Luna Christina seorang gadis mandiri, ceria dan baik hati namun sedikit bar-bar, rambut birunya yang unik menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap orang yang melihatnya. Dia terikat skandal dengan seorang pria lumpuh yang ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Ia terpaksa harus menikah dengan Gamaliel Park seorang pria dingin yang diselamatkannya. Tanpa Luna ketahui pria itu adalah CEO dari perusahaan terbesar di negeri ini.
Misteri dan masa lalu apakah yang akan terungkap melalui pernikahan mereka?
Akankah Luna mampu bertahan dengan Gama yang terpuruk? apa yang akan Gama lakukan untuk menguak misteri kematian keluarganya? silahkan dibaca!!!
Season 2
Bima si pria dingin yang sudah menginjak usia 34 tahun belum juga menemukan tambatannya hatinya, dia hanya pasrah dan tidak memikirkan hal itu, baginya menjalin hubungan dengan seseorang akan sama beratnya dengan membangun bisnis dengan perusahaan besar.
Suatu hari dia bertemu seorang gadis sedingin Es yang ternyata sama sama dikhianati oleh kekasih mereka masing-masing.
Cinta pertama Bima menikah dengan cinta pertama gadis itu, saat mantan mereka muncul dihadapan mereka masing-masing, meminta untuk kembali membangun hubungan, saat itulah keduanya menghancurkan kedua masa lalu mereka dengan cara menjalin pernikahan kontrak!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Harsie Alive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
"Cantik, sangat cantik, gadis tercantik itu milikku," batin Gama
"Dia tampan sekali, huffft kenapa jadi panas begini ya," gumam Luna
...****************...
Gama dan Luna sudah tiba di depan rumah, Gama cukup terkejut saat ia melihat Luna ternyata gadis itu terlelap, pantas saja sedari tadi ia tak mendengar ocehan gadis itu.
Gama menatap wajah cantik Luna, wajah polos yang tengah terlelap itu begitu damai dan tenang. Tampaknya Luna begitu kelelahan hari ini.
Gama menatap Luna, ia menyingkirkan anak rambut di wajah Luna, tangannya perlahan mengelus beberapa bagian wajah Luna yang terluka karena berkelahi di alun-alun desa tadi.
"Dasar gadis bar-bar, wajahmu terluka lagi kenapa harus berkelahi sih," gumam Gama.
Dia terus menatap gadis yang kini menjadi istri sahnya. Hatinya terasa hangat melihat wajah Luna meskipun omelan gadis itu selalu membuat telinga panas, ada saja ocehan gadis cantik itu.
"Sepertinya aku mulai jatuh cinta padamu," gumam Gama sambil tersenyum, wajah tampannya pasti membuat siapa saja jatuh hati dengan pria itu. Gama menyadari rasa baru di hatinya, rasa yang tidak pernah ia rasakan bahkan saat bersama mantan tunangannya Tiara.
"Perasaanku bahagia saat bersamamu, aku berharap ini bukan hanya sekedar rasa nyaman sesaat," batin Gama.
Cukup lama pria itu menatap Luna dengan posisi menyamping.
Melihat pergerakan dari Luna, Gama segera memundurkan tubuhnya dan duduk seperti biasa sambil menatap gadis itu.
"Emhh...hooooaaaammmmm....udah...nyam..pe....ya....arghhhh, eghhhh," ucap Luna yang sudah bangun dari tidurnya.
krekk....krekk..kretakk
Terdengar bunyi tulang-tulang Luna saat gadis itu meregangkan otot-ototnya yang terasa pegal karena tidur di dalam mobil.
"Loh kok udah gelap?" ucap Luna sedikit terkejut saat melihat hari sudah gelap menandakan bulan sudah berkuasa atas langit.
"Ya gelaplah, kau tidur sampai dua jam," ketus Gama dengan wajah kesal walaupun sebenarnya hatinya senang bisa menatap wajah Luna untuk waktu yang lama.
Kalau boleh jujur, sebenarnya Gama tidak tega membangunkan gadis itu, seandainya kakinya tidak lumpuh, Gama pasti sudah mengangkat gadis itu ke dalam rumah.
"Aku harus sembuh kalau seperti ini ceritanya, Luna butuh pria normal Gama!" batin Gama saat melihat wajah polos Luna yang baru bangun itu.
"Kenapa gak dibangunin sih," omel Luna yang malah ikutan kesal.
"Lah kamu tidur udah kayak kerbau, kamu dibangunin juga gak dengar dasar kebo!!" ledek Gama.
"Hisshhh....kamu yang salah malah aku yang di ejek, dasar om-om kurang umur!" ledek Luna tak mau kalah.
"Udah tau gelap bukannya dibangunkan malah didiemin, liat ini udah jam delapan dasar bodoh, kamu belum makan belum minum obat, nanti kalau sakit lagi gimana?" gerutu Luna sambil keluar dari mobil dan membawa kursi roda Gama.
"Sini, dasar memang ya kalau om-om kurang umur gitu bikin kesal aja! belum lagi harus masak makan malam, harusnya bangunin dari tadi," kesal Luna sambil menopang tubuh Gama untuk naik ke atas kursi roda.
Gama sudah pasrah, ia tak bisa membalas Omelan gadis itu, sepanjang jalan menuju rumah mulut Luna terus menggerutu saking kesalnya karena tidak dibangunkan.
"Mulutmu terus komat Kamit, kau sedang baca mantra ya," ledek Gama yang mulai resah dengan gerutuan gadis cantik itu.
