Setelah menikah dengan Silas Crane, Nara Aeris mulai merasakan kebosanan. Hidupnya hanya dipenuhi dengan berbaring, makan, dan menghabiskan uang suaminya.
Tapi ternyata itu cuman bertahan beberapa hari.
Sejak sebuah sistem informasi harian yang bernama Lyra, tiba-tiba muncul di atas kepalanya dan memberikan satu informasi setiap hari. Hidupnya tidak jadi membosankan!
Hari-hari dipenuhi gosip menyenangkan.
【 Ketua Cabang Grup Ardent diam-diam memindahkan tiga puluh miliar sebelum menandatangani surat perceraian. 】
【 Pewaris keluarga Rothwell menikahi sekretarisnya secara diam-diam. 】
Mata Nara berbinar.
"Bukankah gosip seperti ini terlalu menyenangkan?"
Karena Nara Aeris suka berbagi, ia akan selalu melakukan siaran langsung untuk berbagi kepada para penggemarnya. Tentu saja! Gosip bagus harus dibagikan.
Internet mulai macet akibat tingkah laku Nara, dan dia dijuluki Ratu Gosip.
Let's Start The Story!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ly-Ra?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Menghibur Silas
Mata Nara Aeris langsung berbinar.
"Oh, begitu? Kalau begitu, aku datang pada waktu yang tepat!"
Leo mengangguk sopan, dengan senyum tipis menghiasi wajahnya.
Nara memiringkan kepalanya sedikit, lalu berkata riang. "Terima kasih sudah memberitahuku kabar ini, Leo. Kamu sangat membantu aku!"
"Sama-sama, Nyonya. Apakah Anda ingin saya memberitahu Tuan Silas tentang kedatangan Anda?"
Nara melambaikan tangannya, "Tidak perlu! Aku ingin memberinya kejutan."
Leo tidak bertanya lebih jauh. Dia hanya mengangguk mengerti, lalu menyingkir untuk memberi jalan kepada istri bosnya.
"Kalau begitu, saya tidak akan mengganggu rencana Nyonya."
"Bagus! Kalau begitu, semoga pekerjaanmu lancar!"
Setelah bertukar salam perpisahan, Nara segera berjalan menuju kantor Silas dengan langkah ringan, sambil menyenandungkan sedikit lagu.
Sudah jelas wanita itu, sedang memiliki suasana hati yang baik.
Leo memperhatikan punggung istri bosnya selama beberapa detik, lalu menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis.
Sepertinya Tuan Silas akan tertahan di kantor selama beberapa jam kedepan. Leo harus memberitahu para karyawan agar tidak ada yang mengganggunya.
Sementara itu, Nara Aeris sudah tiba di depan pintu kantor suaminya. Dia berhenti sejenak, merapikan rambut dan pakaiannya, lalu mengangkat tangan untuk mengetuk pintu.
Tok! Tok!
"Masuk."
Suara rendah Silas yang sedikit dingin terdengar dari dalam, membuat Nara seketika bersemangat.
Wanita itu langsung membuka pintu, dan menjulurkan kepalanya. Begitu melihat pria yang duduk di balik meja besar itu, senyum Nara langsung mengembang.
"Sayang, aku datang melihatmu!"
Silas mengangkat pandangan dari dokumen yang belum sempat ditandatanganinya, lalu meletakkan pena di atas meja. Dia berdiri dan menuntun Nara untuk duduk di sofa panjang.
Mereka duduk bersebelahan. Silas memainkan sehelai rambut Nara di ujung jarinya, sebelum bertanya dengan penasaran. "Apa yang membuat kamu ke sini?"
Nara memiringkan kepalanya, lalu menjawab dengan wajah serius. "Aku ingin bertemu denganmu."
Silas Crane menatapnya selama beberapa saat.
"Bukankah kita sudah berbicara melalui telepon tadi?"
"Itu berbeda!" Nara segera membela diri. "Mendengar suaramu melalui telepon memang menyenangkan, tetapi aku juga ingin melihat wajahmu secara langsung. Kalau hanya mendengar suaramu, aku tidak bisa melihat betapa tampannya suamiku saat bekerja."
Silas mengangkat satu alisnya, bertanya dengan santai. "Kamu datang jauh-jauh, hanya ingin melihat wajahku?"
