Karya ini murni dari imajinasi penulis. Tidak ada unsur plagiat.
🌺🌺🌺
Angga Pratama, seorang pengusaha muda yang sukses. Dia terkenal dengan kedinginannya. Mamanya memaksa Angga untuk segera menikah. Jika Angga tidak menikah juga. Maka, Santi akan menjodohkannya dengan anak dari sahabatnya.
Anastasya, seorang gadis yatim piatu berusia 21 tahun. Ia dibesarkan oleh asisten rumah tangganya. Yang di kenal dengan panggilan Bibi Ratih.
Suatu hari Angga dan Tasya dipertemukan. Namun, bukan pertemuan yang baik seperti pada umumnya.
Penasaran dengan kisah mereka? Jangan lupa favoritkan novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Casilla Bella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter-27
"Angga, ini untuk kamu!" Tasya memberikan kotak makanan itu.
"Ini buatan Mama, kamu makan ya?!" tambahnya.
"Iya, nanti aku makan!" sahut Angga, tanpa melihat wajah Tasya.
"Angga!" panggil Mona, tiba-tiba masuk ke ruangan itu.
Angga melihat ke arah Mona. "Kamu kok ke sini lagi? Bukannya tadi mau pulang?" tanya Angga.
"Aku... aku gak jadi pulang sekarang. Aku masih kangen sama kamu Ga..." lirihnya sambil berjalan ke arah Angga.
"Ya sudah. Kamu duduk dulu di sana!" Angga menunjuk ke arah sofa.
"Iya sayang..." sahut Mona dengan suara manja.
"Keterlaluan!" batin Tasya geram.
"Kamu ngapain masih di sini? Aku pasti memakan makanan yang Mama buat. Jadi sekarang pulanglah!"
Tasya menghela nafasnya, "Kamu menyambut Mona dengan senang hati. Bahkan... menyuruhnya untuk duduk. Tapi aku? Kamu mengusirku, bahkan untuk melihat wajahku saja kamu enggan..." lirih Tasya sedih.
"Aku mau tetap di sini. Aku mau mastiin kamu memakan makanan itu."
"Hei! Kau itu tuli? Angga bilang dia pasti memakan makanan itu. Jadi kau pergi saja dari sini! Mengganggu!" ucap Mona tiba-tiba.
Tasya tidak ingin menggubris perkataan Mona, "Ini pesan dari Mama kamu. Mama berpesan untuk memastikan kamu memakan makanan itu. Kalau aku tidak melihat kamu makan, apa yang harus aku katakan pada Mama nanti?"
"Baiklah aku makan sekarang! Tapi setelah itu, pergilah!" ucap Angga datar.
Angga mulai membuka kotak bekalnya. Sesungguhnya, ia memang merindukan masakan mamanya. Sudah lama rasanya, ia tidak mencicipi makanan buatan Santi.
Angga mengunyah makanan itu dengan nikmat. Tapi, di suapan yang kedua, Angga mulai merasa mual.
Angga segera berlari menuju wastafel. Ia memuntahkan isi perutnya.
"Hoek!"
Semua orang yang ada di sana panik. Tak terkecuali dengan Tasya. Ia segera berlari ke arah Angga.
"Angga, kamu gak papa kan sayang?" tanya Mona, dengan lirih sambil mengelus-elus pundak Angga.
Matanya melirik ke arah Tasya, lalu tersenyum penuh kemenangan. Karena ia berhasil mendahului Tasya.
"Heh! Apa yang kau masukkan ke dalam makanan itu? Kenapa Angga jadi muntah-muntah seperti ini?!" tanya Mona, menghardik Tasya.
"A-aku tidak melakukan apa-apa! Aku tidak memasukkan apapun ke dalam makanan itu!"
"Mana mungkin Angga jadi muntah-muntah seperti ini. Kalau tidak ada sesuatu yang kau masukkan ke dalam makanan itu!"
"Tapi sungguh, aku tidak memasukkan apapun!" bela Tasya.
"Halah! Jadi, Mama Santi yang memasukkan racun ke dalam makanan itu? Kau menuduh Mama Santi yang melakukan itu hah?!"
"Aku tidak bilang begitu Mona!" ucap Tasya dengan lantang.
Mona memutar bola matanya, "Halah! Mana ada maling ngaku! Kalau ngaku, penjara pasti penuh dengan orang-orang seperti kau!"
"Sudah, kalian jangan ribut! Keluarlah dari sini! Aku ingin sendiri!" Angga kembali ke tempat ia duduk tadi. Kepalanya terasa sangat pusing dan perutnya juga masih terasa mual.
Mona mengikuti Angga, "Tapi sayang, ak---"
"Sudah kubilang pergi! Keluar! Kalian hanya membuatku semakin pusing!" bentaknya.
Mona, Tasya dan Bije berjalan ke luar. "Tunggu! Bije, kamu tetap di sini!"
"Baik Tuan!" sahut Bije.
"Tolong tutup pintunya!" titah Angga.
