Setelah akhirnya memasuki masa pensiun, Raya memutusakan menghabiskan hari tuanya seorang diri di sebuah vila mewah yang telah ia beli dengan hasil kerja keras selama puluhan tahun.
Namun, nasib seolah mempermainkannya. Baru sehari menikmati kehidupan sebagai pensiunan kaya, keesokan paginya ia terbangun di dunia yang sama sekali asing.
Bukan hanya itu, ia kini menghuni tubuh seorang wanita berusia tiga puluhan yang terkenal genit dan mesum.
Beruntung, ia mengetahui satu rahasia besar.
Halaman belakang rumah reyot yang tak diinginkan siapa pun itu ternyata terhubung dengan zaman lain.
Dalam ruangan penghubung dimensi, ternyata menyimpan kekuatan yang mengubah nya selangkah demi selangkah menjadi abadi.
2 Agustus 2026
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAS( BY.AR), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Di depan cermin kamar mandi nya yang besar, Su Wanwan tengah menatap permukaan kulitnya yang mulai berbeda.
"Eh, mandi ini... Tidak mungkin sampai membuat kulit wajahku seperti ini kan?" Su Wanwan memperhatikan kulit wajah nya yang mulai terlihat membaik.
Baik itu pori-pori, komedi dan jerawat semuanya terlihat sedikit memudar. Hanya sedikit oke, namun Su Wanwan cukup jeli untuk menyadarinya-- alasan utamanya karena kulitnya yang sawo matang terlihat sedikit cerah.
"Apakah ini karena..."
Untuk menguatkan tebakan nya, Su Wanwan membuka handuknya. Mencoba melihat dengan jelas bagaimana dengan kondisi kulit tubuhnya.
"Uh, masih menggelembir dan penuh lemak. Eh, bukan itu intinya." Su Wanwan menatap tajam permukaan kaca yang menentukan tubuhnya sendiri.
Su Wanwan menatap kulit nya sambil mengingat kondisi kulitnya sebelum nya. "Benar saja, sabun nenek tua ini tidak mungkin sampai membuat kulit penuh daki ini menjadi bersih dan cerah seperti ini. Pasti itu karena aku berolahraga ringan di dalam ruangan..."
Seketika mata Su Wanwan bersinar cerah. "Ruangan segar penuh vitalitas energi, bisa memulihkan stamina, mengeluarkan kotoran tubuh jika berolahraga. Ini benar-benar cheat dewa, siapapun kamu, dewa atau anomali aku sangat menyukainya!"
Seolah hilang akal, Su Wanwan melupakan niat sebelum nya untuk menikmati kehidupan nya di villa dan melihat bagaimana batas waktu dia bisa bertahan di villa. Setelah berpakaian dengan pakaian kuno nya kembali, dia langsung melesat masuk ke dalam ruangan nya.
Melakukan gerakan olahraga ringan dengan semangat yang membara, stamina nya tidak terkuras sedikitpun, namun keringat terus mengucur deras di tubuhnya. Kainnya mulai basah seolah ia baru saja di guyur shower, napasnya sangat lancar sama sekali tidak seperti napas manusia kelebihan berat badan yang sudah berolahraga berjam-jam.
Su Wanwan mengintip ke dunia kuno, ternyata sudah sore. Dan di dunia modern jam menunjukkan pukul 7 pagi, itu artinya waktu di dunia kuno lebih cepat sekitar 9 jam.
Su Wanwan menjatuhkan tubuhnya ke atas rerumputan hijau, meskipun stamina nya tidak tersentuh sedikitpun, namun tubuhnya memerah dan terasa panas. Membuat Su Wanwan mengambil kesimpulan bahwa meskipun stamina nya aman, namun tubuhnya masih memiliki batasan.
***
"Apa yang di masak kali ini?" Tanya Hu Zheng mendekati Bai Rongxin yang sedang menyalakan api di dapur. Dia dengan bantuan Shen Yuzhi baru saja selesai membuat alat-alat yang di perintahkan Su Wanwan.
"Nyonya berpesan kita bisa menggunakan semua bahan-bahan ini, jadi aku akan membuat olahan daging, sayur dan memasak beras menjadi nasi. Bagaimana?"
"Bagus-bagus, aku akan membantumu." Hu Zheng dengan antusias membantu mengambil air untuk di masukan ke dalam wajan.
"Jangan banyak-banyak, sisa air ini untuk mandi nyonya!"
"Tenang saja, aku yang akan mengambilnya ke sungai nanti. Tapi Rongxin, sepertinya kau jadi semakin perhatian pada nyonya ya"
Mendengar godaan Hu Zheng, wajah Bai Rongxin sedikit memerah malu. "Nyonya kan tuan kita, sudah seharusnya aku menyiapkan air mandinya. Apakah salah?"
