NovelToon NovelToon
Mulut Bang Tua Bukan Kaleng Kerupuk

Mulut Bang Tua Bukan Kaleng Kerupuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Kutukan
Popularitas:479
Nilai: 5
Nama Author: Pak Tua

Kenalin, Sahat Tua. Umur baru 30-an, tapi dipanggil "Bang Tua" sejak jadi maba, entah karena mukanya emang dari sononya udah kayak bapak-bapak, atau emang takdir aja nggak kasih dia opsi lain.

Dosen matematika, kalem di luar, tapi isi kepalanya? Berisik banget. Tiap hari nahan diri biar nggak protes sama orang nyerobot antrian, sopir angkot ugal-ugalan, sampai penipu receh yang sok pinter nelepon minta kode OTP.

Biasanya dia cuma bisa ngedumel pelan terus lanjut hidup.

Sampai suatu hari... dumelannya kejadian beneran.

Awalnya dikira kebetulan. Lama-lama, kok kebetulannya kompak banget?

Ternyata, mulut Bang Tua tuh bukan kaleng kerupuk.

Dan dunia belum siap sama akibatnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pak Tua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: KEPINGAN YANG MULAI LENGKAP

Setelah Dr. Yosia berpamitan untuk menyapa meja lain, meninggalkan kesan yang begitu ramah di permukaan tapi menyisakan rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan, Bang Tua dan Pak Ferdinand duduk diam sejenak, saling bertukar pandang penuh makna.

"Gimana menurutmu, Sahat?" tanya Pak Ferdinand pelan, suaranya nyaris berbisik meski suasana ramah tamah di sekitar mereka cukup ramai untuk menutupi percakapan mereka.

"Orangnya pintar kali ngomong, Pak. Tapi kayaknya semua jawabannya itu template doang, kayak nggak ada yang benar benar spesifik," jawab Bang Tua, dalam hati menambahkan, "kalau ngomong soal kesejahteraan mahasiswa doang bisa bikin orang jadi Ketua Prodi, mendingan bapak samperin aja tukang parkir yang tiap hari cerita keluh kesahnya, itu lebih spesifik keluhannya daripada jawaban tadi".

Pak Ferdinand mengangguk setuju, wajahnya terlihat serius. "Itulah yang bikin aku was was sama dia, Sahat. Dari luar kelihatan baik, penuh visi, tapi begitu ditanya detail, jawabannya muter muter. Aku curiga, jangan jangan yang dia kejar bukan benar benar perbaikan buat jurusan, tapi cuma jabatan buat kepentingan dia sendiri."

"Kau denger nggak, Pak, tadi dia bilang mau tata ulang sistem pembagian beban. Tapi setahu bapak, itu kan yang selama ini bikin masalah, dan yang mengatur pembagian beban itu, setahu bapak, ya orang orang dekat dia juga di jurusan," Bang Tua menambahkan, mulai menyusun kecurigaan yang lebih tajam.

Pak Ferdinand terdiam, matanya melebar sedikit, seolah baru menyadari sesuatu. "Kau benar juga, Sahat. Jangan jangan, masalah beban kerja yang bikin Bu Marlina kewalahan itu, bukan murni kebetulan administratif, tapi sengaja diatur biar dosen dosen tertentu keliatan kewalahan, terus nanti Pak Yosia yang tampil sebagai penyelamat, bawa solusi, dapat pujian, dapat dukungan buat jadi Ketua Prodi."

"Kalau bener begitu, licik kali orang ini, Pak. Pura pura jadi pahlawan padahal dia sendiri yang bikin kebakarannya," gumam Bang Tua, dalam hati menambahkan, "ini mah bukan lagi politik kampus biasa, ini udah level sinetron azab, cuma bedanya azabnya belum keliatan, orangnya masih santai makan prasmanan sambil senyum senyum".

Mereka berdua terdiam sejenak, memandangi kerumunan tamu yang masih ramai bercengkerama di sekitar mereka, sebagian besar tidak menyadari percakapan serius yang baru saja terjadi di meja mereka. Pak Ferdinand akhirnya angkat bicara lagi, suaranya lebih pelan dari sebelumnya. "Sahat, kalau dugaan kita benar, ini bukan main main. Kau harus hati hati, jangan sampai terlalu terang terangan cari bukti, bisa bisa malah kau yang kena masalah duluan."

Bang Tua mengangguk, menyadari betul risiko yang mulai membayangi langkahnya. "Bapak tau, Pak. Tapi kalau diem aja liat ketidakadilan kayak gini, bapak juga nggak akan bisa tidur nyenyak."

Pak Ferdinand menepuk pundak Bang Tua sekali lagi sebelum mereka benar benar berpisah menuju kendaraan masing masing, "yaudah, hati hati aja, Sahat. Kau juga inget, kau bukan cuma mikirin dirimu sendiri sekarang, ada tiga mahasiswa yang gantungin harapan sama kau". Kalimat itu terngiang terus di kepala Bang Tua sepanjang perjalanan pulang, mengingatkannya betapa besar tanggung jawab yang kini dia pikul, jauh berbeda dari kehidupannya yang dulu begitu sederhana, hanya berkutat antara mengajar dan mengejar gelar doktoral.

