NovelToon NovelToon
Tuan Muda, Pengasuhmu Galak Lagi!

Tuan Muda, Pengasuhmu Galak Lagi!

Status: tamat
Genre:Asmara / CEO / Healing / Orang Disabilitas / Tamat
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Budiman Sekar, mahasiswi biasa yang butuh uang, melamar kerja di PT Lestari Group. Tapi nasib berkata lain — lamarannya dialihkan, dan dia berakhir jadi pengasuh pribadi nomor 88 untuk Tan Ardian, mantan Direktur Utama yang kini terpaksa duduk di kursi roda setelah kecelakaan misterius.
Ardian dingin. Angkuh. Sudah mengusir 87 pengasuh sebelumnya.
Tapi Sekar bukan orang yang gampang menyerah. Dia berani, blak-blakan, dan tidak takut membalas tatapan tajam sang CEO dengan senyum lebar.
Yang tidak Sekar tahu: Ardian menyimpan banyak rahasia. Tentang kecelakaan itu. Tentang kakinya. Dan tentang buku catatan kulit cokelat yang diam-diam ia tulis setiap malam — "Panduan Memelihara Kucing Hoki."
Isinya? Semua hal tentang Sekar.
"Hari ke-15: Dia tersenyum. Rasanya seperti matahari masuk lewat jendela yang sudah lama tertutup."
*Ketika sang kucing dingin bertemu anjing kecil yang ceria — siapa yang sebenarnya merawat siapa?*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28

Biskuit Petai Terkutuk

Sekar berdiri di depan wastafel cukup lama.

Pink.

Biru.

Dua gelas kumur itu bukan barang lama. Ia ingat jelas kemasannya di supermarket. Ia juga ingat dirinya berkata bahwa kalau membeli gelas pasangan seperti itu, staf rumah bisa salah paham.

Sekarang gelas itu sudah dicuci bersih, berdiri berdampingan seperti tidak pernah ditolak.

"Pak Tan?" panggil Sekar dari pintu kamar mandi.

Ardian berada di ruang terapi, membaca laporan di tablet. "Apa?"

"Gelas kumur ini... Pak Tan yang beli?"

Jari Ardian berhenti di layar.

"Cadangan."

"Cadangan kok dua warna?"

"Diskon."

"Waktu itu tidak ada diskon."

Ardian mengangkat wajah. "Kamu memeriksa harga gelas kumur sampai sekarang?"

Sekar merasa dirinya yang diserang. "Karena Rp 49.000 untuk dua gelas itu murah."

"Berarti tidak masalah."

"Memang tidak masalah." Sekar mengambil handuk hangat dan keluar. "Saya taruh satu di kamar mandi staf?"

Ardian menatapnya.

Udara ruang terapi dingin.

Sekar berhenti. "Tidak?"

"Terserah."

Kata itu terdengar seperti ada pintu kecil yang ditutup lagi.

Sekar tidak tahu salahnya di mana. Ia memutuskan untuk tidak memindahkan gelas dulu. Dua gelas itu tetap berdiri di wastafel, pink dan biru, seperti teka-teki yang belum ia pelajari jawabannya.

Namun sebelum keluar, ia sempat mengangkat gelas biru dan menaruhnya sedikit lebih dekat ke sisi kanan wastafel.

"Yang biru cocok buat Pak Tan," gumamnya. "Warnanya dingin."

Ardian mendengarnya dari ruang terapi.

Jari di tabletnya berhenti lagi.

Sekar lalu mengangkat gelas pink. "Yang pink... nanti kalau Tante Nana menginap, bisa dipakai."

Tablet di tangan Ardian hampir mati karena terlalu lama tidak disentuh.

Tante Nana.

Bagus.

Gelas pasangan yang dibeli dengan keberanian setipis kertas itu dalam waktu lima menit sudah berubah menjadi gelas tamu.

Ardian menarik napas pelan, lalu membuka laporan perusahaan dengan wajah lebih dingin daripada grafik kerugian kuartal.

Sore harinya, teka-teki lain datang dari dapur.

"Pak Tan," panggil Sekar dengan suara terlalu cerah. "Hari ini kita coba kue kerupuk petai."

