga Nurul yang kini akan melempar sebuah pertanyaan serupa.
"Hahaha, Mas Andre masih muda gini mana mungkin udah punya istri kan ya. Kalau pacar sudah ada belum, Mas?" tanya Nurul malu-malu siput.
Andre kini menatap ke arah Nurul dan Alin yang mulai berdebar jantungnya lebih kencang saat ditatap oleh Andre.
"Kalau belum, aku mau daftar dong!" ucap Nurul pelan.
"Aku juga mau dong, Mas," sambung Alin yang tidak mau kalah melewatkan kesempatan emas ini.
"Jadi yang kedua pun Nurul rela lho," tambah gadis itu.
"Kalau aku, jadi yang ketiga atau keempat pun rela kok, Mas," ucap Alin yang jauh lebih ekstrim lagi dibandingkan rekan di sebelahnya.
Nurul pun menyenggol kesal ke arah Alin.
"Apaan sih," bisik Alin pada Nurul.
Andre hanya memutar malas kedua bola matanya melihat tingkah gatal kedua ART itu.
Andre yang memang adalah laki-laki yang jarang menggombal pada wanita yang bukan targetnya memilih mengabaikan kedua ART itu dan mulai mengamati perubahan yang ada pada Nisa, apakah obatnya sudah bereaksi atau belum.
Saat ini Nisa mulai merasakan pusing dan juga merasakan aneh pada dirinya, sepertinya obat laknat yang sudah dia minum beberapa waktu lalu sudah mulai bereaksi.
"Kenapa aku merasa sangat gerah," ucap Nisa yang keadaan tubuhnya mulai semakin parah reaksinya.
Keinginan untuk disentuh pun mulai timbul dan mendominasi dalam diri Nisa.
Nisa yang tidak mungkin bertelanjang di ruang tengah ini sekuat tenaga mulai bangkit untuk menuju ke ruang kamarnya sendiri.
Ponsel Nisa pun tidak dia pedulikan karena kondisi tubuhnya sungguh membuat wanita itu kehilangan akal sehatnya.
"Eh, itu sepertinya mulai bekerja obat mujarabnya," ucap Nurul menunjuk pada Nisa yang mulai berjalan kepayahan menuju ke ruang kamarnya sendiri.
Andre pun mulai melangkah pelan dan mengikuti jejak kaki Nisa dari belakang.
Nisa yang keadaannya tidak karuan, tidak menyadari ada lelaki yang mengikutinya diam-diam dari belakang.
Sedangkan Alin dan Nurul mulai mengambil alih ponsel majikan mereka untuk dihancurkan dan di buang jauh-jauh sesuai intruksi dari Arya.
"Ponsel ini ada apaan ya di dalemnya?" ucap Nurul penasaran. "Kok Pak Arya sampe merintahin untuk ngehancurin dan membuang ponsel ini jauh-jauh."
"Husst," tegur Alin. "Kamu nggak usah kepo. Kita cuma harus lakuin apa yang dikatakan sama Bos besar saja. Kalau kita berbuat macem-macem bisa-bisa kita nggak dapet bonus fantastis itu."
"Iya, iya, iya," angguk Nurul yang sedikit kecewa karena Alin tidak mau mengecek isi ponsel itu terlebih dahulu.