Azkia dan Raffasya bagaikan tikus dan kucing yang tidak pernah bisa akur jika bersama. Kebencian Raffasya terhadap Azkia sudah tertanam saat masih duduk di sekolah dasar karena Azkia berhasil mengalahkan Raffasya yang saat itu sedang melakukan body shaming kepada Gibran, kakak kelas Azkia lainnya.
Dan setelah mereka dewasa, permusuhan itu tetap berlangsung. Azkia yang akhirnya menjalin asmara dengan Gibran terpaksa harus hidup dengan Raffasya karena suatu peristiwa buruk.
Akankah Azkia bisa bertahan dengan Raffasya atau memilih kembali bersama Gibran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gara-Gara Bersin
Azkia merasakan pasokan udara yang masuk ke rongga pernafasannya seakan tercekat karena Raffasya kini semakin mendekatkan tubuhnya, hingga tubuh berotot pria itu merapat ke tubuh Azkia yang tersudut di mobil.
" Kak Raffa mau apa? Kak Raffa jangan macam-macam, ya! Mau Kia tendang lagi burungnya sampai patah?!" gertak Azkia karena merasakan tubuhnya susah bergerak.
Raffasya menarik sudut bibirnya hingga membentuk suatu seringai tipis.
" Coba saja kalau lu berani tendang punya gue!" Raffasya seolah tak perduli dengan ancaman Azkia, karena dia sudah mengunci tubuh Azkia hingga gadis itu tidak bisa bergerak bebas.
Raffasya menatap wajah cantik Azkia yang basah terkena hujan. Bahkan lekukan tubuh wanita itu terlihat jelas karena dress yang dikenakan Azkia sudah menempel lekat ke kulit gadis itu.
" Kak Raffa, lepaskan! Nanti Kia sakit kalau hujan-hujanan ...!" Azkia mencoba melepaskan tubuhnya dari kungkungan tubuh berotot liat Raffasya.
" Cih, manja banget!" cibir Raffasya tanpa merubah posisinya. Dia sebenarnya tidak berniat apa-apa pada Azkia, hanya sedikit menakut-nakuti Azkia. Karena dia menduga jika Azkia berpikir dia akan melecehkannya.
" Ha ha huaaaciiimmm ...!" Azkia yang kedinginan karena air hujan dan arlegi jika kehujanan, tidak kuat menahan untuk tidak bersin, hingga percikan air liurnya mengenai wajah Raffasya.
" Si al! Jijay banget sih, lu!" Raffasya mengusap wajahnya yang terkena percikan liur Azkia.
" Huaaacciiimm ...!!" Azkia kembali bersin-bersin.
" Eh, kalau bersin ditutup mulutnya! Virus lu ke mana-mana, tuh!" Raffasya mengibas tangan ke udara seolah menghindari terkena bersin Azkia.
" Awas!! Huaaacciiimm ..." Azkia kemudian mendorong tubuh Raffasya agar menjauh darinya lalu dia berlari masuk ke dalam mobilnya masih dalam keadaan bersin-bersin.
Azkia yang sudah berada di dalam mobil segera menyalakan mesin mobilnya dan segera menjalankan mobilnya.
" Haaaaaciiimmm ...!"
Brrraaaakkk !!
Bersamaan dengan suara bersin Azkia, suara benturan keras pun terdengar hingga tubuh Azkia terguncang ke depan. Azkia lalu menoleh ke depan, dan dia terbelalak saat menyadari jika dia telah menabrak motor Raffasya yang terparkir di depannya.
" Alamak ..." Azkia lalu melirik ke luar jendela saat dia melihat Raffasya yang berlari menghampiri motornya yang terjatuh karena tertabrak mobilnya gara-gara dia bersin tadi. Tak lama Azkia pun melihat Raffasya kembali menghampiri mobil miliknya.
Brraaakk ... brraaakk!!
" Woy, buka pintunya!!" Raffasya terlihat emosi menggebrak pintu mobil Azkia.
" Heh, keluar, lu!!" Raffasya memaksa menarik handle pintu mobil Azkia hingga pintu mobil Azkia terbuka setelah Azkia membuka kunci pintunya.
" Sabar dong, Kak! Jangan ditarik paksa gitu nanti mobil aku rusak!" ketus Azkia dengan suara keras karena harus bersaing dengan suara air hujan.
" Apa lu bilang?! Lu bilang gue merusak mobil lu?! Woy, yang ada motor gue yang lu tabrak!!" balas Raffasya tak kalah berteriak.
" Lagian siapa suruh parkir di depan mobil Kia?" Azkia tetap tidak ingin disalahkan.
" Benar-benar nggak tahu diri lu, ya! Sudah ditolong, nggak tahu terima kasih, sekarang malah nabrak mobil gue! Keluar, lu!" Raffasya menarik lengan Azkia agar gadis itu turun dari mobilnya.
" Nggak mau! Kia nggak mau turun! Haaaciiimm ...!" Azkia menolak keluar mobil.
" Eh, lu mesti tanggung jawab sama motor gue yang rusak!" Raffasya memaksa menarik lengan Azkia.
" Kia nggak mau! Lepaskan, Kak Raffa!!"
Tin tin
Suara klakson mobil terdengar mengalihkan pertengkaran sepasang insan yang sedang berdebat layaknya orang yang saling bermusuhan.
Azkia yang melihat mobil Yoga yang datang langsung mengembangkan senyuman, karena Papanya pasti akan melepaskan dirinya dari intimidasi yang dilakukan oleh Raffasya saat ini.