Ardian langsung menutup tablet.

"Tidak."

"Saya tidak memaksa Pak Tan makan. Saya hanya minta ditemani sebagai saksi."

"Untuk apa?"

"Kalau saya pingsan karena bau, ada orang yang memanggil Dok Rio."

Ardian memutar kursi rodanya ke ruang tengah dengan ekspresi sangat tidak setuju, tetapi tetap datang. Itu sudah cukup bagi Sekar.

Ia membuka bungkus kue kerupuk petai. Aroma petai langsung keluar, tajam, hijau, dan sangat percaya diri.

Staf dapur yang lewat berhenti, lalu mundur diam-diam.

Ardian menutup hidung dengan punggung tangan. "Itu makanan atau hukuman?"

"Makanan tradisional yang kreatif."

"Itu kalimat pembelaan paling lemah yang pernah kudengar."

Sekar membawa piring itu ke ruang tengah seperti membawa hasil penelitian berbahaya. Ia bahkan menyiapkan air putih, susu dingin, tisu, dan satu kantong plastik kecil.

Ardian melihat susunan itu. "Kamu sendiri tidak percaya pada makananmu."

"Saya percaya. Tapi orang beriman tetap boleh punya rencana cadangan."

Si Oranye yang biasanya datang jika mendengar suara plastik, kali ini mengendus dari pintu teras, lalu mundur dengan ekor tegak.

Sekar menatap kucing itu. "Pengkhianat."

"Bahkan kucing pun punya akal sehat."

Darren muncul sebentar dari koridor, mencium udara, lalu langsung mundur. "Aku tidak mau terlibat. Aku masih trauma toilet."

"Ini bukan toilet, Pak Darren."

"Baunya mengingatkan."

Ia kabur sebelum Sekar bisa menawarkan satu keping.

Ardian menatap piring itu dengan keyakinan makin kuat bahwa benda kecil hijau di rak kemarin memang membawa masalah.

Sekar menaruh beberapa keping di piring. Agar lebih renyah, ia sempat memanaskannya sebentar di air fryer. Hasilnya memang renyah, tetapi juga menyimpan panas seperti dendam.

"Saya coba satu."

"Jangan."

"Pak Tan, saya sudah membeli."

"Buang."

"Mubazir."

Ia mengambil satu keping kecil dan menggigit.

Detik pertama, matanya berbinar.

"Loh, lumayan..."

Detik kedua, panas dari dalam kue menghantam lidahnya.

Sekar langsung membuka mulut. "Panas! Panas, panas!"

Ardian bergerak lebih cepat daripada pikirannya. Ia meraih tisu, tetapi melihat Sekar sudah panik dan hampir menelan. Tangannya terulur, telapak terbuka di depan mulut Sekar.

"Keluarkan."

Sekar membeku satu detik.

"Cepat," kata Ardian.

Karena lidahnya benar-benar terbakar, Sekar tidak punya ruang untuk gengsi. Ia menunduk dan memuntahkan potongan kue panas itu ke telapak tangan Ardian.

Ruang tengah mendadak sunyi.

Ardian menatap tangannya.

Sekar menatap tangannya.

Lalu wajah Sekar berubah merah sampai telinga.

"Maaf! Saya ambil tisu, saya..."

"Diam."

Ardian mengambil tisu dengan tangan lain, membungkus potongan kue itu, lalu meletakkannya di piring. Wajahnya datar, tetapi telinganya sudah memerah.

Sekar mengambil air minum dan berkumur kecil. "Maaf. Sungguh. Tadi terlalu panas."

"Aku yang menyuruh."

"Tetap saja..."

Ia menunduk untuk mengambil tisu lagi. Saat itu, ikat rambutnya yang longgar terlepas. Rambutnya jatuh ke depan, menyapu punggung tangan Ardian dan bagian dalam lengannya yang masih terbuka.

Sentuhan itu ringan sekali.

Terlalu ringan untuk disebut sengaja.

Tetapi tubuh Ardian bereaksi seolah seluruh sarafnya baru saja dibangunkan.

Napasnya berhenti.

