Misya dan Reyden menikah selama dua tahun. pernikahan yang mereka jalani karena perjodohan, tak ada masalah dalam rumah tangga mereka yang monoton itu.
namun menjelang pernikahan ke dua mereka, ternyata Misya baru tahu kalau Reyden belum menerima dan bisa mencintai dia bukan karena belum siap. tapi karena hatinya masih ada pada wanita masa lalunya yang akhirnya kembali.
apakah Reyden akan kembali kepada wanita di masa lalunya atau mungkin dia mulai menyadari cintanya kepada Misya?
ikuti terus kelanjutan kisah cinta mereka ya kak...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misya 23
Reyden menurunkan tangannya, lalu mencengkeram kedua bahu Misya dengan lembut namun tegas, memastikan wanita itu tidak bisa membuang muka atau menghindar dari tatapannya.
"Soal sepupu saya..." suara Reyden berubah dingin, menyiratkan kemarahan yang tertahan pada keluarganya sendiri.
"Mulai hari ini, tidak akan ada satu pun orang dari keluarga saya yang berani mengatakan hal yang buruk lagi sama kamu, Misya. Termasuk sepupu-sepupu saya itu. Saya yang akan pasang badan di depan mereka. Rumah tangga ini adalah milik kita berdua, bukan urusan mereka untuk ikut campur, apalagi menghakimi posisi kamu sebagai istri saya. Dan bukan hanya ada saya yang akan berada bersama kamu, tapi juga ada Bunda dan Ayah juga adik-adik saya,"
Misya mendongak perlahan. Manik matanya yang basah menatap manik mata Reyden, mencari-cari secercah keraguan atau kebohongan di sana. Namun yang ia temukan hanya kilatan ketegasan dan sorot mata penuh penyesalan yang begitu pekat.
"Kamu serius, Mas...?" cicit Misya pelan, suaranya nyaris tak terdengar.
"Demi Allah, saya serius," jawab Reyden tanpa ragu sedetik pun. Rey membawa tangan Misya dan menggenggamnya dengan lembut kemudian menarik Misya ke dalam pelukannya.
"Saya sudah terlalu lama menjadi pengecut, Misya. Saya akan berusaha tidak akan mengulangi kebodohan itu lagi. Tolong... beri saya kesempatan untuk membuktikannya. Jangan hukum saya dengan cara mendiamkan atau menjauhi saya. Rasanya tidak enak, semalaman saja saya tidak bisa tidur!"
Isak tangis Misya yang tadinya menderu kini berangsur melemah, berubah menjadi sesenggukan kecil dalam pelukan hangat Rey.
Selama dua tahun menikah, Reyden memang dikenal sebagai pria yang kaku, dingin, dan minim kata-kata manis. Pria itu tidak pernah menyatakan cinta dengan cara yang romantis. Namun hari ini, melihat seorang Reyden Pratama, pria yang selalu menjaga gengsi dan wibawanya di kantor berlutut, menangis, dan merendahkan diri demi memohon pengampunannya, adalah bukti nyata yang jauh lebih berharga daripada ribuan kata manis di bibir.
"Aku takut, Mas..." bisik Misya lirih, ia melingkarkan kedua tangannya secara perlahan ke pinggang Reyden, balas memeluk pria itu dengan erat.
"Aku takut semua ini cuma sementara. Aku takut kalau nanti pada akhinya kamu berbalik kembali pada Aurelia. Jika pada akhirnya akan seperti itu lebih baik kita akhiri semuanya dari sekarang, Mas..."
Mendengar pengakuan jujur itu, Reyden langsung mempererat dekapannya, seolah ingin menyatukan tubuh mereka agar tak ada lagi jarak atau keraguan di antara keduanya.
"Tidak akan ada lagi celah untuk siapa pun, Misya. Dan kita tidak akan mengakhiri pernikahan ini sampai kapanpun," bisik Reyden tepat di telinga istrinya, suaranya bergetar penuh ikrar.
"Mulai detik ini, tidak ada masa lalu. Yang ada cuma kamu, aku, dan rumah tangga kita dan masa depan. Saya tahu kalau saya terlambat, tapi tolong beri saya kesempatan dan kita memulai semuanya dari awal. Saya akan perbaiki semuanya. Saya janji."
Misya tak menjawab lagi ucapan Rey. Dia hanya membalas ucpaan suaminya dengan pelukan erat dan membenamkan wajahnya pada dada nyaman suaminya. Begitupun dengan Rey yang memilih untuk memeluk Misya dan menciumi kepalanya.
Beberapa menit berlalu, Reyden perlahan merenggangkan pelukannya. Ia menangkup wajah Misya dengan kedua telapak tangannya yang hangat, lalu dengan penuh kelembutan mendaratkan sebuah ciuman yang lama dan penuh rasa bersalah tepat di kening istrinya. Ciuman itu turun ke kedua kelopak mata Misya yang bengkak, menghapus sisa-sisa air mata di sana. Sentuhan yang selama ini di rindukan oleh Misya.
