kalau adaa yang salah atau enggk nyambung ceritanyaa maapp yaaaahhh soalnya baru pertama bikin cerita kayak ginii (◠‿◕)
Siapa sangka gadis yang berisik, ceroboh, dan selalu bikin keributan itu justru jadi satu-satunya yang bisa meluluhkan hati ketua osis paling dingin, cuek, dan ditakuti seantero sekolah?
Dari yang saling tak suka, jadi tak bisa terpisahkan. Ini kisah gadis barbar yang mencuri hati ketos dingin yang tak pernah tersenyum pada siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Haris Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HATI YANG BERANI & ANCAMAN NYATA.
Hari-H makin dekat, rumah gue makin rame tiap hari. Tapi bukan cuma sibuk — suasananya penuh tawa, pelukan, dan doa yang tulus.
Siang itu, Mama gue bantu gue coba baju. Matanya berkaca-kaca lihat gue di depan cermin.
"Cantik banget, Nak…" bisiknya pelan. "perasaan baru kemarin mama gendong kamu, sekarang udah mau jadi istri orang."
Gue peluk Mama erat. "aku tetap anak Mama kok. Nggak ke mana-mana."
Di luar, Abang Daniel sama Arka lagi bantu Papa sama Daddy Daffa pasang hiasan. Tiba-tiba Abang ketawa keras banget.
"Wih, Arka! Hati-hati dong, jatuh nanti tamu ketawa!"
Arka senyum malu, tapi tangannya tetap hati-hati. "Tenang Kak, gue udah biasa jaga sesuatu yang berharga." 😊
Gue senyum denger itu. Dulu orang bilang Arka itu dingin, kaku, susah didekatin… sekarang dia udah jadi bagian dari tawa keluarga kita.
Tapi ketenangan itu nggak bertahan lama.
Saat pulang dari toko perlengkapan bareng Sasa sama Bela, jalanan sepi tiba-tiba. Di depan kita, motor berhenti — Kirana turun, berdiri tegak di tengah jalan.
"Jangan jalan dulu," katanya dingin, matanya tajam ke arah gue.
Sasa maju selangkah. "Lo mau apa, Kirana?!"
Kirana nggak jawab, langsung natap gue. "Lo pikir pesta ini bikin lo menang? Arka cuma terpaksa karena keluarga! Kalau dia tahu yang sebenarnya… dia bakal pergi ninggalin lo!"
"Kalau ada kebenaran yang lo simpan, bilang sekarang!" jawab gue mantap, nggak mundur. "Jangan sembunyi di balik ancaman!"
Kirana diam, rahangnya mengeras. "Lo nggak pantas sama dia. Lo nggak tahu apa yang sudah terjadi antara kami berdua."
"Kalau memang begitu, kenapa dia pilih gue?" gue mendekat pelan. "Karena dia bebas memilih, Kirana. Dan pilihannya gue."
Wajah Kirana memerah, marah banget. Dia mau bilang sesuatu… tapi suara motor lain terdengar dari kejauhan. Dia menoleh, lalu melompat naik motornya dengan cepat.
"Ini belum selesai, Aluna!" teriaknya sebelum pergi.
Sasa pegang tangan gue. "Lo nggak apa-apa, Luna?"
Gue mengangguk, meski jantung masih berdegup kencang. "Gue nggak apa-apa. Tapi dia… dia pasti menyembunyikan sesuatu."
Sore itu gue cerita semua ke Arka. Dia diam lama, tangannya mengepal erat.
"Gue tahu soal itu," ucapnya pelan. "Kirana pernah dekat sama gue dulu. Tapi itu sudah berakhir, sebelum gue kenal lo. Dia nggak bisa terima itu."
"Terus kenapa dia bilang ada hal yang gue nggak tahu?" tanya gue.
Arka menghela napas berat. "Dia cuma mau bikin lo ragu. Jangan dengarkan dia, ya? Gue pilih lo. Sekarang, nanti, dan selamanya."
Dia peluk gue erat. Gue percaya sama dia… tapi di sudut hati, ada rasa gelisah yang nggak hilang.
Malam itu, gue duduk di teras bareng Abang Daniel.
"Abang… menurut gue, Kirana nggak akan berhenti sampai hari H," kata gue pelan.
Abang duduk di samping gue, tatapannya serius. "Gue tahu. Arka juga tahu. Itu sebabnya dia diam-diam sudah siapkan pengamanan. Bukan untuk pesta… tapi untuk melindungi lo."
Gue menoleh. "Serius?"
Abang mengangguk. "Dia nggak bilang ke lo karena nggak mau lo takut. Tapi dia sudah siapkan semuanya. Raka, Dito, dan teman-temannya juga siap jaga."
Mata gue terasa hangat. Di balik diamnya, Arka melakukan banyak hal buat gue — tanpa gue tahu.
"Lo tenang aja, Luna," lanjut Abang sambil menepuk pundak gue. "Kami semua ada. Keluarga lo, keluarga Arka, teman-teman… nggak ada yang akan biarkan lo sendirian."
Gue mengangguk, senyum pelan. "Makasih ya, Bang."
Malam itu gue tidur dengan perasaan lebih tenang. Ancaman masih ada, Kirana belum menyerah… tapi gue nggak sendirian. Gue punya Arka yang berjuang diam-diam, keluarga yang melindungi, teman-teman yang setia.
Dan gue siap — siap hadapi apa pun, selama kita hadapi bareng-bareng.
JANGAN LUPA BUAT VOTE, LIKE, SUBSCRIBE DAN KOMEN YAAHHH😘🤗🤗