NovelToon NovelToon
RODA DUA Dan RAHASIA BIRU

RODA DUA Dan RAHASIA BIRU

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Zildiawan

Gavin Dewantara adalah pewaris tunggal Dewantara Group, salah satu keluarga old money terpandang di negeri ini. Bosan dengan kepalsuan kelas atas dan kekangan keluarganya, Gavin memilih kuliah di universitas negeri di luar kota, tinggal di kosan sederhana, dan menyembunyikan identitas aslinya. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswa teknik yang slengean, ugal-ugalan, hobi naik motor tua, dan sering terlibat perkelahian jalanan menggunakan teknik bela diri praktis yang ia pelajari dari jalanan. Meski terlihat berandalan, Gavin memiliki prinsip hidup yang kokoh dan kesetiaan tanpa batas kepada teman-temannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 Sikap Teman -Teman

Jika hari kemarin jagat maya kampus diguncang oleh gempa tektonik bermerek Dewantara Group, maka hari ini adalah hari di mana Gavin Dewantara harus menghadapi dampak langsung dari tsunami gosip tersebut di dunia nyata.

Pagi itu, Gavin memutuskan untuk keluar dari zona nyaman kamarnya demi mengisi cacing-cacing di perutnya yang sudah berdemo meminta jatah sarapan. Penampilannya masih konsisten melanggar seluruh hukum estetika mode internasional: kemeja kotak-kotak flanel merah yang kancing tengahnya hilang satu, celana jins robek di lutut yang benang-benangnya sudah menjuntai seperti mie instan, dan sepasang sandal jepit karet bermerek Swallow warna hijau yang sebelah kanannya sudah tipis karena sering dipakai mengerem darurat di atas motor Astrea Grand.

Begitu Gavin menapakkan kaki di tangga terakhir lantai satu Kos Bu Broto, pemandangan luar biasa langsung menyambutnya.

Di halaman kosan, Bu Broto—yang biasanya hanya mengenakan daster motif batik cap pekalongan pudar dengan gulungan rambut acak-acakan—hari ini tampil mengejutkan. Beliau mengenakan kebaya encim formal berwarna merah menyala lengkap dengan kain jarik sutra yang disetrika licin tanpa cela. Wajahnya dipoles bedak tabur tebal hingga putih merata, dipadukan dengan gincu merah merona yang membuatnya terlihat seperti siap menghadiri upacara kenegaraan di Istana Kepresidenan. Beliau berdiri tegak di samping jemuran kain sambil memegang sebuah nampan perak berisi segelas teh melati hangat dan sepiring pisang goreng yang dipotong estetik dengan hiasan daun pandan.

"Aduh! Selamat pagi, Yang Mulia Tuan Muda Gavin!" seru Bu Broto dengan suara cemburu yang nadanya sengaja ditinggikan tiga oktav, langsung membungkuk hormat hingga sanggul rambutnya yang super besar hampir menyenggol pagar pembatas got. "Mohon maaf sebesar-besarnya jika selama ini fasilitas kosan gembel ini kurang berkenan di hati Tuan Muda! Kamar mandi luar yang airnya sedingin es kutub itu akan segera saya renovasi menjadi jacuzzi air hangat berlapis marmer Italia minggu depan, Tuan!"

Gavin langsung membeku di tempatnya berdiri, tangannya yang sedang menggaruk leher reflek terhenti di udara. Ia mengerjap-erjemit menatap penampilan kosmetik Bu Koos-nya yang sangat absurd.

"Waduh, Bu Broto... istighfar, Bu! Ini saya, Gavin yang minggu lalu nunggak bayar uang kas kosan gara-gara duitnya abis buat beli oli samping!" teriak Gavin dengan gaya slengean andalannya, buru-buru mengambil pisang goreng dari nampan perak tersebut secara kasar tanpa permisi. "Gak usah pake baju kondangan gini lah, Bu. Bedak Ibu tebal banget, kalau Ibu bersin itu debunya bisa memicu polusi udara tingkat kelurahan loh!"

"Halah! Tuan Muda ini bisa saja bercanda dengan kaum jelata!" Bu Broto tertawa centil yang dibuat-buat, menutupi mulutnya dengan kipas cendana mewah yang entah didapat dari mana. "Silakan dinikmati pisang goreng royal berbalut tepung pilihan ini, Tuan Muda. Mulai hari ini, uang sewa kamar nomor 2B resmi saya gratiskan seumur hidup! Asalkan... kalau Dewantara Group mau bangun apartemen tiga puluh lantai di tanah seberang, nama saya dimasulin sebagai komisaris utama ya, Tuan? Hehehe."

Gavin hanya bisa menepuk dahinya pasrah, lalu berbalik dan berjalan cepat setengah berlari keluar dari gerbang kosan menuju motor Astrea Grand-nya, melarikan diri dari teror kebaya merah Bu Broto.

Namun, kegilaan sesungguhnya baru dimulai ketika Gavin memacu motor tuanya membelah area lingkar luar kampus menuju Warkop Cak Min.

