Retna tak pernah menyangka rumah tangga yang mati-matian ia pertahankan akan berakhir dalam satu keputusan kejam: perceraian. Atas desakan suami dan ibu mertuanya, ia diusir dari rumah, seolah seluruh pengorbanan, cinta, dan tahun-tahun yang ia jalani bersama keluarga itu tak pernah berarti.
Dengan hati hancur, Retna bersumpah tak akan lagi percaya kepada laki-laki. Baginya, cinta hanyalah pintu menuju luka yang lebih dalam.
Namun, ketika ia memilih mengunci rapat hatinya, seorang pria asing justru hadir membawa kehangatan yang belum pernah ia rasakan. Pria yang dijulukinya “Mas Bule” itu memperlakukannya dengan tulus, penuh perhatian, dan kasih sayang—perlahan menggoyahkan sumpah yang selama ini ia pegang.
Di antara trauma masa lalu dan harapan yang mulai tumbuh, mampukah Retna kembali membuka hati? Ataukah pria asing itu benar-benar hadir sebagai penyembuh luka sekaligus jodoh yang selama ini diam-diam menunggunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 - Pernikahan Yang Diinginkan Claudia
Beberapa hari setelah kedatangan Retna di Bali, kehidupannya mulai memiliki pola baru.
Bangun pagi.
Membersihkan rumah.
Mencuci pakaian.
Merapikan halaman.
Kemudian menyiapkan makanan.
Tidak ada lagi rutinitas sebagai seorang istri yang harus menunggu suami pulang.
Tidak ada mertua yang mengomentari pekerjaannya.
Tidak ada Arman yang membuatnya merasa tidak cukup baik.
Hanya ada dirinya sendiri dan pekerjaan yang harus diselesaikan.
Pagi itu Retna sedang menyapu teras ketika Nathan keluar dari kamar.
Pria itu berhenti di depan pintu.
“Kamu sudah bangun dari tadi?”
Retna mengangguk.
“Iya.”
“Tidak capek?”
“Tidak.”
Nathan melihat sapu di tangan Retna.
“Sepertinya kamu terlalu rajin.”
Retna tersenyum.
“Kalau tidak bekerja, saya malah bingung.”
Nathan hanya tersenyum.
Ia kemudian berjalan ke dapur.
Beberapa menit kemudian, Retna mendengar suara Nathan memanggil.
“Retna!”
“Iya?”
“Boleh tanya sesuatu?”
Retna segera menghampirinya.
“Apa?”
Nathan menunjuk sebuah wadah di atas meja.
“Ini apa?”
Retna melihatnya.
“Itu sambal.”
Nathan mengangguk.
“Pedas?”
“Lumayan.”
Nathan mengambil sedikit menggunakan sendok.
Retna langsung menahan tangannya.
“Jangan banyak-banyak!”
Nathan terkejut.
“Kenapa?”
“Ini lumayan pedas.”
Nathan malah tersenyum.
“Saya suka pedas.”
Retna mengangkat alis.
“Benarkah?”
“Iya.”
Nathan akhirnya mencicipinya.
Beberapa detik kemudian wajahnya berubah.
Retna langsung tertawa.
“Pedas, kan?”
Nathan mengangguk sambil mengambil air.
“Lumayan.”
Retna tertawa kecil.
“Makanya jangan terlalu banyak.”
Nathan ikut tertawa.
“Besok buat lagi.”
Retna mengangguk.
“Baik.”
Percakapan sederhana itu membuat suasana rumah terasa lebih hidup.
Retna mulai terbiasa dengan keberadaan Nathan.
Ia juga mulai mengetahui bahwa pria itu ternyata tidak sulit untuk diajak berkomunikasi.
Meski kadang Nathan membuatnya bingung dengan kebiasaan-kebiasaan yang berbeda.
Dan tanpa Retna sadari, hari-harinya mulai terasa lebih tenang.
Sementara itu, di tempat lain, Arman sedang menghadapi sesuatu yang sama sekali berbeda.
Claudia sedang duduk di sampingnya sambil membuka ponsel.
“Kita harus menentukan konsep pernikahan.”
Arman mengangguk.
“Konsepnya bagaimana?”
