Kehilangan seseorang yang sangat disayangi untuk selamanya itu, bukan hal yang mudah. Apalagi orang itu merupakan seorang anak yang sangat di sayangi.
Anaya Aninditia merupakan seorang gadis yang berumur 12 tahun, Anaya memiliki sebuah keluarga yang harmonis. Suatu ketika keharmonisan itu hilang, akibat ulah ibunya yang selalu mementingkan arisan, semenjak suaminya naik jabatan dan memiliki Gaji yang besar.
Anaya yang periang berubah menjadi pendiam karna perceraian orang tuanya. Satu ketika sang ayah mengenalkan sosok wanita yang memiliki 2 orang anak. Wanita itu mampu mengambil hati seorang Anaya.
Anaya yang dulu pendiam berubah menjadi periang kembali. Setelah kebahagiaan datang, Anaya mengalami kesedihan yang teramat dalam. Anaya harus kehilangan seorang ibu kandungnya untuk selamanya.
Dan kini Anaya sedang berjuang melawan penyakit meningitis yang bersarang di otaknya. Sakit itu berawal dari anaya sering sakit kepala.
apakah Anaya mampu bertahan dan melewati semua itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia permata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28
Semua berkumpul di ruang rawat Anaya, Aris yang memperhatikan Anaya tidur. Kini perasaan itu muncul lagi.
"Kaka janji akan selalu ada di sampingmu," gumam Aris dalam hati.
Lama sekali Aris menatap sang adik tersayang, tanpa Aris sadari Nita melihat apa yang Aris lihat.
"Yang sabar ya den, serahkan semua sama Allah," gumam Nita dalam hati.
Adam yang sedang asik belajar, Tiba-tiba melihat sang kaka cantiknya yang sedang tertidur.
"Sebenarnya kaka sakit apa sih? Lama banget disini, adek jadi kesepian di rumah. Cepet sembuh ya kak, biar cepet pulang ke rumah," gumam Adam dalam hati.
Ayah dan bunda tiba-tiba masuk ke ruang rawat Anaya, melihat semua yang di dalam sedang melamun dan menatap ke arah Anaya yang sedang tidur
"Kalian pasti sedih liat Anaya yang seperti ini," gumam ayah dalam hati.
"Hanya Aris dan Nita yang tau sesungguhnya yang terjadi sama Anaya. Pasti hati mereka menjerit, terutama Aris pasti hatinya galau dan menjerit lagi," gumam bunda dalam hati.
"Ehem," ayah berdehem untuk membuyarkan lamunan mereka.
Semua pun kaget mendengar ayah berdehem dan langsung pura-pura sibuk masing-masing. Tiba-tiba dokter Benny datang.
"Pa Teguh apa kita bisa bicara sebentar?,$ tanya dokter Benny.
"Bisa dok, ada apa?," tanya Teguh.
"Ini obat untuk Anaya sudah ada, botol yang tutup warna merah, untuk diminum ketika rasa pusing timbul, warna hijau itu obat untuk penahan agar meningitis tidak menyebar, dan tutup botol warna kuning ini segala vitamin bercampur disini. Jadwal minum obat jam 7 pagi, jaM 3 sore yang terakhir jam 10 malam," ucap dokter Benny.
"Baik dok, apa anak saya sudah boleh pulang?," tanya Teguh.
"Belum bisa hari ini, paling besok siang atau sore, karna paginya akan check secara keseluruhan dan tes darah lagi," ucap dokter Benny.
"Baik dok, terimakasih," ucap Teguh.
"Oh iya itu obat untuk selama di rumah, kalau di rumah sakit, obatnya dari saya langsung," ucap dokter Benny
"Baik dok, terimakasih untuk perawatan selama di sini," ucap Teguh.
"Sama-sama Pak, semoga kondisi Anaya jauh lebih baik," ucap dokter Benny.
Dokter Benny pun pamit untuk pergi, ayah kembali masuk kedalam ruangan.
"Nak insya Allah kalau kondisi mu terus membaik, besok atau lusa udah boleh pulang. Tapi harus ingat sama janjimu untuk selalu minum obat," ucap ayah.
"Allhamdulilah udah boleh pulang, iya yah Anaya janji untuk selalu minum obat," ucap Anaya.
Aris yang mendengar berita itu sedikit lega, karna bisa lebih intens untuk menjaga Anaya di rumah.
"Bunda akan lebih intens menjaga Anaya, makanan pun harus di jaga. Mungkin udah saatnya untuk meminta Nita menetap kerja di rumah," gumam bunda dalam hati.
"Kayanya aku bakalan minta ke bunda untuk mengijinkan saya kerja dan tinggal di rumah bunda, biar bisa merawat non Anaya," gumam Nita dalam hati.
Tiba-tiba ponsel Aris berdering, ada panggilan video call dari Iyan, Aris pun bingung harus gimana.
"Ada apa nak? siapa yang menelepon?," tanya bunda.
"Iyan video call bun, Aku bingung harus jawab atau gimana," ucap Aris.
