Echa dan teman-temannya harus kembali terlibat dengan pembantaian ilmu hitam yang merajalela dan semakin memiliki kekuatan besar.
Takdir selalu saja menuntun Echa dan teman-temannya untuk memusnahkan ilmu hitam, namun bagi mereka ilmu hitam itu sudah seperti akar pohon, meskipun pohonnya di tebang tapi akarnya masih tertanam didalam tanah.
Semakin hari teror semakin mengintai mereka. Datang dari seorang wanita misterius yang kembali bangkit dari masalalunya, dia ingin membalaskan dendam atas perbuatan Echa dan teman-temannya di masalalu.
"Mereka harus merasakan apa yang aku rasakan. Terutama rasa sakit."
Dendam, kecewa, sakit hati, amarah yang ada di dalam hati wanita misterius itu tidak pernah padam. Bahkan, tujuannya hanyalah satu.
"Aku hanya ingin melihat mereka.. Mati."
Akankah Echa dan teman-temannya berhasil mengungkap siapa akar dari teror yang mengintainya selama ini atau bahkan mereka yang akan mati penasaran?
On IG: @ry_riuu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
|27| MANJA
Seseorang di tengah gelapnya ruangan dengan jubah hitam melekat ditubuhnya bersama beberapa lilin membentuk lingkaran yang di tengah-tengahnya di hiasi oleh 11 boneka mengerikan, semacam ingin memulai ritual.
"Apa kau yakin akan melakukan semua ini?" Tanya Hans kepada wanita yang kini berada di hadapannya menutupi wajah dengan jubah hitam miliknya.
"Aku yakin, aku sudah hafal betul titik lemahnya mereka." Jawab orang misterius yang senyum sinis nya terlihat oleh Hans.
"Apa semua tidak akan berbalik padamu? Aku saja merasakan sakit yang begitu hebat ketika Bara menyentuh perutku padahal dia hanya menyentuh saja." Ucap Hans.
"Kau bodoh! Bara tidak hanya menyentuh saja." Ujar seseorang yang kini menatap tajam kearah Hans.
"Lalu?" Tanya Hans.
"Dia mengeluarkan apa yang tersembunyi dalam dirinya." Jawab orang misterius tersebut.
"Rasanya sangat sakit." Ucap Hans sambil memegang bagian perutnya yang seperti baru saja di bakar oleh api.
"Sudah, bantu aku melakukan ritual ini." Ujar orang tersebut sambil melangkahkan kakinya masuk kedalam lingkaran lilin.
"Echa akan baik-baik saja kan?" Tanya Hans khawatir dengan keadaan Echa jika ritual ini terjadi.
"Dia akan baik-baik saja." Jawab orang tersebut sambil tersenyum penuh arti, senyuman yang tidak terlihat oleh Hans.
"Aku tidak yakin." Ucap Hans.
"Percayalah padaku, semua akan baik-baik saja, kau akan mendapatkan Echa dan aku akan mendapatkan Bara." Ujar orang tersebut.
"Aku masih ragu dengan semua ini." Ucap Hans.
"Ayolah, aku sudah membuat retak hubungan mereka dan ini saatnya kita melakukan ritual ini, jangan sia-siakan waktu." Ujar orang misterius itu sambil duduk di antara 11 boneka.
"Baiklah." Ucap Hans sambil duduk di samping orang misterius itu.
...----------------...
Sedangkan disisi lain Echa dan Bara sedang bersiap-siap untuk mempersiapkan baju yang akan dikenakan pada hari pertunangan Mutiara dan Alvero.
"Kakak, emang toko bajunya beda ya?" Tanya Echa
"Iya," jawab Bara yang sedang memakai jam tangan kesayangannya.
"Kenapa gak satu toko aja?" Tanya Echa yang sedang merapikan rambutnya.
"Gak tau. Mungkin emang pengen surprise aja." Jawab Bara yang kini sedang memakai sepatu.
Namun saat Echa ingin mengajukan pertanyaan lagi, pintu apartemen milik Bara terbuka lebar, menampilkan teman-temannya yang sudah siap untuk pergi.