Claudia menunjukkan beberapa foto.
“Aku mau yang mewah.”
Arman melihatnya.
Gedung besar dengan dekorasi bunga memenuhi seluruh ruangan.
“Ini?”
“Iya.”
“Bukannya terlalu besar?”
Claudia langsung menatapnya.
“Kenapa terlalu besar?”
“Undangan kita tidak sebanyak itu.”
“Aku tidak mau pernikahan biasa.”
Arman terdiam.
Claudia kembali menunjukkan foto lain.
“Aku mau dekorasi seperti ini.”
“Biayanya pasti mahal.”
“Aku tahu.”
Arman menghela napas.
“Kita bisa cari yang lebih sederhana.”
Wajah Claudia langsung berubah.
“Arman, aku cuma menikah sekali.”
Kalimat itu membuat Arman diam.
Claudia kemudian melanjutkan.
“Aku tidak mau nanti orang-orang membicarakan pernikahanku hanya karena acaranya biasa saja.”
Arman menatapnya.
Ada sesuatu yang terasa berbeda.
Ketika dulu menikah dengan Retna, mereka bahkan harus menghitung pengeluaran dengan sangat hati-hati.
Retna tidak pernah meminta pesta besar.
Bahkan ketika Arman mengatakan mereka harus menghemat banyak hal, perempuan itu hanya mengangguk.
Tidak pernah menuntut gaun mahal.
Tidak pernah meminta dekorasi mewah.
Tidak pernah meminta pesta yang harus membuat semua orang kagum.
Retna hanya berkata,
“Yang penting kita menikah.”
Kini Claudia justru menginginkan hampir semuanya.
“Selain itu,” ujar Claudia, “aku mau bulan madu ke Eropa.”
Arman langsung menoleh.
“Eropa?”
“Iya.”
“Kenapa harus Eropa?”
Claudia terlihat heran.
“Karena aku mau.”
“Bukannya kita bisa bulan madu di Bali atau Jepang?”
Claudia menggeleng.
“Aku sudah sering ke Bali.”
“Jadi?”
“Aku mau Swiss atau Italia.”
Arman terdiam.
“Claudia, biaya perjalanan ke sana tidak sedikit.”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu kenapa—”
“Aku mau pernikahan yang berkesan dan mewah.”
Claudia menatap Arman.
“Aku sudah banyak mengalah selama hidupku. Untuk pernikahan, aku tidak mau mengalah.”
Arman mengusap dahinya.
Ia mulai merasa sedikit pusing.
Belum selesai membicarakan gedung dan bulan madu, Claudia kembali membuka ponselnya.
“Oh iya.”
“Apa lagi?”
“Aku ingin membeli beberapa barang.”
“Barang apa?”
Claudia menunjukkan sebuah tas.
“Ini.”
Arman melihat harganya.
Matanya langsung membesar.
“Itu mahal.”
“Memangnya kenapa?”
“Untuk tas?”
Claudia mengangguk.
“Tapi aku suka.”
Arman tertawa kecil karena tidak percaya.
“Claudia, harganya hampir seperti motor.”
Claudia tidak terlihat terhibur.
“Kalau kamu sayang aku, seharusnya tidak masalah.”
Arman terdiam.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Claudia kemudian menunjukkan beberapa barang lainnya.
Jam tangan.
Sepatu.
Tas.
Perhiasan.
Semuanya dari merek ternama.
“Ini untuk apa?” tanya Arman.
“Hadiah.”
“Hadiah?”
“Iya.”
“Untuk siapa?”
“Untuk aku.”
Arman menatapnya beberapa detik.
“Kamu mau aku belikan semuanya?”
Claudia tersenyum.
“Tidak semuanya.”
Arman menghela napas lega.
“Hanya beberapa.”
Arman kembali diam.
Di dalam pikirannya, muncul perbandingan yang tidak sengaja.
Retna.
Selama menjadi istrinya, perempuan itu hampir tidak pernah meminta barang mahal.
Bahkan ketika Arman memberinya hadiah sederhana, Retna sudah terlihat bahagia.
Pernah suatu kali Arman membelikannya sebuah tas biasa.
Retna memeluk tas itu sambil tersenyum.
“Bagus sekali.”
