NovelToon NovelToon
Kurir Nyawa Jangan Buka Paketnya

Kurir Nyawa Jangan Buka Paketnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Horror Thriller-Horror
Popularitas:208
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Penasaran dengan ceritanya langsung aja yuk kita baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: SIDANG PARA PEMILIK BAYANGAN

BAB 24: SIDANG PARA PEMILIK BAYANGAN

Arga menatap undangan hitam itu dengan saksama. Tulisan emas di atasnya seolah bergerak, seperti cacing-cacing kecil yang menggeliat. Ia tahu ini adalah jebakan, namun ia juga tahu bahwa selama "Dewan Penjaga" ini ada, ribuan pemuda lain akan terus menjadi korban seperti dirinya.

"Ibu, aku harus pergi lagi," ucap Arga pelan.

Ibunya melihat undangan itu dan seketika wajahnya memucat. "Itu simbol Ouroboros Terbalik... Arga, mereka bukan lagi hantu atau setan. Mereka adalah manusia yang sudah menukar jiwanya dengan keabadian. Mereka lebih berbahaya dari Pengawas mana pun."

"Aku tidak punya pilihan, Bu. Jika aku tidak datang, mereka akan terus mengirimkan 'Pengawas' ke rumah ini."

Arga mengambil sisa Kunci Tulang Emas yang kini telah menyatu dengan energinya. Ia mengonsentrasikan pikirannya pada lokasi yang tertera: Sektor 00. Bukan lagi melalui cermin, kali ini Arga membuka gerbang dimensi langsung di udara kosong dengan menyayat ruang menggunakan cahaya putih di tangannya.

SRET!

Arga melangkah masuk ke dalam retakan dimensi tersebut. Ia tiba di sebuah ruangan bundar yang sangat luas dan gelap. Hanya ada dua belas kursi tinggi yang melingkar, dan di tengahnya terdapat sebuah meja batu besar.

Hanya lima kursi yang terisi. Sosok-sosok yang duduk di sana mengenakan jubah putih bersih, namun wajah mereka ditutupi oleh topeng porselen tanpa ekspresi.

"Arga, sang Kurir ke-30 yang gagal," suara salah satu dari mereka menggema, terdengar tenang namun berwibawa. "Atau haruskah kami memanggilmu... Sang Penjaga Gerbang Ilegal?"

"Cukup basa-basinya," Arga berdiri di tengah lingkaran. "Kalian yang mengatur semua ini? Kalian yang membuat ayahku menderita?"

"Kami adalah Dewan Logistik Jiwa," jawab sosok di kursi tengah. "Dunia membutuhkan keseimbangan. Ada nyawa yang harus diambil agar nyawa lain bisa tumbuh. Gudang-gudang itu hanyalah kantor cabang. Kau telah menghancurkan satu, tapi kau tidak bisa menghancurkan sistemnya."

"Aku bisa menghentikan kalian," tantang Arga.

"Bagaimana cara menghentikan sesuatu yang diinginkan oleh manusia sendiri?" sosok lain bertanya sambil terkekeh. "Setiap hari, ribuan manusia meminta kekayaan, umur panjang, dan pembalasan dendam. Kami hanya menyediakan 'biaya pengirimannya'. Kurir-kurir itu adalah alat bayar dari doa-doa manusia yang serakah."

Arga terdiam. Pernyataan itu menghantamnya lebih keras dari pukulan fisik. Jadi, Gudang ini ada karena keinginan manusia sendiri.

"Kami memanggilmu ke sini bukan untuk menghukummu," lanjut Ketua Dewan. "Tapi untuk menawarkan posisi. Kami butuh seorang Kepala Logistik Baru. Jika kau setuju, kami akan menghapus semua kontrak kurir di kotamu. Ibumu akan hidup abadi, dan kau akan memiliki kuasa atas hidup dan mati."

"Dan jika aku menolak?"

"Maka kota ini akan mengalami 'Gagal Pengiriman' massal. Besok pagi, semua orang yang pernah menerima paket dari gudang—termasuk mereka yang tidak tahu apa-apa—akan mati secara serentak."

Arga mengepalkan tangannya. Simbol ∞ di tangannya bergetar hebat. Ia melihat ke arah meja batu. Di sana, terdapat sebuah Daftar Manifest besar yang berisi ribuan nama warga Jakarta.

Tiba-tiba, Arga melihat sesuatu yang aneh melalui koin emasnya. Di balik topeng porselen para anggota dewan, tidak ada manusia. Mereka adalah kumpulan asap hitam yang padat, yang diikat oleh rantai emas ke meja batu itu.

"Kalian juga tawanan," bisik Arga menyadari kebenaran yang mengerikan. "Kalian bukan pemilik sistem ini. Kalian adalah kurir-kurir pertama yang terjebak di sini selamanya!"

Wajah-wajah bertopeng itu mendadak kaku.

"Kau tahu terlalu banyak, Arga!" Ketua Dewan berdiri. "Pilih sekarang: Menjadi bagian dari kami, atau hancur bersama kotamu!"

Arga tidak memilih. Ia justru menghujamkan Kunci Tulang Emasnya bukan ke anggota dewan, melainkan ke Meja Batu di tengah ruangan.

"Jika sistem ini hidup karena doa manusia, maka aku akan menghancurkan 'Buku Doanya'!"

Apakah menghancurkan Meja Batu Manifest akan membebaskan semua orang, atau justru memicu kiamat kecil yang diramalkan oleh Dewan?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!