Selama lima tahun, Arka Pradana hidup sebagai suami miskin yang dianggap gagal. Ia bekerja siang malam demi membayar utang keluarga istrinya, Hana. Namun semuanya hancur ketika Arka menemukan kenyataan pahit: Hana dan selingkuhannya diam-diam meracuninya selama bertahun-tahun.
Saat pernikahannya runtuh, sebuah liontin tua justru membangkitkan Warisan Hantala dalam tubuh Arka. Ilmu pengobatan, feng shui, tenaga dalam, dan kemampuan melihat rahasia manusia mengalir ke dalam dirinya.
Dari pelayan klub malam yang diremehkan, Arka berubah menjadi pria berbahaya yang ditakuti dunia bawah Jakarta. Di sisinya muncul Maya Santoso, wanita matang pemilik klub malam; Bianca Lestari, CEO cantik yang dingin dan penuh rahasia; serta wanita-wanita lain yang terseret oleh kekuatan dan pesonanya.
Dulu ia diinjak. Sekarang, siapa pun yang berani mengkhianati, menghina, atau menyentuh orang-orangnya harus siap berlutut di hadapannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12
Mira Surya menarik blazer yang setengah lepas ke dadanya. Wajahnya pucat, tetapi mulutnya masih mencoba keras.
"Liana! Kamu tidak punya hak masuk tanpa izin!"
Liana menunjuk ruang koleksi di sekeliling mereka. "Ini ruang perusahaan, bukan kamar hotel murah. Kamu yang tidak punya hak membawa laki-laki ke sini!"
Pria muda di samping Mira panik. Ia meraih kemeja yang jatuh di lantai, tetapi matanya mencari jalan keluar. Saat melihat pintu hanya dijaga Liana dan Arka, ia menyambar pedang hias dari rak display.
"Minggir!"
Liana belum sempat mundur. Arka sudah maju.
Tendangannya tidak tinggi dan tidak indah, tetapi tepat mengenai titik yang membuat pria itu kehilangan seluruh keberanian. Pedang hias jatuh. Pria itu berlutut, wajahnya berubah ungu, lalu terguling di lantai sambil mengeluarkan suara yang membuat staf di luar ikut meringis.
Liana menatap Arka dengan mata berbinar. "Sepupu, brutal juga."
"Dia bawa senjata."
"Aku tidak protes. Aku cuma terkesan."
Mira gemetar. "Kalian tidak punya bukti. Aku hanya bicara pribadi."
Arka mengangkat ponsel. "Pembicaraan pribadimu cukup jelas. Desain final, imbalan delapan digit, perusahaan pesaing. Mau dengar ulang?"
Wajah Mira langsung kehilangan warna.
Liana menekan interkom. "Keamanan, lantai dua belas, ruang koleksi. Segera. Panggil juga Bu Bianca."
Tidak sampai lima menit, petugas keamanan datang dan mengamankan Mira serta pria muda itu. Setelah itu Bianca tiba bersama beberapa manajer. Hari ini ia memakai kemeja merah anggur yang dimasukkan ke celana hitam pensil. Kacamata tipis di wajahnya membuat seluruh ruangan otomatis terasa seperti ruang sidang.
"Apa yang terjadi?"
Liana melapor cepat, lengkap dengan kemarahannya. Ketika Arka memutar rekaman, para manajer yang hadir saling menatap. Mira tidak lagi bisa berkelit.
Bianca mendengarkan sampai akhir. Wajahnya tidak banyak berubah, tetapi justru itu yang membuat semua orang lebih takut.
"Serahkan ke polisi," katanya. "Legal tangani sampai selesai. Tarik semua hubungan mereka dengan pesaing. Kalau ada orang dalam lain, pecat dan proses hukum."
"Bu Bianca!" Mira menangis. "Saya khilaf. Saya sudah lama bekerja di sini. Tolong beri kesempatan."
Bianca tidak menoleh lagi. "Kesempatanmu habis saat kamu menjual perusahaan."
Mira dibawa keluar. Ruang koleksi kembali sepi, tetapi udara buruknya tetap menempel. Arka berjalan mengitari rak display. Benda-benda antik itu tampak mahal, tetapi qi di sekitarnya gelap dan berat.