"Dia memberikan kita makanan enak ini, mungkin menghabiskan banyak uang. Sudah pasti aku akan bersikap baik melayani nya."
"Baik-baik, ucapan mu masuk akal"
"Heh..." Suara sindiran terdengar dari arah pintu, Hu Zheng dan Bai Rongxin langsung melihat ke belakang.
"Baru mendapatkan makanan enak, kalian sudah menganggap nya baik. Apa harga diri kalian semurah itu?" Wajah Shen Yuzhi terlihat sinis dan suaranya terdengar dingin.
Hu Zheng yang memang kasar dan blak-blakan langsung tidak terima. "Shen Yuzhi, apa maksud ucapan mu itu!! Kau tidak ingin kami makan enak ya!"
"Kakak Hu, jangan terlalu keras atau nyonya akan mendengar nya." ucap Bai Rongxin pelan.
Shen Yuzhi menatap datar mereka berdua-- terutama Hu Zheng. "Apa maksud ucapan ku? Bukankah kalian sendiri juga tahu, apakah kalian sudah melupakan perbuatan menjijikkan nya selama ini? Hanya dengan sehari makanan enak kalian sudah menganggap nya baik!!"
Hu Zheng dan Bai Rongxin terdiam, memang rasanya mereka seperti yang di katakan Shen Yuzhi. Namun makanan yang yang utama, entah sudah berapa lama mereka tidak makan-makanan mewah seperti daging dan nasi putih yang begitu enak seperti itu.
Mungkin juga karena status budak mereka yang hidup dan di perlakukan rendah, mereka jarang mendapatkan kebaikan. Sehingga saat nyonya mereka mulai baik memberi mereka makanan enak, sikap waspada dan tidak suka mereka mulai memudar.
Toh mereka juga sadar mereka ada budak.
"Tapi..." Bai Rongxin berucap pelan. "Sepertinya, bukan sepertinya. Tapi nyonya memang sudah berubah."
"Tahu darimana kau dia sudah berubah, hanya dari sikap nya satu hari ini?" Potong Shen Yuzhi.
Bai Rongxin terdiam.
Hu Zheng menghela napas pelan. "Sudahlah, aku bukan orang yang mengingat dendam, aku juga tahu status ku ini apa. Sikap nyonya selama ini aku hanya menganggap nya seperti sikap tuan-tuan ku sebelum nya, sekarang dia mulai baik dan memberi ku makanan enak. Aku tidak begitu memikirkan keburukan nya lagi."
Hu Zheng kembali memasak, mengambil pisau dan memotong daging. Bai Rongxin menatap Shen Yuzhi dan Hu Zheng dengan serba salah, nyonya baik itu hal bagus namun perasaan Shen Yuzhi juga tidak bisa di abaikan.
Tangan Shen Yuzhi mengepal, wajahnya menunduk dengan ekspresi menahan emosi negatif. "Heh, bukan kalian yang mengalami apa yang aku alami. Kalian memang bisa saja bersikap seperti itu." ucapnya lalu pergi.
"Kakak Shen..." Panggil Bai Rongxin namun tidak mengejar, Hu Zheng meliriknya sedikit dan kemudian tidak menghiraukan nya.
Dalam ingatan yang mulai terkenang kembali, ia melihat seseorang yang menjijikan mencoba melecehkan nya yang terbaring lemah karena pengaruh obat. Namun dengan tekad kuatnya ia berhasil mendorong perempuan menjijikan itu dan berlari ke sungai. Rasa dingin akibat tenggelam dengan tubuh yang lemah membuat air mulai merasuki tubuh nya.
Shen Yuzhi memejamkan matanya, mencoba melupakan kenangan buruk itu. Tangan nya kembali mengepal, giginya menggertak saling menggigit hanya untuk menekan emosi dan kenangan itu agar tidak terus terpikirkan.
Hingga beberapa saat, mata itu kini menatap benda putih di langit gelap. Jika dia tidak mengalami hal buruk itu, apakah dia juga akan memaafkan nya sama seperti mereka ?
Dia tahu dia hanya budak, namun budak ini masih memiliki perasaan dan harga diri yang tidak bisa di rendahkan dengan kata 'tuan'.
Sementara itu, sosok yang membuat ketiga saudara sebudak itu bertengkar kini sedang berbaring di atas ranjang dengan pakaian tidurnya.
Tangannya memegang sebuah buku dan ia fokus membaca nya dengan teliti dan hati-hati. Mencoba melihat kembali alur yang terjadi...