Dimadu di Hari Pernikahannya. Ditolak mentah-mentah lewat pesan, Naura Kirana, gadis bercadar yang harus menanggung malu di hari pernikahannya.
Demi menyelamatkan keluarga, Cakra, adik mempelai pria terpaksa menggantikan posisi kakaknya.
Namun, alih-alih melindunginya, Cakra yang sejak awal membenci wanita bercadar itu justru langsung membawa dan menikahi kekasihnya sendiri tepat di hari yang sama, memadu Naura di depan mata.
Di balik itu semua, ternyata, Komandan Anggara yang merupakan calon suami Naura, tidak pernah menolaknya, semua terjadi hanya salah paham.
Pembatalan itu murni ulah licik bawahan Anggara yang merupakan seorang wanita yang terobsesi padanya.
Lalu, bagaimana kelanjutan nasib Naura? Apakah Anggara berhasil meluruskan semuanya? bagaimana kisahnya saat tiba-tiba hadirnya seorang gadis yang berusia 6 tahun yang ternyata merupakan anak kandung Naura? siapakah ayahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bunda Qamariah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERNIKAHAN DUA WANITA
Sekitar jam 1 dini hari dalam kamar gelap yang pekat, seorang gadis bernama Naura perlahan tersadar dari tidurnya.
Dia mendengar jelas suara napas seorang pria yang teratur dari atas ranjang di sebelahnya.
Wanita itu terdiam, membayangkan apa yang sudah dia lakukan. Naura memaksakan diri untuk bangun, di mana tubuhnya tanpa sehelai benang pun. Merutuki kebodohannya yang baru saja ia perbuat terhadap tubuhnya sendiri.
Menahan rasa perih luar biasa di bagian bawah kewanitaannya, Naura turun dari ranjang dengan langkah gemetar. Dalam remang-remang cahaya malam, ia meraba lantai, memunguti pakaiannya yang berserakan.
Usai mengenakan pakaiannya kembali. Naura bergegas pergi dari tempat itu.
Patah hati dan kecewa akibat pengkhianatan kekasihnya barusan, telah membuat Naura kehilangan akal sehat, hingga ia melakukan sesuatu yang nekat. Dan harus kehilangan kesuciannya pada sosok laki-laki asing.
Naura berlari keluar kamar hotel, dengan air mata tumpah membasahi wajahnya.
"Apa yang baru saja kau lakukan, Naura? Kau benar-benar sudah kehilangan kewarasanmu!" ujarnya merutuki diri sendiri, terus berlari kencang.
______
7 TAHUN KEMUDIAN.
"Aku terima nikah dan kawinnya, Naura Kirana binti Abimana dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai!" Ucap seorang pria bernama Cakra dengan lantang.
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"Sah!!!"
Terdengar sahutan dari beberapa para saksi yang hadir di acara pernikahan sederhana itu.
"Alhamdulillah..." Ucap syukur seorang wanita yang ternyata ibu dari si mempelai pria, yang hanya memasang wajah datar seperti tak sudi menikah dengan sosok gadis bercadar disampingnya.
Tak lama kemudian pertukaran cincin pun dilaksanakan dengan lancar.
Setelah usai acara ijab kabul, tiba-tiba masuk seorang wanita ke dalam ruangan tersebut yang juga sudah mengenakan baju nikah warna putih yang senada dengan mempelai pria.
Kalau penampilan mempelai wanita yang baru saja dinikahi Cakra, terlihat tertutup dengan hijab dan cadar di wajahnya.
Berbanding terbalik dengan wanita itu. Karena si wanita tidak memakai hijab, dan hanya menyanggul rambutnya dengan gaya elegant.
Semua orang mengerutkan dahi mereka karena kaget dengan kehadiran sosok wanita tersebut.
"Kamu siapa? Apa kamu salah masuk tempat?" Tanya Mama Safira, mengerutkan dahinya sembari memperhatikan pengantin wanita itu.
"Tidak! Saya tidak salah. Mas Cakra calon mempelai pria saya!" Jawab si wanita dengan nada tegas.
"Apa? Astaghfirullahaladzim! Kamu tidak salah ngomong kan? Bukannya kamu barusan lihat kalau Cakra itu sudah menikah. Bahkan istrinya masih duduk di sampingnya!" Mama Safira menunjuk ke arah menantu pilihannya, Naura.