"Udah abaikan aja dulu, sebentar lagi kita pulang. Nanti kamu telepon balik kalau udah di rumah telepon balik dan bilang tadi lagi tidur," ucap bunda berbisik.
Ayah yang mengerti situasi dan kondisi saat ini, ayah pun bingung. Selama ini juga ayah berbohong sama wali kelas Anaya, bilang Anaya masih menenangkan hatinya setelah kepergian ibunya. Ayah pun bingung harus bagaimana, karna lambat laun semuanya akan terungkap.
Bunda yang melihat kegelisahan hati sang suami, menjadi ikut bingung harus berkata apa dan bagaimana.
Adzan maghrib pun berkumandang semuanya pun solat berjamaah di ruang rawat Anaya, setelah solat rombongan bunda pamit pulang, biar Anaya bisa istirahat.
Satu per satu pun pamit sama Anaya, Anaya pun yang sudah ingin tidur. Setelah semua pulang Anaya pun merasakan lelah dan tertidur. Ayah yang melihat kondisi sang anak yang belum fit merasa bingung.
"Anaya, ayah ketemu dokter dulu ya," ucap ayah.
"Iya yah," ucap Anaya.
"Kamu tidur ya," ucap ayah.
Sebelum ayah pergi menemui dokter ayah memencet bel untuk memanggil perawat untuk menjaga Anaya.
"Selamat malam pa, ada yang bisa saya bantu?," tanya suster.
"Begini, saya mau ketemu dokter Benny, saya titip Anaya sebentar. Karna Anaya takut sendiri," ucap ayah.
"Baik pa, saya akan jaga Anaya sampai bapak datang," ucap suster.
"Terima kasih suster," ucap ayah.
Ayah pun pergi untuk menemui dokter Benny, karna tadi sore memang janjian untuk berbincang.
tok tok tok
"Selamat malam dok," ucap Teguh.
"Selamat malam pa, ada yang bisa saya bantu," ucap dokter Benny.
"Gini dok, kan Anaya tuh beberapa bulan lagi lulus SMP, apa sebaiknya Anaya pergi ke sekolah seperti biasa atau memanggil gurunya ke rumah dan belajar di rumah," tanya Teguh.
"Sebaiknya Anaya belajar di rumah saja dulu sampai kondisinya benar-benar membaik dan sehat untuk bisa berangkat sekolah. Karna saya masih melihat kondisi Anaya belum 50% sehat," ucap dokter Benny.
"Gitu ya dok, oh iya dok apa Anaya perlu di infus juga di rumah?," tanya Teguh.
"Sebaiknya sih gitu, kalau bapak mau, nanti saya tugaskan asisten saya yang mendatangi ke rumah untuk memberi obat vaksin lewat suntikan selama 1 tahun dan mengganti cairan infusan. Itu untuk mempercepat kondisi Anaya untuk jauh lebih baik. Anaya bisa cepat pulih, asalkan jangan banyak pikiran saja. Kasih dia kebahagiaan dan jangan buat dia sedih," ucap dokter Benny.
"Kalau itu memang saran yang baik untuk Anaya, saya akan menyetujui saran dari dokter. Masalah biaya gak usah di pikirkan, yang penting Anaya 70% udah sehat lagi," ucap Teguh.
"Baik pa nanti saya tugaskan asisten perawat saya yang bernama Fauzi untuk merawat Anaya sampai dia lulus SMP. Fauzi juga salah satu asisten saya yang terbaik, siapa tau dia bisa membantu Anaya dalam belajar," ucap dokter Benny.
"Baik dok, terimakasih sebelumnya," ucap Teguh.
"Sama-sama pa, kita berjuang untuk kesembuhan Anaya minimal 70% sehat lagi seperti biasanya," ucap dokter Benny.
"Aamiin dok, kalau gitu saya pamit dulu. Kalau nak Fauzi nya ada, suruh ke ruang rawat aja, biar saya mengobrol dulu dengannya," ucap Teguh.
"Baik pa, besok saya suruh nak Fauzi untuk menemui bapak. Bapak juga jaga kesehatan, biar maksimal dalam merawat dan menjaga Anaya. Anaya hanya membutuhkan support dan energi positif dari orang terdekatnya," ucap dokter Benny.
"Baik dok, saya pamit dulu. selamat malam dok," ucap Teguh.
"Selamat malam juga pa," ucap dokter Benny.
Ayah pun keluar dari ruangan dokter Benny dan menuju kamar rawat Anaya.
"Berapapun biayanya, asalkan kamu bisa sehat lagi. Ayah rela membuang uang buat kamu dan keluarga," gumam ayah dalam hati.
Ayah pun masuk ke ruang rawat dan mengucapkan terimakasih pada suster yang sudah menjaga Anaya.
Ayah melihat Anaya yang sudah tertidur pulas sambil memeluk bantal biru kesayangannya. Ayah yang masih belum mengantuk mengecek email kerjaannya, walaupun perusahaan itu milik Hanna, tapi ayah harus bertanggung jawab juga sama jabatan dan kerjaannya saat ini.