"Sekarang..." bisik Reyden lembut sambil tersenyum tipis.
"Mari kita bersih-bersih. Wajah cantiknya jadi jelek kalau dipakai nangis terus. Setelah itu kita makan siang, perut saya sudah keroncongan..."
Misya mendengus pelan, meski sebuah senyuman tipis akhirnya terbit juga di bibirnya yang pucat. Ia memukul pelan dada Reyden dengan gemas.
"Ish, nyebelin! Siapa juga yang mau nangis kalau bukan karena kamu!"
"Iya, iya, saya yang salah, kita makan siang ya...," aku Reyden pasrah.
Suara gemercik air shower yang mengucur di dalam kamar mandi masih terdengar. Di luar kamar mandi, di atas nakas sebelah tempat tidur, ponsel Misya yang tergeletak diam tiba-tiba bergetar hebat.
DRRRTTTT
DRRRTTTT
Layar ponsel itu menyala terang, menampilkan rentetan notifikasi pesan yang masuk bertubi-tubi tanpa jeda. Reyden, yang baru saja hendak merapikan tempat tidur, melirik sekilas ke arah layar ponsel istrinya yang menyala di atas meja.
Dahi Reyden langsung mengernyit dalam.
DRRRTTTT
Notifikasi pesan baru kembali masuk.
Karena penasaran sekaligus didorong rasa cemas akan ketenangan istrinya, Reyden melangkah mendekat. Ia meraih ponsel Misya yang terus bergetar. Begitu ia membuka layar, yang kebetulan tidak Misya kunci, pemandangan di layar membuat darah Reyden mendadak mendidih seketika.
Puluhan pesan memenuhi layar dari satu grup chat baru dan beberapa nomor tak dikenal, serta satu nama yang paling ingin dihapus oleh Reyden dari muka bumi ini: Merlyn.
Merlyn:
"Puas kamu sekarang, Misya?! Gara-gara kamu ngadu ke Reyden, jabatan aku diturunkan jadi staf biasa! Kamu itu cuma istri perjodohan dan Istri kontrak dari Mas Rey! Dasar wanita nggak tahu diri! Kamu harusnya tahu diri dan pergi! Apalagi Aurelia sudah kembali, ini malah bikin ulah dengan ngadu yang macam-macam! Kamu jahat, Misya!"
Sherly:
"Nggak tahu malu banget jadi perempuan! Baru di belain sama Mas Rey di depan keluarga saja sudah belagu! Lupa diri, dasar istri kontrak! Aku yakin sebentar lagi Mas Rey cerikan kamu dan menikah dengan Aurelia. Jadi jangan senang dulu!"
Natasha:
"Dasar perempuan murahan! Sok tersakiti padahal aslinya kamu itu wanita manipulatif!"
Napas Reyden memburu. Rahangnya mengeras hingga otot-otot di pipinya berkedut hebat. Kemarahan yang luar biasa meluap di dadanya. Jadi, selama ini di belakangnya, keluarga besarnya, terutama Merlyn dan para sepupu begitu lancang meneror, menghina, dan merendahkan istrinya dengan kata-kata sekotor itu. Bahkan mereka dengan sengaja membuat grup WhatsApp khusus dan memasukkan Misya di dalamnya.
Belum reda kemarahan Reyden melihat rentetan pesan kebencian tersebut, sebuah notifikasi WhatsApp dari nomor asing dengan foto profil seorang wanita bergaun elegan muncul di bagian atas layar.
Aurelia:
"Halo, Misya... Maaf mengganggu siang kamu. Aku cuma mau kirim ini sebagai kenang-kenangan masa lalu aku sama Reyden. Semoga kamu nggak salah paham ya, kita semua cuma rekan kerja profesional kok sekarang. Tolong jangan berfikiran yang terlalu jauh, aku tahu kok kamu adalah istrinya, dan pastinya sekarang Rey juga mencintai kamu kan? Tolong jangan membuat pekerjaan kami malah terhambat karena masalah pribadi. Karena ada banyak orang yang terlibat dalam proyek ini, bahkan satu orang profesional yang sangat potensial juga malah di pecat dari proyek ini karena kamu yang salah paham dan cemburu buta. Semoga setelah ini kamu bisa bersikap lebih dewasa. 😊"
Di bawah kalimat yang terkesan sangat sopan dan manis itu, terlampir sebuah kolase foto-foto lama. foto Reyden dan Aurelia tersenyum mesra di sebuah kafe, lima tahun lalu, foto mereka bergandengan tangan, hingga foto saat mereka berdua merayakan hari jadi mereka.
Brak!
Reyden tanpa sadar membanting ponsel itu ke atas nakas dengan tenaga penuh, membuat bunyi hantaman keras yang cukup nyaring di dalam kamar.