"Cakra yang menyuruhnya kemari, Ma. Cakra sudah berjanji akan menikahi Nada hari ini juga!" tiba-tiba Cakra bersuara dan benar mengakui sosok wanita itu, yang membuat Safira syok! Tidak menyangka putranya tega melakukan demikian.
"Kenapa kamu melakukan ini pada Mama, Cakra? Kamu sudah berjanji dan setuju menerima pernikahan dengan Naura untuk menggantikan kakakmu. Tapi kenapa kamu malah justru menyuruh wanita ini lagi ke sini, dan bilang mau menikahinya? Apa kau tidak kasihan dengan istrimu?" ujar Safira tidak habis pikir dengan sikap putra bungsunya itu.
"Ma, Cakra sudah menuruti kemauan Mama untuk menikahi calon istri Kak Anggara, yang tiba-tiba tidak mau menikahi wanita ini di detik-detik akad, itu sudah baik loh Ma!"
"Aku sudah bermurah hati demi melindungi harga diri wanita ini! Dan tolong jangan diperpanjang masalah. Nada dan ayahnya juga sudah ada di sini dan Cakra sudah berjanji akan menikahinya hari ini. Jadi, mohon Mama mengerti!" Lanjut Cakra menunjuk ke arah belakang dekat pintu masuk.
Benar saja, muncul seorang pria paruh baya yang melangkah mendekat.
"Bagaimana? Apa kita akan melangsungkan pernikahan ini? Kalau iya, mari lanjutkan! Kalau tidak, saya akan segera pulang!" Pria paruh baya itu yang ternyata adalah ayah dari Nada kekasih Cakra, terlihat sangat angkuh.
Naura yang sejak tadi diam, mencengkram ujung bajunya. Dia tidak menyangka, ternyata Cakra benar-benar tidak menginginkannya.
Begitupun dengan Anggara kakak Cakra yang tiba-tiba menolak menikahinya bahkan memutuskan hanya melalui panggilan telepon, itu juga dilakukan oleh bawahan Anggara.
Benar-benar miris hidupnya, karena ditolak oleh dua saudara sekaligus dalam keluarga itu!
Safira memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Tanyakan pada istrimu dulu Cakra! Apa dia mau kau menikah lagi, atau tidak! Setidaknya hargai Naura!" Tegas Safira pada putranya.
Cakra menoleh pada wanita bercadar di sampingnya. Dimana wanita itu terlihat sangat tenang dari sorot matanya.
"Aku sudah mau menjadi pengganti untuk Kak Anggara, setidaknya kau juga tahu bagaimana cara berterima kasih, Naura...
ingat, kau bukan wanita yang aku inginkan! Dan sampai kapanpun tidak akan pernah aku inginkan!!" Tegas pria itu mengecilkan suaranya di akhir kalimat, agar orang-orang tidak mendengarnya.
Perlahan, wanita dibalik cadar itu menarik sudut bibirnya dengan kepala mengangguk mantap.
"Silakan! Saya tidak akan pernah menghalangi Anda, karena saya tahu posisi saya. Dan saya tidak punya hak, untuk mengucapkan kalimat 'tidak'. Maka, silakan lanjutkan pernikahannya!" Ucap Naura, dimana nada suaranya terdengar begitu meyakinkan.
"Baguslah! Setidaknya kau wanita berpendidikan yang tahu diri!"
Cakra jelas menunjukkan kalau wanita di sampingnya tidak lebih dari seorang pengganggu yang masuk kedalam hidupnya.
Pernikahanpun kembali dilanjutkan, dimana yang tadinya Cakra hanya berwajah datar saat menikah dengan Naura. Kini wajahnya jauh berbeda ketika dengan kekasihnya Nada.
Dia lebih bersemangat. Bahkan jelas-jelas mengabaikan keberadaan Naura.
Naura hanya diam menatap pengantin bucin yang sangat bahagia itu.
Lagi-lagi menarik salah satu sudut bibirnya, menertawakan dirinya sendiri yang berdiri seperti orang bodoh menyaksikan pria yang baru saja menikahinya dan langsung memadukannya detik itu juga.
"Syabas Naura, kau pemenang terbesar tahun ini yang memegang tingkat kemirisan..." Gumam gadis itu pada dirinya sendiri.
dan anggara ayah anakmu...duhhh hanya di novel yang bisa gini.
jatuh cinta pada bapak anak sendiri🤭
masak mencintai org yg mencintai kakaknya terulang kembali..kasihan juga cakra🤭😭
wah sip anggara 👍buruan tes dna kiki biar sgra jls