Gendis tidak pernah menyangka di umurnya yang baru menginjak 17 tahun ia sudah harus menyandang status sebagai calon istri seorang Dewa Ganesha, seorang tentara yang memiliki jarak usia tiga belas tahun dengannya.
"Gue mau mati aja, hiks."
Gendis Mahesa.
Demi neneknya yang sudah merawatnya sejak bayi, Dewa melepas kebebasannya sebagai lelaki merdeka. Ia yang terbiasa sendiri dan hidup bebas menikmati kepopulerannya dimata para wanita harus terikat dengan seorang gadis yang baru saja lulus SMA yang kini sedang menempuh pendidikan di luar negeri sebagai calon ilmuwan.
"Anjaaaay! Gue mau nyentuh ni anak berasa ******* bangat."
Dewa Ganesha
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LeeGo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang
Dewa memandangi gadis di sampingnya yang sejak tadi mengemut lolipop. Mereka baru saja sampai di Jakarta dan Dewa sepanjang perjalanan tadi tak habis merutuk dirinya yang telah lancang memimpikan Gendis. Ya, yang semalam itu hanyalah mimpi. Mimpi erotis yang seharusnya tidak terjadi. Astaga, bahkan alam bawah sadarnya menginginkan gadis itu. Bisa-bisanya, Dewaaaaa.
"Bisa kali gue pulang sendiri.”
Dewa bahkan mengabaikan gerutuan Gendis sejak mereka menginjakkan kaki kembali ke ibu kota. Pikiran Dewa sepenuhnya tersita oleh kesibukannya merutuki dirinya sendiri. Tak mau mengambil resiko, Dewa memutuskan mengantar sendiri Gendis ke rumahnya. Kan tidak lucu kalau gadis itu sudah jauh-jauh di jemput malah tidak sampai di rumahnya.
"Abang!“
Dewa melirik Gendis dengan sudut matanya, ”Apaan?“
Gendis memegang perutnya, ”Lapeeer.”
Alis Dewa naik satu, tadi keukeh pengen pulang sendiri sekarang minta makan, dasar ABG labil. ”Kamu baru saja ngabisin dua burger sekaligus masih laper juga?”
Gendis mengangguk polos.
Dewa menggeleng tak habis pikir. Badan sih boleh kecil, perut elastis ternyata.
”Khm” Dewa berdehem, mau gimana lagi tanggungjawabnya pada anak ini harus totalitas, ”Nasi padang mau?”
"Boleh.” Angguk Gendis senang. Tampang polosnya benar-benar membuat Dewa mengutuk habis dirinya. Dia bermimpi panas tentang gadis yang mirip kelinci ini tadi malam. Parah sekali Dewaaa.
"Nggak mau pulang.”
Kali ini Dewa ingin mencolok mata yang mengerjap lucu itu. Ia tidak akan tergoda, "Nggak. Habis makan, kita langsung ke rumah kamu.” Ucapnya sembari mendorong wajah Gendis yang berusaha melumpuhkannya dengan mata lucunya itu.
“Ngga asik.” Gerutu Gendis sembari menjatuhkan kepalanya di bahu Dewa. Bukan menjatuhkannya dengan lembut tapi sengaja memang diantuk-antukkan iseng. Dewa melihat kelakuan Gendis hanya bisa memupuk sabar sebanyak-banyaknya.
"Nanti sakit kepala.” Katanya sembari mengapit gadis itu di ketiaknya, ”Diem!“
Gendis yang tadinya ingin memberontak tidak jadi melakukannya karena dada Dewa senyaman itu dipakai bersandar. Senyumnya tak bisa di tahan. Nyaman bangat ni abang-abang satu. Dengan penuh kesadaran Gendis melarikan tangannya memeluk perut Dewa. Nyaman itu berbahaya, Ndis. Satu bagian dalam dirinya mengingatkan tapi--- yakan namanya nyaman mau gimana lagi.
"Jangan tidur.” Dewa mengingatkan namun Gendis sengaja malah memejamkan matanya dan lama-lama ia benar-benar tertidur.
。。。
Dewa duduk di kursi tamu keluarga Gendis dengan punggung tegak. Dia baru saja mengantarkan Gendis di kamarnya. Rencana makan mereka jelas saja tidak jadi karena sepertinya Gendis tak benar-benar ingin makan melainkan hanya mengulur waktu.
"Jadi keputusan kamu sudah bulat?”
Dewa tak langsung menjawab. Papi dan Mami Gendis menunggu dengan sabar. Ia baru saja mengatakan pada orangtua Gendis mengenai keputusannya untuk membatalkan perjodohan dan membahas masalah kuliah Gendis.
