"sakit memang sakit rasanya, kecewa memang kecewa yang ku dapatkan, tapi akulah yang memilih untuk mencintaimu.
namun, gadis sepertiku pun juga masih punya hati, bukan?
aku lelah, sungguh
dan aku memilih menyerah untuk membebaskan diri dari belenggu istri tak di anggap" Bila
"seharusnya aku membelikanmu bunga dan memegang tanganmu,
seharusnya aku memberikanmu seluruh waktuku selama aku masih memiliki kesempatan" Marva
##
jangan terlalu membenci sesuatu yang akan menjebakmu terperangkap dalam lubang penyesalan
karna akan tiba masanya yang disia-siakan berhenti mencintai dan yang menyia-nyiakan baru mulai mencintai saat semuanya sudah tak terjangkau lagi
dan jangan memanfaatkan kesempatan kedua karna tak semua orang akan memberikannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mickey Mouse24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan
Wanita muda itu memijit pelipisnya, rasa pusing yang menyerangnya sejak semalam masih terasa pagi ini.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan menyadarkan Ceo cantik itu dari pikiran kalutnya
"masuk!"
"ada telpon dari nyonya Caroline, nona" ujar Jeal menyerahkan ponselnya pada Manda
"moma?" lirih Manda sambil menerima ponsel sekertarisnya
"ya, mom?" ujar Manda setelah menempelkan benda canggih itu di telinganya
"ada apa sayang? Kenapa kamu tak mengangkat telpon moma, hm?" cercah Caroline sarat akan nada khawatir
Manda langsung mengambil tasnya dan memeriksanya, pantas saja ia tak mendengar bunyi panggilan masuk, nyatanya ponselnya dalam mode silent
"maaf mom, Manda lupa mengaktifkan mode deringnya" balas manda tak enak
"apa disana serumit itu?" tanya Caroline, karna tak biasanya Manda mengaktifkan mode silent ponselnya, kecuali jika wanita itu tak ingin di ganggu
Manda menghela napas panjang yang bisa didengar jelas oleh momanya di seberang sana. Urusan perusahaan kali ini memang sedikit rumit. Mommy twins itu sengaja memode silentkan ponselnya sebab sedari pagi sekertaris tuan sucipto terus menghubunginya
"mereka.. Mereka ingin Manda.."
"jika berat tinggalkan saja, kembalilah bersama twins dan Jefry, moma dan mami merindukan kalian, persetan dengan perusahaan, nak" ucap Caroline memotong ucapan manda yang sepertinya cucunya itu sangat tertekan di sana
"kami juga merindukan kalian, hanya saja.. Hanya saja Manda tak boleh menyerah akan perusahaan, banyak karyawan yang mengantungkan hidupnya disini, mom" ya, selain alasan tak ingin membuat usaha yang dibangun kakek ivander dengan susah payah harus gulung tikar, Manda juga memikirkan ratusan karyawan yang mengantungkan hidupnya dengan gajinya di perusahaan cabang ini
"jadi kamu menerima tawaran mereka?" tanya Caroline membuat Manda menatap Jeal.
"maaf nona" ujar Jeal merasa tak enak
"jangan memarahinya sayang, moma yang memaksanya untuk memberi kabar keadaan kalian disana"
"Manda akan menerima tawaran tuan sucipto, tapi_tapi twins harus menemani Manda disini, mom" putus Manda
"tak masalah sayang, asal kehadiran twins bisa membuatmu semangat, moma akan mengurus semuanya disini" ujar Caroline, meski jauh di dalam lubuh hati wanita tua itu tak rela berpisah cukup lama dengan cucu dan cicit-cicitnya
"makasih moma" ujar Manda tulus, ia pikir momanya tidak akan membiarkan twins menemaninya dan membuat 2 anak kembarnya itu membolos, nyatanya momanya tak masalah meski Manda tau jika keluarganya disana akan sangat berat melepas mereka terlalu lama.
"baik-baik disana sayang, jaga kesehatan, jaga pola makan, dan jangan memaksakan diri" peringat momanya
"mi, bilang padanya jangan lagi mengabaikan panggilan kita" Manda tersenyum geli mendengar suara samar-samar maminya, Aline di sebarang sana
"iya, maafkan Manda mi, mom. Janji tak akan mengulangi" ujar Manda sebelum Caroline menyampaikan pesan Aline, toh telinga Manda setajam itu bisa mendengar bisikan maminya
"kamu tuh yah, mami sama moma panik tau nggak disini, ditelpon ponsel aktif tapi nggak dijawab-jawab, jantung mami cuma satu yah, kalau mami kena serangan jantung karna kamu tak kunjung beri kabar gimana?" cercah Maminya panjang lebar yang kini mengambil alih ponsel Caroline, wanita setengah baya itu meluapkan kekhawatirannya
Sedang Manda sudah biasa akan ke protektifan keluarga Ivander pada dirinya, apalagi moma dan maminya. Kedua wanita berdarah sama itu tak pernah absen mengabari Manda setiap malam dan pagi jika Manda tengah berada diluar negeri atau kota untuk mengurus cabang perusahaan Ivander Corporate.
