NovelToon NovelToon
GALAREA

GALAREA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:468
Nilai: 5
Nama Author: Melasepti__

Terkadang, bukti kasih sayang tidak hanya sebuah kebahagiaan, bukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melasepti__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dia Datang

Pagi hari, Gala bangun dari tidur dengan Rea di pelukannya. Ia menunduk untuk menatap wajah damai gadis itu.

Gala mengusap pipi istrinya dengan lembut, menilik setiap sudut wajah ayunya.

Cantik, satu kata yang terlintas di benak Gala.

Selama ini, dia seringkali diam-diam menatap gadisnya saat tidur. Ia akan bangun lebih awal untuk melakukan hal itu setiap paginya.

Ungkapan Gala tentang Rea yang merupakan cinta pertamanya memang benar. Sejak dulu, mereka seringkali bertemu saat mereka ikut pertemuan antara Saka dan Althan, saat mereka masih menjalin hubungan sebagai rekan bisnis.

Dari pertemuan yang terjadi berulang kali itu, Gala mulai merasakan gelenyar aneh di hatinya saat bertemu dengan Rea.

Mungkin, saat masih kecil Gala belum menyadari hal itu. Namun, setelah usianya beranjak remaja, ia mulai mengerti dengan perasaannya.

Tak lama, Rea membuka mata saat merasa terganggu dengan usapan Gala di pipinya.

Rea mendongak, membuat tatapan mereka bertemu.

"Pagi," sapa Gala dengan suara serak, sambil mengulurkan tangannya membersihkan kotoran di sudut mata Rea.

Rea melepas pelukan Gala, lalu mengambil posisi telentang. Ia mengalihkan pandangan dengan bibir terkatup rapat, menahan senyum malu.

Gala terkekeh pelan, kemudian bangkit dari tidurnya. Hal itu membuat Rea menoleh untuk melihat pergerakan Gala.

Gala menunduk, lalu mencium singkat pipi Rea, membuat mata gadis itu membulat sempurna.

Rea memegangi pipinya yang memerah, seraya menatap Gala dengan sedikit ringisan tak enak.

"Memang enggak bau, Kak?" tanyanya sedikit ragu.

Gala yang sudah bangkit berdiri, pun kembali menoleh. "Bau iler," katanya, sebelum berlalu meninggalkan Rea yang mengembungkan pipinya kesal.

Rea mendengus, kemudian bergerak bangkit untuk menyusul Gala ke kamar mandi.

Gala tampak mencuci muka untuk menghilangkan rasa kantuk. Gala menatap Rea dari cermin yang ada di wastafel, seraya menahan senyum.

Ekspresi kesal Rea tampak jelas, membuatnya merasa berhasil membuat gadis itu memperlihatkan wajahnya yang begitu menggemaskan.

"Re?"

Rea tidak menjawab, gadis itu sibuk mengambil sikat gigi untuk menggosok giginya.

"Rea, deketan sini."

"Enggak!"

Rea mulai menggosok giginya di sebelah Gala, tanpa peduli dengan cowok itu yang sedang berusaha mengambil perhatiannya.

"Re, geser dikit."

"Enggak mau."

Gala berdecak pelan, sebelum akhirnya menoleh untuk menatap Rea secara langsung.

Gadis itu masih cuek, tak peduli dengan tatapannya sekarang.

Cup

"Ilernya wangi," kata Gala setelah mencium pipi Rea satu kali.

Rea menghentikan kegiatannya sejenak, lalu membersihkan sisa busa pasta gigi di mulutnya.

Saat Rea hendak berbalik untuk pergi ke kran mengambil wudu, Gala lebih dulu menangkup wajah Rea dan bergerak mengecup bibir gadis itu berulang kali, hingga membuatnya merem-melek.

"Kak Gala, ih!"

Rea mendorong dada Gala agar menghentikan aksinya. Bukan tidak suka, tetapi ia risi karena Gala tak berhenti menciumnya.

"Lo harus cinta sama gue."

Rea melirik Gala sinis. "Dih, maksa!"

Rea berlalu mengambil wudu, begitupun Gala yang mengikuti pergerakannya.

Setelah itu, mereka kembali ke kamar untuk melakukan salat berjamaah.

Selesai salat, mereka juga menyempatkan diri untuk mengobrol kecil tentang ilmu keislaman.

"Lo yang masak?" tanya Gala seraya menatap Rea yang tengah membereskan alat salat mereka.

"Lo?"

"Makan."

Rea menatap Gala datar, dibalas senyum tipis oleh cowok itu. Entahlah, sejak pernyataan cintanya kemarin, Gala lebih sering tersenyum, meski hanya senyum tipis.

Mereka keluar kamar bersama-sama, untuk turun ke lantai bawah. Langkah yang semula biasa, berubah kala Rea tiba-tiba memelankan langkahnya.

"Kenapa?" tanya Gala seraya menatap Rea yang berdiri satu tangga di bawahnya.

Gala kemudian mengikuti arah pandang Rea, hingga netranya menangkap siluet seorang Bella yang tengah berbaring santai di sofa ruang tengah lantai bawah.

Tak lama, Bella mendongak dan menyadari kehadiran mereka.

"Kalian ngapain di sini?" tanya Bella dengan kening berkerut.

Rea melanjutkan langkahnya dengan cepat, membuat Gala segera mengikutinya.

Gala menahan tangan Rea, saat gadis itu sudah hampir mendekati Bella, hingga berjarak beberapa centi meter saja.