"Tentu saja!"
"Kenapa tidak melakukan panggilan video?"
Senyum Nara Aeris langsung membeku.
Dia mengambil sehelai rambut yang sedang dimainkan oleh Silas, dengan bibir cemberut, ia menjawab. "Baiklah, aku mengaku. Aku memang ingin mengganggu pekerjaanmu sedikit. Tapi aku juga bisa menemani kamu, jadi kamu tidak akan bosan bekerja sendirian."
Silas memandang istrinya tanpa berkata-kata.
Dia masih ingat bagaimana Nara berbicara tanpa henti selama hampir satu jam. Hanya untuk menceritakan seekor kucing yang mondar-mandir di depan rumah mereka.
Pada akhirnya, Silas bahkan tidak sempat menyelesaikan laporan yang sedang dibacanya.
Namun, anehnya, dia tidak pernah benar-benar merasa terganggu.
Dia hanya merasa, apapun yang dilakukan istrinya selalu terlihat menggemaskan, dan menarik. Ia juga semakin menyukainya.
Silas menggelengkan kepalanya pelan, lalu mencubit pipi Nara dengan gemas. "Kamu memang pengganggu, baiklah. Lagipula aku tidak keberatan diganggu."
"Jadi, kamu senang aku datang?" Nara menatap Silas dengan penuh kekaguman yang begitu kentara, sampai hampir terlihat dibuat-buat.
"Aku tidak mengatakan begitu."
Wajah Nara langsung datar.
"Silas!"
Laki-laki itu tertawa kecil melihat betapa ekspresifnya Nara. Rasa lelah akibat pekerjaan seolah sedikit berkurang setelah dia menggoda istrinya. Dia bangkit dari sofa, kemudian berjalan menuju meja kerjanya.
Dia mengambil sebuah dokumen dan kembali bekerja, menandatangani berkas-berkas perusahaan dengan efisien seperti seorang CEO pada umumnya.
Melihat suaminya kembali sibuk, Nara duduk di sofa dengan patuh. Dan mulai tidak mengganggunya selama lima menit pertama.
Ruangan kembali tenang.
Nara menopang satu pipinya, sambil mengamati suaminya yang sedang bekerja.
Silas sedang membaca dokumen kontrak. Kemeja hitam yang dikenakannya memiliki dua kancing teratas terbuka, sementara lengan bajunya digulung sampai siku. Sebuah pena terletak di antara jari-jemarinya, sesekali bergerak menandatangani halaman yang sudah diperiksa.
Wajahnya serius.
Alisnya sesekali berkerut tipis saat menemukan sesuatu yang perlu diperhatikan, tetapi ekspresi itu segera kembali tenang setelah dia menyelesaikannya.
Mata Nara berbinar, melihat pemandangan memanjakan mata seperti ini. Ternyata, melihat suaminya bekerja secara langsung memang jauh lebih menyenangkan, dibandingkan cuman melihat dari ponsel.
Memang benar, ketika pria sedang bekerja atau serius. Mereka akan terlihat jauh lebih tampan.
Namun, semakin lama dia duduk diam. Semakin besar pula rasa bosan yang mulai merayap.
Nara yang mulai merasa gelisah segera membuka ponselnya untuk menghibur diri. Tapi tidak cukup lama dia merasa semakin bosan.
Wanita itu melirik tumpukan dokumen yang di atas meja, lalu dia akhirnya bersuara karena tidak tahan akan keheningan.
"Sayang."
"Hm?"
Silas menjawab tanpa mengangkat kepalanya, dia membalikkan halaman sambil membaca dengan serius.
"Pekerjaan kamu sebanyak itu?"
"Seperti yang kamu lihat."
Melihat suaminya begitu sibuk, sebuah ide tiba-tiba terlintas di benak Nara.
Dia duduk dengan tegak, mengangkat dagu dengan penuh percaya diri, dan kemudian menyilangkan tangan di depan dadanya.
"Kalau begitu, karena kamu sudah bekerja keras. Aku akan menghiburmu agar kamu bisa sedikit santai."
Pena Silas berhenti bergerak.
Dia mengangkat wajah dan menatap Nara yang memasang ekspresi angkuh. Ada sedikit rasa geli di matanya. Lalu jakunnya naik turun, ketika tatapannya perlahan beralih ke bibir wanita itu.