"Manda rindu masakan mami" ujar Manda mengalihkan pembicaraan
"apa mami menyusulmu, mami bisa kok tinggal lama di indo asalkan ada kamu sama twins" kan, sebaik itu mereka pada seorang Nabila Amanda yang tak memliki hubungan darah dengannya. Bahkan wanita setengah baya yang mengantikan sosok ibunya selama 4 tahun belakangan ini langsung menawarkan untuk menyusulnya untuk menemani di negara yang pernah membuat trauma mendalam pada sosok wanita yang biasa Manda panggil dengan sebutan Mami itu
Perbincangan melalui ruang udara itu berakhir saat waktunya Manda harus menghadiri rapat dengan para pemegang saham perusahaan
"anda baik-baik saja, nona?" tanya Jeal yang melihat raut wajah Manda pagi ini sedikit pucat. Jeal khawatir nona bosnya ini kecapean, semalam saat pulang dari acara jamuan di ibu kota, mereka langsung kembali terbang ke Bali membawa serta Jefry dan twins
"aku baik, Jeal"
"kita harus segera menyelesaikan rapat ini agar kita bisa mengejar jam terbang daddy Twins" ujar Manda berusaha tampil semangat
Ya, siang ini yang harusnya tadi subuh Jefry harus balik ke Amerika sebab ada beberapa pasien VIPnya yang membutuhkan tenaganya, sebenarnya Jefry enggan untuk balik jika Manda dan Twins tidak ikut, tapi Manda memberikan pengertian, karna mommy twins itu sadar bahwa ada jiwa banyak orang yang harus Jefry selamatkan dan daddy twins itu sebenarnya juga sadar akan hal itu. Itu adalah kewajibannya atas ikrarnya sebagai dokter kejiwaan, dan ia tak boleh mangkir terlalu lama.
\=\=\=
Sedang di seberang kota lain, seorang pria dewasa terbangun dari tidurnya di atas pembaringan, ia mengedarkan pandangannya memindai kamar yang dijaganya dengan sepenuh hati selama kepergian wanitanya kini telah ia hancurkan sedemikian rupa
Sepulang dari acara jamuan tadi malam, ia yang di landa rasa kecewa dan sakit hati melampiaskan perasaannya pada barang-barang yang Bila tinggalkan di kamar wanita itu, ia menyapu bersih seisi kamar hingga semua kini berserakan di lantai
Ingatannya membawanya pada kejadian semalam, sakit hatinya kembali menyesakan dadanya kala senyuman wanita itu terngiang di benaknya, senyuman manis yang bukan diperuntukan untuknya.
"Arghhh!!!" Marva melempar bantal satu-satunya yang masih bertahan di atas ranjang ke lantai menyusul beberapa benda milik Bila yang tegeletak mengenaskan di lantai
Ia kembali mengamuk saat mengingat jika kini wanita itu sudah memiliki anak yang bukan darinya tapi dari pria lain, yang mungkin kini sudah menjadi suami dari wanita yang pernah menjadi istri pilihan orang tuanya itu
"apa pria itu memperlakukan mu dengan baik hingga kamu terlihat begitu bahagia" lirih Marva bertanya
"aku harus apa, Bila? Aku tidak akan rela melepasmu begitu saja" monolog Marva terdengar pilu
Tok
Tok
Tok
"tuan, den vino demam" lapor pengasuh Arvino di balik pintu yang tertutup rapat
Ucapan pengasuh putranya membuat Marva tersadar, Ia beranjak dari pembaringan, saat di ambang pintu, langkahnya terhenti melihat buku diari warna pink yang pernah dibuangnya di tempat sampah 4 tahun lalu namun kembali ia selamatkan dan menyimpannya dengan rapi di rak buku Bila, namun lihatlah sekarang buku itu kembali berakhir menyedihkan di lantai, hendak meraihnya namun ingatan Marva kembali akan kejadian semalam membuatnya geram dan menendang buku itu hingga berakhir di kolom ranjang.
Jika dulu ia tak sanggup membaca sampai habis isi catatan harian Bila karna setiap ia membacanya ia selalu dicekik dengan rasa bersalah, bukannya tak siap membaca potongan-potongan kejahatannya, tapi karna ia bisa saja mati di dera rasa penyesalannya jika nekat melanjutkan membaca coretan tangan wanita itu, bukannya selama ini ia selalu dihantui dengan memori kejahatannya sendiri pada Bila? jadi cukup ia menerima penghakiman atas memorinya, alhasil ia hanya menyimpan buku diari iti sampai ia bisa bertemu kembali dengan pemiliknya dan memohon ampunan, namun kini sepertinya itu tidak berlaku lagi, nyatanya wanita itu tak sebaik dan sepolos yang Marva pikir, wanita itu dengan gampangnya berpaling dan menghianatinya. Marva tak perlu memohon maaf, dan barang-barang Bila yang dijaganya hingga kini tak lagi penting, termasuk buku diari itu.
Bersambungg..
#######
makin berantakan kosakataya, maapin yak
Salam Mickey Mouse 24
Dari Dunia Halu