Mereka berdua akhirnya berpamitan, meninggalkan acara dies natalis dengan pikiran yang jauh lebih berat dari saat mereka datang. Sepanjang perjalanan menuju parkiran, Pak Ferdinand sempat berkata pelan, "aku nggak nyangka, Sahat, akhirnya kita berdua malah jadi kayak dua orang yang lagi nyusun rencana rahasia buat gulingkan calon pejabat kampus, kalau ada yang denger, bisa bisa kita dikira lagi rapat kudeta". Bang Tua tertawa mendengar candaan itu, meski dalam hati dia tahu betul situasinya lebih serius dari sekadar bahan candaan semata.

Sesampainya di parkiran, sebelum berpisah, Pak Ferdinand berhenti sejenak, menatap Bang Tua dengan tatapan yang lebih serius dari biasanya. "Sahat, aku mau tanya sesuatu, tapi jangan tersinggung ya. Belakangan ini kau berubah banyak, dari yang biasanya kalem banget, sekarang jadi lebih berani, lebih aktif cari tau, bahkan berani lawan Prof. Bonar langsung. Ada apa sebenarnya sama kau?"

Bang Tua tersenyum tipis, dalam hati bergejolak antara ingin jujur dan tetap menjaga rahasia besarnya. "Mungkin cuma efek makin tua makin gerah liat ketidakadilan aja, Pak. Lagian, kalau bukan kita yang mulai berani, siapa lagi coba?" jawabnya, jawaban yang tidak sepenuhnya bohong tapi juga tidak sepenuhnya mengungkap kebenaran yang sesungguhnya, sesuatu yang membuatnya merasa sedikit bersalah karena harus terus menutupi rahasia sebesar itu dari sahabat terdekatnya.

Bang Tua mengangguk perlahan, dugaan itu, meski masih perlu bukti lebih kuat, terasa semakin masuk akal, menyatukan berbagai kepingan informasi yang selama ini terasa terpisah pisah. Dalam hati dia bergumam, "kalau benar begitu caranya, ini bukan cuma politik kampus biasa, ini permainan yang jauh lebih licik, mahasiswa dan dosen dosen biasa dikorbankan cuma buat bikin satu orang keliatan jadi pahlawan".

Malam itu, sepulang dari acara dies natalis, Bang Tua duduk lama di kamar kosnya, mengeluarkan buku catatan kecilnya, kali ini menyusun ulang semua informasi yang sudah dia kumpulkan selama berminggu minggu terakhir menjadi satu gambaran besar yang mulai terasa lengkap. Riko yang terhambat karena Dr. Marlina kewalahan sistem. Dinda yang ditekan Prof. Bonar, loyalis setia Dr. Yosia. Farel yang tergoda jalan pintas karena tekanan waktu dan sistem yang tidak berpihak padanya. Dan sekarang, Dr. Yosia sendiri, yang mendekati dosen dosen dengan janji janji manis tanpa kejelasan nyata, sedang membangun jaringan menuju kursi Ketua Prodi, dengan kemungkinan besar sengaja mengatur beban kerja timpang untuk membangun citra dirinya sebagai penyelamat.

Dia menggambar diagram besar di halaman baru buku catatannya, menghubungkan semua titik titik itu dengan garis garis yang semakin jelas membentuk satu pola besar, sebuah sistem yang secara sengaja atau tidak sengaja, membiarkan mahasiswa dan dosen dosen biasa jadi korban demi kepentingan segelintir orang yang mengejar kekuasaan dan pengaruh.

Dalam hati dia bergumam, campuran antara waswas dan tekad yang semakin menguat, "kalau kata orang, jangan pernah remehkan dosen matematika yang lagi iseng bikin diagram, apalagi kalau diagramnya udah mulai keliatan kayak peta kejahatan beneran, ini bukan lagi soal ngedumel kesel dikit terus kena batu, ini kayaknya bakal jadi ujian paling besar yang pernah bapak hadapi".

Dia menutup buku catatannya, menaruhnya kembali di laci meja belajar, tapi sebelum benar benar tidur, dia sempat menatap langit langit kamarnya lama sekali, memikirkan bahwa apa pun langkah yang akan dia ambil selanjutnya, kali ini taruhannya jauh lebih besar dari sekadar satu dua kejadian receh yang pernah dia hadapi sebelumnya. Ada tiga mahasiswa yang menaruh harapan padanya, ada sebuah sistem besar yang mungkin perlu diguncang, dan ada dirinya sendiri, yang harus memutuskan seberapa jauh dia berani melangkah sebelum semuanya benar benar terungkap, sebuah pertanyaan yang akan segera dijawab oleh kejadian tak terduga yang menantinya di hari hari berikutnya.

1
Aisyah Suyuti
menarik
AGRI
sangat menarik
Nazira Kania: Hai Kak 😊 Saya dari tim redaksi Perkasa Satu. Naskah Kakak di NovelToon menarik dan layak diterbitkan menjadi buku. Saat ini kami membuka Program Terbit Gratis Edisi Oktober untuk 10 naskah tercepat, dengan Free ISBN dan buku yang diterbitkan dapat masuk Gramedia digital maupun offline (s&k). Fasilitas lainnya: editing, desain cover, sertifikat penulis, promosi, serta royalti 20–30%. Tertarik? Hubungi Admin 📱 083197323183.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!