"Ayo." Ajak Gavin. Bara dan Echa menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Mereka semua melangkahkan kakinya pergi dari apartemen milik Bara setelah mengunci pintu apartemen nya itu, mereka berjalan menuju lift, keadaan semuanya sudah agak membaik.
"Ini kan udah jam 5 sore, kalau kemaleman nginep aja di rumah Tiara." Ucap Mutiara yang sedang berada di samping Alvero.
Wajah keduanya nampak bercahaya, tidak seperti biasanya, Alvero lebih tampan dari hari biasanya dan Mutiara lebih cantik dari biasanya.
"Iya, gimana nanti aja." Ujar Nathan.
"Tapi serius bakalan kemaleman, lagian besok kalian harus kerumah Vero pagi-pagi banget terus Caca, Shiren, Vivi sama Hanin harus bangun pagi bantuin Tiara." Jelas Mutiara panjang lebar.
"Iya, kita tidur di rumah Tiara aja." Ucap Gavin.
Mereka semua menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, dua hari lagi adalah acara yang sangat penting bagi Mutiara dan Alvero sebisa mungkin Echa dan yang lainnya akan membantu persiapan yang sangat di impikan wanita ketika sudah menjalin hubungan 5 tahun lamanya.
Definisi menjaga jodoh sendiri, meskipun banyak sekali masalah yang bermunculan setiap harinya tapi itu baru awal belum pada tahap tengah ataupun akhir.
...----------------...
10 menit telah berlalu, kini mereka sudah menggunakan kendaraanya masing-masing.
"Kapan ganti?" Tanya Bara yang melihat Azka sudah Menganti mobil miliknya dengan motor ninja milik Azka.
"Kemarin pagi sambil ke kampus." Jawab Azka.
"Tau gitu bareng Ka, pake mobil ribet." Ucap Bara yang melihat Echa sudah duduk di sampingnya.
"Gak tau, kirain emang nyaman pake mobil." Ucap Azka.
"Udah kak, nanti juga bisa ganti." Ujar Echa.
"Ayo." Ajak Devan sambil melajukan motornya dengan kecepatan standar diikuti dengan yang lainnya.
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang melihat kepergian Echa dan yang lainnya lewat jendela apartemen.
Senyum sinis tercetak di bibir orang tersebut dengan mata yang berubah menjadi hitam dalam beberapa detik.
"Selamat bersenang-senang dulu kawan." ucap orang tersebut.
"Ups, udah bukan kawan lagi ya." Sambung orang tersebut sambil tersenyum sinis.
"Ternyata udah jadi lawan." Ucap orang tersebut sambil masuk kedalam apartrmen miliknya.
...----------------...
Sedangkan di motor Shiren dan Gavin, mereka berdua sedang berdebat tentang Arista Ardani seorang wanita yang terus meneror Shiren untuk memutuskan Gavin saat ini juga.
"Arista siapa?" Tanya Shiren.
"Gak tau." Jawab Gavin.
"Dia bilang pacar kakak." Ucap Shiren sambil menatap wajah Gavin untuk mencari kebohongan.
"Arista siapa? Kakak aja gak tau gimana mukanya." Ujar Gavin yang memang terlihat tidak tahu siapa itu Arista Ardani.
"Shiren dapet Chat dari dia katanya kakak pacarnya dia terus minta suruh putusin." Ucap Shiren.
"Jangan di denger, udah banyak yang kayak gitu." Ujar Gavin.
"Kenapa sih punya muka ganteng banget." Gumam Shiren yang terlihat kesal dengan jawaban Gavin.
"Kakak emang yang kegenitan ya?" Tanya Shiren sambil memicingkan matanya.
"Enggak." Jawab Gavin.
"Capek banget tau gak kak ngadepin cewek yang nyuruh putus dari kakak." Ucap Shiren kesal.
"Jangan di tanggepin, biarin aja. Lagian tiap hari kakak sama Shiren terus gak pernah keluar sendiri." Ujar Gavin. Shiren tidak menjawab perkataan Gavin, dia memeluk erat pinggang Gavin, menyimpan kepalanya di bahu Gavin.
...----------------...