Sepanjang jalan, Gavin merasa seperti seekor jerapah albino yang sedang berjalan di tengah zebra cross. Setiap mahasiswa yang berpapasan dengannya langsung menghentikan langkah kaki mereka, mematung di trotoar, lalu buru-buru mengeluarkan ponsel mereka untuk mencocokkan wajah berandalan Gavin dengan foto jas tuksedo miliaran rupiah di artikel internet yang viral kemarin. Beberapa mahasiswi dari Fakultas Ilmu Budaya bahkan secara terang-terangan berteriak histeris di depan gerbang utama seolah-olah baru saja melihat bintang pop internasional sedang tersesat naik motor bebek rongsokan.

Begitu roda motor Astrea Grand-nya berbelok dan berhenti di bawah naungan pohon beringin tua Warkop Cak Min, suasana heboh dan konyol mencapai klimaks yang paling tidak bermutu.

Warkop Cak Min yang biasanya berlantai semen kotor penuh dengan abu rokok dan leceknya kertas koran bekas, pagi ini telah mengalami pergeseran budaya yang radikal. Cak Min berdiri di balik meja konter kayu dengan setelan jas hitam formal—yang tampak sangat sesak di bagian perut buncitnya karena itu adalah jas bekas yang ia pinjam dari ketua RT setempat. Kaus kutang putih andalannya dipasang di bagian luar jas sebagai aksen mode yang sangat membingungkan.

Di atas meja kayu panjang warkop, tidak ada lagi jejak toples kerupuk kaleng blek berkarat. Tempat itu kini telah dihiasi oleh selembar kain taplak meja beludru hijau tua yang dipenuhi noda kuah mie instan masa lalu, lengkap dengan sebuah vas bunga darurat yang terbuat dari botol sirup bekas berisi potongan daun singkong segar sebagai tanaman estetik dekoratif.

"Selamat datang di Dewantara Coffee and Lounge Pavilion, Tuan Muda Gavin!" seru Cak Min dengan logat Jawa Timurnya yang kental namun dipaksa menggunakan intonasi pelayan restoran bintang lima Inggris. Ia membungkuk kaku hingga kancing jas pinjamannya hampir meletup keluar mengenai panci mie rebus. "Hari ini kami menyediakan menu Signature Arabica Robustal sasetan seharga tiga ribu lima ratus rupiah, khusus untuk kasta tertinggi eksekutif muda Menteng! Mau pesan apa, Tuan Muda? Apakah mie instan rebus rasa soto kemarin mau di-upgrade menggunakan kuah kaldu burung pelikan impor?"

PFTTT!

Rian yang sedang duduk di kursi kayu panjang sambil meminum kopi sasetnya langsung menyemburkan air kopinya dengan sangat sukses ke arah vas bunga daun singkong di depannya. Cowok berkacamata yang gagangnya masih ditempeli selotip itu terpingkal-pingkal gila-gilaan sampai memukul-mukul meja warkop.

"Hahaha! Cak Min! Jas lu kekecilan itu! Perut lu kelihatan kayak karung beras yang dipaksa pake korset tahu gak!" ledek Rian gila-gilaan di tengah tawanya.

Gavin turun dari motor Astrea-nya, melangkah masuk ke dalam warkop lalu langsung menjatuhkan tubuh tegapnya secara kasar di samping Rian. Ia mencopot topi pet kanvasnya, lalu dengan ugal-ugalan menggunakannya untuk mengipasi wajah Cak Min yang sudah mandi keringat di dalam jas tebalnya.

"Cak Min! Istighfar, Cak! Lu pake jas begini di bawah pohon beringin jam sembilan pagi itu namanya simulasi siksa kubur tahap awal!" omel Gavin slengean, melempar tawa renyah yang langsung memecah ketegangan formalitas buatan tersebut. "Copot gak jasnya?! Kalau kancingnya meletup terus kena mata Rian, taruhannya mata Rian bisa min-nya nambah jadi minus lima belas!"

Beberapa mahasiswa dari Fakultas Hukum dan Teknik yang sedang nongkrong di warkop langsung meledak dalam tawa massal. Ketakutan dan rasa canggung mereka melihat status triliuner Gavin langsung menguap sempurna begitu melihat cowok itu tetap mengeluarkan makian jalanan yang konyol dan tidak peduli pada protokol kemewahan apa pun.

"Wah, parah lu, Gav! Jadi selama ini lu bohongin kita semua ya!" celetuk salah satu mahasiswa teknik bertubuh tambun bernama bayu, sambil melemparkan sebutir kacang garing tepat ke arah dahi Gavin. "Gue inget banget dua minggu lalu lu minjem duit goceng ke gue buat beli rokok batangan dengan alasan kiriman duit dari kampung telat gara-gara sawah bokap lu puso! Ternyata bokap lu punya sawah duit di Jakarta, babi!"

Gavin menangkap kacang itu di udara dengan refleks kilat, melemparkannya ke dalam mulut, lalu menyeringai miring dengan gaya ugal-ugalan andalannya. "Lah, sawah bokap gue emang lagi puso, Bay! Puso karena kebanyakan proyek gedung tinggi sampai lupa nanem padi! Lagian duit goceng lu udah gue balikin kan pake bonus kuah mie instan double kemarin? Level investasinya menguntungkan itu!"

