Jatuh Cinta lalu menikah dengan seorang OB, Vanya tidak peduli atas omongan orang lain yang merendahkan pilihan hatinya termasuk papinya sendiri. Banyak hal yang di rahasiakan Leon, namun pada akhirnya Leon terbuka juga pada Vanya.
Sama-sama di besarkan dari keluarga yang tidak lengkap bahkan di masa lalu keluarga Vanya dan Leon di hancurkan orang yang sama, membuat Leon bertekad untuk membalas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28.Tidak Ada
Naomi melempar segepok uang pada Frans. Pria ini berhasil menjadi benalu dalam hidup Naomi sekarang. Frans menghitung jumlah uang tersebut dengan senyum lebarnya.
"Ternyata, uang mu banyak juga!" ucap Frans semakin membuat Naomi kesal.
"Berikan rekaman itu pada ku Frans," pinta Naomi.
"Enak saja!" seru Frans.
Naomi mengepalkan kedua tangannya marah. "Kau sudah merusak pernikahan ku Frans. Sekarang kau juga memeras ku. Apa mau mu hah?"
"Simple saja, jika aku hancur maka kau harus hancur. Kita melakukan hubungan suami istri secara sukarela tanpa paksaan. Jadi, kenapa kau harus marah? aku sudah menonton rekaman itu, ku lihat kau sangat menikmati permainan ku!"
"Frans....!" Naomi menggertakkan giginya geram.
"Pergi kau, aku tidak ingin melihat mu!" usir Frans.
Darah Naomi benar-benar mendidih dengan tekanan yang di berikan Frans terus menerus.
Naomi pergi dari club tersebut, hari masih pagi namun wanita ini sudah biasa keluar masuk ke tempat seperti itu. Tanpa sengaja Naomi melihat mobil Vanya, bergegas Naomi mengejar mobil saudara tirinya itu.
"Ngapain dia pergi cafe pagi-pagi seperti ini?"
Naomi keluar dari mobilnya kemudian masuk kedalam cafe. Masih dengan gaya angkuh serta kesombongan tingkat dewa, Naomi menertawakan Vanya dan Leon.
"Kenapa kau tertawa, apa ada yang lucu?" tanya Vanya tidak suka.
"Ternyata pacar mu ini seorang babu. Apa kau tidak malu berpacaran dengan laki-laki rendahan seperti ini?"
"Bukan urusan mu! apa kau mengikuti ku hah?"
"Kalau iya kenapa?" tanya Naomi mencibir, "aku penasaran aja kemana kau akan pergi, ternyata menemui pacar mu yang miskin ini," sekali lagi Naomi merendahkan Leon.
"Jika kau sudah selesai bicara, keluarlah!" usir Leon semakin membuat Naomi tertawa.
"Siapa kau berani mengusir ku hah? kau hanya menjual tampang mu saja. Vanya,...Vanya,...ternyata selera mu rendahan juga!"
"Dari pada kau, seleranya suami orang!" balas Vanya membuat Leon tertawa namun tidak dengan Naomi.
Byur....
Vanya yang geram tanpa aba-aba langsung mengambil ember yang berisi air untuk ngepel lantai dan langsung di siramkan pada Naomi.
"Brengsek, apa yang sudah kau lakukan hah?"
"Ku pikir mulut mu belum di pel, jadi aku menyiramnya!" jawab Vanya dengan tawa mengejeknya.
"Oh, kalau begitu aku harus mengepelnya!" sambung Leon langsung mengangkat alat pel hingga membuat Naomi langsung berlari ketakutan.
Vanya dan Leon tertawa, bisa-bisanya mereka mengerjai Naomi tanpa berdiskusi dahulu.
"Ingin sekali aku merobek mulut Naomi itu. Dia selalu saja merendahkan mu," ucap Vanya benar-benar kesal.
"Apa kau sangat ingin melihat mulutnya robek?" tanya Leon terdengar mengerikan di telinga Vanya.
"Leon, kenapa pertanyaan mu ini sangat mengerikan?" Vanya merasa ada yang aneh.
"Tidak ada, aku hanya bercanda!"
Vanya menarik nafas panjang, hari baru saja di mulai namun pagi ini dirinya sudah di temukan dengan dua orang yang paling dia benci.
"Dia,...yang duduk di pojok sana itu adiknya Naomi," ujar Vanya memberitahu Leon.
"Yang mana, yang baru masuk itu?"
"Em, dia adik Naomi tapi mereka tidak pernah akur. Naomi selalu mengejeknya anak haram!"
"Kenapa seperti itu?" tanya Leon penasaran.
"Menurut informasi, Naura tidak memiliki ayah. Bahkan mamah mereka saja tidak tahu siapa ayah kandung Naura yang sebenarnya."
"Aku tidak pernah melihat dia, baru sekarang!" ujar Leon.
"Setahu ku dia tidak tinggal bersama Naomi dan mamahnya. Dia lebih memilih hidup sendiri di luar."
"Apa dia juga suka mengganggu mu?" tanya Leon memastikan sesuatu.
"Tidak pernah, sekali pun bertemu dia juga sopan pada ku. Tapi, aku tidak menyukai dia."
Leon mengangguk mengerti, Leon melanjutkan pekerjaannya sedangkan Vanya duduk di meja paling depan dekat meja kasir. Anehnya, hanya Leon seorang yang menjadi pelayan di cafe ini karena dua karyawan lainnya meminta izin libur.