Pengantin Pengganti Untuk Mafia.
Laura dijebak saat dia berniat bekerja sebagai seorang Nanny di sebuah mansion besar McManaman, Irlandia. Ia justru dijadikan pengantin untuk menggantikan putri berharga sekaligus pewaris McManaman dan menikahkan Laura dengan seorang Killian Marcano demi keuntungan sekaligus menjadi jembatan perdamaian antara dua keluarga mafia Irlandia dan New York.
Tekanan, ancaman, darah dan nyawa menjadi taruhan bagi Laura sehingga dia terjebak dalam lingkaran Sindycat. Dan berniat meracuni Killian Marcano di malam pertama mereka.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon Dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OTM — BAB 13
ISTRI TEPAT
Di ruang tengah yang berpenampilan tenang, Muchus duduk bersandar di sofa empuk mengenakan kemeja putih rapi dan jas berwarna cokelat cerah. Asap rokok melayang perlahan di udara, berpadu dengan aroma teh yang disajikan di meja rendah. Sandra duduk di hadapannya, kedua kakinya terentang, menatap putranya dengan pandangan yang tenang namun penuh pengawasan.
"Semalam harus kulakukan," ucap Sandra pelan, memecah keheningan. "Pastur dan pengikutnyalah yang membuka mulut soal kasino dan bar milik Marcano. Mereka berani mengangkat suara, maka harus dihapus sebelum berita itu menjalar lebih jauh."
Muchus mengangguk pelan, menghela kepulan asap dari bibirnya. "Nyawa mereka tidak ada artinya, Ibu. Bahkan jika tidak terjadi kemarin, pada akhirnya pun akan seperti itu." Ia tersenyum tipis, menikmati pernyataannya sendiri. "Dan aku tidak menyesal melihatnya."
Sandra menatapnya sejenak, lalu mengalihkan pandangannya ke arah jendela. "Killian pergi ke mana?" tanyanya tiba-tiba.
Muchus mengedikkan bahu, tak terlalu peduli. "Entah. Seolah dialah penguasa di sini, berangkat tanpa memberi tahu siapa pun selain anak buahnya sendiri."
"Dia memang yang berkuasa," jawab Sandra tenang namun tegas. "Vincenzo mempercayainya lebih daripada siapa pun. Itu kenyataan yang tak dapat kau ubah, Muchus."
Muchus menghela napas panjang, malas mendengar hal yang sama berulang kali. Ia memadamkan rokoknya di piring keramik yang tersedia di meja.
"Dan ada lagi?" tanyanya singkat.
"Sore nanti kau pergilah ke kediaman Jhonson bersama Zoey," ucap Sandra kembali. "Orang tua Zoey menginginkan kunjungan itu. Mereka berharap hubungan kedua keluarga makin erat."
Muchus bangkit berdiri, merapikan kancing jasnya perlahan. "Aku tidak bisa bisa janji. Ada urusan lain yang harus kuselesaikan."
Sandra tersenyum tipis, seakan sudah menduga jawaban itu. Ia tahu sifat putranya — terlalu menyukai kesenangan sesaat, terlalu sering tergoda wajah-wajah baru yang lewat. Namun ia tak menegurnya saat ini, cukup membiarkan keinginan itu terucap.
...***...
Irlandia
Sementara itu, di kejauhan benua lain, Irlandia. Sebuah mobil hitam berhenti di tepian tebing yang tinggi dan angin berhembus kencang. Killian turun dari kendaraan, kerah mantelnya sedikit tertiup angin.
Nico sudah menunggunya di sana, berdiri tegap di samping kendaraan lain. Dari tempat mereka berdiri, tampak jelas rumah mewah dan megah milik keluarga McManaman yang berdiri kokoh di kejauhan, dikelilingi pepohonan yang rimbun.
Killian menatap ke arah kediaman itu, kacamata hitamnya menyembunyikan sorot matanya namun pandangannya tetap tajam dan teliti.
"Bagaimana keadaan mereka?" tanyanya pelan. "Apa yang kau temukan?"
Nico berdiri di sampingnya, menatap ke arah yang sama. "Tidak ada, Tuan. Hanya melihat putra bungsu mereka, Bobby, bermain di halaman sesekali. Kieran maupun Eleanor tak terlihat keluar-masuk. Tidak ada tamu penting, ataupun pertemuan yang mencurigakan."
Killian mengerutkan kening, keraguan tak sepenuhnya hilang dari benaknya. Namun ia mengangguk pelan, lalu berbalik melangkah kembali menuju mobil. Ia menyalakan sebatang rokok, api menyala sesaat di antara hembusan angin yang dingin.
