Dayang, seorang penjual ikan berparas cantik sekaligus "preman pasar" bertangan dingin, memegang teguh prinsipnya untuk hanya melayani rakyat kecil, bukan tengkulak atau bisnis besar. Keteguhannya ditantang oleh Rimba, seorang CEO kaya raya yang berambisi memborong seluruh dagangannya. Setelah gertakan anak buah hingga sogokan uang tunai gagal total di tangan Dayang, Rimba yang terluka gengsinya nekad menyamar sebagai pria miskin yang kelaparan dan pingsan di depan lapak Dayang.
Luluh oleh rasa iba, Dayang menampung Rimba di rumahnya dengan syarat pria itu harus bekerja menjadi kuli pengangkut ikan. Niat awal Rimba yang hanya ingin menundukkan kesombongan si preman pasar perlahan goyah saat kemeja mewahnya berganti kaos lusuh beraroma amis. Di tengah kerasnya kehidupan pasar dan hangatnya perhatian yang tulus, batas antara akal-akalan licik dan perasaan nyata mulai kabur, memaksa sang bos besar mempertanyakan apakah ia akan berhasil meruntuhkan benteng Dayang atau hatinya yang leleh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Rimba tidak bergeming dari kursinya. Pria itu menggelengkan kepala perlahan, menatap Dayang dengan sorot mata yang penuh kesungguhan dan penyesalan yang teramat dalam.
"Aku tidak akan pergi, Dayang," tegas Rimba, suaranya bergetar namun sarat akan kepastian.
"Benci aku sesukamu, caci maki aku sepuasmu, tapi aku akan tetap di sini menjaga kamu sampai kamu benar-benar pulih. Aku tidak akan melangkah satu tapak pun dari sampingmu."
Dayang memejamkan matanya rapat-rapat, dadanya naik-turun menahan sesak dan amarah yang bergejolak.
Melihat suasana yang makin tegang, Bang Jaka melangkah maju dan mengusap lembut dahi Dayang.
"Nduk, sudah ya. Jangan emosi dulu. Kondisimu masih sangat lemah, dada dan kakimu belum pulih."
Bang Jaka menghela napas panjang lalu menatap sekeliling ruangan VVIP yang sunyi.
"Bang Jaka pulang dulu ya, Nduk. Nanti Bang Jaka ke sini lagi ajak Bintang," pamit Bang Jaka lembut seraya membenahi selimut Dayang.
Dayang mengangguk pelan tanpa membuka matanya, menyisakan Rimba yang tetap setia duduk mematung di samping ranjang, siap melewati malam panjang dalam hening dan penyesalan di hadapan wanita yang amat dicintainya.
Pintu kamar VVIP terketuk pelan, lalu seorang perawat masuk membawa nampan berisi bubur hangat dan obat-obatan.
Perawat itu mengangguk sopan sebelum meletakkan nampan di atas meja dorong di samping ranjang.
Rimba langsung berdiri dari kursinya. Tanpa mengulur waktu, ia meraih mangkuk bubur tersebut beserta sendoknya.
"Aku suapi," ucap Rimba lembut, mencoba bersikap semanis mungkin di hadapan gadis itu.
Namun Dayang langsung memutar kepalanya, menolak sendok yang disodorkan Rimba.
Tangan kanannya yang bebas mencoba mendorong pelan nampan tersebut.
"Tidak usah, aku bisa sendiri," tangkis Dayang dingin tanpa sedikit pun menatap mata Rimba.
"Sekarang hitung berapa biaya semuanya. Aku tidak mau ada utang."
Kalimat itu meluncur begitu menusuk, seolah semua tindakan dan rasa khawatir Rimba hanyalah beban transaksi bisnis yang harus segera ia lunasi.
Pertahanan diri Rimba yang sejak kemarin dipenuhi rasa bersalah, cemas, dan kelelahan hebat akhirnya retak.
Amarah Rimba tak lagi bisa dibendung. Pria itu meletakkan mangkuk bubur di atas meja dorong sedikit keras hingga menimbulkan dentang nyaring.
"Dayang, tolong jangan keras kepala!" bentak Rimba, suaranya meninggi memecah kesunyian kamar VVIP.
Napas Rimba memburu, matanya yang memerah menatap Dayang dengan campuran rasa frustrasi dan kesedihan yang mendalam.
"Nyawamu hampir melayang kemarin! Kakimu patah, dadamu pendarahan dalam, dan kamu masih memikirkan soal gengsi dan utang piutang?!" lanjut Rimba dengan suara bergetar.
"Aku tidak peduli kamu mau membenciku sampai mati, tapi untuk saat ini, bisakah kamu cuma fokus untuk sembuh?!"
Dayang terperanjat, matanya melebar menatap Rimba dengan bibir bergetar.
Bentakan itu seolah meremukkan sisa-sisa pertahanan dirinya.