"Benarkah?" Suara Silas terdengar lebih rendah. "Kalau begitu, kemarilah."
Nara menurut tanpa rasa curiga.
Namun, begitu dia berdiri dekat dengan suaminya, sebuah tangan kekar melingkari pinggangnya. Sebelum sempat memahami apa yang terjadi, dia sudah ditarik ke pangkuan Silas.
"E-eh!"
Nara buru-buru mencengkeram bahu pria itu, agar tidak kehilangan keseimbangan. "Apa yang kamu lakukan?!"
"Kamu bilang, ingin menghiburku."
"Tapi, aku tidak bilang harus seperti ini!"
"Kamu juga tidak mengatakan dengan jelas."
Nara menatap suaminya dengan tidak percaya. Benar-benar licik! Dia baru saja datang dengan niat menggoda, tetapi sekarang justru dirinya yang terjebak.
Silas bersandar santai di kursi, ia bergeser sedikit agar Nara duduk dengan nyaman. Jari-jemarinya mencengkeram pinggangnya yang kecil, dan menatap Nara penuh minat. "Jadi, bagaimana kamu akan menghiburku?"
Nara menelan ludah. Mata suaminya yang biasanya tanpa riak kini menatap sepenuhnya dengan penuh hasrat. Sentuhan dari jari-jemarinya membuat Nara merasa tidak nyaman. Dan detak jantungnya berdebar begitu kencang. Hingga dia merasa sedikit pusing.
Dia langsung mengalihkan pandangannya, dan menjawab dengan setenang mungkin. "Aku bisa menghiburmu ... Dengan mengobrol! Benar, ayo ngobrol."
Silas Crane terkekeh pelan.
"Itu tidak cukup."
Nara spontan bertanya, "Lalu, bagaimana supaya cukup?"
Begitu menyadari apa yang baru saja dia tanyakan, Nara ingin menggigit lidahnya sendiri.
Silas mendekat ke telinganya. Satu tangannya tetap menahan pinggang Nara, sementara tangan lainnya menyibakkan rambut yang menutupi sisi wajahnya.
Dia membisikkan sebuah kalimat dengan suara rendah.
Nara langsung menegang. Wajahnya memerah sampai ke telinga, dan jemarinya tanpa sadar mencengkeram kemeja Silas lebih erat. Ketika pria itu menjauh, dia masih menatapnya dengan ekspresi tidak percaya.
"Tidak mungkin!" Protesnya. "Ini masih di kantor!"
"Memangnya aku tidak tahu?"
"Lalu kenapa kamu malah—"
Silas melirik robot pelayan yang sedang berada dalam mode siaga, di sudut ruangan.
"Unit layanan, masuk ke mode privasi. Hentikan tugas pendampingan di ruangan ini, dan tunggu di luar sampai saya memanggilmu kembali."
"Perintah diterima, Tuan Crane. Mode privasi diaktifkan. Saya akan menunggu di luar, dan tidak memasuki ruangan tanpa izin."
Robot itu bergerak menuju pintu dengan langkah mekanis, yang nyaris tidak mengeluarkan suara. Setelah memastikan jalurnya tidak terhalang, dia keluar dan menutup pintu dengan rapi.
Crane Group sebenarnya sudah mulai melakukan penelitian tentang robot pelayan yang mahakuasa, tapi sebagian besar perangkat masih belum matang. Sehingga robot ini hanya ada di kantor Silas untuk uji coba, dan belum digunakan secara luas.
Karena itu, keberadaan robot pelayan di kantor Silas sebenarnya tidak mengejutkan.
Nara menatap pintu yang tertutup dengan tidak percaya, tidak mungkin kan harus disini?
"Kamu bahkan mengusir robotnya!"
"Supaya kita tidak terganggu."
Nara menutup wajah dengan satu tangan.
Seharusnya dia tidak menggunakan kata menghibur. Seharusnya dia datang, duduk sebentar, lalu pulang setelah Silas selesai bekerja.
Namun, semuanya sudah terlambat!
"Cepatlah, Sayang," bisik Silas dengan suara serak. "Pakai Mulutmu."
Nara menatapnya dengan mata membulat.
Suaminya benar-benar tidak tahu malu!
...----------------...
tetap sehat dan semangat Thor