NovelToon NovelToon
Office Girl Milik Tuan Mahrup

Office Girl Milik Tuan Mahrup

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ragan Fian

Bosan dengan kisah cinta biasa? Siap-siap dibuat gemas, terharu, dan ketagihan lewat kisah Hazelia!

Gadis muda yang super ceria, tengil, dan penyayang ini terpaksa menunda mimpinya demi menjadi office girl di perusahaan raksasa demi membiayai pengobatan sang ibu dan sekolah adiknya. Siapa sangka, ketidaksengajaannya menabrak sang CEO dingin, Tuan Mahrup, justru memercikkan benih cinta tak terduga!


Dari ruang pantry penuh gosip hingga diangkat menjadi asisten pribadi, Hazel harus menghadapi cemburu rekan kerja, tuduhan miring, hingga kembalinya masa lalu Sang Tuan yang penuh rahasia. Bisakah ketulusan gadis sederhana ini meluluhkan hati pria sekaku es dan melewati badai ujian cinta mereka?


Penasaran bagaimana kelanjutan hubungan beda kasta yang penuh drama dan kejutan ini? Yuk, baca selengkapnya dan ikuti liku-liku cinta Tuan Mahrup dan Hazel sekarang juga!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

OGMTM-16

..Di atas amplop itu, tertera tulisan tangan tebal dengan tinta merah:

UNTUK ASISTEN PRIBADI BARU: Buka ini kalau kamu mau tahu alasan sebenarnya kenapa Mahrup membiarkan ibumu dirawat di rumah sakit milik keluarganya.

Napas Hazel tertahan di tenggorokan. Jemarinya yang bergetar pelan menggantung beberapa inci di atas amplop cokelat tebal itu. Rasa penasaran bercampur cemas bergemuruh di dadanya, mempertanyakan motif tersembunyi sang CEO di balik kebaikannya melunasi biaya pengobatan sang ibu.

Namun, sebelum Hazel sempat merobek pinggiran amplop tersebut, pintu kaca otomatis di samping mejanya bergeser pelan.

"Hazelia," panggil suara berat yang sudah sangat ia kenal.

Hazel tersentak kaget. Dengan gerakan refleks secepat kilat, ia menyelipkan amplop misterius itu ke bawah iPad Pro miliknya, lalu memoles senyum ramah yang sedikit kaku.

"I-iya, Tuan CEO Keren!" sahut Hazel cepat, berdiri tegap dari kursi kerjanya yang baru.

Mahrup melangkah keluar dari ruangannya membawa satu cangkir porselen khusus yang sudah kosong. Matanya yang tajam menyapu wajah Hazel, menangkap keraguan serta binar panik yang sempat menyala di mata jernih gadis itu sebelum meredup.

"Kenapa kamu masih berdiri di sana?" tanya Mahrup datar, melirik meja kerja Hazel yang kini bersih dari peralatan kebersihan. "Ikut saya masuk. Hari pertama jangan kebanyakan melamun."

Hazel mengangguk mantap, menyambar iPad Pro di mejanya sembari menyembunyikan amplop cokelat itu rapat-rapat di balik map cadangan, lalu mengekor di belakang tubuh jangkung Mahrup.

Ruang CEO lantai dua belas terasa sangat berbeda bagi Hazel hari ini. Jika kemarin ia memasukinya sembari memegang baki kopi atau kain lap, kini ia duduk di salah satu kursi kulit elegan di depan meja kerja utama Mahrup.

Perubahan dari memegang gagang pel menjadi mengoperasikan perangkat agenda digital bertriliun rupiah membuat Hazel harus menata napasnya berulang kali.

"Dengarkan saya baik-baik, Hazelia," ujar Mahrup seraya memajukan kursinya, menatap mata Hazel dengan intens. "Menjadi asisten pribadi bukan soal berdandan atau membuat kopi semata. Tugas utamamu adalah menjadi sistem kemudi agenda say.."

"Siap, Tuan! Hazel pendengar yang baik kok, asal jangan panggil Hazel pakai bahasa planet bisnis yang rumit-rumit ya!" sahut Hazel, berusaha mencairkan suasana.

"jangan potong Ucapan saya"Tatapan tajam bak laser melayang membuat dada Hazel berdegup kencang

Hazel dengan cepat cepat menundukkan kepalanya

"Maaf tuan"

Mahrup menatap Hazel tanpa ekspresi, namun ada sorot kehangatan tipis yang tak sengaja berkedip di matanya. Pria itu menyentuh layar iPad di tangan Hazel, menunjukkan antarmuka aplikasi eksekutif yang rumit.

"Ini jadwal rapat mingguan," terang Mahrup dengan nada suara yang perlahan melunak, terdengar begitu sabar mengajari tiap detailnya. "Di bagian ini, kamu masukkan kode konfirmasi klien. Dan untuk rapat direksi jam dua siang nanti, kamu tidak perlu mencatat semua ucapan mereka. Cukup catat tiga poin utama: keputusan, pemegang tanggung jawab, dan tenggat waktu."

Hazel memperhatikan jemari panjang Mahrup yang bergerak lincah menunjuk ikon-ikon di layar. Jarak mereka yang hanya beberapa puluh sentimeter membuat aroma khas Mahrup menyapu indra penciumannya kembali.

"Paham, Hazelia?" tanya Mahrup mendadak, menoleh hingga tatapan mata mereka bersibobok rapat.

Hazel mengerjap kaget, mengangguk cepat walau pipinya mendadak terasa hangat. "P-paham, Tuan CEO! Pokoknya catat tiga P tadi: Poin, Pemegang, dan P-tenggat!"

Mahrup menghembuskan napas pelan, sudut bibirnya terangkat amat tipis,sebuah senyum samar yang nyaris tak terlihat namun sanggup melelehkan ketegangan di ruangan itu. "Tenggat waktu berawalan T, Hazelia, bukan P. Tapi setidaknya otakmu bergerak cepat."

Kesabaran Mahrup yang tak terduga itu perlahan mengikis rasa minder di hati Hazel. Pria yang ditakuti seluruh karyawan gedung ini ternyata mau membimbingnya dari nol tanpa sedikit pun nada merendahkan.

"Satu hal lagi," lanjut Mahrup sembari menyodorkan sebuah pena perak khusus. "Gunakan ini jika kamu lebih nyaman menulis tangan di tablet. Jangan takut salah. Jika ada agenda yang membingungkan, tanyakan langsung pada saya, bukan pada orang lain."

Hazel menerima pena perak itu dengan tatapan haru. "Makasih ya, Tuan... Hazel janji bakal belajar dan bertanggung jawab biar enggak bikin Tuan kecewa."

Mahrup menatap binar ketulusan di mata Hazel, merasakan sekeping hatinya yang membeku kini bergetar aneh. Namun, ketenangan di antara mereka mendadak terpecah saat telepon genggam pribadi Mahrup di atas meja bergetar nyaring.

Layar ponsel Mahrup menampilkan panggilan masuk dari Direktur Rumah Sakit Mahardika.

Mahrup mengangkat telepon tersebut, mengaktifkan mode suara pelan. Namun, suara histeris perawat di seberang telfon masih sempat tertangkap samar oleh pendengaran tajam Hazel.

"Tuan Mahrup! Pasien atas nama Ibu Maria mendadak kritis di ruang ICU! Dan... ada seorang wanita mengaku bernama Clarissa yang memaksa masuk ke ruang perawatan!"

1
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!