Air mata yang sejak tadi ditahannya perlahan menetes, mengalir basah melewati pipinya yang pucat.
Melihat lelehan air mata itu, dada Rimba seketika menghantam penyesalan yang teramat dalam.
Seluruh amarahnya sirna dalam sekejap, berganti kepanikan luar biasa.
"D-Dayang, maaf, aku tidak bermaksud—"
"J-jahat kamu, Bim." bisik Dayang dengan suara tercekat, napasnya tersendat oleh tangis.
"Kamu sudah membohongiku, dan sekarang kamu membentakku "
Rimba mencoba meraih tangan Dayang, namun gadis itu menarik tangannya menjauh.
Tangis Dayang makin pecah, menyuarakan seluruh luka dan rasa terkhianati yang merajam hatinya.
"Kenapa kamu membohongiku seperti ini, Bim? Apa karena pabrikmu yang akan bangkrut?" panggil Dayang dengan nama lama pria itu, suaranya sarat akan kepedihan mendalam.
"Aku wanita bodoh yang kemarin menciummu."
Kata-kata itu menghantam Rimba bagai sembilu tajam.
Rasa malu dan bersalah meremukkan jiwanya saat mendengar betapa gadis yang amat disayanginya itu merasa terhina oleh ketulusannya sendiri.
"Dayang, demi Tuhan, bukan seperti itu." suara Rimba bergetar hebat, air matanya sendiri mulai menetes.
"Aku, tidak pernah memanfaatkanmu."
Namun Dayang tak mau lagi mendengar penjelasannya.
Dengan tangan bergetar, gadis itu menarik selimut putih rumah sakit hingga menutupi seluruh wajahnya, lalu menangis sesenggukan di balik selimut.
Rimba mematung di samping ranjang, berdiri kaku dengan dada yang terasa remuk tak berbentuk, menyaksikan kebohongan yang ia buat kini benar-benar menghancurkan hati wanita yang paling ia cintai.
"Dayang, aku." suara Rimba bergetar parau.
Tangan sang CEO melayang gantung di udara, ingin sekali mengusap lembut selimut yang membungkus tubuh gemetar itu, namun jemarinya terlalu takut untuk kembali menyakiti.
"Demi Tuhan, perasaan dan cintaku ke kamu itu nyata. Tidak ada satu pun yang bohong soal rasa sayangku, Dayang."
"KELUAR!!"
Teriakan Dayang melengking pecah dari balik selimut, sarat akan keputusasaan dan rasa sakit yang tak terandai.
"Keluar dari sini! Aku tidak mau melihat kamu lagi!" tangis Dayang makin sesenggukan, dadanya naik-turun menahan sesak yang menghimpit.
Rimba mematung di tempatnya berdiri. Setiap kata pengusiran itu bagai sabetan sembilu yang menyayat tepat di ulu hatinya.
Lutut pria yang disegani di dunia bisnis itu terasa lemas tak berdaya.
Rimba perlahan menarik kembali tangannya. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, membiarkan air matanya menetes jatuh ke lantai marmer ruang VVIP yang dingin.
"Maafkan aku, Dayang." bisik Rimba sangat lirih, suaranya hampir tak terdengar.
"Aku keluar, tapi aku akan tetap berdiri di balik pintu ini. Aku ndak akan ke mana-mana."
Dengan langkah gontai dan dada yang serasa remuk tak berbentuk, Rimba berbalik lalu mendorong pintu kaca ruangan itu perlahan.
Ia melangkah keluar, membiarkan pintu tertutup rapat menyisakan tangis pilu Dayang di dalam kamar.
Perawat senior yang baru saja melintas di koridor langsung menghampiri Rimba yang berdiri lesu di depan pintu.
Pria itu menyandarkan punggungnya ke dinding dingin, wajahnya pucat dan matanya merah membendung duka.
"Sus, pasien di dalam menolak makan," ucap Rimba dengan suara parau dan penuh keputusasaan.
Perawat itu menghela napas pendek seraya melihat papan catatan medis di tangannya.
"Pak, pasien harus segera mengisi perutnya untuk minum obat," ujar perawat itu dengan nada tegas namun penuh kehati-hatian.
"Kondisi pendarahan dalamnya baru saja stabil, dan tubuhnya butuh asupan nutrisi yang cukup. Kalau pasien terus-terusan menolak makan, dokter nanti terpaksa harus memasang selang NGT melalui hidungnya untuk memasukkan makanan."
Kata-kata perawat itu seketika membuat dada Rimba makin terasa dihantam gada berat.
Ia membayangkan selang medis tambahan harus ditusukkan ke hidung Dayang yang saat ini sudah sangat menderita.
"Jangan, Sus. tolong jangan pasang selang itu," bisik Rimba memohon, jemarinya mengepal rapat menahan sesak.