"Menguntungkan matamu, Gav! Bunga utang goceng gue harusnya setara sama saham hotel lu satu persen!" balas Bayu disambut sorakan riuh dan lemparan tisu bekas dari mahasiswa lain di warkop.

Di tengah kehebohan komedi warkop tersebut, suasana mendadak bergeser menjadi sedikit lebih teratur ketika Kirana Putri berjalan masuk melewati pembatas terpal kain warkop. Gadis itu mengenakan kemeja kuliah putih bersih dan rok jins denim panjang, memegang map berkas riset di dadanya.

Melihat Cak Min yang sedang kesusahan mencopot jas ketatnya dibantu oleh Dono yang menarik lengan jas dari belakang seperti lomba tarik tambang, Kirana hanya bisa menepuk dahinya berkali-kali menahan tawa sekaligus heran melihat bagaimana ekosistem pinggiran kampus ini merayakan pembongkaran identitas seorang konglomerat terkaya di negeri ini.

Kirana berjalan mendekati meja Gavin, melipat kedua tangannya di depan dada, lalu menatap lurus tepat ke dalam manik mata Gavin dengan senyuman miring cerdasnya yang khas. "Jadi... bagaimana rasanya hari ini berubah status dari mahasiswa berandalan gembel menjadi 'Yang Mulia Tuan Muda' di mata Bu Broto dan Cak Min, Gavin Dewantara?"

Gavin mencondongkan tubuhnya ke depan, merebut gelas es teh manis milik Rian tanpa permisi lalu meminumnya hingga tandas untuk meredakan rasa gerah di tenggorokannya. Ia menatap Kirana dengan cengiran konyolnya yang paling lebar. "Rasanya sangat melelahkan, Bos Kirana. Pakaian jas Cak Min barusan bikin tingkat entropi estetika di warkop ini naik seribu persen, merusak seluruh hukum termodinamika kenyamanan nongkrong gue."

Kirana mendengus geli, duduk di kursi kosong tepat di samping Gavin. Ia menurunkan suaranya menjadi sangat pelan, memastikan obrolan mereka tidak terdengar di antara riuh rendah mahasiswa lain yang kembali asyik bermain gaple di meja sebelah. "Tapi serius, Gav. Setelah libur semester ini selesai... surat ultimatum dari ayahmu di Jakarta itu... bagaimana kelanjutannya? Seluruh dekanat kampus sekarang sudah tahu siapa kamu, dan ayahmu kabarnya sudah mengirimkan perwakilan hukum resmi ke gedung rektorat pagi ini buat ngurus kepindahanmu."

Mendengar kalimat Kirana, sisa-sisa tawa konyol di wajah Gavin perlahan mereda sejenak, berganti dengan sorot mata yang sangat tenang, kokoh, dan penuh dengan prinsip jalanan yang mengkristal kuat di balik dadanya. Ia memutar-mutar kunci motor Astrea Grand-nya di atas taplak meja beludru hijau warkop.

"Bokap gue boleh punya uang buat beli seluruh fasilitas di kampus ini, Ran," ucap Gavin dengan nada suara yang sangat rendah, berat, namun memancarkan kharisma kepemimpinan sejati yang mutlak. "Tapi mereka gak akan pernah bisa beli nyali jalanan gue, kesetiaan kawan Rian yang rela babak belur demi laptop proyek kita, atau... ketulusan lu yang mau ngebersihin luka sayatan pisau di lengan kiri gue tanpa peduli isi dompet gue asli atau KW Mangga Dua."

Gavin menoleh ke arah Kirana, melempar senyum miring andalannya yang kini terlihat sangat mantap dan penuh percaya diri. "Tim hukum bokap gue boleh nunggu di rektorat sampai jam kerja selesai. Tapi gue tetep Gavin yang bakal nyelesaiin ujian UAS semester satu ini sampai lembar terakhir, naik motor bebek tua knalpot bobokan ini keliling jalur lingkar luar, dan nongkrong di warkop Cak Min sambil utang kopi. Gue gak bakal pulang ke Jakarta sebelum gue sendiri yang mutusin untuk balik dengan cara gue sendiri."

Kirana menatap mata Gavin, melihat kilatan kebebasan yang tidak akan pernah bisa diredam oleh dinding marmer sekaku apa pun di Menteng. Gadis ambisius itu tersenyum manis, sebuah senyuman tulus penuh dukungan emosional yang mendalam yang membuat detak jantung Gavin kembali berdegup dengan ritme ugal-ugalan yang menyenangkan. Di bawah naungan pohon beringin tua Warkop Cak Min, badai kebocoran identitas triliunannya mungkin telah membuat seisi kampus heboh dan bertingkah konyol, namun prinsip hidup dan kesetiaan kawan Gavin Dewantara justru terbukti berdiri tegak tak tergoyahkan oleh nominal harta sepeser pun.

1
Mey-mey89
lanjut
Azmi Zildiawan: Terima kasih sudah membaca
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!