"Apa! dasar udah tau malam bukannya dibangunin, ck....diam disini aku buat makan malam dulu, jangan bawel!" ketus Luna dengan wajah marah sekaligus khawatir sebab Gama baru pulih, ia tidak mau jika pria itu sakit lagi.
Luna meninggalkan Gama di ruang santai sendirian, Gama menatap punggung gadis itu sambil tersenyum. Satu lagi nilai plus wanita itu dimatanya, sikap perhatian yang diberikan Luna padanya terasa sangat tulus.
Luna memasak makan malam sederhana dengan cepat. Ia mengikat rambutnya tinggi ke atas sehingga menunjukkan leher mulus dan jenjang miliknya.
Tangannya bergerak cepat dan kakinya melangkah kesana kemari menyiapkan makan malam untuk dirinya dan Gama.
Setelah selesai, Luna membawa bungkusan obat dan makan malam ke ruang santai.
"Ayo makan dulu, setelah itu minum obatmu," ucap Luna sambil meletakkan makanan di atas meja dengan hati-hati.
Gama menurut saja dengan gadis itu toh perutnya sudah lapar dan bukan waktunya berdebat dengan Luna.
Luna duduk di samping Gama agar pria itu tidak perlu turun ke lantai, mereka makan dengan khidmat tak ada pembicaraan, hanya dentingan sendok yang terdengar.
Seperti biasa makanan yang dimasak Luna sangat cocok dengan lidah Gama bahkan mungkin mulai saat ini ia hanya mau makan makanan yang dimasak oleh Luna.
"Makan obatmu, kemarikan tanganmu!" ucap Luna sambil mengeluarkan beberapa macam pil dan meletakkannya di telapak tangan Gama.
Gama menerima obatnya dan meminum semuanya dalam sekali tegukan.
"Oke sudah beres," ucap Luna.
Gadis itu membersihkan bekas makan mereka, setelah beres dan rapi ia kembali ke ruang santai.
"Hufftt...beres," ucap Luna sambil mendaratkan tubuhnya di samping Gama.
"Apa melelahkan?" tanya Gama.
"Tentu saja melelahkan coba kau yang masak, nyuci piring, beres beres rumah, melayani orang lain mana jualan lagi pasti kau merasakan bagaimana rasanya hidup yang melelahkan," ucap Luna blak-blakan.
"Kalau aku bilang tidak melelahkan terlalu drama, mana ada kerja yang gak lelah iya nggak?" ucap Luna sambil menatap Gama.
"Kamu bener sih, kupikir tadi kau akan mengatakan aku tidak lelah, aku sudah biasa aku melakukannya dengan senang hati bla...bla...bla, heheheh" kekeh Gama.
"Hiiii...nggak lah ya, coba kau tanya semua wanita di luar sana apa mereka tidak lelah jika harus melakukannya hal yang sama setiap hari, itu melelahkan," ucap Luna sambil memandang Gama.
"Tetapi bukan berarti aku tidak mau dan tidak tulus melakukannya, rasa lelah saat bekerja mungkin terasa setiap hari, badan pegal, kaki capek, otak juga capek," ucapnya.
"Tapi saat melihat orang-orang yang kita sayangi memakan masakan kita, para pelanggan yang setia, semua orang menikmati, meski lelah tapi rasanya senang disini," ujar Luna sambil menunjuk dadanya sambil tersenyum.
Gama menatap Luna kagum, ia ikut tersenyum sambil menatap mata Luna. Mata mereka saling berpandangan beberapa detik hingga muncul getaran-getaran aneh di hati keduanya.
"Ekhmm..." Luna berdehem dan langsung mengalihkan pandangannya, rasanya gugup saat melihat wajah tampan itu di hadapannya.
Sejenak terjadi keheningan di antara keduanya.
"Fuhhh.... ehem..."
"Eh...emmm....Luna, bisa bantu aku ke kamar aku ingin mandi, rasanya gerah dan lengket,"ucap Gama memecah keheningan di antara mereka.
"Ah ba..baiklah, sebentar ya,"
Luna mengambil kursi roda Gama dan membantu pria itu naik ke atasnya, mereka menuju kamar.
"Apa kau bisa?" tanya Luna.
"Tentu bisa, apa kau mau membantuku?" tanya Gama dengan tatapan jahilnya.
"Eh...Ng..nggak deh, aku ambil pakaian kamu dulu," ucap Luna yang malah merona.
Luna membawakan pakaian ganti Gama dan handuk baru yang sudah di belinya dari toko tadi.
Luna masuk ke kamar mandi dan menyiapkan air mandian untuk Gama, tak ada bathtube disana, Luna mengambil ember ya ukurannya besar dan mengisi air ke dalamnya.
Ia menyiapkan sabun dan kebutuhan lainnya dan mendekatkannya ke dekat ember agar suaminya bisa meraihnya, kursi kecil juga disiapkannya agar Gama nyaman.
"Oke beres, perlu ku bantu masuk ke dalam?" tanya Luna, Gama mengangguk.
Luna mendorong kursi roda Gama ke dalam kamar mandi dan meninggalkannya melakukan aktivitasnya disana.
Luna sedang berada di ruang santai, tiba-tiba ada suara mobil berhenti di depan rumahnya.Luna cukup terkejut, ia berjalan mendekati jendela dan mengintip siapa yang datang.
"Waduh siapa itu? tiga mobil mewah itu ngapain kesini? jangan bilang mereka tersesat!" gumam Luna mengintip mobil itu dari dalam rumah.
Tok....tok...tok
Tok...tokk..tokkk
"Ada orang!!" teriak mereka dari luar
.
.
.
wadaw siapa nih?????????
like, vote dan komen 😊😉😊😉