"Masalah ruangan ini lebih besar daripada Mira," kata Arka.
Bianca menatapnya. "Jelaskan."
"Sebagian besar benda di sini bukan antik biasa. Banyak yang berasal dari makam. Bawaannya dingin, berat, dan penuh sisa kematian. Kalau satu dua, mungkin tidak terasa. Tapi kalian menyusunnya dengan pola delapan arah, lalu di luar ada akuarium arwana merah yang mengunci hawa dingin. Ini bukan formasi rezeki. Ini jebakan."
Liana merinding. "Pantas beberapa bulan ini proyek selalu macet. Aku kira cuma pesaing main kotor."
"Pesaing memang main kotor," kata Arka. "Tapi formasi ini membuat orang dalam lebih mudah goyah, keputusan lebih sering salah, dan pemiliknya lebih cepat lelah. Bianca kena racun patung, perusahaan kena formasi buruk. Dua-duanya terlalu rapi untuk disebut kebetulan."
Bianca diam beberapa detik. "Cara memecahkan?"
"Kosongkan ruangan ini. Semua benda makam keluar. Ganti dengan tanaman hidup yang kuat. Akuarium di luar dibongkar, arwana merah diganti satu arwana emas. Satu saja."
"Kenapa satu?"
"Terlalu banyak naga dalam kolam kecil akan saling berebut. Satu naga yang benar justru menjaga rumah."
Bianca menoleh pada manajer operasional. "Kerjakan hari ini."
"Hari ini juga, Bu?"
"Kamu mau menunggu kerugian berikutnya?"
Manajer itu langsung keluar mengatur tim.
Bianca mengambil ponsel. Beberapa ketukan kemudian, ponsel Arka berbunyi.
Transfer masuk Rp1.000.000.000.
Arka menatap angka itu. Ia sudah berusaha tenang, tetapi tetap saja tenggorokannya terasa kering.
Liana mengintip layar dari samping dan hampir berteriak. "Satu miliar? Bu Bianca, aku juga mau belajar feng shui."
"Kamu membaca laporan saja sering salah."
"Itu beda bidang."
Bianca tidak meladeni. Ia menatap Arka. "Aku ingin mempekerjakanmu sebagai konsultan khusus Lestari Intimates. Honor tetap Rp100 juta per bulan. Jika ada masalah besar, bonus dihitung terpisah."
Arka mengangkat alis. Rp100 juta sebulan. Beberapa hari lalu angka itu seperti kisah orang kaya di internet.
"Aku sudah punya pekerjaan."
"Sopir Maya?"
"Ya."
Bianca melepas kacamata, lalu tersenyum tipis. "Maya menyia-nyiakan bakatmu."
"Aku juga merasa begitu."
Liana langsung tertawa.
Bianca menatap Arka beberapa detik. "Kalau begitu, aku juga mempekerjakanmu sebagai sopir pribadiku."
Arka terdiam.
Liana bertepuk tangan. "Wah. Kak Maya punya sopir kecil, Bu Bianca punya sopir pribadi. Sepupu, kamu ini sebenarnya buka jasa transportasi atau jasa bikin wanita kaya berebut?"
"Liana."
"Baik, aku diam."
Bianca kembali pada Arka. "Jam kerja bisa diatur. Aku akan bicara dengan Maya. Saat aku butuh, kamu datang. Saat Maya butuh, kamu pergi. Honor konsultan tetap berjalan."
Arka melihat angka satu miliar di ponsel, lalu melihat wanita dingin di depannya.
Ada jebakan di setiap pintu yang terbuka. Tapi pintu seperti ini tidak datang dua kali.
"Baik," katanya. "Aku terima."
Bianca mengulurkan tangan. "Selamat bergabung, Arka."
Tangannya dingin, halus, dan tegas. Saat Arka menjabatnya, Liana tersenyum nakal dari samping.
"Perlu aku siapkan seragam sopir khusus? Yang di bagian dadanya tertulis milik Bianca?"
Bianca menatapnya.
Liana langsung mundur. "Aku urus kontrak."