Berawal dari sikap sang istri yang selalu egois dan tidak lagi memberikan perhatian dan kasih sayang padanya. Membuat Reno, sosok suami yang awalnya baik dan penuh kasih sayang, pada akhirnya memilih mencari kesenangan diluar. Semua itu dia lakukan lantaran kesal, sebab sang istri yang diharapkan bisa memberikan perhatian dan kasih sayang, justru selalu mengecewakannya dan mengabaikannya, yang membuatnya merasa tidak dihargai lagi sebagai seorang suami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ida Kitty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 28
Sepulangnya dari kafe, Wulan langsung menuju ke dapur. Seperti biasa, dia tetap menyiapkan makan malam untuk suaminya Reno. Meski suasana hatinya kini sedang tidak baik-baik saja dan masih menyimpan rasa kesal pada Reno. Namun bertemu dengan Siska membuatnya merasa lebih tenang dan memutuskan untuk tidak memperpanjang masalah serta yakin dan percaya kalau suaminya berkata jujur dan memang benar-benar tidak ada hubungan dengan mantan istrinya itu.
Selesai masak, Wulan langsung mandi. Sementara Azam sudah rapi dan sudah bersantai di depan TV. Tina sebagai pengasuh Azam, selalu melaksanakan tugasnya tepat waktu dan sangat cekatan dalam mengurus Azam sedari Azam masih bayi. Sehingga Wulan sangat terbantu dengan adanya Tina sebagai pengasuh Azam.
Selesai mandi Wulan duduk di depan meja riasnya, melakukan rutinitasnya merias diri sehabis mandi. Tidak lama kemudian Reno yang baru saja pulang kantor masuk ke kamar. Wulan berhenti sejenak, berdiri menghampiri Reno kemudian mencium tangan suaminya itu. Setelah mencium tangan Reno, Wulan kembali duduk di kursi dan melanjutkan merias wajahnya, tanpa sepatah katapun.
Reno yang masih merasa bersalah, terlihat gugup dan jadi serba salah. Dia pun mulai bicara dan pastinya langsung membahas soal kejadian di kantor tadi pagi.
"Sayang, kamu masih marah ya. Beneran sayang, itu gak seperti yang kamu lihat. Aku.."
"Mandilah dah sore, udah hampir Maghrib, shalat dah tu kita makan. Buruan," perintah Wulan yang terdengar seperti seorang ibu di telinga Reno.
"I.. iya, iya sayang aku mandi," jawab Reno yang buru-buru pergi ke kamar mandi. Kejadian di kantor benar-benar membuat Reno merasa takut kehilangan Wulan, dia takut Wulan tidak lagi mencintainya. Sehingga dia berusaha terlihat baik di mata Wulan. Sementara Wulan hanya tersenyum melihat tingkah Reno.
Baru saja masuk kamar mandi, Reno keluar lagi.
"Apa lagi?" tanya Wulan sedikit melotot.
"Handuk sayang, handuknya ketinggalan," jawab Reno yang buru-buru mengambil handuknya lalu kembali ke kamar mandi.
Wulan hampir tidak bisa menahan tawanya, melihat suaminya yang benar-benar kacau.
"Maafin Wulan mas, udah ngerjain mas Reno, karena Wulan masih kesal sama mas Reno yang gak bisa bersikap tegas sama Melly," ucap Wulan lirih.
Malamnya, Wulan tengah sibuk di meja makan, mempersiapkan hidangan untuk makan malam. Sementara Azam sudah duduk manis, menunggu mamanya melayaninya. Tidak lama kemudian Reno turun dari lantai atas dan langsung menuju ke meja makan. Reno terus saja memperhatikan Wulan, dia benar-benar terlihat sangat gelisah dengan sikap Wulan yang masih dingin padanya.
Selesai mengambilkan makan Azam, Wulan kemudian melayani Reno. Mengambilkan nasi di piring Reno, sayur dan juga lauk pauk nya. Tidak lupa menuangkan segelas air putih untuk Reno. Setelah itu dia pun mulai menyantap makanannya, begitu juga dengan Azam, yang sudah terbiasa makan sendiri tanpa harus disuapi lagi.
Reno yang sudah tidak tahan dengan keadaan ini, mencoba meminta maaf lagi pada Wulan. Dia tidak perduli walaupun sedang di meja makan, bahkan dia lupa kalau ada Azam disampingnya.
"Sayang, aku mohon jangan diamkan aku seperti ini. Aku gak bisa sayang, aku benar-benar minta maaf," ucap Reno sambil menatap Wulan dengan penuh perasaan.
"Bisa gak mas Reno gak bahas itu dulu, kita lagi makan lho mas, ada Azam juga. Mas Reno sengaja mau buat Wulan semakin marah iya?" gerutu Wulan.