Padahal harganya bahkan tidak seberapa.
Kini Claudia melihat tas mahal dan menganggapnya sesuatu yang wajar.
Arman mulai bertanya-tanya.
Apakah dulu ia terlalu menyepelekan Retna?
Pikiran itu segera ditepisnya.
Ia tidak ingin memikirkan mantan istrinya.
Retna sudah pergi.
Dan ia akan segera menikah dengan Claudia.
“Baiklah,” kata Arman akhirnya.
Wajah Claudia langsung cerah.
“Benarkah?”
“Iya.”
“Berarti kita bisa pesan sekarang?”
“Jangan semuanya sekaligus.”
Claudia tersenyum puas.
“Setelah menikah, aku juga mau membeli mobil baru.”
Arman langsung menoleh.
“Mobil?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Aku bosan dengan mobilku sekarang.”
Arman menatap Claudia dengan ekspresi tidak percaya.
“Kamu serius?”
Claudia mengangguk.
“Aku sudah bilang. Aku mau kehidupan yang lebih baik setelah menikah.”
Arman tidak menjawab.
Untuk pertama kalinya, ia mulai merasa bahwa menikahi Claudia mungkin tidak sesederhana yang ia bayangkan.
Namun ketika teringat keuntungan bisnis yang akan diperoleh keluarganya dari pernikahan tersebut, Arman kembali menenangkan dirinya.
Ia akan mengusahakannya.
Bagaimanapun juga, keluarganya sudah berharap banyak.
Sementara itu, di Bali, Retna sedang sibuk menyiapkan makan siang.
Ia membuka kulkas dan melihat beberapa bahan.
“Nathan suka apa, ya?”
Ia masih kesulitan memahami selera majikannya.
Akhirnya ia memilih membuat nasi goreng sederhana dengan ayam dan sayuran.
Ketika makanan sudah selesai, Nathan masuk ke dapur.
Ia melihat piring di atas meja.
“Nasi goreng?”
Retna mengangguk.
“Iya.”
Nathan tersenyum.
“Saya suka.”
Retna terlihat lega.
“Benarkah?”
“Iya.”
Nathan mengambil satu sendok.
Kemudian ia berhenti.
“Retna.”
“Iya?”
“Ini pedas?”
Retna tersenyum.
“Sedikit.”
Nathan menatapnya curiga.
“Kamu bilang sedikit kemarin.”
Retna tertawa.
“Memangnya kemarin terlalu pedas?”
Nathan mengangguk.
“Sedikit.”
Retna tertawa.
“Berarti kali ini jangan pakai sambal.”
Nathan menggeleng.
“Tidak apa-apa.”
Ia kemudian makan.
Retna memperhatikannya dari jauh.
Ada rasa aneh yang perlahan muncul.
Bukan perasaan cinta.
Belum.
Hanya rasa nyaman.
Nathan tidak banyak bertanya tentang masa lalunya.
Tidak pernah membandingkannya dengan perempuan lain.
Tidak pernah membuatnya merasa rendah.
Bahkan ketika Retna melakukan kesalahan kecil, pria itu tidak pernah membentaknya.
Hal sederhana itu ternyata terasa sangat berarti bagi seseorang yang baru saja keluar dari pernikahan penuh luka.
Retna kembali mengingat Arman.
Kemudian buru-buru mengusir bayangan itu.
Ia tidak ingin mengingat masa lalu.
Ia ingin hidup baru.
Dan untuk sementara, rumah di Bali ini adalah tempat yang ingin ia pertahankan.
Retna tidak tahu bahwa di tempat lain, mantan suaminya sedang mempersiapkan pesta pernikahan yang jauh lebih mewah daripada pernikahan mereka dulu.
Pernikahan yang penuh kemewahan.
Pernikahan yang akan membuat banyak orang iri.
Namun Arman sendiri belum tahu bahwa semakin ia menuruti semua keinginan Claudia, semakin besar pula tuntutan yang akan muncul setelah mereka menikah.
Dan suatu hari nanti, ia mungkin akan kembali teringat pada seorang perempuan yang dulu tidak pernah meminta banyak.
Perempuan yang pernah ia anggap tidak cukup baik.
Retna.