CERITA PENUH PENGORBANAN,KEBERANIAN DAN CINTA
NO PLAGIAT,BIARPUN CERITA RECEH GUE GAK RELA DIPLAGIAT
YANG PLAGIAT,MATANYA BISULAN
Nagara,bocah jalanan yang diangkat anak oleh Ilham dan Reina saat dia berusia 9 tahun,kini tumbuh menjadi pria yang mandiri,kuat dan juga sangat menyayangi keluarga angkatnya.Terutama pada putri keluarga Samudera yang merupakan adik angkat sekaligus tuan putri kesayangannya.Bahkan Nagara rela melakukan apa pun untuk gadis itu.
Hingga sikap protektif serta posessife Nagara perlahan lahan membuat sang gadis salah paham dengan semua perlakuannya.
Akankah ikatan persaudaraan mereka tetap terikat kuat,Apa yang akan terjadi saat salah satu dari mereka mengungkapkan perasaannya yang selama ini dipendam.
'Mencintai namun tidak dapat memiliki' akankah kalimat itu akan menjadi kenyataan dalam hidup mereka atau malah sebaliknya.Siapa jati diri Nagara sebenarnya?mampukah dia mengungkap semuanya?
Yuk dibaca aja
SEQUEL dari cerita GEGANA SANG PENJINAK HATI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Defri yantiHermawan17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fight 2
"Kau meremehkanku huh!"
Pria itu kembali menyerang dengan brutal dan kali ini Gara tidak menghindar,dia lebih memilih untuk ikut memberi pukulan pada lawannya.
Disaat keduanya saling serang dengan kemampuannya masing masing,diatas sana sang Big Boss tengah memperhatikan keduanya.Kedua netra hijau miliknya terus saja memindai kedua petarungnya yang tengah menampilkan kehebatan masing masing.
Senyum tipisnya terbit saat melihat salah satu dari mereka mulai terpancing emosinya,sedangkan yang satunya masih terlihat tidak menampilkan ekpresi apa pun saat ini.Emosi adalah salah satu kelemahan para Fitghter's saat diatas ring.Karena lawan akan dengan sangat mudah memainkan emosinya dan akan sangat mudah mengalahkan rivalnya.
"Kau terlihat bersemangat sekali senior."
Bukannya tersanjung,Bima malah semakin kesal serta muak dengan senyuman yang ditampilan oleh Gara.Pria itu kembali menyerang walaupun nafasnya sudah senin kamis dan seluruh tubuhnya terasa remuk akibat pukulan pukulan yang saling mereka layangkan satu sama lain.
"Shutt up!"
Big Boss mereka terdengar berdecak kesal melihat Bima semakin terpancing emosinya oleh calon petarung barunya.Ternyata pria itu belum belajar dengan baik untuk mengendalikan emosinya.Dan benar saja,dengan sekali hantam Gara mampu membuat Bima terpojok dan berpegangan pada tali lentur yang ada dipinggir ring pertarungan mereka.
"Dete'n su lucha!"(Hentikan pertarungan mereka)
Orang yang ada disebelahnya terlihat menoleh sekejab pada pria bule itu,kepalanya mengangguk patuh.
"Ok gran jefe."(Baik Big Boss)
Melihat Big Bossnya pergi dari area itu,orang yang menjadi kaki tangannya terlihat mengisyaratkan kepada mereka berdua agar menghentikan pertarungan keduanya.
"Berhentilah,Big Boss sudah menyuruh kalian berhenti!"
Dengan nafas terengah keduanya saling menjauhkan tubuh masing masing,masih terlihat jelas kalau salah satu diantara mereka belum puas dengan hasilnya.Namun karena sang Big Boss memerintahkan mereka untuk memghentikan pertarungan mau tidak mau keduanya harus berhenti.
"Istirahatlah,dan kau Nagara."
Gara yang masih mengatur nafasnya terlihat mendongakan wajahnya untuk menatap pria yang tadi memperkenalkannya pada orang orang yang ada diruangan ini.
"Ikut aku,Big Boss ingin berbicara denganmu!"
Dengan patuh Nagara keluar dari ring,setiap langkah yang dia ambil tidak luput dari pandangan Bima yang terlihat sudah duduk disebuah kursi dengan air mineral dingin sudah berada ditangannya.
Gara menaiki tangga satu persatu menuju orang yang tengah menunggunya diatas sana.
"Ikuti aku!"
Dengan gesit Gara menangkap botoli minum yang dilemparkan oleh Rodek,namun kakinya terus melangkah mengikuti pria yang ada didepannya.
Setelah beberapa menit,akhirnya mereka sampai dihalaman belakang rumah mewah itu.Halaman yang begitu luas dengan berbagai macam bunga dan pohon tumbuh disana.
"Gran Jefe."
Pria itu mengangkat sebelah tangannya mengisyaratkan pada bawahannya itu agar meninggalkan mereka berdua disana.Pria yang mengantar Nagara pun dengan patuh segera meninggalkan mereka berdua disana dan tidak lupa untuk menutup pintu besar yang menghubungkan dua ruangan.
"Duduklah!"
Nagara melangkahkan kedua kakinya setelah pria paruh baya berwajah bule itu memerintahkannya untuk duduk tepat dihadapannya.Walapun ada sedikit perasaan ragu,Gara dengan tenang duduk dihadapan pria yang tengah menghisap cerutu besarnya dengan santai.
"Nagara."
Pria itu tersenyum tipis pada Gara,senyuman yang terkesan terpaksa dan sangat tidak alami.Karena Gara sangat tahu mana senyuman terpaksa dan mana senyuman tulus dan alami yang sering dia lihat dari seorang gadis yang paling dia sayangi.
"Bersiaplah kau akan menjadi petarung utamaku,persiapkan dirimu tiga hari kedepan.Rodek dan Luan akan membantumu nanti."
Nagara tidak menjawab apa pun,pria itu masih menatap dingin pada pria tua yang tengah tersenyum tipis padanya.
"Me gusta tu expresion."
benernya kalau kaya gitu mah si Ilham gk usah bawah anak buahnya sama si Ali ali ini....
tak kusangka, mudanya Luan di sini ganteng bingit 😆
merasa tertampar otak aku mikirin semua itu
aku merasa terdzalimi
mendadak ngefans sama Luan 🤭
otakmu ternoda ya Raga 🤣
sampai ke anak cucu