*𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘼𝙡𝙠𝙚𝙢𝙞𝙨 𝙎𝙚𝙢𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣 𝘽𝙚𝙣𝙪𝙖 𝙎𝙚𝙖𝙨𝙤𝙣 𝘿𝙪𝙖*
Ini adalah kisah Lin Xuan Sang Dewa Alkemis yang tidak sengaja bertemu dengan musuh terkuatnya Mo Xie, dua orang dari alam bawah yang tanpa sengaja terjerumus ke alam semesta yang jauh lebih tinggi.
Namun, mereka segera menyadari bahwa gelar agung, bahkan kekuasaan yang dianugerahkan oleh para Dewa dan Iblis Kuno bukanlah berkah, melainkan umpan untuk memelihara tubuh mereka hingga matang sebelum akhirnya dijadikan santapan.
Alih-alih terus saling membunuh, dua anomali ini akhirnya mengesampingkan permusuhan mereka untuk sementara.
Sebab sebelum menentukan siapa yang akan mati di tangan siapa, mereka sepakat melakukan satu hal terlebih dahulu...
Membantai para dewa serta iblis munafik dan membuat seluruh Alam Tinggi berlumuran darah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Kehancuran di Langit Tianyu
Kota Suci Tianyu, mutiara perbatasan yang sebulan lalu memproklamirkan kemerdekaannya dari Majelis Tetua, kini telah berubah menjadi lautan kehancuran.
Tabir pelindung emas yang menaungi kota telah hancur berkeping-keping. Asap kelabu bercampur darah membubung ke langit dan menutupi cahaya dua matahari Alam Primordial.
Menara-menara kristal runtuh menjadi puing, sementara ribuan Ksatria Emas tergeletak tak bernyawa di jalanan. Darah mengalir di antara reruntuhan, membentuk sungai-sungai kecil yang perlahan menghitam.
Di atas langit yang membara, sebuah armada perang raksasa telah mengepung kota.
Armada Utama Ibu Kota Suci Taichu akhirnya tiba.
Ratusan kapal perang yang dibangun dari tulang naga purba memenuhi langit. Meriam-meriam formasi di atas kapal masih mengepulkan asap setelah membombardir pertahanan Tianyu selama tiga hari tiga malam.
Ini bukan pasukan biasa.
Mereka adalah pasukan utama faksi pendukung yang dikirim untuk menebus kehancuran Pangeran Long Chen.
Di tengah armada berdiri tiga sosok dengan aura yang mengguncang langit.
Tiga Jenderal Dewa Leluhur.
Mereka mengenakan zirah emas yang diselimuti Hukum Penciptaan. Hanya dengan berdiri di sana, tekanan mereka sudah membuat ruang di sekitar Tianyu bergetar. Ketiganya merupakan pilar militer Kekaisaran dan hanya tunduk kepada Kaisar Dewa Taichu serta Majelis Tetua.
Di bawah tatapan ketiga jenderal itu, Shen Ziyue berdiri di puncak Menara Penguasa yang telah hancur separuh.
Putri Mahkota Dewa Kuno yang biasanya anggun kini tampak mengenaskan. Gaun sutra bintangnya telah hangus dan robek. Darah emas menetes dari luka di bahu dan pinggangnya, sementara rambut keemasannya kusut dan bercampur keringat serta darah. Cahaya Pemusnah yang biasanya menyelimuti tubuhnya kini hanya tersisa sebagai cahaya redup.
Lautan rohnya hampir sepenuhnya terkuras setelah bertarung tanpa henti selama tiga hari.
Namun Shen Ziyue tetap berdiri.
Ia menopang tubuhnya dengan pedang cahaya di tangan kanan, lalu menatap dingin ke arah armada yang memenuhi langit.
"Menyerahlah, Yang Mulia Putri Mahkota."
Suara Jenderal Gu Zhan menggema ke seluruh Tianyu.
"Keras kepala Anda telah mengorbankan ratusan ribu nyawa. Cabut perintah kemerdekaan Tianyu, berlututlah menghadap Ibu Kota, lalu serahkan manusia yang telah menghina Pangeran Long Chen. Majelis Tetua mungkin masih mengampuni nyawa Anda demi darah Kaisar yang mengalir dalam tubuh Anda."