"Dia sudah sangat kesakitan."
"Kalau begitu pasien harus mau makan sedikit demi sedikit, Pak," balas perawat.
"Tolong bujuk lagi pelan-pelan. Kalau dari Bapak pasien masih menolak, mungkin butuh bantuan keluarga dekatnya."
Rimba menunduk dalam. Ia tahu betul saat ini kehadirannya justru menjadi pemicu utama amarah dan kepedihan Dayang.
Di tengah kebuntuannya, langkah kaki tergesa-gesa terdengar mengema dari ujung koridor—Bang Jaka dan Bintang akhirnya tiba di rumah sakit.
Bang Jaka memutuskan tidak jadi pulang saat melihat kedatangan Bintang bersama Dio
"Ada apa, Rim?" tanya Bang Jaka heran saat melihat Rimba berdiri lesu di depan pintu kamar VVIP dengan raut wajah frustrasi.
Rimba mendongak, menatap Bang Jaka dan Bintang yang baru saja tiba. Suaranya terdengar sangat parau.
"Perawat mengatakan kalau, Dayang menolak makan atau sampai dia tidak mau makan juga, dokter terpaksa harus pasang selang di hidungnya."
Mendengar hal itu, Bintang dan Bang Jaka seketika panik.
Tanpa membuang waktu, Bintang langsung mendorong pintu kamar VVIP, diikuti oleh Bang Jaka dan Rimba yang melangkah ragu di belakang mereka.
Di dalam kamar, sosok Dayang masih meringkuk kaku, tertutup rapat oleh selimut putih rumah sakit.
Tubuhnya yang mungil bergetar pelan, menandakan tangisnya yang belum mereda.
Bintang melangkah pelan mendekati ranjang, lalu duduk di tepi tempat tidur.
Jemari tangannya mengusap pelan pundak sang kakak dari luar selimut.
"Mbak, ayo makan ya?" bujuk Bintang lembut, suaranya sarat akan rasa cemas.
"Mbak, harus minum obat biar cepat sembuh. Biar kita bisa pulang ke rumah."
Dayang hanya diam, menolak membuka selimutnya.
Suara tangis sesenggukan masih terdengar samar di balik kain tebal itu.
Bang Jaka ikut membungkuk, meremas lembut kaki Dayang yang tak terbalut gips.
"Nduk, nurut sama adikmu ya? Kamu harus kuat. Kasihan Bintang kalau lihat kamu seperti ini."
Namun usaha Bang Jaka pun tak membuahkan hasil.
Dayang tetap membisu, mengurung dirinya dalam kepedihan.
Melihat kondisi itu, dada Rimba makin meremuk. Ia memberanikan diri maju satu langkah mendekati sisi ranjang, bermaksud ikut membujuk.
Namun baru saja bayangan Rimba mendekat, Dayang seolah bisa merasakan kehadirannya.
Gadis itu mendadak menyibak selimutnya kasar. Wajahnya yang pucat kini dipenuhi bekas air mata, matanya sembap dan merah memancar kebencian yang teramat dalam.
"PERGI, RIMBA!!" jerit Dayang histeris dengan sisa tenaga yang ia miliki.
"Aku ingin kamu pergi selamanya!! Aku benci kamu!!"
Ruangan VVIP itu seketika dibalut kesunyian yang menusuk.
Bintang dan Bang Jaka mematung, menatap Rimba dengan pandangan serba salah.
Rimba memejamkan matanya rapat-rapat, meresapi setiap serpihan penolakan yang menghantam jiwanya.
Ia tahu, memaksakan keberadaannya saat ini hanya akan makin merusak kesehatan wanita yang amat dicintainya itu.
"Baik, aku pergi, Dayang," bisik Rimba dengan napas bergetar hebat.
Pria itu menundukkan kepala dalam-dalam. "Maaf, Dayang."
Rimba berbalik gontai, melangkah keluar dari kamar VVIP dan membiarkan pintu itu tertutup rapat di belakangnya.
suami yg sayang dan triam dayang serta Bintan apa adanya ,,
punya anak kembar yg lucu2 ,, punya keluarga lain seperti bang Jaka , Jamal dan para nelayan serta pedagang di pasar yg selalu solid ma dayang ,,
bahagia selalu dayang dan kluarga ,,
kak makasih buat cerita ny ,,
dtggu karya terbaru ny ,,
sukses trus kak ,,
jdi wajar kalo dayang menjadi keras kepala dan berpendirian yg kuat ,,
tinggal km gmn cara ny membuktikan ma dayang klo km bnr2 menyesal ,,
ayoo rimba tunjukan ma dayang kalo perasaan km , perlindungan km , dan perhatian km tu tulus ,, meskiii di mulai dr kebohongan bisnis ,,
kalo skarang Mlah di curigai kan 🤭🤭😂😂