"Apa lo?" tanya Bella dengan nada menantang, ia sudah berdiri dengan tangan terlipat di dada.

Rea membalas tatapan Bella dengan tajam. "Ngapain lo ke sini?" tanyanya tanpa ekspresi.

Gala terus menggenggam tangan Rea, menjaga agar tidak terjadi keributan di antara mereka.

Tampak Bella mendengus dan memutar bola matanya malas. "Ini rumah gue, wajar gue di sini."

Mendengar hal tersebut, Rea sontak terkekeh sinis. "Lo siapa, hah?" tanyanya tak kalah menantang.

Bella membalas Rea dengan tatapan tajamnya. "Maksud lo apa?! Gue anak Ayah, wajar gue tinggal di sini! Lo siapa? Lo itu cuma anak pungut, yang sudah dibuang ke tong sampah!"

Saat mengatakan kata terakhirnya, tatapan Bella mengarah pada Gala yang sejak tadi hanya diam.

Rea menggertakkan giginya, meremas tangan Gala yang sejak tadi tak melepas genggamannya.

Gala mengeratkan genggaman tangan mereka, berusaha membuat Rea tetap tenang dalam kendalinya.

"Bukannya lo yang anak pungut?" tanya Rea seraya berusaha melepas genggaman Gala, agar ia bisa meluapkan emosinya pada Bella.

"Kemana aja lo, waktu Ayah meninggal? Enggak ada, kan? Jadi, enggak usah ngaku-ngaku kalau lo anak Ayah gue!"

Bella emosi, ia bergerak maju untuk menjambak rambut Rea. Hal itu, membuat Gala sontak melepas tangan Rea begitu saja, membiarkannya melakukan apapun sesuai dengan apa yang Bella lakukan.

Gala bukan tidak ingin membantu Rea. Namun, ia sadar jika Bella bukanlah tandingannya. Jadi, ia biarkan saja apa yang akan mereka lakukan. Selama itu tidak berlebihan, ia hanya akan memantaunya saja.

"Lo itu anak pungut enggak tau diri! Lo cuma mau harta Ayah gue! Lo licik!" teriak Rea sembari membalas tarikan di rambut Bella.

Bella hanya diam, namun tarikannya di rambut Rea semakin erat dan kencang.

"Gue tau tabiat lo! Lo itu enggak beda jauh dari Papi lo! Lo sama liciknya kayak dia!"

Rea terkekeh sinis, meski diiringi dengan ringisan karena rasa nyeri di kepalanya.

"Orang kayak kalian memang pantas dipenjara!"

Brak

Gala melebarkan matanya, saat melihat Bella dengan sadis mendorong kepala Rea, hingga menabrak ujung meja kaca yang ada di dekat sana.

Gala segera menghampiri Rea yang kini meringis, memegangi keningnya yang berdarah.

Gala membantu gadis itu untuk berdiri, kemudian menatap Bella dengan tajam.

"Ini terakhir kalinya lo bisa nyakitin dia. Setelah ini, kalau sampai dia terluka karena lo, gue enggak akan segan untuk menghajar lo, enggak peduli kalaupun lo cewek!"

Gala segera membawa Rea pergi ke dapur, untuk mengobati luka gadis itu.

Gala mendudukkan Rea di kursi meja makan, kemudian ia berlalu mengambil es batu dan kotak obat.

Gala duduk di samping Rea, berhadapan dengan gadis itu. Ia meraih pipi Rea agar menghadapnya dengan sempurna.

Tampak memar biru yang mulai terlihat dan goresan merah di tengahnya.

Gala segera mengambil sapu tangan yang berisi es batu, lalu ditempelkan di kening Rea.

"Ash," ringis Rea membuat Gala refleks meniup lukanya.

"Pelan-pelan, sakit."

"Iya, sayang. Ini sudah pelan," kata Gala yang entah sadar atau tidak, berhasil membuat pipi Rea memerah.

Untuk kedua kalinya, Gala memanggil ia dengan sebutan sayang.

Gala terus meniup luka Rea di setiap proses pengobatan yang ia lakukan. Mulai dari mengompres, membubuhkan alkohol, obat merah, sampai memasangkan plester ia lakukan dengan sangat lembut dan hati-hati.

"Masih sakit?" tanya Gala dengan menatap netra Rea, teduh.

Rea menggeleng pelan, sambil mengusap lukanya yang sudah berbalut plester.

Gala meraih tangan gadis itu, menggenggamnya.

"Kita tinggal di apartemen aja, ya?"

Rea menatap Gala lekat. "Kenapa?"

"Gue enggak bisa, dan gue enggak mau kalau lo harus kembali terluka di rumah ini."

Rea memasang wajah sedih. Ia memajukan tubuhnya untuk memeluk Gala. Entahlah, baginya hal ini sedikit banyak mampu menghilangkan bebannya.

"Tapi gue enggak bisa pergi dari rumah penuh kenangan ini."

Gala menghembuskan nafasnya, seraya membalas pelukan Rea, menempelkan pipinya di pelipis gadis itu.

"Sementara waktu, enggak lama."

"Tapi, kenapa?" tanya Rea seraya mendongak untuk menatap Gala penuh tanya.

Gala mengecup pangkal hidung Rea, membuat gadis itu menutup matanya sejenak.

"Terlalu berbahaya kalau lama-lama tinggal satu rumah sama titisan medusa."

.

.

.

To be continue ...

1
Ossa Mulya
suka banget ceritanya... dan bikin penasaran
Ossa Mulya
lanjuuuutt Thor...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!