Haii Readers...
Ini karya Ku yang ke empat semoga kalian suka...
"Dasar wanita ja**ng, aku menyesal menikahimu." Abbas menarik rambutku.
Ppllaakk.
Abbas menampar ku hingga bibir ku mengeluarkan darah segar.
"Mas, maafkan aku. Aku sangat mencintaimu." Aku memegangi lutut suami ku.
"Cepat kamu ceraikan dia, Mommy ngga sudi mempunyai menantu miskin, ja**ng dan mandul seperti dia." Usir Mommy mertua ku.
Air mata ku mengalir deras, Daddy mertua ku hanya diam saja.
Bagaimana kelanjutannya kisahnya?
Kisah ini diambil dari seorang sahabat, bukan plagiat ini kisah nyata. Semoga kalian menyukainya...
Jangan lupa Vote, like dan komentarnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Trianti Fersa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makin Pusing
Di sisi lain.
Papi Mario sudah menempatkan sebuah rumah yang sangat nyaman, tadi rumah ini ia akan berikan buat Abbas dan Alsava.
Papi Mario menghela napas dan membayangkan Abbas dan Alsava bersama kembali. Saat ini Papi Mario berada di ruang kerja sedang menatap foto Mami Siska satu persatu, kenangan di waktu Papi Mario dengan Mami Siska dari pacaran, Menikah Hingga melahirkan Abbas.
"Itu tidak akan terjadi, walau aku papi kandung Abbas tapi aku tidak rela Alsava kembali dengan Abbas. Hidup Alsava sudah banyak menderita, apalagi Siska selalu memojokkan dan mencari ulah kepada Alsava. Huh! kenapa aku tidak merasa sedih berpisah dengan Siska, malah aku merasa lega udah meluapkan perasaan ku selama ini. Semoga setelah ini kau akan sadar atas kesalahan kamu berbuat, aku diam bukan aku mendukungmu. Tapi aku nunggu waktu yang tepat untuk bertindak. Maaf aku sudah tidak bisa menjadi suami yang kamu inginkan." Papi Mario menatap foto Mami Siska dan mengelus.
Tok
Tok
Tok
"Ya, masuk." Kata Papi Mario, lalu meletakan foto di laci.
"Ada informasi apa Dino?." Tanya Papi Mario kaki tangan Papi Mario yang selama ini tersembunyi.
"Begini tuan, dari info anak buah saya. Bahwa Nyonya Siska saat ini sedang mengalami depresi berat, maka dari itu beliau tidak bisa dapat mentandatangi surat perceraian tuan dengan Nyonya." Pak Dino duduk di sofa. Papi Mario ikut duduk di sofa, papi Mario tidak merasa iba sekali pun. Malah ia curiga
"Stop kau memanggil gue tuan, loe itu sahabat gue... Apa itu benar?apa cuma akal-akalan aja. Loe kan tau selama ini dia selalu banyak drama dan pintar akting." Papi Mario curiga.
"Baiklah, tapi ini memang kenyataan, kalau Siska depresi dan saya juga sudah melihat langsung kalau Abbas membawa siska ke psikiater." Kata Pak Dino yakin, karena mendapat info, pak Dino datang kerumah sakit dan benar ia melihat Abbas membawa Mami Siska ke psikiater.
"Gue harus bagaimana?Gue udah ngga mau bersamanya." Papi Mario menunduk dan memijat keningnya yang sakit.
"Dari pengadilan tidak bisa melanjutkan persidangan karena saat ini Siska mengalami gangguan jiwa atau depresi, jadi untuk sementara persidangan di tunda hingga Siska di nyatakan sembuh, Yo." Pak Dino merasa kasihan melihat Papi Mario.
"Makin pusing." Papi Mario mengacak rambutnya.
"Gue tanya sama loe pulang-pulang dari Inggris loe tiba-tiba menceraikan Siska Kenapa?Bukannya loe itu sangat mencintai Siska."
"Sebenarnya gue udah lama ingin menceraikan Siska, loe ingat ngga waktu pertama perusahaan gue maju dan selalu menang tender?."
"Hehehe... Maaf gue lupa maklum udah faktor umur, loe tau sendiri gue udah jadi kakek." Pak Dino cengengesan dan menggaruk kepala yang tidak gatel.
"Hadew... iya dech kingkong... Hahahaha..."
"Sue Loe, gue di katain kingkong. Udah lanjutin cerita loe." Pak Dino melempar bantal ke arah Papi Mario.
"Hahaha... Baiklah, saat itu sifat Siska berubah menjadi sombong dan hampir tiap hari selalu belanja yang tidak perlu. Biasanya dia tidak akan menghamburkan uang atau belanja yang seperlunya aja, beda sama yang sekarang."
"Gue baru ingat, waktu Abbas masih umur 7 tahun kan?."
"Iya, sifatnya Siska seperti itu menjadi gue ilfeel. Gue pengen menceraikan dia tapi ada Abbas, gue ngga mau mental Abbas terganggu akibat perceraian gue dan Siska. Gue urungkan niat gue menceraikan Siska, Abbas menikah dengan Alsava, sifat Siska makin menjadi. Dia selalu menghina dan mencari kesalahan Alsava terus, padahal Alsava itu anak yang baik seperti sifatnya yang dulu. Tapi dia membuat Abbas dan Alsava bercerai, gue semakin ilfeel dan untuk rasa cinta gue ke Siska semakin menghilang, yang ada rasa benci gue melihat dia. Makanya gue membantu Alsava lebih mudah menceraikan Abbas."
.
.
.
.
.