.
.
.
.
Setiba di rumah, bunda menyuruh Aris dan Adam untuk istirahat, dan mereka pun pamit sama bunda dan mbak Nita. Kini tinggal berdua antara bunda dan Nita.
"Nit saya mau bicara, bisakah kamu menetap bekerja di sini, saya butuh kamu Nit. Kalau Anaya sudah pulang pasti saya akan fokus menjaga Anaya dan saya takut kerjaan rumah gak beres. Saya cuman percaya sama kamu, karna kamu sudah saya anggap seperti keluarga saya sendiri. Dulu jaman almarhum ibumu juga yang merawat saya, jadi saya mau kamu kerja di sini, tinggal disini. Masalah pulang kampung sesempatnya kamu dan saya akan ijinkan itu," ucap Hanna.
"Begini bu, tadinya saya juga udah ada niat untuk meminta sama bunda untuk tetap kerja disini, karna saya ingin mengabdi di keluar ini. Seperti almarhum ibu saya dulu yang mengabdi di keluarga almarhum orang tua bunda. Saya ingin merawat non Anaya," ucap Nita.
"Allhamdulilah... Berarti kita sehati ya... Ya udah besok kamu bereskan kamar yang di belakang, dan kamar tamu kamu rapih kan. Karna kamar tamu akan jadi kamar Anaya, saya tidak mengijinkan Anaya naik turun tangga," ucap bunda.
"Baik bun besok saya rapihkan semua, non Anaya pulang sudah beres semua," ucap Nita.
"Ya udah sekarang kita istirahat dulu, besok pasti cape, tolong cek pintu dan met istirahat Nita," ucap bunda.
"Selamat malam bunda," ucap Nita.
Flashback On
Nita adalah anak dari asisten rumah tangga bu Susarmi dan Pa Aep. Bu Susarmi dan pa Aep ini sudah lama bekerja di keluarga orang tua dari Hanna. Hingga orang tua Hanna meninggal dunia, yang mengurus Hanna itu pa Aep dan bu Susarmi.
Hanna menginjak dewasa dan menemukan pasangannya saat Alm pa Rio masih ada, Pa Aep meninggal dunia. Kini tinggal ibu Susarmi dan Nita yang berumur 15 tahun, sedangkan sang kaka yang bernama Aji tinggal sama sanak saudara dari ibu Susarmi yang tidak mempunyai anak.
Hanna dan Rio menikah hingga dikaruniai anak pertama yang bernama Aris, Hanna sering menitipkan Aris sama Nita. Saat itu Hanna masih sibuk mengurus perusahaannya.
3 tahun kemudian, ibu Susarmi pun meninggal, kini tinggal Nita sendiri, dan dianggap sebagai anak oleh Hanna dan Rio.
Flashback Off
.
.
.
.
Aris yang sedang mengirim pesan sama sahabatnya itu.
"Sorry bro baru bls, tadi ketiduran karna baru balik dari Bali nengok Anaya," ucap Aris berbohong.
"Gila lo ke Bali gak ngajak-ngajak," ucap Iyan.
"Bukan gak mau ngajak, aku di ajak ayah. Sekalian ayah ada kerjaan disana," ucap Aris.
"Terus Anaya udah balik ke Bandung juga?," tanya Iyan.
"Belum mau pulang tuh anak, masih betah di Bali," ucap Aris.
"Iya sih pasti berat ya," ucap Iyan.
"Ya gitu deh, eh ada tugas apa nih," tanya Aris.
"Gak ada tugas apa-apa, tapi minggu depan kita try out terakhir, lalu libur seminggu. Nah minggu depannya kita UN," ucap Iyan.
"Okay deh thanks infonya, kata Anaya salam buat Dita," ucap Aris.
"Okay nanti di sampein ke Dita. Oh iya besok gue ke rumah lo ya," ucap Iyan.
"Sorry gak bisa, gue mau ke Jakarta mau ke rumah Eyang dari ayah Rio bareng bunda, ayah dan Adam," ucap Aris.
"Okay deh manusia super sibuk," ucap Iyan dengan emoticon senyum.
"Embangsat luh," ucap Aris dengan emoticon marah.
"Ya udah sana luh tidur lagi, pasti capek banget. gue juga mau main Ps dulu lah," ucap Iyan.
"Okay deh, Assalamu'alaikum," ucap Aris.
"Walaikumsalam," ucap Iyan.
Sorry Yan gue belum mampu berkata yang sejujurnya dengan situasi dan kondisi seperti ini. Lambat laun ayah akan ngasih tau kalian. Semoga kalian gak kaget mendengarnya.
Aris pun memejamkan matanya, karna hari ini masih terasa lelah dan besok akan jauh lebih lelah.
"Ya Allah bantu kuatkan hatiku untuk membantu Anaya untuk sembuh, aamiin," gumam Aris dalam hati.
Aris pun membaca doa tidur dan sudah tertidur nyenyak.
#RIPNadiaPermata
ga sabar nya🤗😆😆