"Perintahkan mereka untuk memantau ke tempat lain," ucapnya saat masuk ke dalam mobil. "Jangan hanya diam di sini."
“Baik, Tuan.” Nico mengangguk, lalu ikut masuk ke dalam kendaraan.
Mobil melaju perlahan menjauhi tebing itu, membawa mereka menjauh dari pemandangan yang tenang namun penuh tanda tanya itu.
Selama perjalanan yang panjang itu, keheningan menyelimuti ruang kabin. Tak ada darah yang tertumpah kali ini, tak ada ancaman yang diucapkan — mereka berada begitu dekat, namun tetap bergerak dalam diam, tanpa diketahui siapa pun di kediaman besar itu.
Nico yang duduk di kursi depan akhirnya menoleh sedikit. "Maaf, Tuan... apakah Anda mencurigai Nyonya Laura?"
Killian diam sejenak, menatap ke luar jendela di mana pemandangan bergerak kabur. "Tidak," jawabnya rendah. "Tetapi aku tidak pernah percaya pada musuh, apa pun yang mereka tampakkan."
Nico mengangguk paham. Itulah sifat yang paling ia kenal dari bosnya — waspada terhadap siapa pun, tak mudah terpesona oleh kata-kata manis atau wajah yang tampak tulus.
Kembali ke New York, langit masih sama cerahnya, namun bagi Laura, ruangan di balik pintu itu terasa seperti sangkar yang sempit. Ia berdiri di dekat jendela besar, menatap ke luar tanpa benar-benar menikmati pemandangannya. Ia tak berani melangkah keluar, tak tahu siapa yang akan dijumpainya di lorong.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar ketukan di pintu. Laura menegang, melangkah mendekat perlahan.
"Siapa?" tanyanya, suaranya terdengar tegas meski jantungnya berdebar kencang.
"Pelayan, Nyonya," terdengar suara pelan seorang pelayan. "Nyonya Sandra memanggil Anda."
Laura menarik napas panjang, berusaha menguatkan hati. Ia teringat kejadian semalam — pemandangan di halaman, Muchus, kematian yang begitu dekat. Namun ia juga ingat siapa yang seharusnya ia perankan. Demi Lily, ia harus tetap berdiri tegak.
Ia membuka pintu. "Baik. Aku akan ikut."
Di ruang tengah yang sama, Sandra duduk tenang dengan cangkir teh di tangannya. Melihat Laura masuk, ia tersenyum tipis dan memberi isyarat agar gadis itu duduk di hadapannya.
"Duduklah," ucapnya lembut. "Zoey sedang pergi, aku sendirian. Aku membutuhkan seseorang untuk mengobrol."
Laura duduk, namun tatapannya tetap datar dan waspada. Ia tak tersenyum balik.
Sandra menatapnya sejenak, lalu nada bicaranya berubah menjadi lebih dingin dan tajam. "Apa yang kau lihat semalam?"
Mendengar itu Laura menegang, namun berusaha tak memperlihatkannya. "Aku tidak melihat sesuatu yang menarik," jawabnya tenang.
Sandra tersenyum tipis. "Bagus. Setidaknya kau benar-benar gadis yang patuh dan lugu."
"Aku tidak selalu patuh pada siapa pun," jawabnya pelan namun tegas.
Sandra tertawa kecil, matanya menyipit curiga. "Semakin kau bicara begitu, semakin aku merasa ada yang tersembunyi darimu, mencurigakan."
Belum sempat Laura menjawab, Melly mendekat dengan langkah teratur. "Maaf Nyonya, Tuan Vincenzo memanggil Anda ke ruang kerjanya."
Nama itu sudah terucap, Sandra segera meletakkan cangkirnya di meja, bangkit berdiri.
Laura masih duduk tenang menatap Sandra. "Apakah aku boleh pergi?" tanyanya.
Langkahnya terhenti, Sandra menyeringai kecil. "Pergilah." Lalu ia melangkah pergi. "Dasar konyol." ucapnya pelan tak terdengar.
Laura menarik napas panjang, menahan diri agar tak menoleh. Melly masih berdiri di dekatnya, menatapnya dengan senyum yang tak sepenuhnya jujur.
"Maafkan saya, Nyonya," bisik Melly pelan. "Wajah Anda terlihat sangat lelah dan penuh ketakutan. Namun percayalah... Anda berada di tangan yang tepat dengan menjadi istri Tuan Killian Marcano."
Ia tersenyum licik, lalu melangkah pergi dengan sopan seolah tak mengucapkan hal yang mengerikan sama sekali. Laura hanya menatap punggungnya, tak memedulikan perkataan itu. Ia tahu satu hal — di tempat ini, tak ada tangan yang benar-benar aman.