"Oke tapi perjodohan ini tidak bisa dibatalkan. Jika bukan dengan kamu maka kami akan menemukan laki-laki lain untuk Gendis.”
Kalimat itu membuat Dewa menegang.
"Kami punya alasan kuat kenapa menjodohkan Gendis, menikahkannya di usia muda.” Sambung Mami Gendis dengan wajah sedih. Dewa yang melihat gurat khawatir di wajah kedua orangtua itu jadi bertanya-tanya alasan apa yang membuat mereka melakukan ini. Gendis hidup dalam kemewahan, Gendis pun sepertinya bukan anak yang suka macam-macam di luar rumah. Anak itu rajin dan katanya sih pintar meskipun Dewa ragu akan itu melihat betapa polosnya Gendis. Lebih dari itu, Gendis adalah gadis yang peduli pada kesulitan orang lain. Jika masalah keamanan, mami papinya jelas mampu melindunginya jadi apa?
"Boleh saya tau alasan itu, Tante?” Tanya Dewa tak mau disiksa rasa penasaran.
Mami Papi Gendis menghela nafas pendek. Lalu keduanya memberi kode mengangguk samar.
"Kami hidup di dunia bisnis, Dewa. Banyak hal yang bisa terjadi kapan pun dan dimana pun. Kami tidak mau Gendis berada dalam bahaya. Keluarga Guntoro menginginkan Gendis menjadi menantu. Mereka keluarga yang sangat berpengaruh dan juga berbahaya. Kami tak masalah jika stabilitas perusahaan yang terancam tapi tidak sanggup jika Gendis yang berada disituasi berbahaya.”
Dewa masih menyimak. Terus terang saja ia tidak mengenal keluarga Guntoro. Ia yang hidup di kasta menengah roda perekonomian hanya mengenal gaji bulanan dan uang bayaran kos setiap akhir tahun dari orang-orang yang menyewa kos-kosannya jadi jika yang dibahas adalah para crazy rich, mungkin Gibranlah yang bisa menjelaskan untuknya.
"Putra mereka, Gerald menginginkan Gendis sejak lama tapi kami tidak bisa menyerahkan putri kesayangan kami pada lelaki yang menjadikan wanita sebagai koleksinya. Gendis berharga. Gendis harus bersama orang yang tepat.”
Oke, Dewa setuju. Malaikat seperti Gendis harus berpasangan dengan malaikat juga tapi kenapa dirinya?Kenapa pria yang mungkin tak lebih baik dari si Gerald gerald itu yang dipilih untuk Gendis?!
"Tapi kenapa saya, Om?Bagaimana Om dan Tante bisa yakin kalau saya adalah orang yang tepat untuk putri kalian. Saya bisa saja tidak lebih baik dari putra Guntoro.” Tanya Dewa menatap bergantian Mami dan Papi Gendis. Oke, kalau Si Gerald itu jahat tapi dirinya pun tak sebaik itu untuk dipilih menjadi menantu bagi seorang gadis yang memiliki nama malaikat sebagai nama tengahnya?!Dirinya pun seorang pencinta wanita.
"Nak Dewa seorang tentara.” Jawab Mami Gendis membuat Dewa mengerutkan kening. Memang ada nilai lebihnya hal itu?Kalau di ukur gajinya, jelas menang banyak seorang pengusaha dibandingkan seorang tentara yang di gaji tak cukup sepuluh juta sebulan. Gaji standar seorang TNI berapa sih?!Lebih banyak juga hasil dari rumah kos kalau dia hitung-hitung.
"Nak Dewa tidak akan mendua dan pasti akan berpikir berkali-kali untuk menghianati anak kami. Sedikit banyak kami sudah mengetahui bagaimana ketatnya kehidupan seorang prajurit.” Lanjut Mami Gendis membalas tatapan Dewa yang terlihat gamang. ”Dan kamu sangat menyayangi Nenek Ida. Seorang laki-laki yang lembut pada orangtuanya apalagi orangtua perempuan pasti memiliki hati yang lembut dan penyayang. Kamu tidak akan tega menyakiti Gendis.”
Kesimpulan dari mana itu?Dewa rasanya ingin membuka isi kepala dua orang di depannya ini dan mengecek apa yang sedang mereka pikirkan. Aduh, kenapa mendapat penilaian yang positif ia malah takut ya?
"Kamu laki-laki pertama yang diizinkan Gendis bertemu dengan kami. Dia pasti tidak merasa terancam olehmu.” Tambah papi Gendis membuat Dewa meringis.