Bije menutup pintu itu, "Tuan, apa Tuan butuh obat? Atau sebaiknya Tuan memeriksakan diri ke dokter?"
"Tidak perlu, pakai minyak angin saja sudah cukup."
"Oh ya, bagaimana keadaan di sana? Apa sudah membaik?" tambahnya.
"Sudah Tuan, makanya saya kembali ke sini. Karena, masalah yang ada di Bandung sudah saya selesaikan!" tutur Bije.
Angga menghela nafasnya, "Baiklah, sekarang kamu boleh pergi!"
Bije mengangguk, lalu berputar arah.
"Tunggu!"
"Ada apa Tuan?" tanya Bije, sambil berbalik arah lagi.
"Jangan biarkan orang masuk ke ruangan ini. Saya sedang tidak ingin diganggu!" ujar Angga.
"Baik Tuan!" Bije meninggalkan ruangan itu.
"Kenapa akhir-akhir ini aku sering mual dan muntah ya?" tanya Angga pada dirinya sendiri, sambil memijat-mijat kepalanya yang pusing.
***
"Nak, Tasya bilang kemarin kamu muntah setelah memakan masakan Mama. Benar?"
Angga mengangguk, "Sebenarnya, Angga sudah sering memuntahkan makanan yang Angga makan." Jawabnya.
"Sayang, kamu harus memeriksakan diri ke dokter. Mama gak mau kamu kenapa-kenapa! Kamu juga punya penyakit lambung. Kamu jangan suka telat makan! Sekarang, pokoknya kamu harus sarapan dulu bersama Mama dan Tasya!"
"Tapi---"
"Tidak ada tapi-tapian! Selama ini Mama membiarkan kamu pergi tanpa sarapan. Dan lihatlah sekarang ini! Kamu jadi sakit kan? Mama tidak mau kamu terus seperti ini!"
"Ya sudah, makanannya Angga bekal saja ya?"
"Tidak boleh! Pokoknya kamu harus makan di sini sama Mama! Tasya juga sedang memasak di dapur. Sebentar lagi, makanannya pasti sudah siap!" ujar Santi.
"Aduh Ma, Angga bisa telat nih!"
"Kamu ini kan bosnya! Kamu yang memiliki perusahaan. Tidak akan ada yang memecatmu Nak! Sekarang ayo duduk! Jangan banyak alasan lagi!" tegas Santi.
Angga menghela nafas berat. Akhirnya Angga menuruti kemauan mamanya dengan pasrah.
Tasya datang membawa beberapa piring berisi makanan, dibantu oleh Asih.
"Nak, kamu mau makan yang mana?" tanya Santi.
"Yang mana sajalah!" jawab Angga malas.
Dengan inisiatif, Tasya mengambilkan beberapa makanan untuk Angga. Angga mulai melahap makanan yang dibuat Tasya.
"Hmm... tumben aku gak mual! Apa penyakitku sudah sembuh? Hah, syukurlah!" gumam Angga dalam hati.
Di sisi lain...
"Sayang, aku ingin bertemu kamu!" ucap pria itu di telepon.
"Kenapa sih? Kamu selalu saja menggangguku! Setiap malam kan kita sudah sering bertemu! Pagi ini, aku harus ke kantor calon suamiku!" ucap Mona dengan kesal.
"Ayolah sayang, masa kita bertemu di malam hari saja? Sekali ini saja, kita jalan di pagi atau siang hari!"
"Aku tidak mau!" tolak Mona.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau. Gampang saja, aku akan membocorkan rahasia kita pada semua orang!" ancam pria itu.
Mona mengepalkan tangannya, pria ini selalu saja membuatnya emosi dengan ancaman seperti ini.
"Baiklah! Tapi aku harus ke kantor Angga dulu. Setelah dari sana kita akan bertemu!"
"Nah, begitu kan enak di dengarnya!" ujar pria itu.
Mona menutup teleponnya dengan cepat, lalu melemparnya dengan kesal ke sembarang arah.
"Ya ampun! Handphoneku yang mahal!" Mona mengambil handphone yang tadi ia lempar dengan rasa sesal.
"Ah, s*al! Gara-gara si Raka handphoneku jadi retak kayak gini!" umpat Mona sambil mengelus handphonenya.
Di lain sisi, Raka tersenyum jahat. "Aku akan selalu membuatmu menderita Angga! Aku tidak akan pernah melupakan kejadian itu. Aku akan membuatmu menderita, lewat Mona lagi! Sampai kapanpun, sebelum kamu benar-benar hancur. Aku akan terus mati-matian untuk menghancurkanmu dan membuatmu menderita!" ucap pria itu, lalu ia tertawa jahat.
"Hancurlah kau Angga!"
Raka mengambil foto seorang gadis cantik yang berada di atas nakas. "Aku pasti akan membalaskan dendammu Risa! Itu pasti!" tekadnya.
***
Happy reading 😘
.... payyyaahhhhh dahhh😤😤😤😤😤😤