Novel ini bergenre horor komedi yang menghibur meski horor. Cinta bisa tumbuh kapan saja dan pada siapa saja. Termasuk cinta Mbak Kunti kepada Nurdin, bestienya yang notabene-nya manusia. Karena patah hati, Mbak Kunti pindah ke daerah lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Lubi Channel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKIBAT SALAH SERVER (20)
Penulis: Linda Lubi
"Hehehe...iseng, Mbak." Nurdin melompat dari atas pohon ke tanah.
Wiii...mirip aktor film kolosal. Bisa terbang. Membuat Mbak Kunti makin terpesona. Walau cuma mimpi, nggak apa-apalah. Yang penting ketemu Nurdin.
"Iseng kok ngono." Jawab Mbak Kunti mendadak pakai bahasa Jawa.
Nurdin kan orang Aceh. Mbak Kunti tepuk jidat. Lupa. Soalnya dulu Mbak Kunti pernah tinggal di Jawa. Diakan kuntilanak urban. Gkgkgk. Sering mendengar manusia bisa berbahasa Jawa.
"Namanya juga iseng. Apa saja bisa dilakukan untuk mengisi ke-gabutan." Nurdin tiduran di rumput.
Ternyata Nurdin mengerti juga. Oh iya...Nurdin lama tinggal di Jakarta. Ya mengertilah. Di sana banyak orang Jawa juga. Mbak Kunti ikut-ikutan tidur di rumput.
Tumben mereka tidak cipika cipiki. Eh iya. Namanya juga dalam mimpi. Bedalah kalau dengan kenyataan.
"Nur...Mbak....."mereka berdua sama-sama nyebut nama.
"Ya...duluan Mbak." Nurdin mengalah.
"Kamu aja deh....." Mbak Kunti mengalah.
"Aku ya Mbak? Kita cari makanan yuk, Mbak. Ada 'mie meler', Mbak. Di perempatan sana. Baru buka. Katanya yang makan langsung meler sangkin pedesnya." Wajah Nurdin berseri-seri.
Mbak Kunti kira, Nurdin mau bilang tentang rindu. Ternyata tentang 'mie meler'. Mbak Kunti jadi lemes. Tapi jika makan dengan Nurdin, Mbak Kunti semangat juga sih.
"Ayo, kita beli." Mereka sudah sampai dengan sihir Mbak Kunti.
Tiba-tiba pelanggan dan owner mie meler pada kabur begitu melihat Mbak Kunti. Ternyata Mbak Kunti lupa menyamar sebagai manusia.
"Kuntilanakkk....." seketika kedai mie meler kosong. Orang-orangnya pada kabur semua.
"Wah kebetulan ini udah dimasak banyak di kuali. Ayo kita ambil saja. Bungkusss....." tumben Nurdin mau mengambil tanpa membayarnya.
Nggak ada wajah panik seperti biasa. Mbak Kunti yang jadi panik.
"Nur...ayo cepatan. Nanti keburu dipanggil Pak Ustad. Bisa gosong, aku." Ujar Mbak Kunti dengan wajah panik.
Begitu mie dibungkus semua, Nurdin meninggalkan uang 100 ribu di atas piring. Nurdin nggak tau harganya berapa. Mbak Kunti menggenggam tangan Nurdin. Seketika mereka sudah berada di sebuah kamar kosong. Ada kasur lantai dan printilan lainnya. Bisalah mereka guling-guling habis makan mie meler nanti. Ngeres juga otak Mbak Kunti.
"Lhok Mbak Kunti, kita ini di mana?" Nurdin bingung.
"Nggak tau. Yang penting kita bisa makan bebas." Mbak Kunti juga bingung.
Namanya juga lagi di dalam mimpi, lokasi ya gaje. Nggak sesuai ekspektasi. Entah di sebuah taman kek. Kan lebih romantis.
"Ayo kita makan, Mbak. Mumpung masih anget." Nurdin udah nggak sabar.
Nurdin memberi sebuah sumpit untuk Mbak Kunti. Haruskah pakai sumpit? Mbak Kunti bingung cara makannya. Ia perhatikan bagaimana Nurdin makan pakai sumpit. Mbak Kunti ikut-ikutan meski bingung. Ia kan tipikal Kuntilanak yang mudah beradaptasi.
Begitu pada suapan pertama, mereka sudah teriak-teriak makannya. Pedas level 5 rasanya. Sesuap, dua suap dan ketiga suap hidung Nurdin udah meler.
Sedangkan Mbak Kunti, serba berasap. Hidung berasap. Kuping berasap. Mulut berasap. Rambut berasap. Kamar mereka penuh asap. Mbak Kunti dan Nurdin teriak-teriak seperti pengantin baru yang keenakan. Memang rasa mie-nya bikin nagih. Pedas tapi enak. Orang-orang yang lewat kamar itu jadi kepo. Ada 3 orang yang nguping di depan pintu.
"So sweet....." ujar seorang kakek-kakek.
Dua pria lain juga mendengar rintihan Mbak Kunti dan Nurdin. Padahal mereka kepedasan. Bukan ngapa-ngapain. "Ah ah ah....."
"Inikan kamar si Totok. Bukannya dia lagi pulang kampung?" Ujar Nuril, salah seorang pria.
"Wah...mungkin dia sudah kembali dan bawa perempuan lain. Ayo kita dobrak saja. Dia yang enak-enakan, kita yang jadi pengen." Ujar yang lain.
Ketiga penghuni kontrakan petak itu mendobrak pintu dengan tendangan badak mengamuk.
Pintu terbuka di saat Nurdin dan Mbak Kunti bergelimang keringat akibat makan mie meler. Mereka pun ngos-ngosan sangkin pedesnya. Begitu pintu terbuka akibat tendangan penghuni kontrakan petak yang lain, mereka pada berteriak.
"Kuntilanakkk....." mereka kabur begitu melihat Mbak Kunti.
"Aaa...aaa...aaa....." teriak Mbak Kunti dan Nurdin.
Mbak Kunti terbangun dari mimpi. Wajahnya panik. Lebih panik lagi begitu melihat Abang Kunti duduk di nakas-nya sambil perhatikan wajah Mbak Kunti lebih dekat.
"Aaa...aaa...aaa....." mereka sama-sama berteriak.
Abang Kunti kabur. Ia lupa kalau Mbak Kunti sudah kasih ultimatum padanya untuk tidak datang lagi. Tapi tadi karena mendengar teriakan Mbak Kunti melalui telepati telinganya, makanya Abang Kunti masuk ke rumah Mbak Kunti. Takut terjadi sesuatu sama Mbak Kunti.
Muke gile. Masih berani juga dia ke sini. Untung aku mimpi Nurdin, jadi amarahku turun 5 oktaf. Aku tidak mau merusak kehadiran Nurdin dalam mimpiku. Gara-gara makan mie meler dalam mimpi, aku belum sempat mengungkapkan perasaanku. Keburu bubar. Aku dan Nurdin juga sama-sama bubar. Semoga bisa mimpi ketemu Nurdin lagi nanti. Ahahaha.