Itu dulu sebelum kejadian pelecehan itu terjadi. Jawab Dewa dalam hati. Dan semalam ia malah memimpikan hal semacam itu. Astaga, Dewa rasanya ingin menanam kepalanya dalam vas bunga di depannya ini.
"Jadi, kalau kamu menolak, kami mungkin akan meminta bantuan Pak Gibran untuk mencarikan seorang pria yang baik di kesatuannya untuk putri kami. Lagian Pak Gibran pria baik sudah pasti tidak akan mengenalkan putri kami. Dia menyayangi Gendis.” Ujar Papi Gendis dengan yakin. Sementara di depannya Dewa mulai membayangkan Jojo, Gio atau Budi, budi yang autis itu yang akan Gibran kenalkan pada keluarga Gendis lalu Gendis menikah dengan salah satu diantara mereka, hidup bahagia dan--dan--- Daaannn... Tidaaaak. Dewa menggeleng kencang. Gendis si tuyul manisnya akan memakai baju hijau dengan sanggul rapi akan ke kantor mendampingi seorang lelaki yang bukan dirinya, bukankah itu sangat mengerikan?BIG NO! Memikirkannya saja Dewa tak sanggup apalagi kejadian itu ada di depan matanya.
"Jangan, Om!”
“Ya?“
Dewa menatap kedua orang didepannya, ”Saya akan menikahi Gendis.”
"Bukannya tadi Nak Dewa sudah membatalkannya?” Pancing Mami Gendis. Papi Gendis mengangguk.
Dewa gelagapan, memang tadi dia membatalkannya tapi itu karena ia ingin Gendis bebas dan bahagia tapi kalau ternyata perjodohan tetap akan dilanjutkan dengan pria lain, itu ceritanya lain. Dewa tidak bisa membiarkan Gendis dimiliki oleh orang lain. Oke, memang belum ada cinta disini tapi ia tidak bisa membiarkan gadis sebaik Gendis bersama orang yang salah. Dirinya memang bukan orang yang benar tapi setidaknya ia yakin bahwa menyakiti Gendis adalah kemustahilan untuk ia lakukan dengan sengaja. Dewa tidak bisa percaya pada laki-laki diluar sana.
"Maafkan saya Om, Tan kalau Saya terkesan plin plan tapi jika perjodohan itu tetap tidak dibatalkan, saya yang akan menikahi Gendis bukan laki-laki lain di luar sana.”
"Kamu yakin?” Tanya Papi Gendis. Disampingnya Mami Gendis diam-diam menyembunyikan senyumnya, siapa yang menduga ternyata cara seperti ini bisa berhasil. Ia akan memberi tahu nenek ida segera.
"Yakin, Om. Tapi sebelumnya saya punya dua permintaan. Saya berharap Om dan tante mau mengabulkannya.”
"Apa itu?“
”Kuliah Gendis. Setelah kami menikah, saya yang akan memutuskan Gendis melanjutkan kuliah di tempat yang sama atau pindah.”
Mami Papi Gendis saling melirik dan tanpa keraguan menganggukinya, ”Silahkan. Gendis akan menjadi tanggungjawabmu sepenuhnya setelah pernikahan.”
Dewa menghela nafas lega, ”Terima kasih.”
"Yang kedua?” Tanya Mami Gendis.
“Biarkan saya mendekati Gendis dengan normal tanpa embel-embel Perjodohan. Saya mau Gendis menerima pernikahan ini karena keinginannya bukan karena paksaan.”
Papi dan Mami Gendis terdiam. Keduanya tidak langsung memberikan jawaban sementara Dewa masih setia menunggu.
Papi meluruskan posisi duduknya, ”Kamu sudah tau kan alasan kami menjodohkan Gendis?Kami tidak mau kelurga Guntoro memiliki kesempatan meminta Gendis secara resmi. Kami tidak akan punya alasan menolak jika Gendis belum memiliki seseorang disampingnya. Tapi jika kalian menikah, tentu akan lain ceritanya.” ujarnya serius. Di depannya Dewa mangangguki. Siapa yang percaya jika laki-laki slengean dan hobi nyinyir ini sudah punya rencana sendiri untuk menyelamatkan hidup seorang gadis. Pria yang masa bodoh dengan orang sekitar bagaimana mungkin tiba-tiba mengorbankan kebebasannya untuk seorang gadis?!Sulit dipercaya.
"Kalau itu Om dan Tante tidak perlu khawatir. Saya akan mengikat Gendis tanpa sepengetahuannya jadi katakan saja jika Gendis sudah memiliki tunangan yang diinginkannya.”
