Bagi Amanda Millen, patah hati terburuknya bukanlah saat melihat tunangannya berselingkuh di depan mata. Patah hati itu hanyalah awal mula dari sebuah bencana yang jauh lebih gelap. Dalam pelariannya mencari pelampiasan di kelab malam paling terlarang di kota, Amanda melakukan satu kesalahan fatal: ia menampar pria yang salah.
Pria itu bukan mantan kekasihnya yang brengsek. Pria itu adalah Aldebaran Hendrick.
Pemimpin The Iron Crown, klan mafia paling kejam, berdarah dingin, dan tak tersentuh oleh hukum mana pun. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol dan keputusasaan, Amanda menyerahkan dirinya pada sang iblis. Pagi harinya, ia terbangun sendirian dalam kehampaan, hanya ditemani memori kabur, sebuah kartu platinum tanpa limit, dan cincin berkepala tengkorak yang dingin di atas bantal.
Lima tahun berlalu. Amanda mengubur malam gila itu dalam-dalam, menganggapnya sebagai musibah yang tak akan pernah terulang. Ia membangun hidup baru, menyembunyikan Lily—buah dari benih sang penguasa ke
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
Hari ini resmi dinobatkan sebagai hari paling sial, paling hancur, dan paling memalukan dalam seluruh sejarah hidupku.
Udara malam terasa mencekik saat aku melangkah gontai menyusuri trotoar. Napasku beraroma alkohol murahan dan keputusasaan. Aku baru saja memergoki tunanganku—pria yang berjanji akan membawaku ke altar bulan depan—tengah bergumul panas dengan wanita lain di ranjang kami sendiri. Pengkhianatan itu membakar dadaku, menyisakan dendam dan rasa frustrasi yang membuat kewarasanku menguap entah ke mana.
Tanpa sadar, langkahku membawaku ke depan pintu ganda berwarna hitam legam. Kelab malam Underworld, tempat yang paling dilarang di jantung kota ini. Tempat di mana hukum tidak berlaku dan dosa adalah mata uang utama. Aku tidak peduli. Malam ini, aku hanya ingin hancur. Kugebrakan jutaan dolar sisa tabungan pernikahanku ke meja bartender, menenggak gelas demi gelas cairan ambar yang membakar tenggorokan, berharap cairan itu bisa menghapus memori sialan di kepalaku.
Hingga kepalaku terasa berputar hebat. Lampu strobo kelab yang berkedip merah dan biru membuat mataku nanar. Aku bangkit dari kursi bar, berjalan terhuyung menembus lautan manusia yang sedang menari gila.
Tiba-tiba, pandanganku terpaku pada satu sosok. Di sudut VIP yang temaram, kulihat siluet seorang pria. Postur tubuhnya, garis rahangnya dalam cahaya remang itu... sangat mirip dengan Felix, mantan kekasihku yang brengsek.
Amarah yang sedari tadi kutekan kembali mendidih. Darahku berdesir panas. Tanpa berpikir panjang, aku menerobos dua pria berjas hitam berbadan besar yang entah bagaimana berusaha menghalangiku, lalu berdiri tepat di hadapan pria itu.
PLAK!
Suara tamparan keras menggema, seolah menghentikan dentuman musik di sekeliling kami selama sepersekian detik. Telapak tanganku terasa kebas.
"Dasar bajingan!" makiku dengan suara parau yang bergetar hebat. Air mata yang sedari tadi kutahan akhirnya tumpah, merusak riasan mataku. "Berani sekali kau berkhianat, Felix! Kau hancurkan semuanya!"
Keheningan yang mematikan langsung menyelimuti area itu. Aku, dalam kondisi setengah mabuk, sama sekali tidak menyadari atmosfer membeku di sekitarku. Aku juga tidak menyadari bahwa pria yang baru saja kutampar... bukanlah Felix.
Dua detik kemudian, suara decakan logam terdengar serempak. Lima moncong pistol hitam legam kini terarah tepat ke kepalaku, siap meledakkan isi tengkorakku. Para pria berjas hitam tadi kini menatapku dengan sorot mata membunuh, menunggu satu perintah.
Namun, pria yang kutampar itu perlahan menoleh. Alih-alih marah, sebuah seringai tipis, dingin, dan sangat mematikan terukir di bibirnya. Mata kelamnya menatapku tajam bak predator yang baru saja menemukan mangsa paling menarik. Ia mengangkat satu tangannya dengan tenang, memberi isyarat. Dalam sekejap, kelima pistol itu turun kembali.
"Kau harus membayar sangat mahal untuk tamparan ini, Nona," bisiknya. Suaranya berat, serak, dan menggetarkan dasar perutku.
Sebelum otakku yang mabuk bisa mencerna apa yang terjadi, pria itu tiba-tiba mencengkeram pinggangku. Dunia berputar saat ia mengangkat tubuhku dengan kasar ke atas bahunya, seolah aku hanyalah karung goni yang tak berbobot.
