NovelToon NovelToon
AKU SEHARUSNYA MATI DI BAB INI

AKU SEHARUSNYA MATI DI BAB INI

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Isekai / Menjadi NPC / Masuk ke dalam novel / Kaya Raya
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

ongoing

Tian Wei Li mahasiswi miskin yang terobsesi pada satu hal sederhana: uang dan kebebasan. Hidupnya di dunia nyata cukup keras, penuh kerja paruh waktu dan malam tanpa tidur hingga sebuah kecelakaan membangunkannya di tempat yang mustahil. Ia terbangun sebagai wanita jahat dalam sebuah novel.

Seorang tokoh yang ditakdirkan mati mengenaskan di tangan Kun A Tai, CEO dingin yang menguasai dunia gelap dan dikenal sebagai tiran kejam yang jatuh cinta pada pemeran utama wanita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#35

Wei Li tidak tidur malam itu. Bukan karena ia tidak bisa memejamkan mata, melainkan karena setiap kali ia hampir terlelap, pikirannya menariknya kembali seperti tangan yang mencengkeram pergelangan kaki tepat sebelum seseorang jatuh ke jurang. Ia berbaring menyamping, punggung menghadap jendela, satu tangan di bawah bantal, satu lagi menekan dada sendiri.

Napasnya teratur. Terlalu teratur. Ia membuka mata, menatap dinding kosong di depannya. Bayangan lampu kota bergerak pelan di permukaan putih, seperti ombak kecil yang tak pernah sampai ke pantai. Jangan ada yang salah, pikirnya. Cuma satu malam lagi.

Ponsel di meja samping tempat tidur bergetar. Wei Li langsung bangkit duduk. Gerakannya cepat, refleks. Ia meraih ponsel, layar menyala, dan nama Jae Hyun muncul. “Kenapa?” tanyanya begitu panggilan terhubung. Suara Jae Hyun tidak santai seperti biasa. Ada tarikan napas pendek sebelum ia bicara. “Ada perubahan.” Wei Li menurunkan kaki ke lantai. Telapak kakinya menyentuh dingin, membuatnya sepenuhnya sadar. “Perubahan apa?”

“Umpan anda berhasil,” kata Jae Hyun. “Tapi—” Wei Li menegang. “Tapi?”

“Dia nggak cuma ngikutin jejak,” lanjut Jae Hyun. “Dia nyentuh orang yang seharusnya cuma jadi bayangan.” Wei Li berdiri. Jantungnya berdetak lebih cepat. “Siapa?” Ada jeda sepersekian detik yang terasa terlalu lama. “Staf galeri kecil yang anda datangi dua kali,” jawab Jae Hyun. “Cewek itu Bukan bagian dari sistem.”

Wei Li menutup mata. Tangannya mengepal keras, kuku menekan telapak. “Sial.” Ia berjalan mondar-mandir, langkahnya cepat tapi terkontrol. “Dia seharusnya cuma liat data, bukan orang.”

“Dia penasaran,” kata Jae Hyun. “Dan rasa penasaran bikin orang nyebrang garis.” Wei Li mengusap wajahnya, telapak tangannya hangat di kulit dingin. “Dia aman?”

“Masih,” jawab Jae Hyun. “Tapi nggak akan lama kalau ini diterusin.” Wei Li berhenti berjalan. Dadanya terasa sesak, bukan karena takut melainkan karena marah pada diri sendiri. Ini bukan bagian dari rencana, pikirnya. Ini bukan harga yang gue setuju. “Aku ikut,” suara Kun A Tai terdengar dari belakang. Wei Li menoleh cepat ia tidak sadar pria itu sudah berdiri di ambang pintu kamar.

“Kita nggak punya waktu,” kata Wei Li. Kun A Tai mendekat. “Justru itu.” Mereka bergerak cepat. Di dalam mobil, Wei Li duduk diam. Tangannya di pangkuan, jari-jarinya saling mengunci, lalu terlepas, lalu mengunci lagi. Rahangnya mengeras. Matanya menatap lurus ke depan, tapi fokusnya ada di dalam. “Ini salah ku,” katanya tiba-tiba. Kun A Tai melirik. “Ini konsekuensi.” Wei Li tertawa pendek tanpa humor. “Cara lo buat bilang ‘iya’.”

“Tidak,” jawab Kun A Tai tenang. “Ini permainan yang kau pilih. Tapi aku tidak akan membiarkan orang tak bersalah membayarnya.” Wei Li menelan ludah. Bahunya sedikit turun. “aku juga.”

Mobil berhenti dua blok dari galeri. Malam itu dingin. Udara menempel di kulit seperti lapisan tipis yang tidak nyaman. Wei Li turun, menarik jaketnya lebih rapat. Lampu jalan redup, bayangan memanjang di aspal. Ia berjalan pelan, langkahnya terukur. Setiap suara kecil terasa lebih keras gesekan sepatu, desah napas, dengung jauh kendaraan.

Fokus, katanya pada diri sendiri. Dari kejauhan, galeri tampak gelap. Pintu depan tertutup. Tidak ada tanda keributan. Itu justru membuat Wei Li semakin waspada. Jae Hyun berbicara pelan di ear piece. “Ada satu orang di dalam. Bukan eksekutor. Pengamat.” Wei Li berhenti, menekan punggungnya ke dinding. Tangannya mengusap lengan sendiri gerakan refleks untuk menenangkan. “Ceweknya?” bisiknya.

“Di ruang belakang,” jawab Jae Hyun. “Masih bebas. Tapi dia sadar ada yang salah.” Wei Li menghembuskan napas pelan. “aku masuk.”