"Tapi kami butuh kepastian.” Ujar Mami Gendis. Ucapan tentu saja tak bisa memberi jaminan.
"Saya pastikan dalam waktu dekat Gendis akan menerima saya tanpa paksaan.”
”Nak Dewa yakin?”
"Saya tidak pernah seyakin ini sebelumnya.” Ujar Dewa menghadirkan kelegaan di wajah Mami dan Papi Gendis.
Yeah, Halu aja dulu, kali aja kejadian. Iya kan, Wa?
***
"Mami dan Papi sudah memutuskan“
Gendis melirik mami dan papinya yang duduk di depannya. Papinya memutuskan apa lagi kali ini?
"Kami akan membebaskanmu untuk kuliah.”
"Maksud Papi?” Gendis terus terang saja belum paham arti ucapan papinya. Dan lagi, ngomong apa Dewa pada orangtuanya, jangan-jangan laki-laki makin menyusahkan hidupnya lagi. Aduh, Gendis mengenyahkan pikiran buruknya. Tidak sehat berpikir buruk pada orang lain terlebih pada Dewa yang selama perjalanan begitu menjaganya.
"Gini sayang, Papi memutuskan untuk membatalkan pemindahan kamu. Jadi Kamu masih tetap mahasiswa di kampusmu yang lama.” Ujar Mami mengambil alih penjelasan suaminya.
Gendis menutup mulut syok, ”Mami gak bohong kan?Ini serius kan pih?” ia tak percaya dengan yang didengarnya ini namun melihat senyum dan anggukan kedua orangtuanya, Gendis langsung berseru heboh, ”Yeiiiiiii makasih Mi, Piih.” Gendis memeluk kedua orangtuanya hangat. Astagaaaa, kebaikan apa yang sudah ia lakukan sampe kedua orangtuanya berubah pikiran seperti ini?Apa jangan-jangan karena ia kabur kemarin?Duuuh... Gendis tersenyum lebar. Harusnya ia pikirkan ide kabur dari rumah sejak awal perjodohan.
"Bilang makasih sama Bang Dewa juga dong.” Ujar Mami mengelus lembut rambut putrinya.
"Kok bang Dewa?” Tanya Gendis tak paham.
"Karena Bang Dewa yang udah yakinin Mami dan Papi. Iya kan Pih?”
Papi Gendis mengangguk, ”Iya.”
"Kok bisa?Anaknya Mami Papi kan Gendis masa yang bisa yakinin malah Bang Dewa?” Gendis protes tak terima. Abang itu baru beberapa kali bertemu orantuanya tapi sudah bisa membuat Mami Papinya mengubah keputusan. Keren bangat tuh.
"Bisalah.” Ucap Mami terkikik geli melihat wajah bingung putrinya.
"Jangan lupa bilang makasih ya Ndis.” Papi mengingatkan putrinya.
Gendis mengangguk meski belum bisa menerima fakta baru ini. Bisa besar kepala tuh orang.
"Mami sudah siapin sarapan, anterin buat Bang Dewa ya. Kasian pasti kecapean, belum belanja juga pasti habis jemput kamu jauh-jauh.” Jelas Mami menunjuk rantang makanan diatas meja yang sudah dia siapkan.
Gendis manyun, ”Gendis nggak minta dijemput kok.”
"Tetap aja ini karena kamu yang kabur-kaburan. Jadi cepetan sarapan trus siap-siap ke asrama Bang Dewa. Sekalian ikut papa.” Jelas maminya panjang lebar. Gendis kesal tapi tak punya pilihan. Hitung-hitung balas budi jugalah karena sudah menggendongnya kemarin dulu.
"Okeee.” Ucap Gendis tak ikhlas. Ia lantas mengambil piring dan mulai sarapan.
。
。
。
Gendis melapor di pos jaga dan menyampaikan tujuan kedatangannya. Dua orang penjaga pos saling melirik, penasaran akan sosok manis yang menanyakan senior mereka yang terkenal dengan kenyinyirannya dan sikapnya yang menyebalkan. Mereka prajurit baru belum pernah bertemu Gendis sebelumnya jadi masih menebak-nebak hubungan keduanya. Beruntung sekali senior mereka satunya itu, selain suster Devi yang hampir setiap sore mengantarkan makanan, kini ada lagi seorang gadis yang lebih muda dari mereka datang dengan rantangnya.
"Kalau boleh tau, Adek siapanya Bang Dewa?” Tanya salah satu tentara muda itu.
"Temennya.” Jawab Gendis tanpa berpikir panjang. Yakan memang teman, teman bukan sih?Ah bodolah.
