COVER FROM PINTEREST
.
.
Dinda tidak mengingat apa yang terjadi pada dirinya, dia hanya mengingat bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan dan tak hanya itu, dia masih mengingat jelas ketika pria yang dia cintai itu merenggut masa depannya. Namun dengan tatapan mata pria itu, Dinda bisa memastikan bahwa ada jutaan rahasia yang tidak dia ingat. Termasuk tentang bayi perempuan yang baru dia lahirkan. Bayi itu..., sangat mirip dengannya dan pria brengsek itu.
"Dia anak kita yang ke dua, Dinda," ucapnya dan mulai dari situ Dinda merasa semakin gila karena tidak bisa mengingat apapun.
Bagaimana dia bisa mempunyai anak ke dua sedangkan anak ke satu pun dia tidak mengingat siapa namanya.
PERHATIAN!
Cerita ini memiliki alur maju-mundur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzieraHill, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26
"Ohhh itu maaf, aku tidak mau mengganggu mimpimu," kataku. Dia tersenyum kepadaku lalu berusaha turun dengan sisa kekuatannya yang baru bangun tidur. Aku pun memegangi tangannya. Takut dia jatuh dari motor besarku.
"Tidak apa," suaranya yang lembut membuatku bergetar. "Terima Kasih ya," aku mengangguk pelan dan mengikutinya dari belakang masuk ke dalam rumah.
Tadi aku bertemu dengannya di kampus. Aku pikir kami berjodoh. Pertemuan kami tercipta oleh sebuah pertemuan yang tidak di sengaja. Aku tidak tahu kalau ternyata dia kuliah di kampus baruku. Kalau aku tahu dia satu kampus dengannku. Tak akan aku biarkan dia tadi pagi berangkat dengan Daniel. Tak peduli aku ini keponakan yang durhaka, tapi aku juga tidak mau kalah untuk mendapatkan cinta Dinda.
Dinda berjalan ke arah dapur. Dia membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa butir telur dari sana. "Kau mau makan apa?" tanyanya.
Kulihat-lihat ulang, Dinda terlihat keibuan sekali. Dia sering memasak meski aku rasa dia tidak biasa memasak makanan banyak, karena kudengar dari cerita Daniel. Dia hanya tinggal berdua dengan Ayahnya di rumah. Itu tandanya dia anak satu-satunya.
"Terserah kau saja," kataku. Aku menarik bangku meja makan dan duduk di atasnya. Memperhatikannya dari belakang.
"Kau sedikit berbeda dengan Daniel," angkat suaranya. Mataku beralih padannya yang sedang memasak omlet, mungkin! Tapi kenapa tiba-tiba dia membicarakan ini. Seakan-akan dia itu membaca apa yang aku sedang aku pikirkan.
"Ya kau berbeda," ungkapnya lagi seraya mengangguk pelan kepada dirinya sendiri.
"Apa yang berbeda?" tanyaku dia membalikkan tubuhnya. Kemudian dengan gerakan tubuh yang melingkuk dia menumpukan sebelah tangannya di dekat tempat pencucian piring.
"Hmmm wajahmu lebih menenangkan dan aku pikir kau tidak suka pergi keluar malam seperti Pak tua itu. Kau tidak suka mabuk-mabukkan dan yang terpenting, kau tidak trauma dengan masa lalumu juga kan," aku mengernyitkan alisku lalu tertawa pelan ke arahnya.
"Benarkah?" tanyaku meyakinkan, tapi dia mengangkat alisnya pula ke arahku.
"Ya..., ya.., itu sih tebakanku," katanya dengan gugup lalu membalikkan kembali tubuhnya untuk melihat air yang dia masak apakah baik-baik saja atau mungkin akan mengering dalam waktu 14 detik.
"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?" tanyaku lagi, kali ini aku beranikan untuk mendekatinya yang sedang dengan kikuk kembali membalikkan tubuhnya untuk melihatku.
"Hmmm mungkin karena kau..., yeah!" dia melambaikan tangannya di depan wajahnya. "Kau terlihat mudah akrab dengan siapa pun. Aku yakin bagimu semua wanita sama saja. Kau pasti sudah merasa bosan untuk mengenal seorang wanita apalagi seperti aku. Kau sudah melewati bagaimana hidup di luar sana dan pastinya kau merasa jengah untuk melakukan hal yang sama pada wanita yang berbeda, right?"
Mendengar itu aku mengangkat bahuku singkat. Masih terus berusaha mendekatinya dengan perlahan. Dinda malah terlihat menahan nafasnya. "Entahlah, itu yang aku pikirkan," katanya lagi dan membalikkan kembali tubuhnya untuk melihat masakannya.
“Jadi maksudmu, aku mudah jatuh cinta? Kemudian memutuskan hubungan dengan sepihak, lalu mencari lagi, putus lagi, mencari lagi, putus lagi...,”
“Tunggu..., tunggu bukan itu maksudku, ya Tuhan.” Ungkap Dinda bertolak pinggang ke arahku dan mencebikkan bibirnya.
“Aku hanya bilang kalau kau tidak memiliki trauma dan tidak terlalu bosan untuk mengenal wanita, hanya itu.” Ungkapnya, tapi yang aku paham dari perkataannya memang seperti itu kan. Dari kata bosan itu, aku sudah menebak-nebak bahwa Dinda mengira aku sering menjalani hubungan dengan seorang wanita.
“Hmmm, tapi bagaimana jika tebakanmu itu salah?” tanyaku. Dinda berbalik sejenak kemudian mengernyitkan alisnya ke arahku. Dia berjalan ke arah lemari kecil menampakkan beberaa bungkus mie instant di dalamnya.
“Tak apa aku kan hanya menebaknya,” ungkap Dinda seraya mengambil mie tersebut, tapi tidak sampai. “Oh Gilang apa kau bisa membantuku?” tanyanya dan aku pun segera menghampirinya.
TOP epribadeeeeehhhh ...👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