Sekar masih sibuk membersihkan meja, tidak menyadari apa pun. Beberapa helai rambutnya menyentuh lengan Ardian lagi, membawa aroma sampo ringan dan hujan yang entah masih tertinggal dalam ingatan.

Ardian menarik tangannya terlalu cepat.

Sekar terkejut. "Pak Tan?"

"Aku naik."

"Sekarang? Jadwal kompres belum..."

"Nanti."

"Tapi..."

Kursi roda sudah berputar menuju lift.

Sekar menatap punggungnya, bingung. "Pak Tan, maaf soal kue tadi!"

"Bukan itu."

Pintu lift tertutup.

Sekar berdiri di ruang tengah dengan tisu di tangan, masih bingung.

Ia menatap piring kue kerupuk petai, lalu telapak tangannya sendiri yang kosong. "Apa dia marah karena saya muntah di tangannya?"

Staf yang lewat memilih tidak menjawab.

Sekar membersihkan meja lebih cepat dari biasanya. Setelah itu ia mengirim pesan singkat.

Sekar: Pak Tan, kalau mau cuci tangan pakai sabun antiseptik ada di kamar mandi. Maaf sekali lagi.

Tidak ada balasan.

Itu membuatnya makin yakin bahwa kue petai memang terkutuk.

Ardian sampai di kamar dengan napas yang tidak stabil. Ia mengunci pintu, sesuatu yang jarang ia lakukan, lalu bersandar pada daun pintu beberapa detik.

Jantungnya memukul terlalu keras.

Bukan karena marah.

Bukan karena petai.

Tangannya masih mengingat panas dari kue, juga sentuhan rambut Sekar yang nyaris tidak punya berat. Tubuhnya memberi reaksi yang selama tiga bulan terakhir ia kira mungkin ikut mati bersama fungsi kakinya.

Ia menutup mata, wajah panas.

"Gila," bisiknya.

Lebih buruk lagi, saat ia mencoba menenangkan napas, sensasi lain muncul.

Dari paha kiri, turun sangat samar ke betis.

Seperti arus kecil.

Seperti kesemutan yang lebih jelas daripada di Puncak.

Ardian menunduk, menatap kakinya.

Jarinya menggenggam pegangan kursi roda.

Kakinya, barusan, terasa.

1
sunaryati jarum
Beruntungnya kamu Sekar dicintai Tan Ardian dengan ugal-ugalan
sunaryati jarum
Itu juga emak nanti, Tante Nana yang ikut bulan madu sudah ada isi orok rahimnya
sunaryati jarum
Akhirnya kembali
sunaryati jarum
Tiga puluh negara berapa bulan tuh
sunaryati jarum
Itu aturan kamu lho mengganti kata maai😃😃
sunaryati jarum
Bulan madunya keliling dunia
sunaryati jarum
Sepertinya mau berbaikan dan balikan
sunaryati jarum
Semoga mereka . balikin lagi jadi suami istri dan kepulangan dari bulan madu ada kabar gembira dari Budiman Sekar, kecebong Tan Ardian ada yang tumbuh di rahim Sekar
sunaryati jarum
Perjuangan keluarga untuk mendapatkan pendengaran Ibu Melina berhasil
sunaryati jarum
Selamat akhirnya menikah cepat
sunaryati jarum
Nah gitu ,jika sudah menikah dimana pun tinggal bisa tidur bersama
sunaryati jarum
Maka segera nikahin Sekar, Setelah semua urusan hukum Kevin, Yenni,dan Felicia selesai
sunaryati jarum
Ternyata kau mempelajari bahasa dengan sungguh sungguh
sunaryati jarum
Bravo Ardian ,calon menantu idaman
sunaryati jarum
Dalam tidur saja kalau sudah bucin , yang teringat hanya Ardian
sunaryati jarum
Tan Hendrawan hanya bisa menyesal dan meratapi kebodohannya
sunaryati jarum
Nah Kevin dan Violeta yang merasa aman,akan diminta pertanggungjawabannya
sunaryati jarum
Ardian sudah mengumumkan pacarnya siapa
sunaryati jarum
Ingin merebut milik Tan Ardian,Kevin.Yang ada kehancuran kamu
sunaryati jarum
Dengan cinta semangat bangkit kembali ,Tan Ardian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!