Kun A Tai menoleh. “Aku bersamamu.” Wei Li mengangguk singkat. Mereka masuk lewat pintu samping.

Di dalam, bau cat dan kayu tua bercampur. Ruangan remang, hanya diterangi satu lampu kecil di sudut. Wei Li melangkah pelan, bahunya tegang, pendengarannya tajam. Di lorong belakang, ia melihat sosok itu. Seorang pria berdiri membelakangi mereka, ponsel di tangan. Tidak bersenjata. Terlalu santai untuk seseorang yang seharusnya waspada.

Wei Li bergerak duluan. Ia tidak berlari. Ia mendekat cepat, satu tangan menutup mulut pria itu, tangan lain menekan bahunya. Gerakannya efisien, tidak berlebihan. Pria itu terkejut, berontak sebentar, lalu berhenti saat Kun A Tai muncul di sisi lain. “Tenang,” kata Kun A Tai rendah. “Atau ini akan jadi menyakitkan.”

Pria itu mengangguk cepat. Wei Li melepaskan tangannya, mundur satu langkah. Napasnya sedikit lebih cepat, tapi stabil. “Keluar,” katanya dingin. “Sekarang.” Pria itu tidak membantah.

Di ruang belakang, perempuan itu duduk di lantai, punggung bersandar ke lemari. Wajahnya pucat, matanya merah, tapi tidak terluka. Wei Li berlutut di depannya, menjaga jarak. “Kau baik-baik saja?”

Perempuan itu mengangguk cepat. “Dia… dia cuma nanya.” Wei Li menghela napas panjang. Ketegangan di bahunya sedikit mengendur. “Maaf.” Perempuan itu menatapnya bingung. “Untuk apa?” Wei Li tidak menjawab. Ia berdiri, memberi isyarat pada Kun A Tai.

Beberapa menit kemudian, mereka sudah di luar. Wei Li bersandar ke mobil, kedua tangannya bertumpu di kap. Ia menunduk, rambutnya jatuh menutupi wajah. Napasnya keluar masuk lebih berat sekarang. Ini hampir jadi bencana, pikirnya. Kun A Tai berdiri di sampingnya. “Kau menyelamatkannya.”

Wei Li tertawa pendek. “aku hampir nyeret dia ke neraka ku.” Kun A Tai menatapnya lama. “Dan kau memilih berhenti.” Wei Li mengangkat kepala. Wajahnya lelah, tapi matanya jernih. “aku nggak mau menang dengan cara itu.”

Ada keheningan singkat. “Shen Yu An akan merasa ini,” kata Kun A Tai. “Umpanmu berubah arah.” Wei Li mengangguk. “Dia bakal sadar ada batas.”

“Dan batas itu akan dia uji,” lanjut Kun A Tai. Wei Li menyeringai tipis. “Biarlah. Sekarang aku tau satu hal.”

“Apa?”

Wei Li berdiri tegak, menyeka wajahnya dengan punggung tangan. “aku bukan kayak dia.” Kun A Tai menatapnya, ekspresinya sulit dibaca. “Itu membuatmu berbahaya dengan cara berbeda.” Dalam perjalanan pulang, Wei Li diam. Tubuhnya akhirnya terasa lelah bukan lelah fisik, melainkan jenis kelelahan yang meresap ke tulang.

Ia menyandarkan kepala ke jendela, menutup mata sebentar. Bayangan perempuan di galeri itu muncul di kepalanya. Wajah pucat. Mata takut. 'aku hampir jadi monster' pikirnya. Ponselnya bergetar. Pesan singkat dari Jae Hyun.

JH: Shen Yu An berhenti bergerak. Untuk sekarang.

Wei Li membuka mata. Sudut bibirnya terangkat sedikit.

“Dia ngerem,” katanya pelan. Kun A Tai mengangguk. “Karena kau menunjukkan garis.” Wei Li menatap ke depan. Lampu jalan melintas satu per satu, ritmenya menenangkan. “Dan sekarang?” tanyanya. Kun A Tai menjawab tanpa ragu. “Sekarang dia akan mengubah permainan.”

Wei Li menghela napas panjang, lalu tersenyum kecil lelah, tapi mantap. “Bagus,” katanya. “aku juga.” Mobil melaju ke dalam malam. Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Wei Li tahu satu hal dengan pasti: Ia bisa salah. Ia bisa hampir jatuh. Tapi selama ia masih memilih—selama ia masih berhenti sebelum garis itu dilanggar ia belum kalah. Belum.

1
Midah Zaenudien
bgus sih cuma si wenli ini kurg bar2 terkesan ragu dn entahlah RS x stuk d tempat
Midah Zaenudien
boleh GK alur x GK muter2 dn peran sin Wen li ini lebih bar2 rasa x geram benar dlm mengmbil keputusan bnyk yg bikin kesal
BONBON
ceritanya sejauh ini bagus tetapi bahasanya belibet kek baca nopel terjemahan. rasa baca cerita AI juga😭, mungkin bisa diedit bahasanya...
Parno Pino
masih aman tapi...
Parno Pino
baru mulai baca
Parno Pino
seruu
Queen AL
nama sudah ke china-chinaan, eh malah keluar bahasa gue. tiba down baca novelnya
@fjr_nfs: maaf ya, terimakasih untuk masukannya
total 1 replies
@fjr_nfs
/Determined/
@fjr_nfs
/Kiss/
Milkysoft_AiQ Chhi
uhuyy Mangat slalu🤓💪
@fjr_nfs: /Determined/
total 1 replies
Jhulie
semangat kak
@fjr_nfs
jangan lupa tinggalkan like dan komennya yaa ☺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!