Seo Tae-jun telah hidup selama 34 tahun dengan keyakinan bahwa cinta hanya membuat seseorang lemah.
Han Ji-eun justru hidup dengan keyakinan sebaliknya.
Bagi Ji-eun, kehilangan orang yang dicintai memang menyakitkan, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti mencintai.
Pertemuan mereka dimulai dari hubungan profesional.
Tae-jun adalah pewaris sekaligus pemegang kendali jaringan hotel Seo Group.
Ji-eun adalah manager hotel yang telah bekerja keras selama lima tahun untuk mendapatkan posisinya.
Tae-jun awalnya hanya tertarik pada keberanian Ji-eun.
Namun perhatian itu berubah menjadi ketertarikan.
Ketertarikan berubah menjadi kebutuhan.
Dan kebutuhan perlahan berubah menjadi cinta yang membuat Tae-jun mempertanyakan seluruh hidupnya.
Masalahnya, keluarga Seo menyimpan rahasia yang berkaitan dengan kematian orang tua Ji-eun.
Semakin dekat mereka, semakin besar kemungkinan cinta mereka menghancurkan keluarga Tae-jun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiara L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Acara makan malam penyambutan di restoran terbuka tepi pantai berjalan sangat meriah. Gelak tawa para staf bersahut-sahutan di bawah pendar lampu gantung hias yang temaram, diiringi alunan musik akustik dan deburan ombak malam Pulau Jeju. Makanan laut segar hidangan prasmanan melimpah, dan atmosfer santai membuat batas-batas hirarki jabatan sejenak mencair.
Ji-eun duduk bersama beberapa rakan sesama manajer divisi lain. Ia menikmati obrolan hangat mereka, tetapi sesekali pandangannya bergulir ke arah meja eksekutif di sudut restoran. Di sana, Tae-jun tampak anggun memegang gelas minuman, berbincang ramah dengan para tetua manajemen. Meski dikelilingi banyak orang, tatapan mata Tae-jun beberapa kali mencuri pandang ke arah Ji-eun, mengunci fokus mereka dalam keheningan yang membakar.
Tepat pukul sembilan malam, acara kebersamaan secara bertahap mulai bubar. Para staf yang sudah kelelahan usai perjalanan udara mulai pamit untuk kembali ke kamar masing-masing di bangunan utama resort.
Ji-eun menunggu hingga lorong-lorong resort mereda dan sepi. Dengan degupan jantung yang kian memburu, ia melangkah santai menuju lift eksekutif di ujung bangunan. Ia memasukkan kartu akses khusus yang tadi sore diselipkan oleh Tae-jun ke dalam saku mantelnya.
Ting
Pintu lift terbuka di lantai teratas. Lorong di lantai ini teramat sunyi, beralaskan karpet tebal bernuansa kemewahan yang meredam setiap jejak langkah. Ji-eun menempelkan kartu pada pintu bernomor 1001.
Cklek.
Begitu pintu terdorong terbuka, aroma kayu cedar yang hangat bersatu dengan embusan angin laut yang masuk dari balkon terbuka langsung menyapa indra penciumannya. Ruangan itu sangat luas, didominasi oleh perabotan modern berwarna netral dan pencahayaan redup yang romantis.
Tae-jun sudah berdiri di dekat pintu kaca balkon yang terbuka lebar. Ia telah mengganti pakaian formalnya dengan kemeja linen putih longgar yang dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka, serta celana santai. Di tangannya menggenggam dua gelas anggur merah.
Tae-jun membalikkan badan saat mendengar pintu tertutup. Senyum tipis yang amat menawan terukir di bibirnya.
"Kau datang," suara beratnya mengalun lembut, memecah kesunyian ruangan.
Ji-eun melepas sepatu hak tingginya, melangkah perlahan mendekati Tae-jun tanpa alas kaki. "Memangnya aku punya alasan untuk tidak datang?"
Tae-jun terkekeh pelan. Ia menyerahkan salah satu gelas anggur kepada Ji-eun, lalu merengkuh pinggang perempuan itu dengan tangan satunya, membawanya melangkah keluar menuju balkon pribadi yang sangat luas.
Di depan mereka, Samudra Pasifik terhampar luas di bawah naungan langit malam Jeju yang ditaburi ribuan bintang. Suara hempasan ombak di tebing batu menghadirkan irama alam yang begitu menenangkan jiwa. Udara malam terasa dingin menyapu kulit, tetapi kehangatan tubuh Tae-jun yang menempel rapat di punggung Ji-eun membuat hawa dingin itu menguap begitu saja.
Tae-jun menyandarkan dagunya di bahu Ji-eun, menyesap aroma harum dari rambut perempuan itu. "Bagaimana menurutmu pemandangannya?"
Ji-eun meneguk sedikit anggurnya, membiarkan kehangatan minuman itu mengalir di tenggorokannya. "Indah sekali, Tae-jun-ssi. Aku tidak pernah membayangkan bisa melihat laut sejauh ini bersamamu."