Setelah mobil itu menepi di belakang mobil Azkia, Yoga pun kemudian turun menggunakan payung berjalan ke arah Azkia dan Raffasya. Yoga yang sempat melihat tangan putrinya ditarik-tarik oleh seorang pria langsung menampakkan kekhawatirannya.
" Kia kamu nggak apa-apa?" tanya Yoga cemas. dia pun langsung menoleh ke arah pria yang tadi sedang memaksa putrinya keluar dari mobil.
" Raffasya? Kamu sedang apa di sini? Kenapa kamu menarik-narik Kia?" selidik Yoga penuh rasa curiga.
" Pa ... Kak Raffa mau jahatin Kia tuh, Pa." Azkia lalu keluar dan memeluk tubuh Yoga.
" Astaghfirullahal adzim, kamu kenapa basah kuyup seperti ini, Kia?" Yoga melihat pakaian putrinya yang basah terkena hujan. Dia lalu membuka blazernya lalu menutupi tubuh Azkia dengan blazernya.
" Raffa, apa yang kamu lakukan kepada Azkia?!" tanya Yoga nampak menahan emosi.
" Anak Om ini menabrak motor saya!" Raffasya menunjuk motornya yang terjatuh karena ditabrak oleh Azkia secara tidak sengaja.
" Benar begitu, Kia?" Kini Yoga menatap putrinya.
" Kia nggak sengaja, Pa. Kia nggak lihat. Huaciimm ..." bantah Azkia kembali.
" Lalu kenapa kamu bisa ada di sini, Raffa?"
" Saya tadi bantu anak Om." Kini Raffa menunjuk ban mobil Azkia dengan arahan matanya. Di mana ban bekas yang kempes masih tergeletak di pinggir mobil. " Tapi anak Om ini nggak tahu terima kasih malah menabrak motor saya!" Raffasya mengadukan kelakuan Azkia kepada Yoga.
" Ya sudah, saya minta maaf atas perbuatan Kia. Nanti motor kamu bawa saja ke bengkel, biar Om yang ganti biayanya." Yoga menegahi. Dia berinisiatif mengganti rugi kerusakan motor dari Raffasya.
" Nggak perlu! Saya juga masih mampu membayar biaya service motor saya!" tolak Raffasya dengan sorot mata tajam menatap Azkia yang sedang memeluk tubuh Papanya. Dia makin bertambah kesal saat melihat Azkia menjulurkan lidahnya seolah meledeknya karena Azkia merasa ada yang melindunginya.
Dengan mendengus kasar Raffasya memutar tubuhnya dan melangkah ke arah motornya. Dia membenarkan posisi motornya lalu menaiki dan menyalakan motornya itu sebelum akhirnya melajukan motornya meninggalkan Azkia dan juga Yoga.
" Huaccciiimmm ...!"
" Kia, cepat kamu masuk ke dalam mobil! Kamu sanggup bawa mobil sendiri?" Yoga yang melihat putrinya itu nampak kedinginan dan bersin-bersin merasa khawatir jika putrinya itu tidak bisa berkonsentrasi membawa mobilnya.
" Kia bisa kok, Pa." Azkia meyakinkan Papanya jika dia bisa mengendarai mobilnya.
" Ya sudah kamu masuk, bawanya pelan-pelan saja. Papa nanti di belakang kamu." Yoga menyuruh Azkia masuk ke dalam mobilnya. Dan setelah dia membereskan ban mobil yang kempes ke dalam bagasi dia pun kembali ke dalam mobilnya.
***
" Assalamualaikum ...."
" Waalaikumsalam ..." Natasha menyambut kedatangan suami dan anaknya jelang Maghrib ini.
" Lho, Kia kok bajunya basah gini, sih?" tanya Natasha yang melihat Azkia yang seperti kehujanan padahal putrinya itu mengunakan mobil.
" Tadi ban mobilnya kempes di jalan, Yank." ucap Yoga yang tak pernah menghilangkan panggilan sayangnya kepada istrinya itu.
" Terus Kia ganti ban mobil sendiri sampai hujan-hujan, Mas?" Natasha masih tidak mengerti.
" Nggaklah, Yank. Aku takut kalau Kia bisa pasang ban sendiri. Nanti nggak ada sisi feminimnya anak kita ini." Yoga terkekeh seraya berkelakar.
" Ya sudah, kamu cepat mandi, Kia. Lihat hidung merah gitu, kamu pasti sudah bersin-bersin, kan?" Natasha yang mengetahui jika anaknya itu arlegi jika hujan-hujanan segera menyuruh Azkia kembali ke kamarnya.
" Iya, Ma." Azkia lalu berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Natasha menoleh ke sang suami. " Mas, aku urus Kia dulu, ya?" Natasha meminta ijin kepada suaminya untuk meladeni Azkia terlebih dahulu, karena dia takut jika Azkia sakit.
" Ya sudah." Yoga memberi ijin kepada Natasha untuk meladeni putri mereka terlebih dahulu.
" Mas juga buruan mandi, bajunya basah juga, tuh!" Natasha menunjuk kemeja Yoga yang basah karena tadi Azkia memeluknya dalam kondisi basah.
" Aku nunggu ditemanin mandi sama kamu, Yank." Yoga mengedipkan matanya menggoda sang istri yang langsung mengulum senyuman sebelum akhirnya menyusul Azkia ke kamarnya.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️