"Lepaskan aku! Turunkan!" berontakku, memukuli punggung lebarnya yang terasa sekeras baja, tapi pukulanku hanya seperti gigitan nyamuk baginya.
Ia tidak mempedulikan teriakanku. Dengan langkah lebar dan penuh kuasa, ia membawaku menyusuri lorong panjang yang sepi, membuka paksa pintu ganda sebuah kamar VVIP, dan melempar tubuhku ke atas ranjang king size berseprai sutra hitam.
Aku terengah, menatapnya yang kini berdiri menjulang di tepi ranjang sambil melonggarkan dasinya perlahan. Ketakutan perlahan menyusup masuk, tapi sisa alkohol dan rasa sakit hati membuatku kehilangan akal sehat. Aku masih yakin dia adalah pria yang menyakitiku.
"Ini kan yang kau inginkan dariku?!" racauku, suaraku pecah oleh isak tangis yang menyedihkan. "Kau bajingan! Hanya karena aku menolak berhubungan badan sebelum menikah, kau memilih berselingkuh?! Kalau memang ini yang kau cari..."
Dalam satu gerakan putus asa dan buta arah, aku menarik kerah kemeja pria itu hingga ia terhuyung ke arahku. Tanpa ragu, aku menyatukan bibir kami. Kulumat bibir dingin itu dengan brutal, melampiaskan seluruh rasa sakit, amarah, dan kekecewaanku.
Pria itu sempat menegang. Ia jelas terkejut dengan seranganku. Namun, keterkejutannya hanya bertahan satu detik. Sedetik kemudian, sang predator mengambil alih. Erangan pelan keluar dari tenggorokannya saat ia membalikkan posisi, menindih tubuhku dengan seluruh beratnya. Ciumannya tidak lagi pasif, melainkan menuntut, rakus, dan merampas seluruh pasokan oksigenku.
Malam itu, di dalam kamar VVIP yang kedap suara, aku telah membangunkan seekor monster raksasa. Aldebaran Hendrick, mafia hyper yang kejam itu, merespons keputusasaanku dengan gairah yang menghancurkan. Kami terjatuh dalam permainan panas yang gila, liar, dan tanpa batas, terbakar oleh api yang kunyalakan sendiri, hingga fajar akhirnya menyingsing di ufuk timur.
Sinar matahari yang menyengat menembus celah gorden tebal, memaksaku membuka mata. Kepalaku berdenyut hebat seakan baru saja dihantam godam besi. Aku mengerang pelan, mencoba menggerakkan tubuh, dan seketika itu juga seluruh ototku menjerit perih.
Kesadaran menghantamku seperti air es. Mataku membelalak ngeri menatap langit-langit asing di atasku.
Aku menoleh ke samping. Kosong. Seprai di sebelahnya kusut masai, tapi tidak ada siapapun di kamar mewah bernuansa gothic ini selain aku. Ruangan ini sepi, hanya menyisakan aroma parfum khas pria—campuran musk, cedarwood, dan sedikit jejak tembakau mahal yang menguar kuat di udara.
Dengan tangan gemetar, aku menarik selimut menutupi tubuhku yang polos, saat itulah mataku menangkap sesuatu di atas bantal di sebelahku.
Sebuah kartu black platinum yang bersinar elegan. Dan tepat di atasnya, tergeletak sebuah cincin perak tebal berkepala tengkorak. Matanya berupa batu rubi merah darah yang seolah menatap tajam ke arahku.
Napas tercekat di tenggorokan. Potongan-potongan ingatan semalam berkelebat cepat layaknya film rusak. Kelab malam. Tamparan. Pistol. Ciuman putus asa. Dan... pria itu.
Sialan.
Air mata kembali menggenang. Kalau semalam pria itu bukan Felix... lalu siapa yang baru saja merenggut kehormatanku? Mengapa dia tidak membunuhku saat aku menamparnya? Dan mengapa dia meninggalkan kartu hitam tanpa limit serta cincin mengerikan ini untukku?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui, menghancurkan kewarasanku hari demi hari.
Sampai lima tahun berlalu, aku tidak pernah sekalipun mencari tahu tentang pria yang tidur bersamaku malam itu. Aku lari. Aku bersembunyi. Menganggap malam itu sebagai musibah paling hina karena kelalaianku sendiri. Aku meyakinkan diriku bahwa kami tidak akan pernah bertemu lagi di dunia yang luas ini. Aku hanyalah debu di jalanan, sementara dia jelas berasal dari dunia atas yang kelam.
Mungkin, kami tidak akan pernah bersinggungan lagi. Mungkin.
Atau mungkin... takdir yang kejam sedang menyusun rencana lain, menunggu waktu yang tepat untuk menyeretku kembali ke dalam nerakanya. Terutama ketika aku melihat sepasang mata kelam yang sama persis dengan pria itu, kini menatapku dari wajah gadis kecilku yang berumur empat tahun.
Lily.
kejam banget
kenapa Lily yg harus pergi😭