"Bukan gitu sayang, iya maaf aku lupa kalau ada Azam. Aku.. aku hanya tidak bisa seperti ini. Aku tersiksa sayang,"
"Makan!" bentak Wulan.
"I.. iya, iya sayang aku makan," jawab Reno yang langsung mulai menyantap makanannya.
"Mama kok galak sih ma. Kasian papa dong ma, mama jahat," protes Azam pada mamanya.
"Sayang.. mama cuma bercanda kok, iya kan pa?"
"Iya sayang, mama cuma bercanda. Udah, lanjutin makannya ya," ucap Reno.
"Iya pa, tapi kalau mama nakal jewer aja kupingnya ya pa," ucap Azam dengan polosnya.
"Iya sayang, nanti papa jewer kalau mama nakal," ucap Reno sambil melirik ke arah Wulan. Namun cepat-cepat Reno mengalihkan pandangannya dan kembali menyantap makanannya, karena Wulan menatap tajam ke arahnya.
Selesai makan mereka berkumpul di ruang TV, ada bi Mumun, ada Tina juga, sehingga Reno tidak punya kesempatan untuk membahas masalahnya dengan Wulan. Reno pun akhirnya pergi ke ruang kerjanya, untuk menyelesaikan pekerjaan kantornya yang belum selesai dia kerjakan. Sementara Wulan asyik ngobrol dan bercanda dengan Azam, bi Mumun dan Tina.
Tepat jam sepuluh malam, semua sudah masuk ke kamar masing-masing. Azam pun sudah tertidur lelap di kamarnya. Wulan duduk sambil menyandarkan tubuhnya di tepi ranjang, dengan sebuah buku resep masakan di tangannya. Dia sangat suka membaca buku-buku tentang berbagai macam resep masakan, mempelajarinya, lalu mencobanya untuk meningkatkan kualitas masakan di kafenya. Tidak lama kemudian, Reno yang baru saja menyelesaikan tugas kantornya, langsung menghampiri Wulan lalu duduk disampingnya.
"Sayang?" panggil Reno dengan lembut.
"Hem.." jawab Wulan yang hanya mendehem.
"Jadi gini ceritanya.." Reno pun mulai menceritakan apa yang terjadi di kantor, dari pertama Melly datang sampai Melly memaksa memeluknya.
"Gitu ceritanya sayang, sayang.. kok diam saja. Aku bicara jujur dan apa adanya sayang, aku mohon percayalah," bujuk Reno pada Wulan.
Wulan meletakkan bukunya di atas meja, lalu dia beralih menghadap ke arah Reno, menatap Reno dengan tatapan tajam, membuat Reno semakin serba salah dan tidak berani berbicara lagi, dia takut kalau ucapannya justru membuat Wulan semakin marah. Bahkan melihat tatapan Wulan, Reno yakin kalau Wulan benar-benar masih marah dan tidak percaya dengan ucapannya. Namun tak disangka, Wulan justru kemudian tersenyum manis.
"I love you mas," ucap Wulan, yang membuat Reno seperti meneguk air es saat dia kehausan di gurun pasir yang gersang dan tandus.
"Apa sayang? coba ulangi lagi," ucap Reno yang masih belum percaya dengan ucapan Wulan.
"I love you suamiku.. iya sayang.. aku percaya kok, aku percaya kalau suamiku gak akan mengkhianati ku, karena suamiku sangat-sangat mencintaiku," ucap Wulan dengan tetap tersenyum manis.
"Terimakasih sayang.." ucap Reno yang langsung memeluk Wulan dengan sangat erat.
"Benar kan mas, mas Reno hanya mencintai Wulan?" tanya Wulan dengan manja.
"Iya sayang, cuma kamu, cuma kamu yang ku cinta dan ku sayang di dunia ini. Gak ada yang lain dan gak mau yang lain. Percaya ya," ucap Reno sambil terus memeluk Wulan lalu menciumi Wulan.
"Maafin Wulan ya mas, udah cuekin mas Reno. Abisnya Wulan kesal sama mas Reno yang mau aja dipeluk Melly," ucap Wulan dengan wajahnya yang cemberut, menunjukkan rasa cemburunya.
"Maafkan aku sayang, aku tidak menyangka dia akan memelukku. Kalau dia minta izin dulu, pasti aku gak mau sayang," ucap Reno dengan sedikit candaan.
Wulan tidak menjawab, dia hanya mencubit lengan Reno.
"Aw.. sakit sayang, tapi gak pa-pa cubitlah aku sepuasmu sayang, aku tahan, kalau itu bisa membuatmu senang. Sakit dicubit tidak seberapa, bila dibandingkan sakit kamu cuekin aku," ucap Reno sambil terus menciumi istri yang sangat dia cintai itu.
semoga pengalaman Rudi bermanfaat untuk mu Alex
semangat Alex pikirkan dengan matang nasehat Alex