20 menit telah berlalu, kini Bara memberhentikan mobilnya di sebuah toko gaun yang tidak terlalu besar namun kesan elegannya begitu melekat.
Echa melihat Mutiara, Hanin, Shiren dan Ivy yang turun dari motornya, dia langsung membuka pintu mobil untuk menghampiri teman-temannya itu.
Namun tiba-tiba saja tangannya di cekal oleh Bara dengan tatapan memohon agar tidak keluar dari mobil.
"Kak lepasin." Ucap Echa yang tubuhnya mau tak mau harus duduk di kursi mobil.
"Ca.." ujar Bara cemberut ketika Echa ingin melepaskan genggaman tangannya itu.
"Kakak, nanti juga ketemu lagi." ucap Echa.
"Jangan pergi.." ujar Bara sambil mencium punggung tangan Echa dan menggenggam tangannya erat.
"Caca gak bakalan kemana-mana kak. Perginya juga sama Kak Tiara, Hanin, Vivi sama Shiren bukan sama cowok lain, Nanti juga kakak bakal kesini lagi kan?" Tanya Echa ketika Bara mempererat genggaman tangannya.
"Gak lama kan?" Tanya Bara.
"Tergantung Kak Tiara nya." Jawab Echa.
"Nanti disana pake bajunya jangan cantik." Ucap Bara.
"Kenapa kak?" Tanya Echa bingung.
"Nanti kalau ada pegawai cowok yang liat gimana? Kakak gak ada disana." Jawab Bara yang masih tidak melepaskan genggaman tangannya pada Echa.
"Iya, udah lepasin Caca di tungguin sama yang lain." Ucap Echa.
"Telpon.." ujar Bara.
"Iya, nanti kalau kakak udah nyampe disana telpon Caca." ucap Echa.
"Sekarang.." ucap Bara sambil menyalakan earphone yang ada di telinganya tanpa melepaskan genggaman tangannya pada Echa.
Drt..drt..drt
Ponsel milik Echa bergetar, dia langsung mengangkat telpon Bara, menggunakan Earphone yang dirinya bawa.
Inilah Bara yang manja, Echa kadang sulit untuk melakukan apa-apa. Echa harus extra sabar menghadapi Bara yang seperti ini.
"Udah kan." Ucap Echa.
"Tapi jangan lama ya.." ujar Bara.
"Iya kak. Udah lepasin." Ucap Echa. Bara melepaskan genggaman tangannya.
"Ca.." panggil Bara ketika Echa ingin keluar dari mobil.
"Apa lagi kak?" Tanya Echa.
"Kiss?" Tanya Bara sambil menunjukkan sebelah pipi kiri nya.
Cup.
Satu kecupan mendarat di pipi Bara, Echa langsung keluar dari mobil Bara melangkahkan kaki menuju kearah teman-teman yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Lama banget Ca." Ucap Ivy.
"Biasa." Ujar Echa.
"Kita ngerti kok, udah ah ayo masuk." Ucap Mutiara.
Mereka semua melangkahkan kakinya masuk kedalam toko gaun pernikahan yang langsung disambut baik.
"Jangan senyum." Ucap Bara yang berada dalam sambungan.
"Ya ampun kak, masa iya Caca gak boleh senyum." Ujar Echa.
"Pokonya gak boleh senyum." Ucap Bara.
"Siapa Ca?" Tanya Shiren yang melihat Echa sedang berbicara lewat sambungan telpon.
"Kak Bara." Jawab Echa.
"Sweet banget sih sampai harus nelpon segala." Ucap Shiren.
"Saking sweet nya Caca jadi pengen cakar kak Bara." Ujar Echa dengan wajah kesalnya.
"Kakak denger Ca." Ucap Bara yang mendengar Echa membicarakan dirinya.
"Bodo amat." Ujar Echa.
aku udah nungguin loh, mau up kpn? udah mau 2 tahun loh kamu gk up lagi
udh satu thun thor aku nunggu....aku bulak balik pengen tau thorrrr
aku cari" di tik tok tkut ada novel kamu
download aplikadi lain cuma pengen tau tkut ada ketmu sih thorrrr
tpi sma aja berhnti disisni
q tetp menunggu thorrr