Shen Ziyue terbatuk dan memuntahkan darah emas.
Namun bukannya gentar, ia justru tersenyum mengejek.
"Berlutut?"
Tatapannya menyapu ketiga jenderal.
"Kepada kalian yang sudah tua dan masih menggonggong di balik nama Majelis Tetua?"
Wajah Gu Zhan menggelap.
Ziyue melanjutkan dengan suara dingin, "Kalian hanya berani menghancurkan Tianyu karena Komandanku tidak ada di sini. Kalau dia ada, kalian bahkan tidak akan sempat berdiri di hadapanku."
"Lancang!"
Jenderal Feng Lie meraung.
Tekanan Dewa Leluhur meledak dari tubuhnya dan menghantam Ziyue seperti gunung. Darah kembali mengalir dari sudut bibirnya.
"Manusia itu pasti telah mati di luar sana!"
Feng Lie mengangkat tangan.
"Dia meninggalkanmu untuk menanggung akibatnya sendiri. Karena kau menolak bertobat, kami akan melumpuhkan kultivasimu dan menyeretmu kembali ke Taichu!"
Ketiga Jenderal Dewa Leluhur mengangkat tangan secara bersamaan.
Langit di atas Menara Penguasa seketika berubah keemasan. Hukum Penciptaan berkumpul dan membentuk telapak tangan raksasa yang menutupi langit. Tekanan yang dipancarkannya begitu mengerikan hingga sanggup menghancurkan gunung dan membakar bumi.
Telapak emas itu perlahan turun menuju Shen Ziyue.
Ziyue mendongak.
Tubuhnya sudah tidak memiliki kekuatan untuk menghindar. Namun tidak ada ketakutan di matanya.
"Kau terlambat, Xuan..."
Ziyue menutup mata.
Panas telapak emas semakin dekat. Namun tepat ketika jaraknya kurang dari sepuluh tombak dari kepala Ziyue, dunia seakan berhenti.
Ruang di atas Menara Penguasa terkoyak seperti kain tua.
Dari balik celah kehampaan itu, sebuah sosok berjubah putih melangkah keluar.
Ia hanya mengangkat kepala dan menatap telapak emas yang sedang turun.
Dalam sekejap, telapak tangan itu berhenti.
Retakan muncul dari ujung jarinya dan menjalar ke seluruh telapak. Sesaat kemudian, telapak emas itu pecah menjadi cahaya keemasan yang lenyap ke dalam kehampaan.
Bukan karena dihancurkan.
Hukum Tolak telah memaksanya mundur hingga kehilangan bentuk.
Ketiga Jenderal Dewa Leluhur terdiam.
Bahkan armada di belakang mereka ikut bergetar diterpa riak kekuatan yang tak terlihat.
Sosok berjubah putih itu turun tanpa suara ke balkon Menara Penguasa.
Jubahnya berkibar perlahan. Tak setitik debu pun menempel di tubuhnya.
Rambut peraknya berkilau di bawah cahaya dua matahari.
Shen Ziyue membuka mata.
Begitu melihat sosok yang berdiri di hadapannya, pedang cahaya di tangannya perlahan menghilang. Sisa kekuatannya pun lenyap, membuat tubuhnya terhuyung ke depan.
Lin Xuan bergerak.
Sebelum Ziyue menyentuh lantai, lengannya telah melingkari pinggang sang putri dan menahannya.
Ia menunduk.
Wajah cantik Ziyue dipenuhi luka dan noda darah. Mata Lin Xuan perlahan menjadi dingin.
"Siapa yang melakukan ini padamu?"
Suaranya pelan.
Namun suara itu menggema hingga ke tulang setiap makhluk di Tianyu.
Ziyue tersenyum lemah dan menyandarkan kepala di dadanya.
"Anjing-anjing tua itu..." Ia menarik napas pendek sebelum melanjutkan. "Mereka menggonggong terlalu keras saat kau tidak ada, Xuan."
Lin Xuan membelai rambut keemasannya.