Tae-jun melepas gelas dari tangan mereka berdua, meletakkannya di meja kecil balkon. Tanpa membuang waktu, ia memutar tubuh Ji-eun hingga mereka berhadapan rapat. Kedua tangan Tae-jun melingkar mantap di pinggang Ji-eun, menatap iris mata hitam jernih milik perempuan di hadapannya.
"Seminggu ini sangat menyiksa," bisik Tae-jun, suaranya berubah menjadi lebih rendah dan serak. "Di hotel kita harus bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, padahal setiap detik aku hanya ingin menggenggam tanganmu seperti ini."
Ji-eun tersenyum manis, membiarkan jemarinya mengusap rahang tegas Tae-jun yang mulus tanpa celah. "Tapi Direktur Seo tampak sangat menikmati perannya saat menegurku di depan umum minggu lalu."
"Itu bentuk pertahanan diriku," balas Tae-jun dengan kilatan gairah yang mulai benderang di matanya. "Karena kalau aku tidak bersikap begitu, aku bisa saja menarikmu ke dalam ruanganku dan menciummu di depan semua orang."
Sebelum Ji-eun sempat membalas godaan itu, Tae-jun sudah menundukkan kepalanya, meraup bibir Ji-eun dalam sebuah ciuman yang mendalam dan penuh kerinduan.
Ji-eun mendesah pelan di dalam pertautan bibir mereka, melingkarkan kedua tangannya di leher Tae-jun dan merapatkan tubuhnya. Ciuman di bawah pendar sinar bulan dan embusan angin laut Jeju terasa jauh lebih intim dan membakar. Tidak ada terburu-buru, tidak ada ketakutan akan ada orang yang melihat. Di lantai teratas ini, dunia sepenuhnya milik mereka berdua.
Tae-jun mengangkat tubuh Ji-eun dengan mudah, membuat Ji-eun refleks melingkarkan kakinya di pinggang Tae-jun. Tanpa melepas pertautan bibir mereka yang kian intens, Tae-jun membawa Ji-eun melangkah masuk kembali ke dalam kamar, menutup pintu kaca balkon dengan tendangan kakinya.
Dinding kaca besar kamar tidur menyajikan pendar sinar bulan yang menembus masuk, menerangi peraduan luas bernuansa putih di tengah ruangan. Tae-jun membaringkan Ji-eun di atas kasur empuk itu dengan kelembutan seorang pria yang teramat memuja kekasihnya.
"Malam ini... hanya ada kita," bisik Tae-jun di atas bibir Ji-eun yang merona basah.
Helai demi helai pakaian yang membalut tubuh mereka terlepas pelan, meluruhkan sisa-sisa identitas profesionalisme yang melekat seharian. Di atas peraduan penthouse mewah itu, mereka menyatu dalam tumpahan gairah dan kehangatan cinta yang membuncah. Setiap sentuhan jemari Tae-jun di atas kulit halus Ji-eun menyalakan kehangatan yang membuat perempuan itu pasrah sepenuhnya dalam dekapan protektif sang direktur.
Suara desahan napas yang memburu dan detak jantung yang berpacu seirama menjadi alunan musik indah yang memenuhi kamar tidur tersebut. Tae-jun bergerak dengan kelembutan yang memabukkan sekaligus gairah yang tak terbendung, memastikan Ji-eun merasakan betapa besar rasa cinta dan kepemilikan yang ia simpan di dalam dadanya.
Ketika puncak keindahan itu tercapai, mereka saling merengkuh erat, mengalirkan seluruh kelelahan dan kebahagiaan ke dalam satu hembusan napas bersama yang penuh keutuhan.
Beberapa jam kemudian, keheningan yang amat damai menyelimuti kamar penthouse.
Ji-eun berbaring miring dengan kepala bersandar di dada bidang Tae-jun yang polos. Selimut tebal menutup tubuh mereka berdua hingga sebatas dada. Selagi suara deburan ombak samar-samar terdengar dari balik kaca balkon, jemari Tae-jun yang panjang bergerak perlahan mengusap-usap punggung polos Ji-eun, memberikan ketenangan luar biasa.
"Tae-jun-ssi..." panggil Ji-eun pelan dengan suara yang agak serak.
"Hm?" Tae-jun mengecup puncak kepala Ji-eun, lalu membelai helai rambutnya yang terurai.
"Terima kasih untuk liburan ini," tutur Ji-eun tulus. "Bukan hanya untuk para staf, tapi... terima kasih sudah membawa kita ke sini."
Tae-jun tersenyum hangat dalam kegelapan kamar. Ia merapatkan pelukannya, membawa Ji-eun makin tenggelam dalam kehangatan tubuhnya. "Ini baru malam pertama, Ji-eun-a. Kita masih punya tiga hari lagi di pulau ini. Dan aku janji... ini akan jadi liburan terbaik dalam hidupmu."
Ji-eun mengukir senyuman bahagia di dada Tae-jun, memejamkan matanya dengan rasa aman yang sempurna. Di bawah langit Jeju yang megah, rahasia mereka terbungkus rapi dalam balutan cinta yang makin mengakar kuat.
...****************...