"Teman?” Kedua prajurit itu mengernyit, menyorot penampilan manis Gendis yang sangat khas gadis remaja metropolitan. Sejak kapan Dewa si pencinta wanita dewasa berteman dengan modelan trio kwek-kwek yang imut gini?
"Iya. Teman. Boleh kan, Pak?Ini KTP saya.” Gendis menyerahkan KTPnya. ”Bersih kok.” Katanya lagi memutar badannya. Tapi bukan itu maksud dua penjaga itu. Mereka yakin Gendis bukan penyusup apalagi mata-mata tapi ini yang mau ditemui Bang Dewa loh si predator. Nggak bahaya nih?
Kedua penjaga itu tak punya pilihan, ”Boleh. Silahkan masuk.KTPnya simpan disini ya Dek.”
"Siap.”
Gendis lantas berlalu dari tempat itu dan dengan langkah ringan memasuki batalyon angkatan darat tempat Dewa berkantor dan juga tinggal tentunya. Saat ia sampai di depan rumah Dewa, matanya menangkap sosok wanita yang duduk di salah satu kursi di teras rumah bercat hijau itu. Senyum sinis Gendis terulas. Playboy kacang ijo!
Gendis melanjutkan langkahnya. Dia langsung menyapa kala sudah berdiri di pekarangan yang tak seberapa itu.
"Selamat pagi.”
Perempuan dewasa dengan setelan putih-putihnya itu berdiri, ”Pagi. Cari siapa Dek?”
“Cari yang punya rumah dong, Tante.” Jawab Gendis tak habis pikir. Memangnya siapa lagi.
"Bang Dewa?” Tanya perempuan itu.
Gendis mengangguk. Ia langsung masuk area teras tanpa melepas sepatunya terlebih dulu. ”Tante siapa?Bang Dewa ada?”
Perempuan itu tak langsung menjawab malah memperhatikannya dari atas sampai bawah hingga kemudian---
"Lha, si bocah ngapain pagi-pagi kesini?” Dewa muncul dengan wajah segar dan juga rapi. Lelaki itu hanya mengenakan kaos putih polos dan celana jeans selutut.
"Nganterin titipan mami. Nih!“ Gendis menyodorkan rantang di depan dada Dewa.
Dewa tak menyangka mendapat dua rantang sekaligus pagi ini. Ia baru saja menyimpan rantang Devi di dalam.
"Abang mau kemana?Kok udah ganteng aja.” Gendis tanpa malu-malu menilai penampilan Dewa dari ujung kaki ke ujung kepala, ”Wangi juga. Mau pacaran ya?” Tebaknya membuat perempuan dewasa yang memperhatikan keduanya diam-diam mengulum senyum malu-malu.
Dewa menyentil kening Gendis gemas, ”Anak kecil nggak usah kepo. Ini Devi, teman abang.“ ujar Dewa mengenalkan perempuan tadi.
Gendis langsung menoleh, ”Devi?Suster Devi?” tanyanya memastikan. Ia memusatkan perhatiannya pada perempuan dewasa yang kini mengulurkan tangan padanya.
"Hai, saya Devi.” Ujar Devi lembut.
Gendis tak langsung menyambut uluran tangan itu. Menimbang sebentar lalu membalas ”Oh, saya Gendis, Tan. Tante mantannya Bang Dewa kan yang mutusin Bang Dewa karena ketahuan naksir temannya?!” ucapnya riang tanpa dosa disertai senyum lebar yang sontak membuat Dewa terbatuk-batuk.
Anjiiiiir nih bocah.
“Ehh--” Senyum Devi berubah kecut, terlihat sekali tak nyaman.
"Tante mending pulang deh. Nggak baik tau pagi-pagi ke rumah mantan apalagi udah ada calon istrinya disini.” Kata Gendis bukan hanya membuat Devi tersengat perih tapi juga wajah Dewa kini makin tak terkendali saking takjubnya.
"Ca-calon istri?” Devi tergagap tak percaya. Ia menatap Dewa bingung.
"Iya.” Gendis tersenyum lebar. Wajah tak berdosanya bertolak sekali dengan apa yang baru dia lakukannya.
Devi langsung kehilangan semangatnya sementara Dewa, laki-laki itu tak kuasa menyembunyikan senyumnya. Tidak heran Gendis masuk genknya Nadia, paling jago kalau urusan mematahkan harapan orang. Ckckckk bocah nakal.
***
Senang ngggaaak???😁
Happy reading 😘
makasih banyak ya ❤🥰💪
sukaakk bangeett sama kebucinan Gendhis Dewa 😍😍