Sisa daya Penciptaan dari Fragmen Naga mengalir keluar dari tubuhnya dan masuk ke tubuh Ziyue. Dalam sekejap, luka-luka di tubuh sang putri menutup. Darah berhenti mengalir dan wajahnya kembali bersemu.
"Istirahatlah."
Lin Xuan membaringkannya di dekat sisa pilar.
"Aku akan membungkam mereka."
Ia berdiri dan perlahan berbalik menghadap langit.
Armada Utama Taichu masih memenuhi pandangannya.
Di tengah armada, Jenderal Kuang Sha akhirnya mengenali wajah pemuda itu dari laporan yang pernah diterimanya. Ia tertawa keras, seolah hendak menyembunyikan kegelisahan yang mulai muncul di hatinya.
"Jadi kau manusia itu!"
Kuang Sha mengangkat senjata pusakanya.
"Kau berani kembali untuk menyerahkan nyawamu sendiri?"
Ia menunjuk Menara Penguasa.
"Semua meriam formasi, arahkan ke sana! Hancurkan dia bersama pengkhianat itu!"
"Serang!"
Ratusan kapal perang tulang naga bergerak serempak.
Meriam formasi menyala dan jutaan pola kuno memenuhi langit. Daya penghancur yang mengerikan berkumpul dalam sekejap, lalu ratusan pilar cahaya melesat turun seperti hujan petir.
Semuanya mengarah pada satu titik.
Lin Xuan.
Ziyue menahan napas.
Serangan sebesar itu bahkan mustahil ditahan oleh pertahanan Tianyu yang masih tersisa.
Namun Lin Xuan tidak bergerak. Ia hanya mengangkat tangan kanannya.
Lalu melambaikannya dengan santai.
Wuusshh!
Hukum Tolak dari Tungku Daging Tahap ke-11 meledak.
Riak tak kasatmata menyebar dari telapak tangannya dan menyapu seluruh langit. Ketika ratusan pilar cahaya menyentuh riak tersebut, semuanya berhenti di udara.
Sesaat kemudian, seluruh serangan itu berbalik.
Daya penghancur yang sebelumnya diarahkan kepada Lin Xuan dipaksa kembali menuju asalnya.
Namun Hukum Tolak tidak berhenti di sana. Riaknya terus menyebar hingga menyapu seluruh armada.
Langit mendadak sunyi.
Suara angin menghilang.
Raungan para prajurit terputus. Bahkan Ratusan kapal perang raksasa sebesar gunung berhenti di udara.
Kemudian retakan mulai muncul pada tulang naga yang menjadi tubuh kapal. Formasi pertahanan runtuh satu demi satu, sementara ikatan spiritual yang menyatukan setiap bagian kapal dipaksa tercerai oleh Hukum Tolak.
Dalam tiga tarikan napas, seluruh armada mulai hancur.
Kapal-kapal raksasa itu pecah menjadi serpihan, lalu berubah menjadi debu yang berhamburan tertiup angin.
Puluhan ribu prajurit Taichu di dalamnya bahkan tidak sempat melarikan diri sebelum tubuh mereka ikut tercerai dan lenyap.
Langit Tianyu kembali kosong.
Cahaya dua matahari kembali menyinari kota yang porak-poranda.
Di antara langit yang telah bersih itu, hanya Tiga Jenderal Dewa Leluhur yang masih hidup.
Lin Xuan sengaja membiarkan mereka tetap hidup.
Ketiganya melayang dalam diam dengan tubuh gemetar dan wajah sepucat mayat. Senjata pusaka telah terlepas dari tangan mereka.
Mereka baru saja menyaksikan ratusan kapal perang dan puluhan ribu pasukan lenyap hanya karena satu lambaian tangan.
Lin Xuan menurunkan tangannya dan menatap ketiga jenderal tersebut.
Bagi mereka, tatapan itu terasa seperti tatapan seorang penguasa yang sedang memandang tiga serangga di bawah kakinya.
"Sekarang." Suara Lin Xuan menggema di seluruh Tianyu.
"Turun. Lalu berlutut di hadapan Tuan Putri."